• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ramadhan dan Semangat Rekonsiliasi

Dalam dokumen 2001 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 122-125)

Oleh Mun'im A. Sirry

Salah satu pesan perennial bulan suci Ramadhan yang perlu senantiasa disegarkan adalah semangat rekonsiliasi. Bagi kaum muslim, bulan Ramadhan diyakini punya nilai khusus. Selain perintah puasa dan diturunkannya Al Quran, Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah (kasih sayang) dan maghfirah (saling memberi maaf).

Semangat rekonsiliasi itu tampak dalam beberapa hal. Pertama, menghindari kekerasan. Nabi Muhammad SAW selalu mewanti-wanti agar seseorang tidak melakukan tindak kekerasan dalam menyelesaikan pertikaian. Ada hadits yang menyebutkan, kalau ada orang mencaci maki dan memusuhi, kita diimbau agar tidak melawan, melainkan berkata, "Saya sedang berpuasa." Kedua, membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan. Syari'at puasa tidak hanya dimaksudkan untuk membentuk kesalehan individual, tetapi yang lebih penting adalah kesalehan sosial. Artinya, dengan merasakan lapar dan dahaga, kaum muslim dituntut merefleksikan semangatnya untuk mengentaskan kemiskinan, terutama dalam situasi krisis berkepanjangan seperti yang sedang mendera bangsa ini.

Ketiga, menumbuhkan semangat reformasi atau yang sekarang populer dalam khazanah perpolitikan nasional, islah. Kata islah acap kali diterjemahkan sebagai rekonsiliasi, padahal kata itu bisa juga berarti reformasi dalam segala bidang kehidupan, yakni mengembalikan segala sesuatu pada jalurnya yang benar. Setelah tiga tahun jatuhnya Orde Baru, semangat reformasi itu kian melemah karena negara tak kunjung keluar dari krisis ekonomi dan politik. Seiring dengan itu, perilaku para elite politik kita semakin jauh dari harapan untuk mengantarkan negeri ini menuju Indonesia baru yang lebih demokratis, stabil, dan

bermartabat.

Keharusan Rekonsiliasi

Perbincangan tentang rekonsiliasi bukan wacana baru. Berbagai argumen telah dikemukakan untuk menunjukkan pentingnya rekonsiliasi nasional, termasuk yang belakangan kembali digulirkan oleh Wakil Presiden Hamzah Haz.

Persoalannya, kenapa wacana rekonsiliasi bersifat temporal, situasional, dan timbul tenggelam tanpa menemukan wujud konkretnya? Harus kita akui, perbincangan tentang rekonsiliasi mengemuka dan menghangat pada waktu-waktu tertentu, misalnya ketika sedang disiapkan draf RUU tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi atau ketika terjadi perseteruan antara mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid dan DPR. Setelah itu, ia tenggelam ditelan isu-isu lain.

Padahal, semua kalangan sepakat betapa pentingnya rekonsiliasi untuk membangun masa depan Indonesia baru. Sebagai bangsa yang sedang berada dalam transisi, Indonesia dihantui berbagai persoalan masa lalu yang kompleks dan masa depan yang penuh ketidakpastian. Untuk itu, kita perlu segera menyelenggarakan rekonsiliasi nasional untuk mencari pemecahan bersama demi masa depan dan nasib rakyat, bangsa, dan negara, termasuk desain kelembagaan politik yang belum dituntaskan pada Sidang Tahunan MPR 2001. Kesempatan itu juga sekaligus bisa dimanfaatkan untuk membangun komitmen kenegaraan yang baru dengan memberi jaminan dilaksanakannya reformasi nasional menyongsong hadirnya Indonesia baru yang lebih demokratis.

Perlu ditambahkan, rekonsiliasi dimaksud bukan hanya bersifat formal antara lembaga dan lembaga, tapi juga kultural. Sebab, rekonsiliasi formal hanya menyentuh persoalan pada tingkat atas dan tidak menyentuh masyarakat akar rumput. Lagi pula, rekonsiliasi formal cenderung hanya basa-basi. Sebagai alternatif pencegahan meluasnya kekerasan di berbagai daerah, diperlukan rekonsiliasi kultural.

Namun, apa pun model rekonsiliasi yang hendak dikembangkan, tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran dan semangat rekonsiliatif pada setiap komponen bangsa. Semangat rekonsiliatif itu tercermin dalam budaya berpikir yang mengandung nilai-nilai toleransi terhadap pluralisme gagasan, perbedaan, dan kritik.

kliping

ELSAM

Kita harus meninggalkan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang mengedepankan restriksi serta represi se-bagai metode untuk menghadapi ide dan pendapat yang berlainan serta kritik rasional. Sebagai gantinya adalah pemikiran, sikap, dan langkah untuk membangun dialog guna mencapai konsensus nasional yang realistik dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Suatu kesadaran harus dibangun bahwa sampai kapan pun, perbedaan pendapat itu tetap suatu hal yang terpuji dan merupakan hal yang alamiah jika tidak sempat terjadi ijma' atau konsensus. Jangankan dalam politik, dalam agama pun yang memiliki pegangan Kitab Suci yang sama, tak selalu ulama itu mencapai konsensus dalam suatu masalah. Yang tidak terpuji bukanlah pada kenyataan adanya perbedaan pendapat, tetapi pada etika dalam menangani perbedaan pendapat, misalnya hilangnya rasa saling hormat yang diikuti dengan buruknya budaya silaturrahmi.

Kerja Sama Agama-agama

Rekonsiliasi merupakan kebutuhan masyarakat karena Indonesia sedang berada dalam tahap mengatur kembali dirinya. Dalam kaitan itu, organisasi sosial keagamaan perlu merumuskan langkah bersama untuk mengupayakan terwujudnya masyarakat tanpa kekerasan.

Dalam masyarakat beragama seperti Indonesia, rekonsiliasi memiliki dimensi sosial dan spiritual. Lembaga-lembaga politik bertugas untuk menyelenggarakan dimensi sosial, sedangkan lembaga agama mengembangkan dimensi spiritual. Keduanya mempunyai jati diri masing-masing yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Dalam konteks yang disebut terakhir, agama-agama yang dianut masyarakat Indonesia sedang mengalami ujian yang amat berat. Sejumlah pertanyaan patut dijawab, masih mampukah agama-agama menolong bangsa keluar dari keterpurukan? Masih mampukah nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh setiap agama menjadi landasan, sumber motivasi, serta penuntun yang efektif bagi semua orang untuk membangun budaya perdamaian?

Ada beberapa hal yang bisa dikontribusikan oleh para pemuka agama untuk mewujudkan rekonsiliasi. Pertama, kerja sama antarpemuka agama dalam mencari dasar-dasar pengampunan dan hidup baru. Kedua, pengampunan tidak terjadi tanpa kebenaran. Agama-agama dapat membantu mengungkapkan kebenaran supaya ampunan dari Allah tidak disalahgunakan sebagai kesempatan untuk mencuci diri dan kemudian dengan tenang tetap melakukan dosa, berlawanan dengan kerukunan.

Ketiga, mencari model-model rekonsiliasi dan melaksanakannya dalam komunitas agama sambil mencari bagaimana pengalaman rekonsiliasi itu dapat dikembangkan sebagai kegiatan antaragama.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pernah menyerukan perlunya rekonsiliasi yang didahului pertobatan seluruh bangsa dan pimpinan negara. "Dalam keadaan bangsa sekarang ini kita perlu

mengadakan rekonsiliasi yang didahului pertobatan. Pertobatan itu harus dilakukan oleh seluruh bangsa dan semua pimpinan,'' demikian Pdt Natan Setiabudi (Kompas, 16/04/2001).

Seruan di atas sangat relevan karena memang sudah saatnya kita menjadikan prinsip antikekerasan sebagai dasar kebijakan dalam segala bidang. Berbagai persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan melalui kekerasan dan balas dendam. Memang, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan, tapi caranya tanpa kekerasan.

Kearifan Demokrasi

Dengan semangat antikekerasan itu, kita menatap masa depan, yakni bagaimana bangsa ini dapat merestrukturisasi kehidupan politiknya sehingga konsolidasi dan tujuan demokrasi dapat berlangsung. Menilik hiruk-pikuk kekuasaan masa lalu, yang kita perlukan dalam merestrukturisasi kehidupan politik adalah soal etika politik.

Hal itu berarti diperlukan suatu pengertian yang benar mengenai cara-cara berpolitik secara beradab dan menurut dalil bernegara yang benar. Tidak dibenarkan merekayasa dukungan masif-destruktif untuk mengegolkan tujuan-tujuan politik yang sebenarnya bisa diselesaikan secara kelembagaan politik. Yang perlu dikembangkan adalah proporsionalitas fungsi pranata penyelenggara kekuasaan negara sehingga tidak menekankan pada dimensi state control (pengendalian negara) serta mobilisasi dukungan

kliping

ELSAM

melalui rekayasa sosial. Semua itu harus dititikberatkan pada fungsi pelayanan publik serta membangun kondisi bagi partisipasi sosial politik rakyat.

Dengan kearifan berdemokrasi se- perti itu akan terbuka tempat bagi wacana dan praksis pemberdayaan rakyat dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial sebagai cara mengurangi kesenjangan dalam masyarakat. Penulis adalah staf pengajar Universitas Muhammadiyah Jakarta, alumnus pascasarjana International Islamic University, Pakistan.

kliping

ELSAM

Majalah Gama, No. 43, 12 –18 Desember 2001

Komisi Kebenarna dan Rekonsiliasi Sebuah Jalan Keluar

Dalam dokumen 2001 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 122-125)