Rentak senandung Akordeon Kuala Deli tempo 4/4 mengalun dari ruang kemudi mengiri perjalanan patrolinya di bab kesekian kali ini. Matahari pamit pulang lewat barat selat Malaka. Setitik rindu jatuh lagi dari hari ke hari menjadi elegi, dengan khidmat ia bungkus rindunya dalam doa, berharap mengarung menuju ibunda. Raga dan rindu memang tak pernah akur dari dulu, ah Ibu, sekian purnama sudah kita tak bertemu.
“Sudahilah cita-citamu kerja di laut, Nak, tiga orang tetangga kita pelaut pulang cuma tinggal nama, mencium jenazahnya pun tak bisa, tak sanggup aku, Nak.” teringat kembali ucapan yang berulang kali disampaikan ibunya saat ia pamit untuk mengikuti diklat kepelautan di Ibukota setelah sebelumnya berlayar 3.5 tahun di kapal Jepang. Di sebelah Ibu, Bapak yang sudah lama di diagnosis stroke ikut mengangguk, keduanya sudah masuk usia senja. Ia adalah
28
anak lelaki satu satunya, bungsu dari 6 bersaudara yang diharapkan mendampingi mereka hingga tutup usia.
Mencoba menawar pada takdir ia coba kerja di darat, menjadi tukang sayur keliling, kuli bangunan, tukang ojek, hingga jadi guru TK, sambil diam-diam, ia masukkan juga lamaran kerja pada satu Kementerian. Dan begitulah skenario takdir bekerja atas dirinya, anak desa itu berlari membawa berita kelulusan dari Kementerian Keuangan,
“Direktorat Jenderal Bea dan Cukai”, kepada keluarga tercinta, kegigihan dan bulat tekadnya berbuah angguk restu, haru, bangga dan seekor Kambing selamatan dari Ibu tercinta. Tidak ada yang lebih meringankan langkahnya berjuang selain restu dan doa dari orang tua. Semoga ridho, rahmat dan rezeki tercurah untuk mereka.
Dialah Mendung, kisah ini tentangnya, pria asal Trenggalek yang selama 7 tahun terakhir bergabung dalam Marine Customs, takdir membawanya berjibaku menjaga perbatasan dari ujung Sabang sampai Lampung, Selat Malaka, Natuna, Anambas, Serasan, hingga utara Kalimantan Barat. Ia meraih predikat terbaik kesamaptaan yang diampu pelatih Batalyon 10 Marinir TNI AL di Tanjung Balai Karimun. Mental dan tekadnya sudahlah tak usah ditanya, seingatku ia satu-satunya siswa yang selalu tersenyum dan sumringah setiap disiksa. Sea survival berikut lintas medan dia lalui dengan jumawa.
“Jangan dirasa, nanti makin tersiksa, jalani saja, ini ilmu dan pengalaman mahal, tidak semua bisa, kita orang langka”
katanya sembari mengelap senjata mesin berat caliber 12.7 mm.
29
Mendung adalah satu dari puluhan ribu wajah Marine Customs yang tersebar di perbatasan laut Indonesia, pasukan terlatih yang siap mati, siaga berani dan setia mengawasi pergerakan komoditas illegal yang lalu-lalang di laut Indonesia. Tantangan yang mereka hadapi bukan hanya gerombolan perompak keji, tetapi juga rakyat kecil, nelayan, buruh pelabuhan, kuli panggul bahkan janda-janda tua yang dijadikan tameng demi sereceh dua receh rupiah. Dari laut mereka belajar, selalu ada batas meski samar antara kebenaran dan kesalahan yang tidak akan bercampur dalam ruang relativitas yang membingungkan, sebagaimana kehidupan dan kematian yang tidak mungkin dipertemukan. Suka ataupun tidak, mereka yang melampau batas hingga menimbulkan kekacauan hanya akan berakhir dalam takdir kelam dan terkubur di dasar laut yang dalam.
Malam ini adalah malam kedua patrolinya di lintasan selat Malaka, hari kedua di bulan Juni. Kabut tipis yang menyelubungi langit tidak sedikitpun mengurangi Pesona Selat Malaka di malam hari.
Selat ini secara geografis membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok. Selat yang terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dan Pulau Sumatera ini, bagaikan madu, begitu molek dengan hiruk pikuk perdagangan komoditas ekspor dan impor. Pusaran arus gelombang laut yang besar sejalan dengan putaran uang yang menjanjikan. Bagaikan pasar yang tumpah ruah, dari berbagai level masyarakat yang terlibat, komoditas legal dan illegal yang lalu-lalang menjadi demikian samar
30
bagi mata awam, tapi tidak bagi Mendung. Ia hafal jalur ini melebihi jalur mudiknya ke kampung halaman.
“Ini kedaulatan kita, Bung”, “Harga Diri!” serunya sambal menepuk dada dua kali,
Lintasan buih tertinggal dibelakang, kapal Patroli Marine Customs mengiringi senyapnya laut malam di perairan Timur Sumatera menuju Perairan Tanjung Balai Asahan, informasi telah diterima, sindikat penyelundupan Ballpress dari Port Klang Malaysia akan beroperasi malam ini juga.
Di bawah redup sinar Bulan, komandan tim bolak-balik memastikan perlengkapan tempur berfungsi baik; senjata api dan water cannon dicek berulang kali. Selang beberapa menit, radar membaca pergerakan kapal suspect.
Putaran uang yang menggiurkan dari sindikat Ballpress tidak kalah semarak dengan penyelundupan narkoba, banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari bisnis ini, bisnis yang minim modal karena ballpress sendiri adalah limbah dari negara luar yang disambut suka cita hingga memiliki pasar sendiri di negeri ini. Bagi mereka, sosialisasi massive akan bahaya ballpress terkait dampak lingkungan dan mematikan industri lokal ini hanya dianggap teriakan bising yang memekakkan.
Laut malam di bulan Juni terasa tenang, tapi dadanya bergemuruh hebat.
“Mungkin Tuhan jadikan Bulan bagi manusia daratan untuk beristirahat, tidur di balik selimut hangat, dikeloni suara bangkong dingdang, amfibi malam, namun bagiku, Bulan
31
adalah lampu kapal besar, bersama rasi bintang menjadi navigasi menuju kapal perompak dan penyelundup, tidak ada waktu untuk beristirahat, ini akan jadi malam yang panjang.” Batin Mendung.
Sebuah kapal kayu ukuran 100 gross ton (GT) yang disinyalir mengangkut ratusan Ballpress mulai tampak dari kejauhan, kobaran api membara menari-nari dari obor yang dibawa puluhan atau (mungkin) ratusan barikade massa penyelundup, teriakan peringatan dari petugas diabaikan, sementara jarak antara kedua kapal semakin dekat, tembakan peringatan terukur mengudara memecah momentum yang mencekam, alih-alih takut dengan petugas, massa malah semakin beringas, obor-obor dilemparkan, petasan, bom molotov bertubi-tubi dibuang ke kapal patroli, teriakan-teriakan semakin tak terkendali, bulan murung, laut bergelombang, angin mencekam.
“Ini bukan perang melawan penjajah, ini perang melawan bangsa sendiri” batinnya.
Seorang wanita paruh baya berteriak-teriak memancing petugas untuk menembak, ia membuka baju nya menantang, massa bayaran seperti wanita ini hanya satu dari sekian banyak, mereka hanya dibayar 100-200 ribu untuk mempertaruhkan nyawa dan harga diri.
Peluru, bagi Marine Customs bisa menjadi pisau bermata dua, di satu sisi untuk membela diri, di sisi lain menjadi boomerang jika tidak dapat dipertanggungjawabkan, massa tau benar akan konsekuensi ini, petugas tidak akan menembak serampangan, karena itu mereka bertaruh nyawa memancing emosi.
32
Tembakan water cannon berdaya tinggi dengan kandungan air laut yang asin dari kapal patroli diarahkan ke kapal penyelundup, dalam gelap, tim menyasar pada kelompok massa yang tak terkendali, mereka bertaruh pada waktu dan juga kendali diri, hanya tembakan melumpuhkan dan terukur yang diperbolehkan. Bukannya menyerah, perompak mencoba melarikan diri, melemparkan tali ke propeller kapal Customs kemudian melakukan manuver berbahaya dengan memotong lintasan kapal patroli dan terus berusaha menyerang. Tumpahan minyak menggenang di lautan, kembang api dan bom molotov wara-wiri di udara, bau belerang, arang dan kalium nitrat menusuk hidung melumpuhkan akal sehat mendorong tindakan-tindakan nekat.
Hampir 4 jam berjibaku, kapal penyelundup mulai bocor dan terbakar, teriakan masa yang beringas berubah menjadi melas, ketakutan!
Mendung dan tim melakukan crossing ke kapal lawan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, melemparkan tali ke massa yang nekat lompat dan tenggelam, mengamankan barang bukti, melumpuhkan dan menyelesaikan misi malam ini. Satu episode malam yang panjang.
Pagi harinya, jumlah massa dihitung, hanya tertinggal 56 orang termasuk wanita dan lansia, beberapa dari mereka hilang dilaut. Tangis Mendung menggantung, ada sesak yang menyayat dihati mengingat nasib orang-orang kecil ini, modal nekat, siap mati, nun jauh di seberang sana cukong tersenyum goyang-goyang kaki.
33
***
Seribu satu wajah Laut, satu demi satu, ia rekam dalam ingatan. Suatu waktu Laut begitu misterius dan gelap, mengamuk dengan ombak yang menjulang, melahap apa saja yang ada di depan, membawa rahasianya ke dalam palung yang terdalam. Lain waktu Laut menjadi hangat dan bersemangat, memantulkan bayang anak-anak kecil yang menyelam hingga legam. Tiap saat pergantian musim hujan dan kemarau Laut menyilahkan koloni lumba-lumba melintas bermigrasi. Tiap-tiap sore menjelang petang diantarkannya gadis-gadis nelayan pergi mengaji ke masjid seberang.
“Bagiku, laut sudah menjadi teman, bahkan kala mendung di tengah samudera, ia satu-satunya yang mau mendengar ku bercerita”.
“Dari pelabuhan ke pelabuhan kapalku sandar, aku adalah alumni dari tiap kota yang kudatangi. Lautku tak berbatas, tapi aku penjaga batas, penjaga kedaulatan bangsaku, penjaga harga diri bangsaku.” bulat tekadnya menggema di sanubari.
Sayup-sayup suara takbir mengumandang di pagi pertama Idul Fitri, masih berseragam lengkap Mendung menyapa ibunya dari layar aplikasi.
“Maafkan aku ya Bu, hari ini aku belum bisa pulang.”
***
34