• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tulisan ini tidak akan menguraikan kedudukan struktural Komisi Yudisial dalam sistem ketatanegaraan, selain berada di luar kompetensi penulis, juga telah banyak dibahas oleh banyak ahli dalam pelbagai tulisan ilmiah. Penulis lebih memfokuskan melihat kewenangan Komisi Yudisial dalam konteks kemerdekaan kekuasaan kehakiman sebagai politik hukum kekuasaan kehakiman paska Orde Baru.

duties other than in public proceedings, and shall not be compelled to testify on such matters.

18 Baca Sulistyowati Irianto, Hakim dan Ilmuwan, Kompas, Jumat, 1 Maret 2013, hlm. 7.

94

Sistem Politik dan Kekuasaan Kehakiman

Secara struktural, Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang dimuat dalam satu bab dalam UUD 1945, yaitu Bab Kekuasaan Kehakiman. Komisi Yudisial memang tidak menjalanlankan kekuasaan kehakiman dalam persidangan, tetapi melaksanakan bagian penting dari kekuasaan kehakiman yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim (Pasal 24B ayat 1).

Kewenangan Komisi Yudisial demikian itu diberi pengertian lebih jelas dalam konsideran UU No. 22 Tahun 2004 yang telah diubah dengan UU No. 18 Tahun 2011. Di sana ditegaskan bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka melalui pencalonan hakim agung serta pengawasan terhadap hakim yang transparan dan partisipatif guna menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat, serta menjaga perilaku hakim.

Sekalipun demikian, politik hukum kekuasaan kehakiman pasca Orde Baru yang menegaskan arti penting kemerdekaan kekuasaan kehakiman tidak dengan sendirinya menempatkan Komisi Yudisial sebagai institusi negara yang setingkat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi bagi perlindungan dan penguatan kemerdekaan kekuasaan kehakiman.

Sebagian ahli berpendapat bahwa Komisi Yudisial adalah organ sampiran (state auxilary agencies) sekalipun tidak ada satu kata atau kalimatpun dalam berita acara pembahasan dalam PAH I BP MPR RI yang menyebut Komisi Yudisial sebagai lembaga demikian itu.

Terlepas dari kontroversi posisi konstitusional Komisi Yudisial, yang pasti lembaga ini memiliki wewenang dan tugas strategis bagi upaya mengisi politik hukum kekuasaan kehakiman melalui implementasi dua kewenangan utama yang diatur dalam Pasal 24B ayat (1) yaitu, Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan

Sistem Politik dan Kekuasaan Kehakiman

mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

a. Seleksi hakim agung

Kewenangan menyeleksi dan mengusulkan pengangkatan hakim agung melalui Komisi Yudisial adalah mekanisme baru, yang sangat berbeda dibanding sebelum-sebelumnya.20 Mekanisme ini lebih terbuka, kompetitif dan akuntabel21 sejalan dengan cita kekuasaan kehakiman yang merdeka.

Dengan mekanisme demikian itu dapat dihadirkan suatu prosedur pengisian hakim agung yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk berhasil atau gagal menjadi hakim agung tanpa diskriminatif.

Keberhasilan seseorang menjadi hakim agung dari proses tersebut tentu saja menjadi modal sosial bagi hakim agung bersangkutan dan institusi Mahkamah Agung untuk mendapatkan kepercayaan publik. Kepercayaan publik menjadi bagian penting dari penguatan kemerdekaan kekuasaan kehakiman dimanapun di negara-negara maju dengan sistem hukum yang kuat, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Bagaimana hakim agung Amerika seperti John Marshall, Oliver Wendell Holmes, William O Douglas yang begitu mewarnai kredebelitas Mahkamah Agung Amerika hingga hari ini.

20 Proses-proses sebelumnya sangat tertutup dan tidak bisa diverifikasi akuntabilitasnya. UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Pasal 8 mengatur bahwa: (1) Hakim Agung diangkat oleh Presiden selaku Kepala Negara dari daftar nama calon yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Daftar nama calon sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden selaku Kepala Negara setelah Dewan Perwakilan Rakyat mendengar pendapat Mahkamah Agung dan Pemerintah. 21 Tahap-tahap seleksi di Komisi Yudisial: (1) seleksi administratif; (2) seleksi

kualitas berupa penilaian terhadap 2 (dua) buah karya profesi, penilaian diri sendiri, penulisan makalah di tempat, pemecahan kasus hukum; (3) seleksi keperibadian; (4) kesehatan; (5) investigasi rekam jejak; dan (6) wawancara.

96

Sistem Politik dan Kekuasaan Kehakiman

Apakah modal sosial itu akan dimanfaatkan sungguh-sungguh bagi pengisian kekosongan kepercayaan publik pada institusi Mahkamah Agung dengan menjadikan dirinya sebagai kekuatan personal yang merdeka, yang mampu mewarnai institusi tergantung kepada personaliti hakim agung itu sendiri.

Kemungkinan hakim agung produk Komisi Yudisial gagal mewujudkan kemerdekaan kekuasaan kehakiman melalui personalitasnya, atau malah lebur menjadi kekuatan distruktif di Mahkamah Agung sangat mungkin terjadi. Mengapa?

Pertama, identitas diri atau karakter manusia berintegritas

yang selalu menjaga kehormatan dan martabat diri tidak bisa dibentuk instan. Ia lahir dan membentuk sepanjang perjalanan hidup seseorang itu. Hakim agung dari jalur karier dan non karier yang selama hidupnya sebelum menjadi hakim agung permisif dengan penyimpangan-penyimpangan, sukar sekali untuk tiba-tiba menjadi hakim agung yang memiliki ketangguhan integritas. Upaya Komisi Yudisial mengungkapnya melalui pelbagai tes dan investigasi tetap berpeluang gagal, baik karena kemampuannya menyembunyikan diri atau ketidakberhasilan Komisi Yudisial menemukan bukti.

Kedua, harus diakui bahwa kultur permisif atas perilaku

menyimpang di lingkungan peradilan, tidak terkecuali di Mahkamah Agung masih menjadi tantangan serius bagi hakim-hakim berintegritas untuk diubah. Sampai sejauh ini lebih banyak hakim yang memilih posisi shaleh secara pribadi.

Ketiga, proses seleksi calon-calon hakim, yang notabene

adalah potensi calon hakim agung di kelak kemudian hari, tidak ada “sakralitas”22, sangat longgar dan belum dijalankan secara fair, objektif dan transparan. Tidak ada seleksi rekam jejak tentang integritas calon.

22 “Sakralitas” yang dimaksud adalah proses seleksi yang ketat dan khusus, yang berbeda dengan seleksi calon Pegawai negeri Sipil. Yang akan diseleksi ini wakil Tuhan.

Sistem Politik dan Kekuasaan Kehakiman

Keempat, pengusulan calon hakim agung dari jalur karir yang

dilakuan Mahkamah Agung tidak dilakukan seleksi. Siapa saja yang memenuhi syarat formal direkomendasikan untuk mengikuti seleksi. Padahal lembaga ini paling tahu dan memiliki data lengkap tentang kualitas dan rekam jejak hakim-hakim di seluruh Indonesia.

Kelima, ketentuan pengusulan calon hakim agung dengan

rasio satu banding tiga (1 : 3) ke DPR jelas menyulitkan Komisi Yudisial untuk melakukan seleksi ketat di tengah-tengah sedikitnya calon yang memenuhi kualifikasi tinggi sebagai calon hakim agung. Akibatnya standar kemampuan intelektual dan atau kecakapan calon di bidang teknis hukum terpaksa diturunkan untuk memenuhi rasio tersebut.

Keenam, proses di DPR potensial mereduksi usulan Komisi

Yudisial karena mekanisme seleksi di lembaga politik itu memiliki logikanya sendiri. Selain itu berdampak pula pada keengganan sebagian kalangan calon non-karir, terutama akademisi untuk ikut seleksi.

Apabila mencermati bunyi Pasal 24B ayat (1) maka penentuan rasio 1 banding 3 serta pemilihan yang dilakukan DPR yang dimuat dalam UU Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2009 dan UU Komisi Yudisial No. 18 Tahun 2011 sesungguhnya mereduksi maksud UUD 1945 yang menyatakan “...Komisi Yudisial mengusulkan pengangkatan hakim agung...”.

Seharusnya fungsi DPR lebih sebagai prosedur atau mekanisme politik administratif untuk diteruskan ke Presiden; sebagaimana dalam penentuan jabatan Kapolri, Panglima TNI, Gubernur Bank Indonesia. DPR tinggal setuju atau tidak setuju terhadap nama-nama yang diusulkan Komisi Yudisial. Lebih-lebih untuk jabatan hakim agung, sudah sepantasnya DPR menjaga marwah “kesucian” hakim agung dan menghindarkan diri menciptakan situasi yang bakal melahirkan konflik kepentingan antara calon dengan satu atau lebih anggota DPR, baik semasa proses seleksi maupun kelak setelah terpilih menjadi hakim agung.

98

Sistem Politik dan Kekuasaan Kehakiman