Oleh Hendardi
Bagian pertama dari dua tulisan REKONSILIASI adalah salah satu cara yang ditempuh oleh masyarakat pada negara-negara yang sedang bertransisi menuju demokrasi, untuk menghadapi masa lalunya yang tercabik-cabik oleh kekejaman represi politik pemerintah. Kendati banyak orang dapat bersepaham bahwa suatu "rekonsiliasi nasional" untuk mengakhiri perseteruan politik yang berdarah di masa lalu memang diperlukan, namun pada saat yang sama, orang masih berdebat tentang bagaimana caranya rekonsiliasi itu akan dicapai. Perdebatan berlangsung terhadap persoalan ini: Apakah untuk mencapai rekonsiliasi, pelaku pelanggaran hak-hak asasi manusia harus dihukum-atau sebaiknya dimaafkan? Diperiksa lebih jauh, manakah yang harus lebih dikedepankan dalam masa transisi, apakah pendekatan hukum (justice) atau pendekatan politik (reconciliation)? Tema perdebatan ini berada tepat di jantung permasalahan proses-proses rekonsiliasi di berbagai negeri. Namun, sebelum sampai pada pilihan untuk "menghukum" atau "memaafkan", sebuah masyarakat harus terlebih dulu memutuskan apa sikap yang akan mereka ambil dalam keharusan untuk menghadapi masa lalunya? Untuk mengatakannya secara persis: apakah kekejaman yang mereka alami di masa lalu sebaiknya dilupakan, atau sebaliknya, harus terus diingat? Masing-masing pilihan ini-melupakan atau mengingat- memiliki fungsi sosial-politiknya sendiri-sendiri. Yang harus ditekankan di sini, pemilihan masing-masing masyarakat terhadap pilihan-pilihan itu akan sangat
ditentukan oleh keadaan- keadaan politik dan kesejarahan yang menghidupi mereka dan tak mungkin saling diperbandingkan. Dengan demikian, pemilihan suatu masyarakat terhadap pilihan jalan keluar tertentu akan didasari oleh pertimbangan kecocokan dan keterbaikan bagi mereka sendiri. Namun, pilihan yang sama, belum tentu cocok dan baik bagi masyarakat yang lain. Hari-hari ini, Indonesia post-otorianisme juga diperhadapkan pada pilihan-pilihan tersebut. Wacana dan perdebatan tentang pilihan pendekatan hukum atau pendekatan politik mulai banyak dikedepankan lewat media publik. Bahkan Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) telah juga mencantumkan kemungkinan penyelesaian pelanggaran HAM yang berat di masa lalu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Kendati begitu, sampai sekarang KKR belum terbentuk. Rancangan Undang-Undang (RUU) KKR masih dalam proses penyelesaian untuk diajukan ke DPR. Di tengah situasi politik yang tidak kunjung membaik serta perdebatan atas penyelesaian masa lalu yang masih terus berkembang, pada awal Maret lalu, Kasus Tanjung Priok 12 September 1984 kembali mencuat menjadi pemberitaan. Ini karena adanya kesepakatan perdamaian antara sebagian korban/keluarga korban dengan para pejabat keamanan yang bertugas pada waktu itu (Try Soetrisno dan kawan-kawan) lewat islah, suatu cara dalam hukum Islam untuk menyelesaikan masalah dengan berdamai. Model penyelesaian berdamai antara korban dan orang- orang yang diduga kuat sebagai pelanggar hak asasi manusia ini mengundang silang pendapat di media massa. Bukan saja Tanjung Priok, sebelumnya sayup-sayup terdengar kasus Way Jepara, Lampung, yang merebak pada tahun 1989 juga telah dilakukan penyelesaian damai antara sebagian korban dan pihak yang diduga kuat sebagai pelanggar hak asasi manusia yang hampir serupa dengan model islah kasus Priok. Hanya kabarnya lebih dipilih cara "diam-diam" yang tampaknya justru tidak mengharapkan publisitas. Preseden buruk bagi penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu dan lestarinya impunity bagi pelaku pelanggaran hak asasi manusia, antara lain menjadi kegalauan para aktivis hak asasi manusia atas model penyelesaian semacam itu. Di samping kecurigaan kuat hal ini menjadi sarana "cuci baju kotor" penguasa masa lalu dari sejarah hitam yang mereka torehkan. Melupakan atau mengingat? Sebuah masyarakat yang memutuskan untuk melupakan masa lalunya untuk dapat sesegera mungkin memulai kehidupan yang "normal"-akan memilih untuk memaafkan orang-orang yang dulu menindasnya. Dengan demikian, masalah pengadilan dan penghukuman bagi pelaku kejahatan kemanusiaan tidak jadi hal yang terlalu penting. Akan tetapi, masyarakat yang memutuskan untuk mengingat masa lalunya, dalam rangka untuk mencegah agar kejahatan di masa lalu tidak berulang di masa depan, akan harus mendesak agar para pelaku kejahatan kemanusiaan yang dahulu menyengsarakan mereka untuk diadili. Dan, jika kemudian terbukti bersalah, dihukum dengan pantas. Di situ, "permaafan" diletakkan secara tegas pada
kliping
ELSAM
wilayah privat. Ia dibedakan dengan jelas dari "tindakan hukum", yang berada pada wilayah publik. Dengan demikian, pilihan yang satu tidak bisa menggantikan atau menghapuskan yang lain. Asumsi yang berlaku di sini adalah: hak terhadap tegaknya hukum bukan semata-mata hak individual-tetapi juga hak kolektif. Si korban boleh saja memaafkan pelaku, tetapi hal itu tidak bisa mencegah orang lain yang menghendaki agar ia dihukum. Sebab, tegaknya hukum dibutuhkan untuk membangun preseden bagi masa depan yang demokratik dan adil dalam kehidupan bersama. Rekonsiliasi di Afrika Selatan pascarezim apartheid adalah contoh tentang bagaimana suatu masyarakat memilih untuk "memaafkan" ketimbang "menghukum" para pelaku pelanggaran berat hak-hak asasi manusia di masa lalu. Namun, pengalaman rakyat Afrika Selatan itu belum tentu cocok bagi Indonesia, meski benar bahwa hal itu adalah yang terbaik bagi mereka. Beberapa catatan yang sepenuhnya merupakan hasil interpretasi saya terhadap hasil-hasil penelitian mengenai proses rekonsiliasi di Afrika Selatan, perlu dikedepankan di sini. Pertama, proses rekonsiliasi di Afrika Selatan adalah hasil dari "politik negosiasi" antara rezim apartheid dengan Nelson Mandela yang ketika itu masih dipenjara. "Rekonsiliasi" di sini harus diartikan sebagai ajakan untuk "melupakan masa lalu" agar suatu kehidupan "normal" dapat segera dimulai dan lingkaran kekerasan pembalasan dendam dapat dicegah. Dengan kata lain, fungsi sosial-politik dari "melupakan masa lalu" di situ sangat dituntun oleh tujuan untuk segera mungkin membangun hidup yang beradab-dalam arti penghentian permusuhan rasial antara minoritas kulit putih yang berkuasa dengan mayoritas kulit hitam yang dikuasai. Di sini, ada hal yang mesti digarisbawahi dan diingat. Meski rekonsiliasi sebagai hasil dari politik negosiasi antara rezim apartheid dengan Mandela kemudian diimbangi oleh usaha pencarian kebenaran, namun sesungguhnya mandat untuk melakukan truth seeking itu baru muncul belakangan di konstitusi-demokratik Afrika Selatan. Ia dihasilkan oleh perjuangan kalangan NGO (non-governmental organization) yang cemas bahwa rekonsiliasi akan diselewengkan maknanya menjadi amnesty umum terhadap rezim apartheid. Hal lain sebagai implikasi dari rekonsiliasi tersebut adalah benar bahwa kemudian politik-apartheid bisa diakhiri. Permusuhan rasial berhasil dikikis dan kehidupan normal kemudian berlangsung. Namun pada kenyataannya yang lain, ekonomi-apartheid tetap berlangsung sampai hari ini. Dengan kata lain, meski permusuhan rasial berhasil dikikis, namun masalah prasangka rasial tetap berlangsung dalam kehidupan ekonomi. Kedua, dalam konteks untuk melupakan masa lalu itu, proses rekonsiliasi diupayakan melalui proses-proses psikologis dan moral seperti truth telling di pihak korban, dan confession di pihak pelaku kejahatan. Korban difasilitasi untuk mampu menerima kenyataan pahit yang ia alami dengan cara didorong untuk mengisahkan tuntas kekejaman dan kepedihan yang ia alami.
Sementara itu, para pelaku yang mengakui kesalahan-kesalahannya dan memohon maaf akan dimaafkan. Dengan cara demikian, perdamaian diharapkan akan dicapai dan pembalasan dendam serta permusuhan akan dilupakan. Dengan demikian pula, proses hukum terhadap para pelaku kejahatan tidak terlalu diutamakan. Namun, catatan dari beberapa kasus menunjukkan bahwa si pelaku sesungguhnya tidak benar-benar mengakui perbuatannya sebagai kesalahan dan menyesalinya. Mereka memang meminta "maaf" kepada korban. Tetapi, bukan karena si pelaku mengakui bahwa ia telah melakukan perbuatan yang keliru, melainkan semata-mata karena si korban berpikir begitu. Dengan kata lain, permintaan maaf itu diajukan bukan atas perbuatannya melainkan atas pikiran korban terhadap perbuatannya. Ketiga, proses rekonsiliasi di Afrika Selatan dengan penekanan pada saling memaafkan memiliki konteks politiknya yang khusus, yakni adanya perjuangan perlawanan bersenjata terhadap rezim apartheid. Dengan kata lain, pelaku kekerasan di negeri itu bukan hanya aparat-aparat rezim apartheid melainkan juga sayap bersenjata ANC. Jadi, untuk meminjam terminologi Milan Kundera, proses rekonsiliasi di Afrika Selatan adalah wujud dari seni melupakan (the art of forgetting) demi memulai suatu hidup normal-suatu langkah besar yang hanya mungkin diwujudkan di bawah kepemimpinan figur besar Nelson Mandela. Nah, keadaan-keadaan khusus demikian tidak kita dapati di Indonesia. Jelas bahwa kekuasaan politik tak pernah dipegang oleh ras minoritas di Indonesia. Kebalikannya, justru warga minoritas di Indonesia harus mendapatkan perlindungan. Jelas juga bahwa di Indonesia tidak pernah ada perjuangan bersenjata yang dilakukan masyarakat untuk melawan kekuasaan tirani Orde Baru. Kebalikannya, justru masyarakat kita terus-menerus menjadi korban dari represi politik yang acap kali ditempuh melalui praktik-praktik mass killings. Bahkan, kenyataan ini belum juga berhenti meski kekuasaan resmi Soeharto telah diakhiri. Selain itu, lebih
kliping
ELSAM
dari sekadar kebutuhan untuk memiliki hidup yang "normal", kita semua dihadapkan pada kebutuhan untuk mencegah agar praktik-praktik abuse of power tidak lagi terus berulang. Dengan demikian, apa yang sangat kita butuhkan adalah tegaknya the rule of law demi memastikan suatu kehidupan demokratis. Kalau itu kebutuhannya, maka kita tidak boleh melupakan masa lalu - kita justru harus terus mengingatnya kuat-kuat. Pengalaman pahit yang kita alami di masa lalu harus menjadi referensi bagi kita untuk merumuskan suatu bentuk kebebasan yang historis bagi hidup kita bersama di masa depan. Maka, kalau yang berlaku di Afrika Selatan adalah the art of forgetting, kita di Indonesia justru harus mempraktikkan the art of remembering. * Hendardi Ketua PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia Indonesia)