• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Oleh RUSLAN, SH

Dalam dokumen 2001 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 119-122)

PERMASALAHAN yang dihadapi bangsa kita harus secara bertahap satu persatu dapat diatasi, termasuk permasalahan akibat pelanggaran HAM masa lalu. Tanpa usaha pemecahan dan penyelesaian akan makin menambah beban serta selanjutnya dapat menghambat seluruh upaya penyelamatan, pemulihan,

pemantapan dan pengembangan pembangunan nasional.

Sarana yang dipersiapkan untuk pemecahan masalah HAM antara lain adalah dengan pembentukan Pengadilan HAM melalui UU No 26 Th 2000, yang diharapkan sebagai pengadilan khusus terhadap semua pelanggran HAM berat.

Selain Pengadilan HAM sarana alternatif lain adalah apa yang disebut dengan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Berdasakan UU No 26 Th 2000 dimungkinkan pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum berlakunya UU ini dapat juga diselesaikan melalui komisi ini. UU No 26 Th 2000 dinyatakan berlaku pada tanggal 23 Nopember 2000.

Sesuai dengan Tap MPR-RI No V/MPR/2000 tentang pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang akan dibentuk dengan UU dimaksudkan sebagai lembaga ekstra yudicial yang bertugas untuk menegakkan kebenaran dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM pada masa lampau sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan rekonsiliasi dalam perspektif kepentingan bersama sebagai satu bangsa.

Dibandingkan dengan Pengadilan HAM, maka Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi akan lebih banyak melibatkan partisipasi masyarakat baik yang bersifat perorangan maupun kelompok, organisasi politik, LSM atau lembaga kemasyarakatan lainnya.

Dengan demikian sangat diharapkan kedua badan tersebut dapat diterima saluran pemecah masalah yang berkaitan dengan pelanggaran HAM di tanah air, terutama yang terjadi pada masa lalu.

Namun yang dirasakan sekarang masih jauh, permasalahan pelanggaran HAM masa lalu tetap menjadi sumber konflik yang mengancam persatuan dan berpotensi untuk melahirkan permasalahan yang baru. Seakan masih terus dicari jalan keluar yang dianggap baik dan seakan-akan kurang mempedulikan sarana pemecahan yang telah disediakan. Bila kita kaji hal tersebut bukan semata kesalahan masyarakat namun antara lain dikarenakan sarana tersebut di atas saat sekarang masih terus berlangsung polemik tentang masalah Aceh, Tanjung Priok, Sampit, Ambon, Timtim, Papua dan lain sebagainya, seakan tidak berujung tanpa kepastian.

Memang melalui Pengadilan HAM akan segera disediakan melalui proses penegakan hukum kasus Timtim, Tanjung Priok dan Papua, namun perhatian dan sambutan masyarakat sebagai bentuk partisipasi terasa kurang dengan tingkat peduli yang terasa rendah.

Rendahnya perhatian dan sambutan terhadap pelaksanaan Pengadilan HAM tidak dapat serta merta diartikan masyarakat memilih penyelesaian melalaui Komisi Kebenaran dan Rekonsoliasi, mengingat UU yang menjadi dasar pembentukan komisi ini belum lahir dan masyarakat pun nampaknya masih belum banyak tahu tentang RUU ini.

Ekstra yudicial dan persiapan kondisi

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagai alternatif dari Pengadilan HAM sebaiknya sudah ada

bersamaan dengan kelahiran Pengadilan HAM atau setidak-tidaknya dalam waktu dekat setelah itu. Dengan demikian kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum berlakunya UU No 26 Th 2000 pihak-pihak terkait dapat memilih apakah akan diselesaikan melalui pengadilan atau di luar pengadilan yaitu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

Ternyata hak untuk memilih tersebut sementara tidak dapat dilakukan karena UU tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sampai saat ini belum lahir disamping masyarakat pun kurang dipersiapkan untuk dapat berpartisipasi.

Sejak dini seharusnya dipersiapkan kondisi yang memungkinkan wadah komisi ini nantinya menjadi harapan dan kepercayaan untuk oleh semua pihak dapat diterima sebagai upaya penyelesaian HAM berat

kliping

ELSAM

masa lalu. Bila tidak maka kelahiran komisi ini tidak mampu menjadi pilihan dan selanjutnya membiarkan penyelesaian kasus hanya menurut proses perkara dengan aktifitas dan inisiatif ada di tangan aparatur. Penciptaan kondisi harus ditempuh bukan hanya pada pengenalan materi RUU tetapi juga upaya

membangun suatu kesiapan mental masyarakat untuk bersedia secara ikhlas dan jujur saling memanfaatkan demi terwujudnya persatuan dan kerukunan nasional.

Penciptaan kondisi sosial tersebut tidak mudah dan memerlukan waktu mengingat masalah pelanggaran HAM masa lalu yang harus diselesaikan dilatar belakangi berbagai perbedaan politik SARA dan kekhilafan pelaksanaan tugas aparat yang kadang berakibat dendam panjang yang dalam.

Kondisi umum yang ada tampaknya telah terbiasa dengan cara penyelesaian menang-kalah disertai di sana sini timbul naluri semacam balas dendam dan harga diri yang mahal. Rasa kebangsaan yang kadarnya cenderung meluntur ikut menjadi penghambat penyelesaian permasalahan yang seharusnya

mengedepankan persatuan dan kerukunan nasional.

Oleh karena itu sebaiknya pembahasan RUU tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang terasa berjalan lambat segera dapat dipercepat guna memberi peluang alternatif penyelesaian masalah HAM berat sebagaimana telah diatur dalam UU No 26 Th 2000, di samping itu perlu lebih keterbukaan dalam

pembahasan guna persiapan dan sosialisasinya.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menyelesaikan masalah HAM berat juga pernah dibentuk di beberapa negara yang memiliki masalah HAM yang sama. Negara yang pernah membentuk antara lain Argentina, Chili, Uganda dan Afrika Selatan, dalam bentuk dan fungsi masing-masing yang tidak sama. Rencana pembentukannya di Indonesia bermaksud menelusuri pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa yang lalu, pada masa Orde Lama dan Orde Baru guna mencari dan mengungkapkan kebenaran serta menegakkan keadilan dan selanjutnya berusaha membentuk budaya menghargai HAM sehingga dapat diwujudkan persatuan dan rekonsiliasi nasional.

Diharapkan komisi tersebut menganut azas kemandirian, bebas tidak memihak, adil, jujur, keterbukaan dan perdamaian.

Guna mengungkapkan kebenaran atas terjadinya pelanggaran HAM berat dan selanjutnya melaksanakan rekonsiliasi komisi diberi tugas menerima pengaduan atau laporan baik dari pelaku maupun dari korban atau keluarga korban dan selanjutnya dilakukan penyelidikan dan klarifikasi.

Hasil dari penyelidikan dan klarifikasi memungkinkan lahirnya beberapa rekomendasi antara lain kepada Presiden dalam hal permohonan amnesti dan kepada pemerintah dalam hal pemberian kompemsasi, restitusi atau rehabilitasi.

Dalam hal antara pelaku dan korban pelanggaran HAM berat maka oleh komisi dapat dipertimbangkan pemberian rekomendasi kepada Presiden untuk dapat diberikan amnesti. Dengan kewenangan tersebut memungkinkan "islah" yang sudah dilakukan dapat diberi peluang hukum positif untuk ditindaklanjuti. Sesuai dengan pengertian amnesti maka kepada pelaku pelanggaran HAM masa lalu yang memperolehnya tidak dapat lagi dapat dilakukan tuntutan baik pidana maupun perdata.

Terdapat beberapa pembatasan yang berkaitan dengan kewenangan komisi seperti untuk perkara HAM berat yang telah terdaftar di Pengadilan HAM, maka permohonan kompensasi, restitusi, rehabilitasi atau amnesti tidak dapat diterima. Komisi ini bersifat temporal hanya diberi waktu tugas terbatas yaitu direncanakan hanya 3 tahun dan dapat diperpanjang selama satu tahun.

Sebaliknya bila suatu permasalahan HAM berat telah diselesaikan oleh komisi, maka Pengadilan HAM tidak lagi berwenang untuk menyelesaikannya.

Dari pokok-pokok materi tersebut di atas dibandingkan dengan penyelesaian melalui Pengadilan HAM yang formalistik, maka penyelesaian melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi terasa lebih "sejuk" karena menyentuh budaya saling memaafkan sebagai satu keluarga bangsa yang mengutamakan keadilan, kejujuran dan perdamaian.

Meski demikian tetap patut dipertimbangkan kelebihan penggunaan jalan pengadilan yaitu proses waktunya yang dibatasi dan pembuktian kesalahan yang jelas. Sebagai Pengadilan Adhok Pengadilan HAM mengikut sertakan unsur masyarakat sehingga lebih menjamin objektifitasnya, disamping tetap dijunjung tinggi azas legalitas.

kliping

ELSAM

Kesimpulan dan pendapat

Berdasakan uraian singkat tersebut di atas dengan ini disampaikan kesimpulan dan pendapat sementara sebagai berikut:

1. Perlu diperkenalkan secara luas tentang adanya dua pilihan alternatif penyelesaian masalah HAM berat masa lalu yaitu melalui Pengadilan HAM atau melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

2. Pembentukan UU tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang lambat dan persiapan serta sosialisasinya yang kurang membuat komisi tersebut kurang dikenal. Bila hal tersebut berlarut-larut menjadikan penyelesaian HAM berat masa lalu akhirnya diserahkan begitu saja pada Pengadiilan HAM dimana aktifitas penyelesaian sepenuhnya di tangan kewenangan aparat.

3. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan dan fungsi Pengadilan HAM, bila dikaji Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dalam menyelesaikan masalah HAM cenderung dapat lebih mendasar mengingat penyelesaian mengutamakan keutuhan dan perdamaian.

Permasalahan pelanggaran HAM berat masa lalu tidak semata masalah hukum tetapi lebih luas dan komplek yang menyangkut hati nurani, dendam masa lalu dan tanggung jawab ke depan.***

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2001 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 119-122)