• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Peradilan Tata Usaha Negara

4. Kompetensi Absolut

Pembahasan mengenai kompetensi berkaitan dengan peradilan. Adapun pengertian peradilan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan tugas memutus perkara dengan menerapkan hukum “in concreto” dalam mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materiil, dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal.26

Unsur-unsur peradilan, berupa: a). Adanya suatu aturan hukum yang abstrak yang mengikat umum, yang dapat diterapkan pada suatu persoalan, b). Adanya suatu perselisihan hukum yang konkrit, c). Ada sekurang-kurangnya dua pihak, d). Adanya suatu aparatur peradilan yang berwenang memutuskan perselisihan.27

Unsur-unsur tersebut berhubungan terhadap mengajukan gugatan, karena gugatan tersebut akan ditentukan Pengadilan mana yang berwenang untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan suatu perkara. Kewenangan yang dimilki oleh peradilan yang diberikan oleh

25

Philiphus M. Hadjon dkk., Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Jogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002, hlm. 313

26

Sjachran Basah., Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia,

Alumni Bandung, 1989, hlm. 29

undang, dapat disebut dengan istilah kompetensi. Kompetensi berasal dari bahasa Latin, yaitu competentia yang berarti hetgeen aan iemand toekomt

(apa yang menjadi wewenang seseorang).28 Selanjutnya kompetensi diartikan sebagai kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu).29

Kompetensi yang dimiliki oleh badan peradilan diperoleh 2 (dua) cara. Pertama, kompetensi kehakiman atribusi adalah kewenangan mutlak. Kompetensi absolut adalah kompetensi badan peradilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu dan secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan peradilan lain. Kedua, kompetensi kehakiman distribusi atau sering disebut kompetensi relatif ialah sesuai dengan asas actor seguitur forum rei (yang berwenang adalah pengadilan tempat kedudukan tergugat).30

Kompetensi absolut berhubungan dengan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara untuk mengadili suatu sengketa menurut obyek atau materi atau pokok sengketa.31 Sejalan dengan pendapat itu, ada yang mengatakan bahwa berkaitan dengan kompetensi absolut, maka yang menjadi obyek sengketa Peradilan Tata Usaha Negara adalah perbuatan pemerintah yang mengeluarkan keputusan (beschikking).32 Penting dipahami, kompetensi absolut yaitu sengketa Tata Usaha Negara, menurut

28

Victor Vayed Neno, Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut Peradilan Tata usaha Negara, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hlm. 29. Sebagaimana dikutip oleh Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia, Alumni Bandung, 1989, hlm. 65

29

Ibid., hlm 29-30

30 Victor Vayed Neno, Op. Cit., hlm. 32-33

31Loc. Cit., 32

Pasal 47 adalah Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara. Selanjutnya Pasal 1 angka 10 diatur bahwa, Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau Badan Hukum Perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa Kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundangan-Undang yang berlaku.

Adapun ciri-ciri kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara yaitu: 1. Pihak-pihak yang bersengketa adalah orang atau badan hukum perdata

dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

2. Obyek yang disengketakan adalah Keputusan Tata Usaha Negara yakni penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

3. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara.

4. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu bersifat konkrit, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.33

Ciri-ciri tersebut lebih kepada menunjukkan unsur-unsur dari sengketa Tata Usaha Negara dari subyek dan obyek sengketanya.34 Kedua unsur ini penting dalam penentuan kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut Pasal 1 angka 10 UU No. 5 Tahun 1986, maka yang menjadi subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum Perdata dan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara

33

S.F. Marbun dan Moh. Mahmud MD, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: Liberty, 1987, hlm. 186

Subyek adalah orang atau badan hukum Perdata secara absolut pasti selalu menjadi Penggugat. Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Indroharto, bahwa orang atau badan hukum perdata yang dirugikan oleh keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Orang-orang atau badan hukum perdata sebagai alamat yang dituju oleh suatu KTUN. Di sini orang atau badan hukum perdata tersebut secara langsung terkena kepentingannya oleh keluarnnya Keputusan Tata Usaha Negara yang di alamatkan kepadanya karena itu jelaslah ia berhak mengajukan gugatan.

2. Orang-orang atau badan hukum perdata yang dapat disebut sebagai pihak ketiga yang berkepentingan, meliputi:

a. individu-individu yang merupakan pihak ketiga yang berkepentingan. Kelompok ini merasa terkena kepentingannya secara tidak langsung dengan dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang sebenarnya di alamatkan kepada orang lain. b. Organisasi-organisasi kemasyarakatan sebagai pihak ketiga dapat

merasa kepentingannya karena keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara itu dianggapnya bertentangan dengan tujuan-tujuan mereka perjuangkan sesuai dengan anggaran dasarnya.

3. Badan atau jawatan Tata Usaha Negara yang lain, namun undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara tidak memberi hak kepada Badan atau jabatan Tata Usaha Negara untuk menggugat. Sebab subyek sebagaimana Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara secara absolut hanya akan menjadi Tergugat.35

Selanjutnya yang menjadi obyek sengketa Tata Usaha Negara adalah Keputusan Tata Usaha Negara itu sendiri, sebagaimana yang terdapat pada Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Termasuk ke dalam Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara adalah ketentuan yang terdapat pada Pasal 3.

35Ibid., hlm. 49

Para sarjana hukum menyebut hal ini dengan Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif-Negatif yaitu sebagai berikut:

1) Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.

2) Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dimaksud telah lewat, maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang dimaksud.

3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan dianggap telah mengeluarkan keputusan penolakan.36