PROYEKSI MAKRO EKONOM
B. Penanda Pertumbuhan
3. Laju Perubahan Struktural yang Tingg
Sementara indikator modern ketiga terkait pertumbuhan ekonomi yaitu perubahan struktural yang mencakup peralihan ak- tivitas pertanian ke non pertanian, dari industri ke jasa, perubahan dalam skala unit-unit produktif, peralihan perusahaan perseorangan menjadi perusahaan berbadan hukum, dan perubahan status kerja buruh nampaknya tidak terjadi. Hal ini dapat disimpulkan dari in- formasi sejarah bahwa mayoritas penduduk Negara Abbasiyah ada- lah para petani.45Informasi ini dapat dikonfirmasi dengan data sebelumnya, bahwa kuantitas pajak terbesar Negara berasal dari
44 Simon Kuznets, “Economic Growth and Income Inequality,” The
American Economic Review, vol. XLV, no. 1 (March, 1955), 8; Moshe Syrquin,
Kuznet and Modern Economic Growth Fifty Years Later (Helnski, WIDER, 2005), 7; Yundi Hafizrianda, Teori Pertumbuhan Ekonomi (t.t.p.), 2.
45 George Zayda>n,Ta>rikh al-Tamaddun al-Isla>mi>, vol. 5, 51.
Bandingkan dengan keterangan Maya Shatzmiller yang menyatakan bahwa mayoritas pekerjaan masyarakat muslim (47%) abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi adalah pada bidang perindustrian (Maya Shatzmiller, Labour in the Me- dieval Islamic World [Leiden: Brill, 1994], 258).
63
tanah pertanian.46Demikian halnya dengan sektor jasa yang tidak merupakan sektor utama bila dibandingkan dengan sektor pertanian dan perdagangan. Pun, penulis belum menemukan data yang mengungkap adanya perubahan signifikan dalam unit-unit produksi baik itu perusahaan ataupun pasar pekerja.
Malah suatu ketika terdapat petaka pemberontakan pekerja berkulit hitam pada tahun 868-883 M. (terjadi pada masa pemerintahan al-Mu‘tazz [866-869] dan pemerintahan al-Mu‘tamid [870-892]) yang menewaskan sekitar 2,5 juta penduduk. Meski ber- tunggangan politis,47pemberontakan ini dapat dijadikan sinyalemen bahwa pada awalnya kesejahteraan pekerja tidak begitu dihiraukan. Secara psikologi sosial, hal ini dapat dilihat sebagai efek komunal yang memuncak dari rentetan ketidakpuasan. Dengan ini dapat dikatakan, unit-unit produksi berjalan cukup lama secara konserva- tif dan tradisional. Hipotesisnya adalah unit-unit produksi baik pa- da jaman al-Ma’mu>n hingga al-Wa>thiq tidak mengalami trans- formasi ke arah yang lebih teratur dan berkeadilan.
4.
UrbanisasiCiri keempat pertumbuhan ekonomi yang diintroduksi Kuz- nets adalah urbanisasi. Dalam hal ini, indikasi terjadinya urbanisasi dapat terbaca dari banyaknya pergerakan masyarakat yang datang ke pusat pemerintahan Abbasiyah, Baghdad. Dalam suatu sumber disebut bahwa jumlah penduduk Baghdad mencapai satu juta orang.48Martin Bosker, Eltjo Buringh, J. L. van Zanden bahkan menghitung rasio urbanisasi yang tejadi di wilayah Abbasiyah pada tahun 800 M. yang tertinggi di dunia, dengan Baghdad di posisi puncak yaitu dengan rasio 26,0 dari total populasi dunia yang men- capai sekitar 46.050.000 orang49
Di satu sisi, secara teoritis, pada umumnya urbanisasi me- nyebabkan adanya perubahan pada tingkat dan struktur konsumsi
46
Bandingkan dengan keterangan Philip K.Hitti, History of the Arabs, 399.
47 Ibn al-Jari>r al-T{abari>, Akhba>r al-Rusul wa al-Mulu>k, vol. 3,
1742.
48
George Zaydan, Ta>ri>kh al-Tamaddun al-Isla>mi>, vol. 2, 119.
49 Martin Bosker, Eltjo Buringh, J. L. van Zanden, “From Baghdad to
London: the Dynamics of Urban Growth in Europe and the Arab World, 800- 1800,” CEPR Discussion Paper, no. DP6833 (2008): 40-41.
64
melalui pembagian kerja dan spesialisasi. Data-data sejarah awal nampaknya dapat mengkonfirmasi kebenaran teori ini, meski tidak secara komprehensif.50Pembagian kerja ini juga didedah oleh al- Shayba>ni> dalam al-Kasb. Di sisi lain, tingkat dan struktur kon- sumsi berubah yang terlihat dari mahalnya biaya pemenuhan sejumlah kebutuhan,51 sebagaimana juga dapat dikatakan terjadinya peningkatan pengeluaran konsumsi pada kelompok urbanisasi aki- bat adanya demonstration effect.
Sementara itu mobilitas barang dan kapital serta penduduk yang cukup tinggi, sejatinya didukung oleh tersedianya infra- struktur yang baik. Transportasi yang berkembang dan pem- bangunan jalur-lajur untuk memudahkan pergerakan barang, uang, dan penduduk cukup gencar dilakukan. Sejarawan al-Mas‘u>di> turut mendeskripsikan bahwa kota-kota pelabuhan di Teluk Persia berkembang dengan cukup pesat dan memiliki fasilitas yang cukup memadai. Ia bernarasi bahwa sejak Haru>n al-Rashi>d telah menyampaikan gagasan untuk menggali kanal di sepanjang Isth- muz di Suez,52 demi mengembangkan sektor perdagangan.
Salah satu implikasi dari pembangunan infrastruktur ini ada- lah mudahnya akses pergerakan penduduk yang kemudian dengan berbagai faktor sosial-ekonomi, berdomisili ke daerah-daerah perkotaan.
5.
“Ekspansi” NegaraCiri lain perkembangan ekonomi adalah ekspansi Negara, baik secara wilayah kekuasaan53maupun secara ekonomi. Sesuai dengan
50 Al-Mas’u>di>, Muru>j al-Dhahab wa Ma’a>din al-Jawhar, vol. 1, 54.
Pada saat Muh}ammad ibn Ish}a>q Ibn al-Nadi>m menulis al-Fihrist, semacam katalog karya-karya Arab (988), sudah ada banyak manuskrif yang berbicara topik-topik seperti menyair, dokter, hipnotisme, mengulum pedang, lempar kaca, dan lain-lain (Lihat: Ibn al-Nadi>m, al-Fihrist [Beirut: Da>r al-Ma’rifah, 1978]).
51 Seperti digambarkan oleh penyair Abu> al-‘Ata>hiyah (748-826 M.)
dalam bait puisinya yang berbunyi: “Inni> ara> al-as‘a>r as‘a>ra al-ra’iyyah gha>liyah” (“saya melihat sendiri mahalnya harga kebutuhan [pokok] masyarakat”) (Lihat: Anonim, al-Anwa>r al-Zahiyyah fi> Di>wa>n Abi> al- ‘Ata>hiyah [Beirut: Mat}ba‘at al-A<ba> al-Yasu>‘iyyi>n, 1886], 304).
52
Al-Mas‘u>di>, Muru>j al-Dhahab wa Ma‘a>din al-Jawhar , vol. 4, 94-99.
53 Pada masa pemerintahan Abbasiyah, jumlah daerah kekuasaan ber-
65
konteks tulisan ini, beberapa sumber sejarah melaporkan bahwa sumber pemasukan Negara yang bersifat ekspansif cukup banyak mengalir dari gerak aktif perdagangan internasional.54
Dapatlah disebutkan beberapa potret ekspansi ekonomi ini lewat hubungan perdagangan antar negara. Dalam hal ini, misal- nya, lewat Jalur Sutera yang terkenal itu, di sebelah timur, bangsa Arab dan China telah melakukan hubungan dagang. Berbeda dengan narasi Philip K. Hitti,55hubungan ini terutama sangat berkembang pada rentang tahun 200 hingga 1500 Masehi.56Terkait dengan ini, denyut perdagangan juga ikut bergairah dan memiliki peran signifikan dalam penetrasi hegemoni rezim. Ibn Khur- da>dhbuh (w. + 893 M./250 H.) menginformasikan bahwa lingkup perdagangan sangat luas dan pada mulanya melibatkan non muslim yang terdiri atas Yahudi dan Kristen.57Di samping itu terdapat pasar-pasar yang menjual barang-barang lintas negeri, seperti pasar
yah kekuasaan. Sebelumnya, pada masa pemerintahan ‘Umawiyah, hanya ada 10 wilayah. Namun hal ini sebenarnya bukan berarti negara Abbasiyah berhasil melakukan ekspansi wilayah baru karena menurut Mahmu>d, Abbasiyah hanya menjaga dan mempertahankan kekuasaan warisan dari pemerintahan Umayyah sebelumnya. Perpecahan negara Abbasiyah dapat dikatakan terjadi setelah pemerintahan Abu> Ja‘far al-Wa>thiq Ha>ru>n ibn Abi Ish}a>q Muh}ammad al-Mu‘tas}im. (George Zaydan, Ta>ri>kh al-Tamaddun al-Isla>mi>, vol. 1, 77- 78; Husayn Mu’nis, At}las Ta>ri>kh al-Isla>m, [Cairo: al-Zahraa for Arab Mass Media, 1987],151).
54 Pergerakan ini sejatinya ikut dilahirkan dari tradisi berniaga bangsa Ar-
ab yang sangat didukung oleh postur geografis dan gestur sosial. Alquran se- bagai karya kesusastraaan terbesar berbahasa Arab, seringkali menggunakan terma-terma perdagangan demi tujuan kontekstualisasi dan pendekatan kultural (cultural approach). Pada kasus tertentu, umumnya pendekatan ini cukup ber- hasil. Lihat misalnya: Q.S. Fa>t}ir: 29; Q.S. al-S{aff: 10.
55 Philip K. Hitti, History of the Arabs: from the Earliest Times to the
Present, 7th Edition (New York: Palgrave Macmillan, 1974), 428.
56 Morris Rossabi, “The Decline of the Central Asian Caravan Trade,”
The Rise of Merchant Empires (Cambridge: Cambridge University Press, 1990). Dalam bukunya, Rossabi berargumen bahwa perdagangan kedua belah pihak telah berkembang sejak Dinasti Han (206 BC/200 M.); seperti dikutip kembali secara singkat oleh Ben Simpfendorfer dalam The New Silk Road, How a Rising Arab World is Turning Away from the West and Discovering China (London: Palgrave Macmillan, 2009), 14.
57 ‘Ubayd Alla>h ibn Ah}mad ibn Khurda>dhbuh /ibn Khurda>dhibbah,
66
al-Khat} yang terkenal dengan komoditas dari India.58Juga terdapat pasar al-Mishqar yang biasanya ramai dikunjungi dari pedagang- pedagang lintas negara seperti dari Persia dan yang lainnya. Pasar ini diselenggarakan pada setiap bulan Jumadi al-Akhir setiap ta- hunnya.59
Gambar pada (Lampiran 1) dapat menggambarkan rekon- struksi wilayah kekuasaan terluas rezim Abbasiyah yaitu pada masa al-Ma’mu>n berdasarkan karya al-Maqdisi> “Ah}san al- Taqa>si>m”.60