(kriiinggg, kriiinggg) *suara alarm
Alarm pagi tepat berdering pukul 06.30. Sinar matahari mulai tersingkap dalam celah-celah kaca jendela kamar.
Terdengar suara kencang, “Dek, mana kunci mobilku?!”.
Aku yang sedang menyiapkan sarapan pun dengan lembut menjawab, “Ada Mas, di samping meja kerja.”.
“Seragamku?!”, sambungnya dengan suara yang kencang.
“Sudah aku gantung di sebelah lemari baju, Mas.” jawabku pelan. “Kalo tas kerjaku di mana?”, “Kan Mas tinggal di mobil, enggak dikeluarin.”. “Oh yaudah, aku berangkat dulu.”, sahutnya. Ia pun bergegas menuju mobil.
“Eh Mas, sarapannya.”
“Nanti aku sarapan di kantor.”
Aku pun juga bergegas menyiapkan bekal sarapan untuknya, karena aku tau, dia tak pernah mau sarapan,
“Males, masih kenyang.”, katanya.
Untungnya, aku sempat mengejarnya dan memberikan sekotak sarapan dengan roti dan susu di dalamnya, lumayan untuk mengganjal perutnya hingga siang. Aku tau pekerjaannya sangat melelahkan, apalagi selalu bertemu pengguna jasa setiap hari.
“Nih, sarapannya. Jangan lupa dimakan, Mas!”, ucapku.
**
166 Hai!
Namaku Rahayu. Aku seorang penulis, penulis artikel dan cerita, sih. I love to write. Hampir semua isi rak buku adalah diariku, setiap kali ada peristiwa aneh, lucu, bahagia, sedih, pasti aku tulis di dalamnya. Tak jarang aku bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari tulisanku, lumayan bisa membantu keluarga sedikit-sedikit.
Yang tadi itu adalah suamiku, Reza. Ia seorang Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan, lebih tepatnya di Bea dan Cukai. Akupun tidak begitu paham dengan pekerjaannya, yang aku tau dia berada di garda terdepan untuk melayani masyarakat, khususnya yang memiliki kepentingan dalam lalu lintas barang dan cukai, sih. Kurang lebih, seperti itu yang Ia ceritakan kepadaku. Dia adalah lulusan Magister di Belanda, lho. Kurang keren apa coba? Aku bangga padanya!
Kita sudah pacaran sejak kuliah. Ia di Tangerang dan aku di Yogyakarta. Kita dipertemukan dalam sebuah seminar kebangsaan dan tentu saja kita cinlok! And we love travelling!
Mas Reza memang kayak gitu, bossy, suka ngatur, dan perfeksionis, tapi sebenernya dia baik banget, dia adalah cowo paling jujur yang pernah aku temui setelah Ayah aku. Setiap kata-katanya selalu dipercaya orang lain, dan dia selalu menepati janjinya walaupun Ia sibuk. Enggak pernah sekalipun rencana kita yang cuma wacana. Dan Ia selalu melaksanakan sesuatu tepat pada waktunya, kayak berangkat kerja aja, dia enggak pernah telat, buktinya tahun lalu dia meraih pegawai teladan dan berprestasi. Mas Reza ga pernah berubah.
**
167
Seperti biasa, setelah menyiapkan makanan untuk suami, aku menatap layar laptop untuk melanjutkan menulis naskah. Hari ini, ada klien yang ingin dituliskan kisah hidupnya. Denger-denger sih, dia seorang pejabat tinggi di sebuah Kementerian.
(ting) *dering notifikasi handphone.
Satu surel masuk dari penerbit Majalah Pojok Kota, salah satu penerbit ternama di Kota Yogyakarta. Seminggu yang lalu, aku mengirim naskahku ke sana, berharap menjadi pemenang lomba menulis cerita pendek, bertemakan Perang Melawan Korupsi. Hadiahnya lumayan dan bisa ku pakai buat beli buku novel yang aku incar sejak lama.
Yes! Akhirnya aku mendapat juara dua! Sebenarnya aku enggak mengharapkan hadiah dari kompetisi ini, yang aku harapkan Mas Reza dapat meluangkan waktunya untukku. Karena apabila aku juara, Mas Reza akan menemaniku belanja buku di hari pengumuman pemenang, kebetulan buku diariku udah halaman terakhir.
Waktu udah menunjukkan pukul 17:30, enggak biasanya Mas Reza pulang terlambat. Aku pun menelfonnya dan memberi tahu kalau aku meraih juara, sekalian mengingatkan janji Mas Reza waktu itu.
(tut... tut...) *nada tunggu telepon
“Assalamu’alaikum mas. Mas, dimana? Kok belum pulang?”
“Wa’alaikumussalam, iya dek, lagi di kantor, baru selesai meeting. Kenapa?”, dengan nada datar
“Mas, aku dapet juara dua lomba menulis kemarin. Ayo temenin beli buku.”
“Oh iya ya, tapi hari ini gabisa dek, masih ada kerjaan di kantor.”
168
“Mas enggak inget seminggu yang lalu mas bilang kalau kita mau jalan berdua kalau aku menang.”
“Ya gimana dek, aku masih ada kerjaan, mana mungkin aku tinggal. Nanti aja kita makan berdua di rumah.”
“Yaudah mas, gapapa kok, aku izin keluar beli buku sama bahan buat masak nanti malem ya mas, sampai ketemu jam (?)”
“Yaudah iya.” Jawabnya dengan nada kesal dan langsung mematikan telepon.
**
Sudah lewat pukul 20.00, Mas Reza belum juga datang, padahal aku masak makanan kesukaannya supaya Ia bisa lebih nyaman berbincang denganku.
Waktu terus berputar hingga aku melihat jam, pukul 21.00. tidak ada kabar juga dari Mas Reza, sampai akhirnya aku tertidur di meja makan.
Pukul 22.13, aku terbangun karena seseorang membuka pintu,
“Sayang..” sahutku. “Makanannya udah siap nih, aku buatin masakan kesukaan kamu, tapi udah agak dingin sih, aku panasin bentar ya...”
“Gausah, aku udah makan, tadi ada makanan di kantor.” sambil berjalan masuk ke kamar.
“Kamu gamau ngicipin, mas? Enak lho, aku buatin spesial buat.... (suara pintu yang menutup kamar Reza) ...Kamu.”
**
Mentari pagi mulai bersinar, sudah menjadi rutinitasku untuk menyiapkan seragam dan keperluan kerja suamiku.
169
Saat aku raba dan rapikan celana suamiku, aku menemukan sebuah amplop. Tanpa seizin suamiku, aku buka amplop tersebut. Ternyata amplop tersebut berisikan sejumlah uang. Aku enggak tahu berapa jumlahnya, yang jelas tebal dan aku yakin pasti lebih dari 20 juta.
Seketika tanganku gemetar dan berusaha tidak meluapkannya kepada Mas Reza waktu itu juga.
“Sayang, aku berangkat ya.”
“Iya mas, sarapannya jangan lupa.”
“Iya sayang, udah aku bawa.”
“Hati-hati ya sayang.”
**
Seperti biasa, aku melanjutkan pekerjaanku, namun pagi itu aku enggak begitu konsentrasi. Uang yang aku temukan di saku celananya tadi mengangguku, karena aku enggak yakin uang yang Mas Reza terima bukan dari hasil yang baik. Aku takut, makanan yang aku dan keluargaku makan jadi enggak barokah.
Malamnya, aku menunggunya pulang, pukul 17.30 pun dia belum juga kembali. Padahal aku sudah menyiapkan makan malam untuknya.
Malam mulai larut, pukul 21.43. Mas Reza pulang dan sayangnya Ia kembali tidak mau memakan masakanku, Ia pun bergegas menuju ke kamar. Aku pun membujuknya untuk makan, sekalipun cuma memakan satu suap nasi.
“Sayang, makan dulu, ini udah aku masakin.”
“Enggak sayang, aku udah makan di kantor.”
“Tapi...”
Tiba-tiba, ada suara dering telepon masuk dari kamar, aku menguping pembicaraan Mas Reza dengan rekannya.
170
“Tenang aja, enggak bakal ketahuan, kita kan main bersih, toh kalau kita diadili, aku punya kenalan di kejaksaan dan kepolisian. Aman udah.”
**
Malam itu, aku menangis sejadi-jadinya. Mas Reza tidak seperti biasanya. Ia selalu menepati janji, selalu jujur dan menghargai apapun pemberianku. Bahkan dahulu, tiap minggu selalu mengajakku keluar dan tiap hari selalu bercerita. Ia juga selalu melakukan yang terbaik dan selalu berintegritas, acap kali dia bilang bahwa saat ini Kementerian Keuangan menjadi institusi yang bersih dan bebas dari korupsi atau pungli. Akupun bersyukur karena apa yang suamiku hasilkan semuanya dari hasil yang baik.
Namun, malam itu, aku menduga ada yang enggak beres dari suamiku. Tapi, aku harus ber-positive thinking dan enggak boleh su’udzon sama suami sendiri.
**
Paginya, berjalan seperti biasa, sampai pada akhirnya aku terkejut, Mas Reza pulang lebih awal, awal sekali.
“Assalamu’alaikum sayang”
“Wa’alaikumussalam, loh mas, udah pulang?”
“Iya, aku pengen nyempetin waktu buat istriku, yuk, kita keluar, kita beli buku dan bunga.”
Dengan wajah yang penuh keheranan dan setengah berbahagia, “Hmm ayuk mas, kebetulan aku juga mau beli buku cerita dan alat tulis.”
171
Betapa senangnya aku saat itu ternyata Mas Reza meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk mengajakku keluar.
Dari mulai toko buku dan alat tulis, toko bunga di dataran tinggi, makan bersama di cafe pusat kota, membeli aksesoris di toko butik, sampai makan es krim dan menemaninya memotret jalanan malam Kota Yogyakarta.
Karena hobinya fotografi, hihi.
Hari itu, serasa diriku dibawa pada saat masa pacaran dulu, hampir sama. Memang benar, Mas Reza enggak pernah berubah. Setidaknya saat ini aku berpikir seperti itu, sampai dering telefonku berbunyi, tepat setibaku di rumah. Malam, pukul 22.41. Seorang lelaki tua menelfonku.
“Halo, selamat malam”
“Malam, dengan mbak Rahayu kan, istri Pak Reza?”
“Iya dengan saya sendiri. Bagaimana Pak Imron?”
... (percakapan berlangsung)
Keesokan harinya, giliran Mas Reza yang membuatkanku sarapan. Dia tidak bersiap ke kantor. Kami berdua duduk berhadapan, aku tak memulai pembicaraan, malah Mas Reza yang mengawalinya.
“Sayang, enak ga?”
“Enak kok.” Jawabku. “Sayang, aku mau ngomong sesuatu. Tadi malem aku ditelfon sama temen kerja kamu, katanya kamu dirumahkan sementara ya? Kenapa mas? Kok kamu ga cerita?”
Tanpa menjawab, dia langsung melompat dari kursi dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.
“Mas, mas, tunggu mas, mau kemana? Aku belum selesai ngomong loh.”
Aku tak bisa menahannya, aku biarkan dia pergi, mungkin untuk menenangkan pikirannya, begitupula
172
pikiranku. Aku kemudian duduk di sofa setelah merapihkan makanan di meja. Ya, tentu saja sambil terisak.
Aku menelponnya, selalu saja missed call. Aku menunggunya pulang. Apapun alasannya dia menerima uang itu, pasti aku terima. Aku berusaha sabar menghadapinya, karena aku yakin dia tak pernah berubah.
**
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. aku pun berlari membukanya. Tanpa mengucap salam, terjulur tangan yang dingin setelah angin malam menusuknya, wangi jaketnya yang tak asing, lembut belaiannya sangat ku kenali, jarak antar kaki yang dapat ku rasakan seberapa jauhnya. Mendekap sangat lembut hingga sedih dan lelahku hilang seketika. Ya, aku tau pelukan ini dari siapa, jelas saja, suamiku sendiri.
“Assalamualaikum, sayang.” Berbisik ditelingaku sambil masih mendekap. Suaranya tersedu, aku tau dia sedang menangis.
“Wa’alaikumussalam, Mas”
“Biarin aku peluk kamu dulu ya, jangan dilepas, sampai aku berhenti menangis.”
Tiba-tiba setelah beberapa menit, dia melepaskan pelukannya, aku membantu mengusap air matanya. Dia juga mengelus kepalaku. Selalu saja dia bisa membuatku luluh.
Lalu, aku mengajaknya untuk makan malam dan tentu saja aku memasak makanan kesukaannya. Dia makan begitu lahap dan sudah lama aku tak melihatnya makan selahap ini. Aku bahagia melihatnya. Yang terlintas dipikiranku, Ia masih sama seperti yang dulu, aku enggak pernah memarahinya meskipun ia telah melakukan kesalahan yang sangat bertolak belakang dengan
173
prinsipnya, karena aku tau dia memiliki alasan, maka dari itu aku ingin mendengarkan alasannya.
“Sayang, enak makanannya? Kamu suka?”
“Enak sayang, masakan kamu enggak berubah”
“Alhamdulillah, aku seneng kamu suka... Oh iya sayang, kenapa kok kamu...”
Pertanyaanku dipotong dan langsung disambar olehnya.
“Maafin aku, ya, aku tau aku salah. Dan uang ini...
(mengeluarkan uang dari sakunya) aku tau kamu udah buka amplopnya, dan aku tau kemarin kamu ditelfon oleh Pak Imron di bagian Kepatuhan Internal Pegawai. Jadi, aku dirumahkan sementara karena aku nerima uang dari pengguna jasa yang sebenarnya itu bukan hak ku dan melanggar nilai-nilai Kementerian Keuangan. Aku sendiri belum menggunakan uang ini dan seharusnya aku menolaknya dari awal, tapi aku berencana untuk mengembalikannya.”
“Iya, sayang, Pak Imron waktu itu minta buat menuliskan kisah hidupnya, jadi dia tahu nomorku, deh.
Alhamdulillah, iya sayang, aku tau dan aku yakin, kamu, suamiku, tidak pernah melakukan perbuatan diluar prinsip kamu sampai saat ini.”
“Iya, aku terpengaruh sama tekanan di kantor, banyak orang-orang yang maksa aku buat mencoba hal-hal yang berbau korupsi, ketika ada kesempatan itu, teman-teman bahkan sahabatku sendiri memaksaku untuk menerimanya, katanya cuma sedikit.”
“Tapi, meskipun sedikit sama aja itu bukan hak kamu kan sayang, jadi lebih baik kita hidup secukupnya seperti ini aja, aku pun bersyukur dengan apa yang aku punya dan kamu punya.
174
Lihatlah, kamu udah bersekolah tinggi dan memiliki pekerjaan yang baik kan? Enggak semua seberuntung kamu.
Waktu kamu udah dipercaya oleh rakyat, jangan sekali-kali kamu ingkari kepercayaannya. Aku yakin kamu selalu jujur dan berintegritas. Jangan terpengaruh sama temen-temen ya, tetep teguh sama prinsip kamu, kan pegawai teladan.”
“Makasih sayang ya, selalu support dan sabar ngadepin aku. Besok aku kembalikan uang ini dan aku mulai kerja besok pagi. Siapin sarapannya lho!”
“Sama sama cintaku. Gimana ga sabar orang kamunya juga sabar dan selalu baik kok. Oke suamiku, mau dimasakin apa nihh...”
**
Ya, memang terkadang manusia ada khilafnya, termasuk Mas Reza. Yang terpenting dia sadar dan mau mengakui kesalahannya, dan juga enggak ngulangin kesalahan yang sama. Aku yakin Kementerian Keuangan termasuk Bea dan Cukai sudah bertransformasi kearah yang lebih baik.
Keesokan harinya, aku diajak menemani Mas Reza untuk mengembalikan uang tersebut kepada pengguna jasa.
Mas Reza langsung ingin menemui Direktur perusahaan tersebut, namun ternyata beliau sedang meeting, jadi kami menemui stafnya. Mas Reza menyampaikan, “Institusi Bea dan Cukai sudah tidak lagi menerima hadiah berupa uang atau barang dari pihak manapun termasuk pengguna jasa, meskipun uang ini adalah bentuk terima kasih tapi mohon maaf kami tidak bisa terima dan tolong sampaikan kepada Bu Direktur. “
Kalian tau apa yang aku rasakan saat itu? Aku melihat kewibawaan dari suamiku terpancar, keren banget.
175
Aku enggak nyangka dia bukan hanya jadi pahlawan untuk keluarga, tapi bangsa dan negara ini juga. Mudah-mudahan Allah swt. membalasmu mas dan diberikan kebarakahan untuk keluarga kita. Aamiin..
Selesai.
176