Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya. Tebal asap ibu kota sedang bertempur dengan masker yang kugunakan.
Kurangnya asupan oksigen yang terhalang membuat kayuhan langkahku menuju kantor kian terasa berat. Aku terpaksa sesekali menurunkan maskerku untuk menghirup udara segar ibu kota yang masih lenggang karena jam di tanganku masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Apabila aku terlambat setengah jam saja mungkin aku harus bersepeda melawan asap kendaraan ibu kota yang mungkin bisa lima kali lebih pekat dari saat ini. Pemandangan yang sangat berbeda yang kurasakan dengan dua belas tahun lalu. Ya dua belas tahun lalu.
Dua belas tahun lalu, aku dan sembilan temanku menuruni tangga pesawat baling-baling dengan sedikit gemetar setelah dihantam angin kencang sepanjang perjalanan. Selepas keluar bandara kami disuguhi oleh hamparan tanah kosong dan tandus seperti apa yang kami lihat dari atas pesawat. Mungkin karena ini sedang mamasuki musim kemarau pikirku. Namun terlihat jelas betapa minimnya perumahan yang berada disekitar sini.
Dua orang berwajah khas Pulau Timor sudah menanti kedatangan kami ketika kami baru saja keluar dari pintu bandara. Om Yosef dan Thomas namanya.
Mereka berdua mendampingi kami menuju ke kantor yang terletak dipantai kota ini. Lokasi kantor kami berjarak kurang lebih tiga puluh kilo meter dari kota dengan medan berkelok menuruni dataran tinggi menuju
98
pantai. Tak ayal beberapa dari kami dipaksa memuntahkan isi perutnya. Pemandangan asing mulai muncul ketika sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh babi yang berkeliaran dijalanan dan hewan-hewan ternak yang memanjat dinding tebing perbukitan. Sinyal di HP-ku pun bertuliskan E+ ketika sebuah gapura bertuliskan SELAMAT DATANG DIPELABUHAN ATAPUPU menyambut kami.
Awal Mula Sebuah Perjuangan
Aku mulai berdiri mengayuh sepedaku menanjaki jalanan flyover di sebelah universitas KKG menuju ke arah utara, melewati MOI dan Mall Artha Gading yang menandakan bahwa tujuanku sudah tidak jauh lagi.
Pemandangan gedung-gedung mewah yang tak mungkin kujumpai dua belas tahun lalu awal ku meniti karir.
Kantor Pengawasan dan Pelawayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Atapupu. Begitulah yang tertulis pada tembok depan kantor tempat pertama kali aku menuliskan cerita perjalanan karir pekerjaanku. Itu merupakan salah satu bangunan yang terbuat dari tembok selain beberapa bangunan pemerintah, masjid dan gereja. Sisanya bisa kita saksikan bahwa sebagian besar perumahan warga masih terbuat dari kayu.
Hari itu, selepas sambutan Kepala Kantor, beberapa pegawai di kantor menjelaskan secara singkat pada kami tentang pekerjaan pada kantor ini. Sedikit ku beri gambaran, kantor kami mengawasi sembilan pos perbatasan dengan negara Timor Leste namun hanya empat pos yang aktif. Secara singkat nantinya kami bersepuluh akan dibagi menjadi lima kelompok terdiri dari dua orang.
Dimana masing-masing dari kami harus mengisi empat pos perbatasan yang diawasi oleh kantor ini, serta satu tim sisanya akan mengisi kantor induk. Penempatan kami
99
lakukan secara acak dengan cara mengambil kertas undian.
Aku memperoleh pos perbatasan paling jauh dari kantor utama kami.
Hari pertama ini, kami hanya menerima sedikit penjelasan, karena kami harus menyiapkan perlengkapan untuk tinggal di kantor. Kombinasi antara nyamuk malaria, hewan agas (hewan yang dapat membuat kulitmu rusak seperti bekas luka bakar), serta tanpa adanya sinyal internet merupakan kombinasi terbaik untuk menjatuhkan mental kami. Tak ayal nanti ketika baru beberapa hari bekerja beberapa kawanku sudah dilanda sakit entah akibat malaria, atau terkena shock mental dari perubahan kultur dan kondisi lingkungan. Masalah percintaan pun tak luput akibat susahnya komunikasi dan hubungan “LDR” yang harus dilalui. Akupun termasuk salah satu korbanya setelah ditinggal kekasihku yang dipinang seniornya setelah kami menjalin hubungan lima tahun sejak SMA. Musibah? Ketika kuingat lagi memang menyakitkan saat itu.
Setelah beberapa hari menerima penjelasan pekerjaan yang lebih detail. Kami akhirnya diterjunkan pada Pos Motaain untuk menerima praktik langsung. Dua hari pertama aku ditempatkan pada bagian pemeriksaan barang penumpang. Sempitnya lokasi pemeriksaan menjadi kendala utama disini. Ruang pemeriksaan yang hanya sekitar empat kali empat meter sudah terisi dengan dua buah meja tumbang yang berukuran 2 x 0,5 meter dan empat orang pegawai bea cukai membuat ruangan ini begitu pengap ketika jam kedatangan. Antrian dapat memanjang hingga seratus meter mungkin karena kedatangan rombongan travel dari Timor Leste berada dalam satu waktu.
Minuman alkohol cukup mudah dijumpai, dan hampir semua penumpang membawanya. Entah antara di
100
negara sebelah begitu mudah dan murah dijangkau.
Ataupun terkait keperluan adat atau kebiasaan dari warga disini saat itu aku kurang paham. Namun yang jelas dari sepuluh orang, tujuh diantaranya kemungkinan melanggar dengan membawa melebihi ketentuan. Sesuai arahan dan aturan kami menjelaskan dan melakukan pemusnahan dengan menuangnya pada tempat yang telah disediakan.
Namun terkadang aku melihat beberapa MMEA tersebut tidak dimusnahkan dan disimpan dibawah kursi. Mungkin akan dimusnahkan nanti ketika sudah tidak ramai lagi dan untuk mempercepat antrian pikirku.
Sore harinya setelah selesai melaksanakan rekap data dan briefing singkat kami dipersilakan beristirahat sembari menunggu jemputan menuju kantor. Sedangkan pegawai senior terlihat berkumpul, bersantai merokok sembari mengeluarkan minuman yang telah disiapkan oleh PKD pos ini. Sekilas tampak seperti minuman yang kami sita tadi. Namun aku tetap berprasangka baik bahwa PKD disini baru saja membelinya. Ketika melihat kami mereka mengundang dan mengajak untuk bergabung. Hampir semua merapat kecuali aku dan Resa. Terlihat beberapa mulai mencoba mencicipi. Sedangkan beberapa hanya ikut mengobrol saja.
Beberapa hari kemudian aku ditempatkan pada bagian penerimaan dokumen. Kegiatan utama kami adalah pelayanan dokumen PEB dan Surat Perizinan Menggunakan Kendaraan antar negara karena minimnya kegiatan impor disini. Sebagian besar persuratan masih dilakukan secara manual menginggat aplikasi dulu belum secanggih sekarang. Dokumen PEB pun masih dibuat manual dengan ditandatangani kepala hanggar setempat. Dibagian ini kami hanya memeriksa kelengkapan dokumen. Selanjutnya pengguna jasa akan dipersilahkan untuk meminta tanda
101
tangan ke dalam ruang hanggar. Aku tak paham menggapa bukan kami yang meminta tanda tangan ke dalam ataupun kepala hanggar berada didepan untuk mempercepat pelayanan.
Beberapa hari berikutnya aku ditempatkan pada pemeriksaan kendaraan. Dimana aku memeriksa kendaraan pribadi yang masuk ataupun sarana pengangkut PEB yang kembali menuju Indonesia. Beberapa kejadian menarik kujumpai disini ketika beberapa kali aku menemukan barang yang disembunyikan. Banyak contohnya seperti MMEA yang disembunyikan, mesin kendaraan, dan barang-barang bekas yang dilarang masuk. Beberapa kali kujumpai para pengemudi ini bahkan menyodorkan beberapa lembar uang rupiah bahkan dollar ketika aku menemukannya baik di dalam kendaraan bahkan ketika didalam “bak” truk supaya mendapat izin dan tidak dilaporkan. Tentu saja aku tetap menjalankan tugasku sebagai pegawai yang benar dengan melaporkanya ke senior yang bertugas yang mendampingiku disana. Sayangnya dalam beberapa case entah kenapa barang yang kutemukan tadi mendapat izin setelah beberapa dari mereka berkonsultasi kedalam ruang hanggar. Yah, aku tidak tahu dan tidak berburuk sangka waktu itu. Yang aku takutkan ketika benda didalamnya terdapat barang yang berbahaya seperti narkoba, setidaknya aku telah menjalankan tugasku dengan benar.
Setelah dua minggu diperbantukan kami berada dipenghujung bulan mendapat ucapan terimakasih dan wejangan karena bulan depan kami mulai dipisah menuju pos masing-masing. Sebelum kegiatan ditutup oleh makan malam bersama malam hari nanti, kepala hanggar tiba-tiba mengeluarkan amplop yang berisi uang kepada kami. Dia mengatakan secara halus ini jatah bulanan sementara untuk kami karena kami masih mengenakan hitam putih saat itu.
102
Sebagian dari kami tertawa senang dan sebagian lagi bingung dan ragu karena di dalamnya berisikan uang sekitar satu setengah juta saat itu. Meskipun aku tidak tahu dari mana uang itu berasal, di depan anak-anak aku memberanikan diri untuk menolak uang pemberian kepala hanggar tersebut dengan alasan selama ini saya diajarkan untuk tidak menerima uang apapun selain gaji saya.
Beberapa menyebutku tidak sopan beberapa menghargai.
Namun bagiku itu adalah suatu langkah jelas yang harus kuambil. Setelah tragedi tersebut terjadi namaku cukup naik dan menjadi sorotan. Pernah sekali lagi suatu ketika mereka menawariku dan aku tetap menolaknya hingga pada kesempatan selanjutnya mereka tidak lagi menawariku pembagian tersebut dan lebih berhati-hati terhadapku.
Menurutku itu hal yang sangat melegakan karena tak perlu lagi melakukan penolakan dari atasan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga berganti tahun. Setelah mulai menjadi CPNS, mengenakan seragam dan memperoleh gaji. Aku menjadi lebih bersyukur dimana hampir selama enam bulan aku hidup dari uang sebesar delapan ratus lima puluh ribu perbulan pemberian pemerintah dengan biaya hidup yang sangat mahal disini.
Berbeda dengan rekan-rekanku yang tiap bulan memperoleh penghasilan lebih serta mendapat makan siang bersama dari kantor. Aku cenderung lebih menghindari makan bersama karena tidak tahu dari mana sumber uang itu berasal. Sebagian besar kegiatanku di kantor pun juga lebih sering ditempatkan pada lokasi yang tidak berhubungan dengan bagian yang memungkinkan terjadinya pelanggaran kode etik disana. Aku lebih sering di tempatkan di kantor bagian umum. Aku mensyukurinya karena jujur itu mungkin bantuan dari Allah untuk lebih meringankan perjuanganku.
103
Antara Kejujuran, Loyalitas, Korsa, Kebenaran dan Tuhan.
Air shower lantai empat di sebelah ruang PFPD mengguyur tubuhku yang masih sedikit panas setelah sekitar satu jam bersepeda membawa tas yang cukup berat.
Jujur, meskipun rasa air di kantor ini cukup payau dan aneh, namun jelas lebih baik dari pada air kapur yang berada di pulau Timor. Dimana ketika kita meninggalkan kamar mandi kita selama satu minggu maka akan terdapat kerak kapur pada ember maupun bak mandi kita.
Hari itu badai besar terjadi di instansi Bea Cukai dimana mereka melakukan reformasi birokrasi secara besar-besaran. Banyak kantor dan pegawai menjadi “korban kebaikan” reformasi ini. salah satu diantaranya kantor kami.
Entah sejak kapan Unit Kepatuhan Internal Kantor Pusat telah menjalankan survei dan wawancara terhadap pengguna jasa sehingga menilai kantor kami adalah kantor yang menjalankan pungli. Interogasi besar-besaran pun dilakukan di kantor kami terhadap para pegawai. Banyak, bahkan hampir sebagian besar pegawai menerima panggilan untuk di wawancara. Namun dibelakang itu, para pegawai kantor juga berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga diri mereka dengan mengadakan perkumpulan dan rapat bersama. Aku pun turut diundang dalam kegiatan tersebut. Mereka menjelaskan tentang cara menjawab dan menjelaskan sebisa mungkin menghindari pertanyaan yang menjebak serta menggembor-gemborkan tentang loyalitas dan korsa.
Hampir empat hari berlalu, para pegawai silih berganti menerima panggilan. Tak kusanggka ternyata aku juga mendapat pangilan wawancara. Didampingi kepatuhan internal kantor ini. Menjelaskan secara santai pembicaraan ini. Mereka mulai menanyakan tentang kegiatan ilegal
104
kantor ini mulai dari pungli dengan nada yang halus namun akan membuat mereka yang ditanya berkeringat dingin.
Sebelum sebuah pertanyaan dilontarkan, sejenak aku menghela nafas dan semua pikiranku terbang melayang teringat akan kekompakan angkatan kami, kekeluargaan kantor ini. Meski aku tak menerima apapun dari hasil ilegal dan juga jarang berkumpul ketika ada acara karena sebagian kegiatannya dilanjutkan dengan minum-minum.
Bukan berarti aku adalah anggota yang tidak akrab dengan yang lainya. Mereka pun juga sudah menyadari aku berada di sisi mana dan terkadang mengakhirkan minum-minum supaya aku dapat bergabung dengan mereka. Di sisi lain aku juga tak dapat membenarkan kegiatan apapun yang dilakukan mereka, meskipun aku sendiri tidak mengetahui detailnya karena sebagian besar kegiatanku berada di kantor utama dan ketika aku berada di pos perbatasan mereka lebih sering menyembunyikannya dariku dan meletakanku di posisi yang tidak berpotensi terdapat pungli atau suap maupun kegiatan yang melanggar kode etik lainya. Bahkan aku lebih sering mendengar kegiatan mereka dari cerita-cerita mereka. Disaat semua itu berterbangan di dalam kepalaku pertanyaan demi pertanyaan mulai dilontarkan kepadaku.
Setelah saling memperkenalkan diri, beberapa pertanyaan awal dilontarkan mengenai penempatan kerjaku hingga kegiatannya. Kemudian mulai masuk ke dalam inti permasalahan di mana mulai mengulik tentang pungli, suap maupun pelanggaran kode etik lainya. Aku pun menjelaskan bahwa aku pernah mendengarnya namun tak pernah melihatnya. Aku pun menjawab jujur semua pertanyaannya tanpa kebohongan sedikit pun namun juga tidak pernah mengatakan bahwa terdapat pungli yang dilakukan pegawai karena aku tidak pernah melihatnya.
105
Aku membenarkan ketika beberapa kali pernah disodori uang suap maupun “tips/gratifikasi” namun tentu saja aku menolaknya. Aku pun membenarkan bahwa pernah ditawari amplop berisi uang dari atasan namun aku menolaknya. Namun aku juga menolak bahwa uang itu hasil pungli/suap karena tidak mengetahui asal sumber uang tersebut. Aku mengatakan bisa jadi uang tersebut adalah uang solidaritas dari pegawai ketika awal kami datang dan belum memiliki gaji. Kemudian penanya tersebut mencoba untuk mengorek lebih dalam lagi hingga pada suatu titik menganggap bahwa diriku dianggap apatis terhadap kegiatan disekitarku.
“Izin komandan, saya telah mengatakan dengan jujur apa yang saya ketahui dan tidak. Apabila menganggap saya demikian, berarti komandan lebih mengetahuinya dari saya.” Jawabku lembut dengan senyuman. Setelah beberapa saat kemudian kami mengobrol ringan dan Kepala Seksi Kepatuhan Internal menjelaskan bahwa aku ada di golongan putih. Kemudian mempersilakanku untuk meninggalkan ruangan.
Beberapa hari kemudian dilaksanakan presentasi dan sosialisasi dari Kepatuhan Internal pusat terkait pungli dan suap yang terjadi pada kantor kami. Kemudian dilakukan perombakan besar-besaran dalam penempatan pegawai. Kudengar beberapa yang terlibat bahkan ada yang menerima hukuman disiplin.
Sebuah Tanggung Jawab dan Harapan
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai lima aula sinergi dengan seragam lengkap disertai bivak di tangan kananku. Sedikit berat ketika harus berjalan kaki ketika menaiki lima lantai. Namun itu semua tak sebanding dengan beratnya perjalanan hidup yang telah kulalui.
106
Beberapa hari setelah hukuman disiplin dijatuhkan.
Beberapa isu mengatakan bahwa aku telah membocorkan kegiatan ilegal kantor kami. Dampaknya banyak pegawai tentu yang menghindari, membenciku dan membicarakanku di belakang. Beberapa bulan kemudian pun suasana kantor juga terasa tidak senikmat dulu lagi. Dan semua juga terasa lebih berat ketika aku merasa lebih diasingkan di tempat kerja. Tentu saja ketika leting angkatanku menanyakan hal tersebut kepadaku aku tidak membenarkanya. Namun sebagian dari mereka mungkin sudah terlanjur termakan sakit hati. Hingga disuatu hari terbongkar beberapa nama yang sebenarnya membeberkan dengan jelas kegiatan ilegal kantor ini. Hingga beberapa pegawai mulai kembali menerimaku dengan baik.
Yah, jujur saja, aku tidak pernah menerima permintaan maaf atas tindakan mereka. Namun aku sama sekali tak membenci mereka. Karena apa yang mereka lakukan atas dasar ketidaktahuan, dan apa yang kulakukan atas dasar loyalitas pada negara ini. Begitu banyak kenangan dan pelajaran berharga yang dapat kuambil dari pengalaman ini.
Upacara dimulai, hari ini adalah hari pelantikan/pengambilan sumpah/janji pejabat. Allah memberiku tugas yang lebih berat dari sebelumnya dimana aku diberi tanggung jawab sebagai salah satu pejabat pada KPU Tanjung Priok setelah dua belas tahun aku mengabdi pada negara ini. Jujur aku yakin tidak akan mudah. Namun hati ini berpegang teguh pada pendirian, aku yakin Allah akan mempermudah jalannya. Apalagi aku bersyukur saat ini aku sudah hidup pada masa dimana orang baik sangat dihargai. Suatu perubahan besar yang telah kurasakan dan benar-benar menuju ke arah Bea Cukai Makin Baik!
107