• Tidak ada hasil yang ditemukan

Habis gelap terbitlah terang, semangat tentang hidup dengan penuh keselarasan, setara dan tidak saling merendahkan khususnya untuk Perempuan. Sebuah pesan yang begitu dalam yang digaungkan oleh Raden Ajeng Kartini dan dengan indahnya dibukukan oleh J.H.

Abendanon lebih dari 100 tahun yang lalu. Meski sudah berumur seabad, nyala apinya nyatanya masih berkobar hingga saat ini. Mengalir dalam setiap nadi perempuan Indonesia tanpa terkecuali. Dipegang teguh prinsip peran perempuan yang tidak hanya menjadi pelengkap laki-laki.

Terukir abadi dengan banyaknya bukti dan prestasi bahwa perempuan juga bisa mengabdi dan mengharumkan nama pertiwi. Meski kadang berat langkah yang coba mereka jalani, tapi aku sendiri pernah melihat dan sedang melihat sosok srikandi itu. Sosok yang begitu gigih mengabdi tanpa pamrih, tersenyum penuh arti. Memberikan warna baru pada instansi kami yang seolah tak pernah terlelap menjaga perbatasan negeri dari segala penjuru.

***

Asa, nama yang berarti harapan. Dapat juga memiliki arti kehidupan, kebangkitan, lincah dan semangat.

Untuk seorang perempuan, Nama Asa adalah doa yang teramat sangat baik. Membawa harapan bahwa anak itu kelak akan menjadi sosok perempuan tangguh, penuh tanggung jawab, penuh dengan semangat, memaknai

83

kehidupan dengan langkah-langkah positif serta membawa harapan banyak orang untuk diwujudkan. Seperti itulah Asa, juniorku yang baru sekitar sebulan yang lalu memulai langkah pertamanya sebagai abdi negara di pulau yang sangat kaya dengan timah. Asa sama dengan perempuan-perempuan lainnya. Mencoba memulai roda kehidupannya dan memilih melabuhkannya untuk mengabdi pada instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Yang secara tidak langsung menggambarkan kuatnya tekad dan semangatnya dalam mengemban tugas yang tidak selalu mudah.

Ditempatkan ribuan kilometer jauhnya dari orang tuanya di Jawa adalah halangan perdananya. Tentu belum pernah lupa aku, sorot matanya yang masih memancarkan jelas kesedihan.

“Kamu asalnya darimana, Sa?”

“Siap, asal saya Magelang, bang,” jawaban khas anak baru lulus langsung terdengar.

“Nanti di sini dibawa santai saja, kita semua rantauan kok di sini.” jawabku yang sudah mulai memasuki tahun kelimaku di tanah rantau.

“Siap bang, mohon bimbingan dan arahannya.”

Itu adalah percakapan yang sebenarnya klise, namun bisa jadi percakapan itulah yang menjadi awal kedekatan kami. Kedekatan yang bisa membuatku mencoba mengabadikan kisah kegigihan Asa dalam mencoba meniti langkah pengabdiannya.

***

Seperti kebanyakan anak CCPNS biasanya, Asa dan ketiga temannya ditempatkan bergiliran di setiap bagian masing-masing selama 2 minggu. Momen seperti ini biasanya bertujuan untuk melihat bagian mana yang cocok

84

dengan masing-masing pegawai. Setelah melalui minggu-minggu pengenalan dan penyesuaian, Asa resmi ditempatkan di Subbagian Umum. Kecakapannya dalam administrasi adalah point yang menjadi pertimbangan dia ditempatkan di bagian ini, karena bagian ini menuntut pegawai untuk menyiapkan segala hal yang bersifat administrasi dan tata usaha.

“Gimana, Sa? Udah kerasan di sini?” sapaku di suatu siang ketika menunggu makanan yang dipesan online.

“Alhamdulillah, bang, memang awal-awalnya masih sering salah. Tapi, lambat laun udah mulai ngerti dengan kerjaan, kok,” balasnya sambil terus mengarsipkan surat masuk.

“Ya minimal kamu sudah gak kaget lagi, kan, ya?

Karena masa-masa yang paling berat kan biasanya pas adaptasi.”

“Iya, bang, gakpapa, ini pelan-pelan juga sambil belajar…”

“Asa, tolong bantu saya untuk konsep surat identifikasi diklat pegawai, ya,” Kepala Urusan Kepegawaian tiba-tiba masuk dan meminta tolong kepada Asa.

“Baik, ndan, bang saya izin dulu ya, nanti titip makananya ditaruh disini aja,” kata Asa seraya bergegas keluar ruangan.

Begitulah Asa, dalam rentang waktu yang singkat Dia sudah bisa menjadi sosok penting dalam bagiannya.

Kejadian tadi adalah momen di mana Aku yakin bahwa perjalanan awal Asa akan baik-baik saja, sebelum salah satu momen terbesar sekaligus yang paling merubah jalur karirnya terjadi.

***

Masih ingat dalam benakku pada hari itu, ketika tiba-tiba muncul nota dinas rolling pegawai. Semuanya

85

kaget karena penerbitan ND rolling pegawai yang begitu mendadak. Ada sekitar 8 pegawai yang harus bertukar bagian dengan bagian lain. Termasuk di dalamnya adalah Asa yang baru sekitar setengah tahun ditempatkan di subbagian umum.

“Kok bisa, ya, ndan? Padahal kan Asa baru ditempatkan di subbagian umum, dan jadi orang kepercayaan dalam mengolah administrasi juga kan?”

ujarku ketika bertemu dengan bagian kepegawaian di flexible working space.

“Itu justru jadi peluang yang bagus untuk Asa dalam mengembangkan dirinya Fan. Kan kita sendiri tahu, rata-rata unit seperti itu butuh administrator,” tukas si Bapak sambil terus fokus ke arah laptopnya.

“Iya, sih, ndan, tapi bukankah nanti kasihan di Asa nya?”

Seketika ketikan jari si Bapak terhenti sejenak. Dia balik menatapku seraya mencoba mencerna perkataanku barusan.

“Kasian dalam artian bagaimana, ya, Fan?”

Tukasnya kemudian.

“Izin, ndan, mungkin hanya perasaan saya saja ndan. Mohon maaf, ndan.” Kataku cepat-cepat mengubah topik pembicaraan yang berpotensi memicu hal-hal yang ambigu.

Dan begitulah, resmi semenjak hari itu Asa memulai langkah kakinya dalam tugas dan tanggung jawab yang berbeda dari yang dia emban sebelumnya. Semua mata tentu menaruh rasa penasaran terhadap yang dia rasakan. Seorang anak yang polos dan baru meniti karir dan mengenal instansinya, harus langsung mengemban tugas yang sedemikian rumit. Namun, melihat sorot matanya yang masih menunjukan semangat yang sama, rasa khawatir

86

kami sedikit demi sedikit luntur. Sungguh, untuk seukuran anak baru, dedikasinya dalam mengabdi untuk instansi ini sangatlah tinggi. Sikap loyalnya dan profesionalismenya sangatlah kuat sehingga tanpa ragu sedikitpun, meski belum tau jalan terjal didepannya, Dia dengan mantapnya menjawab “SIAP!”. Sebuah cerminan dari tekad kuat kartini dalam diri Srikandi Bea dan Cukai yang siap mengabdi penuh untuk Ibu Pertiwi.

***

Ibarat kata pepatah dari Tere Liye:

“Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru.”

Perjalanan Asa di unit pengawasan berjalan dengan baik pada awalnya. Seperti yang diharapkan. Sorot mata penuh harapan dan semangat yang selalu dia tunjukkan, dapat menuntunnya untuk melewati hari-hari pertamanya dengan mudah. Namun ibarat lilin yang lambat laun dibakar api, cobaan dan halangan pasti akan datang. Meski sudah teguh dan ikhlas niat dan pengabdiannya, hati manusia kadang terlalu rapuh untuk menahan semua beban dalam waktu yang lama.

“Sa, mau makan siang gak?“ Whatsapp dari Tya, teman satu angkatannya mencoba mengajaknya makan siang seperti biasa.

Namun tidak ada jawaban dari Asa. Bahkan ketika sudah mendekati waktu habis makan siang, dia juga tak kunjung keluar dari musala. Usut punya usut, Asa baru saja mendapatkan teguran dari atasannya karena salah mengonsep surat. Di satu sisi juga, waktu perkenalan yang singkat membuat Asa juga belum terlalu berbaur dengan senior-seniornya yang lain di unit tersebut. Meskipun sudah ada beberapa senior yang mencoba membimbingnya,

87

jadwal kerja mereka di lapangan yang begitu padat membuat mereka harus membagi waktu untuk membimbing Asa. Maka jadilah hari itu, suatu hari yang bisa dibilang hari yang pahit namun bermakna bagi Asa.

Hari di mana air matanya jatuh tanpa dia sadari.

Meski getir, dia tahu bahwa teguran dari atasanya semata-mata untuk membantu dia lebih teliti dan awas lagi. Karena risiko pekerjaan yang sekarang diembannya lebih tinggi daripada sebelumnya. Tapi meski berusaha meneguhkan hati, meski sudah kami hibur sedemikian rupa. Tapi tetap saja, anak muda itu butuh waktu untuk mencerna dan menerima. Untuk berusaha semaksimal mungkin memberikan pengabdian terbaiknya. Hingga tibalah satu momen, dimana dia akhirnya mengerti. Bahwa tetes air matanya hari itu, adalah sebuah awal dari rencana indah yang telah Tuhan siapkan untuk dirinya.

***

Setelah berkutat dan beradaptasi kurang lebih setengah tahun, perlahan Asa dapat mulai terbiasa dengan kondisi barunya. Meski sangat berbeda dengan lingkungan kerjanya yang lama, tapi semua itu dilalui Asa dengan ikhlas dan penuh semangat. Sorot matanya yang begitu hangat tidak pernah hilang meski ia kadang harus pulang sampai larut malam. Senyumnya yang membagikan kebahagiaan tidak pernah luntur meski harus tetap stand by di hari libur.

Semangatnya yang begitu tulus membantunya untuk tetap tegak. Hal itulah yang membuatnya lambat laun menjadi orang kepercayaan di unit pengawasan. Senior-seniornya pun sudah semakin akrab dan kerap menganggap Asa adalah mood booster di unit pengawasan yang sangat identik dengan laki-laki. Asa pun demikian, meski kadang

88

masih rumit dan butuh penyesuaian, Asa perlahan mulai bisa terbiasa dengan iklim kerja yang lebih fleksibel. Dia juga menciptakan iklim kerjanya sendiri sehingga dia bisa merasa nyaman. Dia mulai berperan aktif dalam bagian administrasi di unit pengawasan. Sehingga kinerja unit ini menjadi lebih teratur dan lebih baik.

Kadang Asa pun mendengar atau melihat secara langsung perjuangan senior-seniornya. Dari mereka yang harus menangkap target operasi sehingga menyebabkan kontak fisik, harus menginap di hutan belantara, hingga terombang ambing di lautan lepas. Asa pun mulai menyiapkan diri sedikit demi sedikit. Karena lambat atau cepat, waktunya untuk ikut turun ke lapangan pada akhirnya akan tiba.

Akhirnya waktu itu tiba juga. Dirasa sudah terbiasa dan siap, akhirnya Asa ditugaskan untuk terjun ke lapangan.

Tidak main-main, yang harus Dia lakukan adalah melakukan kegiatan boatzoeking, yaitu pemeriksaan sarana pengangkut laut untuk mengecek apakah ada indikasi berbahaya dan pelanggaran atau tidak baik secara administrasi maupun pengecekan langsung. Tentu saja, hal ini membuat Asa sedikit takut dan gentar. Apalagi, dia harus bersama dengan instansi lain yang semuanya adalah laki-laki. Meski dia bersama dengan seniornya, tapi seniornya yang bertugas bersamanya adalah senior yang dianggap Asa tidak pernah serius. Terlalu santai dan sering bermain-main. Makin jadilah dia merudung akan keputusan ini.

“Coba kamu bilang aja, Sa, siapa tau nanti atasan bisa mempertimbangkan,” ujar Tya setelah mendengar kegetiran dan kegelisahan Asa.

“Aku sebenernya bisa saja bilang begitu, tapi apakah aku harus menolak bahkan sebelum aku melakukannya langsung.” balas Asa.

89

“Ya, tapi kamu itu perempuan loh, di tengah laut kayak itu, yang lainnya laki-laki lagi. Nanti kenapa-napa gimana?”

“Ya, kamu doain aku, ya, makanya, Yak. Aku percaya kok, atasan gak akan ngasih ini tanpa mempertimbangkannya matang-matang. Lagian, meski kita ini perempuan, bukan berarti kita gak bisa melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan bukan?” Jawab Asa mantap.

“Yaudah, tapi kamu berkabar terus ya. Aku soalnya juga agak kurang yakin dengan Bang Hata. Kamu sama dia, kan?”

“Iyasih, tapi ya sesama Bea Cukai harusnya saling bahu membahu toh. Kita kan Korsa,” jawab Asa menutup pembicaraan.

***

“Semuanya sudah disiapkan, Sa? Berita Acara, Surat Tugas dan APD?” Ujar Hata, senior Asa yang sudah lebih dulu ditempatkan di unit pengawasan. Tidak seperti senior yang lain, Hata kerap terlihat cuek yang lebih sering bermain-main dengan Asa. Mungkin juga bisa ditambahkan agak sedikit jarang memberikannya arahan dan juga masukan.

“Siap sudah, bang, ini kita berangkatnya sebentar lagi kan, Bang?” Jawab Asa seraya mengecek kembali perlengkapan dan berkas.

“Iya, nanti pokoknya kamu ikutin saja aku. Jangan banyak main-main nanti di lapangan.”

“Lah yang sering main-main siapa, ya?” Ujar Asa agak sedikit kesal dalam hati.

“Siap, bang, nanti mohon arahannya, bang,” ujar Asa kemudian.

90

“Gampang itu, yang penting kamu jangan mabuk laut, dan jangan keliatan sekali belum pernah memeriksa, ya.”

“Siap, baik, bang.”

Perjalanan yang dilalui Asa dan Hata adalah perjalanan darat selama 3,5 jam dan dilanjutkan dengan menaiki sekoci sejauh 2 mil dari bibir pantai. Suasana ombak yang tidak terlalu bersahabat membuat Asa sedikit gentar. Berapa kali deburan ombak menerpa badan kapal.

Sebagian memercik ke arah penumpang, termasuk Asa.

Asinnya air laut terasa begitu kelu di bibir, sekelu hatinya yang semakin berdebar-debar. Perjuangan sekitar 2 jam menyeberangi samudera tentu belum berakhir semudah itu.

Ketika tiba di sisi kapal yang tinggi, Asa diharuskan menaiki tangga yang dikenal dengan istilah tangga monyet. Yaitu tangga yang disusun berpilin dengan tambang, tangga ini tentu saja tidak stabil. Sehingga untuk menaikinya, diharuskan ekstra hati-hati dan kewaspadaan. Ketika tiba giliran Asa, dengan penuh kehati-hatian kakinya mulai melangkah.”

“Hati-hati, ya, Sa, aku nanti naik sehabis kamu,” ujar Hata seraya memegangi bagian sisi tangga.

“Siap, bang,” ujar Asa mulai menaiki anak tangga.

Baru beberapa langkah kaki Asa, tangga sudah mulai bergoyang. Apalagi, suasana laut semakin buruk, ombak semakin menjadi-jadi. Beberapa kali, Asa berhenti sejenak untuk menstabilkan tangga. Kakinya kadang seolah beku, tangannya tak henti memegang erat tali tambang yang menyusun tangga. Sisa 2 anak tangga, Asa sudah mulai bisa mengayunkan kakinya dengan mantap. Hingga tiba-tiba…

“Asa!!!” Ujar Hata setengah tertahan.

Asa hampir saja terjatuh, kakinya salah memijak sehingga topangannya goyah, untung saja anak buah kapal

91

dengan sigap menangkapnya. Lalu menuntunnya untuk segera naik. Dengan wajah pucat bercampur malu, Asa akhirnya bisa tiba diatas kapal.

Setibanya di Kapal, Asa dan Hata bertemu dengan begitu banyak orang dari segala Negara lain. Ada yang dari Rusia, Vietnam, Singapura dan lain-lain. Mau tidak mau, meski dengan keterbatasan kosakata, mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Hal pertama yang dilakukan Asa yaitu melakukan pengecekan kelengkapan administrasi. Administrasi-administrasi kapal seperti data penumpang, data gudang dan data obat-obatan ditelitinya satu persatu. Hata juga ikut membimbing dan memberitahukan bagian mana yang harus di atensi kesesuaiannya.

“Jadi ini namanya passenger list, Sa, kita bisa tahu jumlah personil yang ada di kapal ini, dari sini juga kita bisa nentuin kamar mana yang mau kita periksa,” ujar Hata menjelaskan.

“Yaudah, sudah clear semua, yuk kita mulai mengadakan pengecekan kamar dan juga ruang mesin,”

lanjut Hata seraya memberitahukan kepada petugas kapal untuk mengantarkan mereka ke kamar awak kapal.

Jadilah setelah itu, Asa dan Hata melakukan pengecekan pada beberapa kamar awak kapal dan juga ruang mesin.

“Sir, what it is?” Ucap Asa seraya menunjukan sebotol kapsul yang ditemukannya di laci salah satu awak kapal.

“Ng, what you called it in English, it’s a medicine”

jawab sang Awak kapal

“Oke Sir, can we take it to checked by Health Quarantine Officer?” Ujar Asa kemudian.

“No no, its ok,” awak kapal pun mengiyakan.

92

Lalu, setelah itu, mereka berdua keruang mesin.

Disini ada banyak awak kapal yang bertugas sebagai teknisi.

Mereka pun dibagikan penutup telinga dikarenakan ruangan mesin yang sangat berisik. Di sini Hata menyadari bahwa Asa adalah satu-satunya perempuan diruangan tersebut. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dia pun selalu berjalan dibelakang Asa untuk mengawasi sekaligus melindunginya.

Hata yang biasanya tidak pernah serius ternyata berubah menjadi sangat bisa diandalkan dan dewasa. Dia juga beberapa kali menjelaskan kepada Asa mengenai bagian-bagian yang harus di atensi untuk diperiksa. Sebuah respon alami dari perlindungan seorang senior kepada juniornya. Sesuatu yang sangat mahal untuk dinilai dari segi harga, karena itu murni respon dari hati yang berlandaskan korsa yang tinggi.

***

Kegiatan boatzoeking pun selesai terlaksana.

Waktunya semua petugas untuk kembali ke pelabuhan untuk selanjutnya pulang lagi ke Pangkalpinang. Dengan hati-hati, Asa kembali menuruni tangga monyet. Di tengah cuaca yang tidak membaik dan ombak yang semakin meninggi, Asa perlahan berdoa. Memohon keselamatan agar Dia bisa pulang dengan selamat.

Dreeet dreeeet dreeet

Di tengah perjalanan, sesuatu yang tidak diduga terjadi. Mesin kapal kecil itu tiba-tiba mati karena kelebihan muatan. Asa yang tidak bisa berenang pun seketika panik dan sudah berpikir yang tidak-tidak. Ombak semakin kuat saat itu, kapal pun terombang–ambing di lautan lepas tanpa arah.

93

“Bang ini gimana, ya? Saya gak bisa berenang, bang,” ujar Asa panik.

“Sudah tenang saja, itu ada speedboat sepertinya akan menjemput kita. Meskipun harus gentian, sih, gapapa nanti kamu duluan ya, Sa,” Hata coba menenangkan Asa sambil menujuk speedboat yang akan berfungsi sebagai estafet untuk membawa para penumpang ke pelabuhan secara bergantian.

“Mohon izin, bang, ini junior saya dulu, ya, yang naik,” kata Hata mantap seraya menuntun Asa untuk pindah ke speedboat yang sudah berhasil mendekati kapal mereka.

“Abang gimana? kita gak bareng?” Ujar Asa ketika sudah berada di speedboat.

“Aku mah gampang, nanti aku ikut giliran kedua, ya, sudah kamu hati-hati, jangan sampai mabuk laut, ya, hehe,”

Hata pun melambaikan tangan seiring dengan speedboat yang semakin menjauh ke arah pelabuhan.

Meskipun sempat terkendala dengan cuaca yang buruk. Akhirnya, Asa dan Hata dapat kembali ke Pangkalpinang dengan selamat. Di tengah jalanan yang membelah Pulau Timah tersebut, Asa merenung. Mungkin ini adalah anugrah dari yang Maha Kuasa untuknya. Di balik semua kegetiran dan perjuangan beratnya untuk beradaptasi dengan unit barunya, Asa menemukan makna dari sebuah pengabdian. Bahwa tidak mudah untuk menjadi seorang Pegawai Bea dan Cukai. Yang rela menembus tingginya ombak dan beratnya letih hanya untuk melakukan tugas pengawasan. Yang rela menebus hari liburnya demi terus bekerja menjaga negeri dari barang-barang berbahaya. Yang rela pulang dengan ditemani rembulan demi memastikan bahwa pertiwi baik-baik saja. Asa sadar, bahwa dia ditempatkan di unit ini bukan tanpa alasan. Ada rencana indah dari Tuhan yang mengajarkannya untuk

94

mencintai pekerjaannya. Dimulai dari unit yang dia anggap sangat berantakan dan kompleks, justru di sanalah dia belajar tentang beraneka macam warna dan watak manusia.

Seperti Hata yang dia anggap adalah sosok senior yang menyebalkan dan tidak pernah serius, tetapi berubah menjadi sosok dewasa yang sangat melindunginya.

Asa pun tersadar, bahwa air matanya yang tumpah kemarin tidaklah sia-sia. Ada makna yang semesta sisipkan untuk meneguhkan hatinya. Rasa kesal dan letihnya perlahan berganti warna menjadi spektrum yang lebih cerah. Awan kelabu yang menyelimuti hatinya perlahan merangsek hilang, berganti dengan surya penuh harapan.

Yang sangat berkoneksi erat dengan nama indahnya. Dan seiring dengan jalanan yang sudah semakin mendekati kota Pangkalpinang, semakin teguh dan mantap pula hati Asa.

Tidak ada lagi keraguan yang dia coba tutup rapat-rapat.

Senyumnya tidak pernah selebar saat ini, bersamaan dengan hatinya yang tidak pernah secerah ini.

Semesta menjawab itu semua dengan caranya sendiri. Sungguh manis buah dari sebuah pengabdian untuk negeri. Untuk sesaat Asa sadar tentang senior-seniornya yang selalu mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang riang dan juga ikhlas. Karena ruang lingkup keikhlasan hati manusia ini sangat luas, lebih luas dari apapun. Asa juga sadar akan satu hal. Tentang peran perempuan sudah seharusnya tidak dipandang hanya sebagai sosok pelengkap, namun sebagai sosok yang mendampingi, saling mengisi kekosongan satu sama lain.

Dalam hati Asa mengirimkan doa, pesan dan harapan untuk para Srikandi Bea Cukai di seluruh penjuru negeri. Mereka yang rela pergi jauh dari keluarga dan orang yang terkasih. Terima kasih atas peran dan pengabdian yang sangatlah hebat dan besar. Terima kasih Asa

95

gumamkan untuk mereka yang sudah berperan menemani arjuna dalam berbagai aspek pekerjaan, baik itu yang bersifat administratif maupun yang bersifat di lapangan yang lumrah dilakukan oleh laki-laki. Asa akhirnya sadar, bahwa pengabdian yang dia berikan kepada negeri tidak berbatas akan statusnya sebagai perempuan. Namun justru dengan statusnya sebagai perempuan itu, sutra srikandi yang ia rajut, dapat menjadi media lain penghubung pelayanan yang indah di seluruh penjuru pertiwi.

***

“Bang saya minta maaf, ya, kalau tadi merepotkan,”

ujar Asa ketika mereka tiba di kantor, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam saat itu.

“Minta maaf kenapa, Sa? Kamu gak salah kok. Justru kinerjamu bagus, bangga aku punya junior kayak kamu,”

Hata menepuk pelan pundak Asa seraya berlalu.

Hata menepuk pelan pundak Asa seraya berlalu.