Kalau mau tahu bagaimana setan bekerja, lihatlah diriku yang kini tengah meringkuk dan terpuruk di dalam sel dingin penjara. Aku menerima hukuman dua tahun enam bulan dipotong masa tahanan berdasarkan vonis putusan Pengadilan Tipikor No : 0X/Pid.Sus/TPK/2021/PN XXX dengan ikhlas sepenuh hati. Kuterima dengan lapang dada, tanpa keinginan untuk banding dan upaya hukum selanjutnya. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada guna sesal dan kesal, aku mau tak mau harus menerima segala konsekuensi atas salah dan dosa yang telah kulakukan.
Terlalu gagah jika dibilang menebus dosa, penjara merupakan hukuman yang setimpal bagi kriminal dan koruptor seperti diriku. Meskipun di persidangan aku dinyatakan tidak merugikan keuangan negara, tetapi tuduhan suap dan mengambil keuntungan diri sendiri merupakan suatu hal yang sudah teramat memalukan, tidak hanya untukku pribadi namun juga bagi keluarga besarku semua ikut terkena getahnya, kejadian ini merupakan aib dan tahi yang mencoreng muka mereka sepanjang usia, selama-lamanya. Dan, orang-orang mempunyai kecenderungan lebih mudah mengingat trauma daripada cerita bahagia.
Yang bersalah adalah diriku sendiri, aku tak butuh alasan dan kambing hitam, bukan kebutuhan dengan harga yang melambung tinggi, bukan sistem dan prosedur yang lemah, dan bukan pula kesetiakawanan. Tapi karena lemahnya diriku, kalah atas bujuk dan rayu sang setan. Aku
177
sungguh malu atas sukses dan keberhasilan setan menjalankan tugas dan kewajibannya, memperdayaiku sehingga mengkhianati tugas pokok dan fungsi kewajibanku.
Setan bekerja dengan begitu sabar seakan tak berhitung dengan waktu. Semula hanya diam seperti ular membelit dalam hati, kemudian mulai membisikkan kata-kata menggoda, membelokkan makna seperti ular merayu Hawa untuk mencoba makan buah kuldi yang ada di tengah taman Eden. Aku tergoda mencoba buah yang dilarang dalam peraturan dan perundang-undangan, buah dari kolusi, korupsi dan nepotisme yang ujung-ujungnya duit (UUD), duit penyuapan yang ujung-ujungnya dipenjara (UUD juga).
Setan membelokkan arti positif kata korsa, seharusnya jargon itu untuk institusi atau ke tingkat yang lebih tinggi, bangsa, negara atau dunia, namun dipelintir oleh mereka hingga terdegradasi ke tingkat gerombolan saja. Kata korsa yang merupakan akronim komando satu rasa dilingkup militer atau kalau dilingkup sosial lainnya ada istilah urang minang, anak rantau, diaspora dan lain-lain, yang secara garis besar diartikan senasib sepenanggungan sebenarnya mempunyai arti yang positif.
Namun, di kamus, setan bisa menjadi arti yang negatif atas nama korsa. Kata korsa tidak diketemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang ada hanya korps, korsase dan korpus, yang berkaitan dengan dunia solidaritas dan satuan kemiliteran. Kata korsa ditemukan di Kamus Besar Tesaurus Indonesia, ditulis sebagai satuan pemaknaan dengan tema dasar batalion, diartikan dengan kata yang semakna dengan korsa antara lain bala, pasukan, resimen, peleton, termasuk gerombolan. Dan kata gerombolan cenderung menggambarkan kata korsa yang negatif, pas
178
sesuai dengan apa yang telah kulakukan. Gerombolan yang telah berperilaku koruptif, gerombolan yang telah mencoreng nama baik kesatuan instansi, gerombolan yang telah mengkhianati kepercayaan masyarakat.
Setan selain sabar, juga sadar bahwa awalnya, ia bekerja dengan umpan kecil yang membingungkan dan membuat ambigu. Aku awalnya ragu, namun akhirnya memaklumi sebagai uang terimakasih, toh aku tidak melanggar aturan dan prosedur yang aku jalankan, toh tidak ada yang dirugikan, toh umpan kecil ini adalah penghargaan atas kecepatan kerjaku. Itulah permakluman yang ada di hati dan pikiranku. Saat itulah, setan tertawa sambil bercanda, ”Masuk, Pak Eko.” Dan sejak saat itu, aku merasa menjadi orang yang berbeda, orang yang tak sama seperti orang yang sudah lolos melewati batas ujian yang diberikan setan. Aku seakan sah dan memenuhi persyaratan masuk kategori gerombolan ‘Jango’, sang tokoh jagoan penembak jitu bayaran dalam Film Cowboy. Saat itulah suara hatiku semakin tersingkir dan terkucil, semua bisikan dan rayuan sang setan untuk permakluman semakin kencang, nyaring dan merdu terdengar. Namun anehnya, dengan uang pelicin yang ada seakan-akan semua pekerjaanku menjadi bertambah licin, lancar dan ringan. Sesederhana itu, cara setan bekerja. Bahkan terkadang, aku menandatangani sesuatu tanpa kubaca lagi substansinya. Substansinya beralih ke tebal tipisnya amplop yang dilampirkan. Saat itulah, aku sudah kehilangan jalan untuk kembali. Tak terbaca lagi jargon ‘Turn Back Crime’, kosa kata ‘cukup’
sudah pergi, menghilang jauh-jauh.
Saat itulah sebenarnya, aku sudah sepenuhnya bekerja untuk setan. Seragamku sudah berganti seragam neraka, diriku sudah bukan abdi negara tapi abdi uang, uang jadi berhala yang kusembah dan kupuja. Aku tak bisa
179
berhenti lagi dan setan pun tertawa melihat aku menimbun uang dan dosa.
Setan tak akan pernah berhenti bekerja. Mereka kini bekerja dengan ringan dan gembira setelah melihat aku mabuk kepayang oleh uang. Uang telah menggadaikanku menjadi budaknya. Uang mengubah prioritasku. Dulu mengutamakan fungsi, sekarang melirik gengsi. Uang juga mengubah kebutuhan menjadi keinginan, dulu hanya butuh cukup makan kenyang tiga kali sehari, meningkat menjadi makan apa yang enak hari ini, dan sekarang berubah makan dimana dan terkadang dengan siapa. Aku mengira derajat hidupku meningkat dengan gaya hidup yang wah dan mewah, orang-orang akan menaruh hormat dengan barang-barang branded yang mulai kupamerkan, seperti judul sebuah film “The Devil Wears Prada”, meskipun itu film komedi ternyata dalam kehidupanku judul itu menjadi tragedi.
Setan selalu merasa kurang atas imbal jasa yang telah aku berikan. Pernah suatu kali, aku merasa resah, bahkan jenuh dan mengembalikan uang siluman, namun itu malah diartikan kode keras meminta uang tambahan. Edan!
Dan, gelombang reformasi akhirnya menerjang republik ini.
Pemerintah semakin serius menciptakan praktik bisnis yang bersih, adil, dan transparan dengan tujuan meningkatnya investasi dan daya saing ekonomi dalam negeri di dunia internasional. Program utama yang dilakukan institusi adalah penertiban importasi beresiko tinggi (PIBT).
Program ini digalakkan dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan konektifitas (terhubung jaringan) di mana transparansi/kejelasan, akurasi/ketepatan dan akselerasi/kecepatan menjadi hal yang diprioritaskan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat ekonomi global.
Setan menutup mataku dan telingaku atas reformasi yang
180
tengah digalakkan di mana-mana, mereka malah menawarkan bayaran yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Aku pun tak kuasa menolaknya. Mereka selalu punya cara agar aku siap menerima. Sebenarnya, aku tak pernah punya pilihan, semua sudah terkondisikan agar tertutup semua pintu alasan penolakan. Dan akhirnya, aku kena batunya, menggelepar seperti ikan terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) saat menerima uang siluman.
Dan, beberapa alat bukti telah disita termasuk semua rekening yang terkait dengan aliran uang langsung dibekukan. Dan seketika itu juga, neraka mulai tampak nyata dan setanpun semakin kencang tertawa.
Kini, batinku menangis di sudut penjara, diam tenang merenung seperti gunung sepanjang hari ternyata membawa kesadaranku kembali. Kebahagiaan itu bukan diukur dari banyaknya uang, bukan mewahnya rumah, bukan terkenalnya merk mobil, pakaian, jam, tas, sepatu yang dikenakan, kebahagiaan itu ternyata kudapatkan saat mengikuti kata hati, berdamai dengan nurani. Kekeliruanku selama ini mengira bahwa kebahagiaan itu sejauh semua yang kuingini terpenuhi. Ternyata di sini, di penjara ini, suara hatiku datang lagi bahkan terdengar nyaring sekali.
Aku seperti terlahir kembali, menjadi anak manusia lagi.
Aku menjadi bocah yang kembali pasrah di jalan Allah.
Suara hatiku datang kembali dan kuharap jangan pergi lagi.
(diambil dari buku harianku, LP Cipinang, 13 Juni 2021, hari keempat ratus enam puluh tujuh)
181