• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Mbah, pencatatannya masih belum lengkap, sepertinya ada data yang belum dimasukkan ya?” tanya Prima sopan kepada seorang laki-laki berusia lanjut di hadapannya, yang ia panggil Mbah atau Simbah, sebuah panggilan untuk seorang kakek atau nenek dalam bahasa Jawa.

“Lho apa iya, to, Mas? Saya tidak paham, je,” jawab laki-laki itu lugu.

“Nggih (Iya). Periode lalu kan sudah saya sampaikan, Mbah, tapi sekarang belum tercatat lagi.”

“Ngapunten, Mas (Maaf, Mas). Itu yang menulis cucu tetangga saya, maklum Simbah sudah tua tak paham pencatatan seperti itu,” kata laki-laki di hadapan Prima dengan jujur.

Prima tersenyum, pelan-pelan menarik nafas panjang dan mengembuskannya kembali.

“Sabar, Prima…. sabar,” batin Prima menguatkan dirinya sendiri.

“Kita lengkapi bersama, nggih, Mbah,” Prima berkata penuh perhatian sembari mulai menanyakan segala sesuatu yang terkait dengan data pencatatan kepada laki-laki sepuh di hadapannya dan menuliskannya dalam form pencatatan yang kini dipegangnya.

“Nggih, saya nurut sama Mas Prima saja,” jawab simbah dengan polosnya.

Aji yang duduk tak jauh dari Prima heran sekaligus takjub melihat kesabaran Prima. Matanya tak lepas

14

memandang wajah Prima, wajah tamu laki-laki itu dan lembaran kertas penuh data yang isinya tengah dicek dan diperbaiki Prima. Sesekali mulutnya menganga mendengar percakapan akrab yang dilakukan Prima dan tamunya.

“Alhamdulillah…. Akhirnya selesai juga,” Prima bergumam lega, kala sang tamu telah berpamitan seusai menyerahkan form pencatatan yang sudah terisi lengkap kepadanya.

“Selalu seperti inikah pelayanan yang kau berikan, Prim?” tanya Aji.

Prima mengangguk seraya tersenyum lebar. Aji menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya.

Namanya Prima. Ia seorang pegawai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Magelang yang ditempatkan di Pos Bantu Pelayanan Bea dan Cukai yang terletak di sebuah kabupaten di dekat Magelang. Sudah sekitar dua tahun Prima melaksanakan tugas pelayanan di tempat tersebut. Pengguna jasa yang dilayani adalah Pengusaha Hasil Tembakau yang berlokasi di sekitar lokasi Pos Bantu. Jangan pernah berpikiran bahwa para pengguna jasa itu adalah pengusaha muda, perlente dengan jas rapi dan mengendarai mobil mewah. Bukan. Pengguna jasa yang datang menemui Prima kebanyakan adalah pengusaha pabrik klembak menyan skala kecil dan sudah berusia lanjut dengan segala keterbatasan yang dimiliki, untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan cukai. Berbagai macam cerita sering dihadapi oleh Prima, seperti kejadian pagi itu.

“Beginilah, Ji. Bertugas di sini harus membawa bekal sabar yang banyak,” Prima mulai bercerita kepada Aji.

Aji teman kerja satu kantor dengan Prima, namun Aji ditempatkan di Magelang. Aji yang baru dimutasikan dari kantor pusat ke kantor Magelang, saat itu sedang

15

ditugaskan untuk mengantar pita cukai yang akan diambil pengguna jasa di Pos Bantu, mendengarkan dengan seksama.

“Seperti kejadian tadi. Simbah itu mengantar laporan produksi hasil tembakau sekaligus mengirim data pencatatan yang wajib dilakukan oleh pabriknya terkait segala kegiatan yang berhubungan dengan produksi, pengeluaran, pemesanan serta penggunaan pita cukai dan sebagainya, namun selalu saja ada yang salah atau kurang lengkap. Akhirnya supaya laporan serta pencatatan lengkap dan benar aku harus membantu memperbaikinya,” terang Prima.

“Kenapa tidak kau kembalikan saja? Mintalah dia memperbaiki sendiri, dengan begitu kan kamu tidak repot,”

ujar Aji.

“Tak semudah itu, Ji. Rata-rata pengusaha pabrik klembak menyan dan pekerjanya di daerah sini sudah sangat sepuh alias sangat berumur. Kata mereka, amat susah mengajak anak-anak muda bekerja di pabrik klembak menyan yang sering dianggap pekerjaan tak bergengsi.

Akibatnya, sumber daya manusia yang tersedia di pabrik mereka sangat tidak memungkinkan mengikuti perkembangan jaman dan teknologi karena faktor usia.

Mereka mau tertib mengirim laporan dan pencatatan saja sudah luar biasa, mengingat kenyataan bahwa untuk melakukan pencatatan manual pun mereka sangat kesulitan. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus ikut turun tangan membantu mereka. Awalnya terasa begitu berat, aku merasa terpaksa dan merasa sangat kesal, Ji. Namun kian hari, aku makin ikhlas menjalaninya, hitung-hitung memberi pelayanan terbaik kepada mereka.”

“Hehehe…. Seorang Prima memberi pelayanan prima, ya,” Aji terkekeh.

16

Prima lalu melanjutkan ceritanya tentang kendala yang ia hadapi dalam memberikan pelayanan dan bimbingan kepada pengguna jasa. Pengusaha pabrik klembak menyan yang dilayani berjumlah sekitar tiga puluhan, pada masa awal Prima bertugas di Pos Bantu tersebut hanya beberapa pengusaha pabrik saja yang sudah bisa melakukan pencatatan. Itu pun masih dalam bentuk manual serta belum sempurna. Banyak di antara mereka yang melakukan pencatatan semaunya, dicatat dalam kertas lembaran seadanya yang terpisah tidak jelas lalu minta tolong tetangganya untuk menyalin ke dalam form yang disediakan oleh Prima.

“Wiiih….. bukannya form harus mereka siapkan sendiri?” tanya Aji.

“Hahaha… itulah istimewanya mereka. Demi mempermudah mereka melakukan pencatatan, aku berinisiatif menyediakan form pencatatan. Mereka fotokopi lalu diisi secara manual. Hasil pengisian mereka pun banyak yang tidak tepat, banyak yang harus kubantu perbaiki dan selalu kuasistensi. Tak apalah, semua kulakukan untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi kita. Alhamdulillah sekarang paling tinggal sekitar lima pabrik yang belum bisa melakukan pencatatan secara mandiri dalam arti masih harus aku bantu dan pandu.

Harapan kita dalam waktu dekat seluruh pabrik sudah bisa melakukan pencatatan dengan baik,” jelas Prima.

Percakapan mereka terhenti ketika kembali ada tamu yang datang. Lagi-lagi seorang laki-laki yang sepertinya juga sudah berusia lanjut.

“Selamat pagi, Pak Marto. Wah, segar sekali hari ini.

Ada yang bisa kami bantu, Pak Marto?” sapa Prima ramah.

17

“Sugeng enjing, Mas Prima (Selamat pagi, Mas Prima). Biasa Mas, saya mau minta tolong untuk memproses CK-1,” jawab Pak Marto tak kalah ramah.

“Oh, baik, Pak Marto. Monggo (ayo), kita buka komputer bersama-sama nggih,” ajak Prima.

Mulailah Prima dan Pak Marto membuka aplikasi guna memproses CK-1 atau permohonan pemesanan pita cukai. Dialog terkait data CK-1 antara Prima dan Pak Marto terjalin dengan lancar, hingga akhirnya mereka berhasil mengajukan CK-1 melalui aplikasi ExSIS atau Excise Services and Information System yaitu sistem aplikasi cukai generasi 3 yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

“Sekarang silakan Pak Marto membayar cukainya di bank, sesuai kode billing yang sudah diterima, nanti bisa ke sini lagi untuk mengambil pita cukainya, nggih,” kata Prima.

Lagi-lagi Aji menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Luar biasa, Prim, sampai pengajuan CK-1 via aplikasi pun kamu bantu memproses. Memang boleh ya?”

ujar Aji.

“Aku juga tak tahu apakah dilarang atau tidak, Ji.

Tapi apakah aku akan membiarkan saja pengguna jasa yang sudah lanjut usia kebingungan karena tak punya komputer atau HP pintar, username maupun password aplikasi yang mereka tak pernah hafal, bahkan cara menghidupkan komputer pun mereka tak tahu, sementara mereka berniat baik memenuhi peraturan perundangan negara kita untuk membayar cukai. Akhirnya aku putuskan membantu mereka, memasukkan data-data ke aplikasi bersama mereka yang tetap berada di sampingku membacakan sekaligus mengecek data yang kumasukkan. Aku toh tak meminta atau menerima imbalan apa pun dari mereka dan tidak menyelewengkan data atau akun yang mereka miliki,

18

semata-mata hanya ingin membantu mereka dan memberi kemudahan saja,” jawab Prima.

“Tapi memang tidak semua pengguna jasa seperti ini. Ada juga di antara mereka yang memproses sendiri atau minta tolong keluarga dan tetangganya. Maklumlah, di samping membuka usaha pabrik klembak menyan, mayoritas mereka juga menggarap lahan pertanian jadi tidak seluruh waktu mereka dicurahkan untuk mengurus pabriknya,” lanjut Prima.

Prima lalu bercerita bahwa tim Inspektorat Jenderal atau Itjen Kementerian Keuangan pernah mendatanginya di Pos Bantu tersebut. Mereka juga menanyakan hal terkait penggunaan aplikasi pengguna jasa oleh Prima untuk membantu para pengusaha pabrik klembak menyan memenuhi kewajibannya. Prima pun menyampaikan dengan jujur dan apa adanya, tentang segala hal yang sudah ia kerjakan yang mengandung maksud agar pengguna jasa mendapatkan kemudahan. Tak disangka, tim Itjen mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Prima.

Kali ini Aji mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal-hal yang dulu belum pernah ditemuinya kala bertugas di ibukota, kini telah dilihatnya secara nyata. Banyak cerita yang tercipta dari pengalaman kerja teman-teman yang ditempatkan di daerah, termasuk cerita Prima salah satunya. Lokasi Pos Bantu tempat Prima bertugas tersebut bukanlah daerah terpencil, namun masih ada kisah yang mungkin untuk dipercaya pun susah. Semua itu kini terbingkai indah bagai untaian mutiara penghias derap langkah bea cukai untuk selalu memberikan kemudahan dan pelayanan yang makin baik.

Namanya Prima. Prima Daru Alam. Seorang laki-laki biasa yang ingin berkontribusi mewujudkan cita-cita instansi yang menaunginya mencapai tujuan bersama.

19

Seorang laki-laki sederhana yang ingin sedikit memberi bakti untuk negerinya tercinta. Seorang pegawai muda yang tak pernah mempersoalkan penempatannya di Pos Bantu yang sepi hanya berteman satu orang tenaga kebersihan dan satu orang tenaga keamanan. Seorang anak bangsa yang tak pernah mengeluh menghadapi kondisi yang tak pernah tercatat dalam teori di kampus di mana ia pernah menimba ilmu, dengan segala keterbatasan yang ada. Seorang abdi negara yang dengan semangat menggelora ingin memberikan pelayanan terbaik sesuai namanya, Prima.

Magelang, 08 Juni 2021

20