• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Kapten Tim Patroli Laut Berani Mati dari Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tanjung Balai Karimun” begitu orang-orang menjuluki Kapten Yasop. Pagi itu panas terik matahari dan angin laut menerpa Kapten Yasop beserta 10 anggota timnya yang sedang briefing disamping dermaga, bersiap untuk melaksanakan patroli laut guna menjaga perairan Republik Indonesia dari serbuan kapal-kapal penyelundup.

“Kep, bagaimana persiapan sarana operasinya?”

tanya Komandan Coby, atasan Kapten Yasop yang datang memeriksa kesiapan tim patroli kali ini. “Siap, sudah siap semua Ndan, tinggal gerak kita Ndan” jawab Yasop dengan yakin.

Setelah menerima arahan dan informasi terkait dugaan akan masuknya kapal penyelundup dalam jumlah besar, Kapten Yasop segera berangkat untuk melaksanakan patroli laut.

Dalam perjalanan menuju titik koordinat yang ditentukan, Yasop mengumpulkan anggotanya untuk memberikan arahan lebih lanjut. “Jadi kita namai apa operasi kita kali ini?” tanya Yasop kepada para anggotanya.

Yasop memang selalu menamai setiap kegiatan operasinya, biar keren dan gampang buat diceritain pikir Yasop. Yasop memang suka bercerita, sekali keluar cerita dari mulutnya jangan harap bisa kabur, kalian harus duduk dan mendengarkan kisahnya minimal 1 jam penuh.

“Karena target kita adalah Kapal D Cebec, gimana kalo Operasi Marvel Kep, kan kita mau lawan DC, Kep.” ucap

138

Tony, anggota tim yang paling muda dan baru genap berusia 22 tahun Desember nanti.

“Oke, Operasi Marvel kata Tony, ada usulan lain?”

kata Yasop menanggapi.

“Operasi Tuton aja Kep, sesuai target yang katanya bawa 2 ton sabu” ucap Nico.

“Ada lagi? Kalo ngga Operasi Angin Ribut aja gimana? Kan semalam sebelum operasi sempat ada angin ribut? Kata Yasop dengan mata yang berbinar-binar seakan-akan menginginkan para anggotanya untuk setuju dengan dia.

“Oke, Operasi Angin Ribut!” Ucap para anggota Yasop serentak. Para anggota Yasop sudah paham sifat Yasop yang kadang meminta saran dari anggotanya namun pada akhirnya Yasop sendirilah yang memutuskan semuanya, mereka sudah benar benar mengerti dan menerima kelakuan Yasop ini dan hanya bisa mengangguk sambil diiringi senyum tipis diantara mereka.

Lima jam berlalu sejak tim Yasop sampai di titik lokasi yang ditentukan dan masih belum ada tanda tanda kapal D Cebec yang diduga mengangkut 2 ton sabu itu.

Yasop mulai khawatir, ia mondar-mandir mengelilingi kapal patroli memastikan ia tidak melewatkan targetnya. “Belum lewat kan, ya?” pikir Yasop. Hari semakin sore dan akan semakin susah untuk Yasop menemukan target operasinya.

Kepercayaan diri dan semangat Yasop menurun seiring turunnya matahari pada hari itu.

“Ton, udah bisa hubungi kantor belum?” tanya Yasop kepada Tony yang disuruhnya untuk bertanya ke kantor apakah ada kemungkinan target operasi sudah melewati titik lokasi Yasop.

“Dari tadi masih belum bisa, Kep.” jawab Tony agak segan karena melihat Yasop yang semakin khawatir.

139

“Coba ter-” Belum sempat Yasop menyelesaikan kalimatnya, Nico berteriak, “Kep, ada kapal mencurigakan, kencang banget Kep.” ucap Nico sambil terengah-engah.

Mendengar ucapan Nico, Yasop langsung lari ke ruang kemudi dan dengan sigap mengambil teropong untuk memantau kapal yang ditunjukan Nico. Ternyata firasat Yasop benar, itu adalah speed boat D Cebec dengan 5 mesin yang menjadi target Operasi Angin Ribut”

“Kejar!” ucap Yasop dengan penuh semangat yang diikuti dengan jawaban “Siap, Kep!” dari anggotanya sambil berlari kesana-kemari mempersiapan diri.

Sesaat setelah matahari tenggelam, semangat Yasop dan para anggotanya malah membara, hilang sudah wajah-wajah lesu sore tadi namun walaupun begitu kekhawatiran dalam pikiran Yasop belum hilang. Kapal D Cebec yang menjadi targetnya melaju sangat cepat di hari yang semakin malam, meninggalkan kapal Yasop yang kalah start.

Walaupun lampu sorot sudah dinyalakan tapi tetap saja target Yasop semakin menjauh dan semakin tidak terlihat.

“Kep, sebentar lagi bakal masuk area karang, bagaimana Kep? tanya Luvi, salah satu anak buah Yasop dengan wajah paniknya sambil menoleh ke Yasop. Di waktu yang sepersekian detik ini Yasop mengolah banyak informasi sekaligus dan kata yang terucap dari mulut Yasop adalah “Kejar terus!”. “Siap.” balas Luvi langsung menghadapkan mukanya kearah depan.

Sepuluh menit berlalu dan Yasop bahkan belum bisa mendekati Kapal D Cebec, terlihat pulau-pulau kecil diarah yang dituju Kapal D Cebec, melihat hal itu, Luvi semakin panik dan takut mengatakannya kepada Yasop, sementara itu Tony yang dari tadi mencoba menghubungi kantor masih belum bisa terhubung.

140

“Izin, Kep, di depan sudah perairan dangkal, kapal kita sudah tidak bisa mengejarnya.” ucap Luvi yang memberanikan diri untuk mengatakannya.

“Aaaagh” Yasop kesal, “Kantor masih tidak bisa dihubungi, Ton?” ucap Yasop yang seketika membuat Tony kaget, “Be, belum, Kep.” jawab Tony.

Yasop semakin khawatir karena saat-saat yang dinantikannya tiba, ia malah tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melihat kapal penyelundup 2 ton sabu itu pergi.

“Lanjut saja! Kejar terus! Demi ‘Merah Putih’, kejar terus!”

teriak Yasop dengan lantang yang membuat para anak buahnya tidak bisa berkata apa-apa dan langsung mengiyakan perintah Yasop.

‘Braaak…’ seketika Yasop dan anggotanya tersungkur ke depan, kapal Yasop menabrak karang dan dengan kecepatan tinggi itu lambung kapal Yasop langsung pecah. Kapal mulai miring ke kanan tanda memang kapal itu akan tenggelam. Seketika, Yasop dan para anggotanya panik, berusaha keluar dari kapal dan menyelamatkan diri.

Di malam yang sudah gelap di tengah lautan itu, Yasop dan anak buahnya berusaha keras untuk menyelamatkan diri sendiri, mereka berhamburan melompat dari kapal agar tidak tertarik tenggelam bersama kapalnya. Ada yang mengambil pelampung, ada yang memegang tas, ada yang langsung melompat ke laut, semuanya hanya fokus untuk menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu.

Tidak lama kemudian, Yasop memberikan komando untuk berkumpul dan merapat agar tidak tercerai-berai di lautan luas ini. “Semua lengkap? Ada yang tertinggal nggak?

Hitung, mulai!” teriak Yasop kepada para anggotanya yang diikuti teriakan anggotanya mematuhi perintah Yasop untuk berhitung.

141

“Delapan!” ucap Tony dengan wajah kebingungan karena sudah tidak ada lagi orang dibelakang dia, yang berarti 2 orang hilang. Melihat wajah kebingungannya Tony membuat Yasop kembali panik, seketika ia menyadari bahwa Nico dan Luvi tidak ada, maklum, ia sudah 3 tahun bersama anggotanya, ia dapat langsung tahu siapa yang belum hadir di sana.

“Cepat cari Nico dan Luvi! Kamu coba cek sebelah sana, kamu sebelah sana! Cepat!”, di tengah lautan dan di malam yang gelap itu mereka terombang-ambing ke sana ke sini, basah kuyup kedinginan dan pikiran-pikiran negatif yang terus muncul dikepala mereka karena sudah setengah jam mencari tapi Nico dan Luvi masih belum ketemu.

Tony yang sudah panik dari tadi dan kedinginan sudah tidak dapat menahan emosinya lagi, “Ini gara-gara kau, Kep. Nico sama Luvi hilang, kan tadi sudah diberitahu Luvi kalau di depan banyak karang, bahaya! Tapi kau tetap saja maksa.”

“Tenang Ton, tenang”, ucap Yasop berusaha menenangkan Tony.

“Tenang?! Mana bisa tenang, kawan-kawanku mati dan kau bilang tenang saja?!”, ucap Tony dengan penuh amarah sambil melempar tas yang ia pegang dari tadi kepada Yasop.

‘Waagh hah hah’, Yasop terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah dan keringat yang bercucuran. “Syukurlah” ucap Yasop yang lega mengetahui semua itu hanyalah mimpi namun meski begitu, mimpi itu begitu membekas dalam pikiran Yasop.

Masih terduduk diatas ranjangnya Yasop melamun selama 15 menit memikirkan apa yang baru saja terjadi dan bagaimana bila hal itu terjadi didunia nyata.

142

3 hari kemudian, seakan deja reve tim patroli laut Yasop ditugaskan untuk melaksanakan operasi dengan targetnya adalah sebuah kapal yang diduga mengangkut 2 ton sabu. Seakan takut kalau mimpinya akan menjadi kenyataan Yasop dalam operasi kali ini lebih tenang dan diam dari biasanya.

Para anggotanya pun bertanya-tanya ada apa dengan Kapten penuh semangat yang biasa mereka kenal itu,”Kep, kenapa Kep? Kep Yasop tidak apa-apa, kan?” tanya Tony yang mengkhawatirkan Kaptennya itu, “Eh tidak apa-apa, kok,” jawab Yasop yang agak kaget tiba-tiba diajak bicara Tony.

Pukul 18.08 WIB Luvi melihat kapal yang mencurigakan lalu ia langsung memberitahu Yasop akan apa yang dilihatnya itu, “Kep, di arah jam 2 ada kapal mencurigakan yang melaju cepat.” Setelah mengonfirmasinya, mereka yakin bahwa itulah kapal yang menjadi target mereka dan tanpa berlama-lama lagi mereka langsung mengejar kapal itu.

“Lapor, Kep, saya sudah menghubungi kantor dan sepertinya memang itu target kita.” kata Tony sambil menunjuk kapal yang mereka kejar. “Oke, kita kejar kapal itu!” teriak Yasop memberi perintah kepada para anggotanya.

30 menit berlalu dan kapal patroli Yasop semakin mendekati kapal target mereka, sudah sempat lega Yasop kembali dibuat khawatir dengan terlihatnya pulau dilurusan jalur mereka, seketika Yasop kembali teringat dengan mimpinya 3 hari yang lalu. “Kep, di depan sudah banyak karang tapi sepertinya kita masih bisa lewat, mohon arahannya Kep!” kata Luvi.

“Tunggu dulu, kurangi kecepatan, kita lihat dulu kedalaman lautnya.”

143

“Izin, Kep, ternyata lumayan dangkal Kep tapi sepertinya masih bisa,” kata Luvi.

“Hmmm kita tunggu sini saja, Nico hubungi kantor bilang kapal itu masuk ke Pulau Enies! Ucap Yasop setelah sejenak berpikir. “Siap Kep, saya sudah menghubungi kantor dan tim darat sudah bergerak untuk menelusuri Pulau Enies.” jawab Nico.

Malam itu, tim patroli laut berani mati yang dipimpin Kapten Yasop gagal menangkap target namun kabar baiknya adalah keesokan harinya tim darat berhasil menangkap target tersebut berdasarkan informasi yang diberikan Kapten Yasop dan tentu saja bagi Yasop hal yang lebih membuat ia bahagia adalah seluruh anggota timnya selamat dan sehat sampai kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada yang tahu seberapa bahagianya Yasop bisa kembali pulang dengan selamat sampai ia menangis dalam kesendiriannya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

144