V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Karakteristik Kelompok Masyarakat Pemanfaat Rotan Jernang
Berdasarkan monografi Desa Lamban Sigatal (2007) dapat dinyatakan bahwa Desa Lamban Sigatal memiliki penduduk sebanyak 843 jiwa terdiri atas 435 jiwa laki-laki dan 408 jiwa perempuan. Jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 180 KK atau rata-rata setiap keluarga beranggotakan 4-5 jiwa. Pertumbuhan penduduk Desa Lamban Sigatal menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Komposisi penduduk berdasarkan etnis menunjukkan dominan etnis lokal atau Bathin IX (97.4%), sisanya sebanyak 2 KK berasal dari etnis Batak, 15 KK etnis Jawa, dan 5 KK dari etnis Palembang. Berdasarkan agama dan/atau kepercayaan penduduk Desa Lamban Sigatal mayoritas menganut agama Islam (836 jiwa) dan sisanya adalah menganut agama Kristen sebanyak 7 jiwa.
Tingkat pendidikan masyarakat Desa Lamban Sigatal relatif rendah, walaupun tidak didapatkan data secara kuantitatif untuk mendukung hal ini, namun secara kualitatif yang dilihat dari cara masyarakat mengemukakan pendapat, dan menjawab beberapa persoalan dalam diskusi bersama menunjukkan kondisi tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan 50 orang masyarakat pemanfaat jernang didapatkan bahwa sebanyak 25 orang memiliki pendidikan lulusan sekolah dasar (SD), 24 orang tidak lulus SD dan seorang yang menamatkan SMP. Dengan kata lain 98% masyarakat tersebut memiliki pendidikan rendah. Namun demikian dari hasil diskusi dengan masyarakat diketahui sudah ada beberapa orang pemuda desa yang sudah menamatkan dan sedang menjalani pendidikan pada jenjang yang lebih baik yang berada di Pauh, Mandiangin dan Sarolangun maupun kabupaten lain, seperti di Muaro Bulian Kabupaten Batang Hari.
Fasilitas pendidikan yang tersedia di desa ini hanyalah pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Sedangkan untuk kegiatan madrasah para murid sebelumnya menumpang di bangunan Sekolah Dasar dan sekarang menempati kantor Kepala Desa dan sebuah mushala. Sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atau yang lebih tinggi mereka harus meninggalkan desa mereka untuk pergi ke ibu kota kecamatan bahkan ke ibu kota kabupaten.
Tingkat kesejahteraan masyarakat masih tergolong rendah, dari 180 Kepala Keluarga terdapat 55 kepala keluarga yang tergolong masyarakat pra sejahtera (Bappeda Sarolangun 2007). Artinya 30% masyarakat desa Lamban Sigatal
merupakan golongan masyarakat pra sejahtera. Pada umumnya masyarakat desa merupakan petani, yaitu menanam padi ladang untuk memenuhi kebutuhan pangannya dan berkebun karet. Selain itu juga ada yang memanfaatkan hasil sumber daya hutan seperti madu dan jernang. Masyarakat yang melakukan pencarian jernang pada umumnya adalah masyarakat asli Desa Lamban Sigatal. Berdasarkan hasil wawancara dengan pencari jernang (lampiran 1) diketahui bahwa pencarian buah rotan jernang biasanya dilakukan berkelompok. Jumlah anggota satu kelompok umumnya terdiri dari 3 sampai 7 orang. Di desa Lamban Sigatal terdapat sebanyak 9 kelompok pencari Jernang.
Di Desa Lamban Sigatal terdapat 4 (empat) orang anggota masyarakat yang mengumpulkan jernang dengan cara membeli atau sering disebut dengan “tauke” (dengan lafal penyebutan “toke”). Jernang yang dibeli biasanya berasal dari masyarakat pengumpul Jernang yang bermukim di Desa Lamban Sigatal maupun dari warga masyarakat sekitar desa seperti Desa Lubuk Napal dan Desa Sepintun. Pada umumnya para tauke baik yang ada di desa Lamban Sigatal maupun desa-desa lain memiliki koneksi dengan tauke yang berada di kabupaten. Saat ini terdapat 2 pedagang pengumpul besar di Kabupaten Sarolangun yaitu Emen dan Fatma (istri pak Idris).
Hasil analisis tentang saluran pemasaran Jernang yang berlaku di Lamban Sigatal yang didasarkan pada hasil wawancara dengan informan (Lampiran 2) adalah sebagaimana yang disajikan pada Gambar 7. Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian ini, menurut Yayasan Gita Buana (2007) saluran tata niaga yang berlaku di provinsi Jambi adalah sebagaimana disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Saluran tata niaga jernang secara umum di Provinsi Jambi Sumber; Yayasan Gita Buana (2007)
Berdasarkan Gambar 8 di atas dapat dijelaskan bahwa lembaga tata niaga jernang di Provinsi Jambi terdiri atas pengumpul jernang, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul kabupaten dan pedagang besar di provinsi yang kemudian disalurkan ke pedagang ekspor, sedangkan lembaga tata niaga jernang dari Desa Lamban Sigatal (Gambar 7) adalah kelompok masyarakat pengumpul jernang, pedagang pengumpul desa (tauke desa), kabupaten (tauke kabupaten) dan pedagang besar di provinsi. Kelompok masyarakat pengumpul Jernang merupakan produsen, sedangkan pedagang pengumpul (tauke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi) merupakan pedagang (agen) perantara, karena menurut menurut Hanafiah dan Saefuddin (2006) perkataan distribusi (marketing) dipakai sebagai tindakan yang bertalian dengan pergerakan barang-barang dan jasa dari produsen ke pihak konsumen. Badan-badan yang berusaha dalam bidang tata niaga, menggerakkan barang dari produsen sampai ke konsumen melalui jual beli, dikenal sebagai perantara (intermediary). Badan-badan ini dapat dalam bentuk perseorangan, perserikatan ataupun perseroan.
Berkenaan dengan saluran pemasaran Jernang di Lamban Sigatal Kabupaten Sarolangun, mengacu pada hasil wawancara (Lampiran 2) dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut:
1) Produsen tidak menanggung biaya penyaluran barang karena produknya langsung diambil di tempat oleh para pembelinya. Tauke lokal (di daerah
produksi dan sekitarnya) menanggung biaya transportasi, dari tempat produsen ke tempat pembelinya atau tauke besar (diluar daerah produksi) dan pedagang ekspor. Biaya-biaya dalam tata niaga jernang yang meliputi biaya bongkar muat, biaya penyimpanan, biaya retribusi, biaya sortasi, dan sewa gudang sebagian besar ditanggung oleh tauke besar dan pedagang ekspor.
2) Informasi pasar yang dikumpulkan pelaku tata niaga Jernang terbatas pada informasi harga jernang. Kegiatan pengumpulan informasi lain seperti waktu dan jumlah jernang yang diinginkan pembeli relatif tidak dilakukan karena unsur, jenis dan kualitas jernang ini tidak menjadi kendala utama dalam penjualan jernang. Demikian juga dengan informasi waktu dan jumlah jernang yang dibutuhkan oleh konsumen akhir juga tidak perlu dilakukan karena diyakini jernang akan selalu dibeli oleh konsumen akhir.
3) Tauke di daerah produksi dan sekitarnya menjadi salah satu komponen dalam tata niaga yang kehadirannya sangat dibutuhkan. Kehadiran stakeholders ini menjadi strategis dikarenakan sentra-sentra produk kehutanan non kayu ini umumnya terpencar dan dengan produksi yang kecil dan musiman. Melalui perannya dalam fungsi pertukaran, tauke lokal sangat berperan penting sebagai penghubung antara produsen dengan konsumen akhir (pedagang ekspor) dan sangat dibutuhkan oleh kedua stakeholders tersebut karena meningkatkan efektifitas tata niaga jernang.
4) Para tauke menentukan harga jernang dengan melihat kualitas jernang. Pada tahun 2009, tauke jernang di Desa Lamban Sigatal umumnya menghargai getah jernang dengan kualitas 1 untuk 1 kilogram sebesar Rp 400 000,- sampai Rp 450 000,- atau rata-rata Rp 425 000,- sedangkan jernang berkualitas 2 dihargai oleh tauke Rp 300 000,- sampai Rp 400 000,- atau rata-rata Rp 350 000. Disamping penilaian masing-masing tauke, penentuan harga getah jernang juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga yang ditetapkan tauke luar desa yang ada di Kabupaten dan Kota Jambi. Hal ini terjadi karena para tauke lokal, yang ada di desa Lamban Sigatal maupun desa-desa lain, memiliki koneksi dengan tauke yang berada di kabupaten.