Diajukan Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman SKRIPSI

138  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

Diajukan Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum

pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman

SKRIPSI

Oleh : NUR LAILA

E1A011283

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM PURWOKERTO

(2)
(3)

ii

NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011

TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)

Oleh: NUR LAILA

E1A011283

Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum

pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman

Diterima dan disahkan Pada tanggal Februari 2015

Para Penguji/Pembimbing Penguji I/ Pembimbing I Weda Kupita, S.H., M.H. NIP. 19651028199002 1001 Penguji II/ Pembimbing II Sanyoto, S.H.,M.Hum. NIP. 19610123198601 1001 Penguji III H. Kadar Pamuji, S.H., M.H. NIP. 196411151990021001 Mengetahui, Dekan Dr. Angkasa, S.H., M.Hum. NIP. 19640923 198901 1 001

(4)

iii Nama : NUR LAILA NIM : E1A011283 Program Studi : Ilmu Hukum

Judul Skripsi : PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA

SUKU DINAS PENGAWASAN DAN

PENERTIBAN BANGUNAN (P2B) KOTA

ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN NOMOR

722/1.795.2/SPB/S/2011 TENTANG

PELAKSANAAN PEMBONGKARAN

BANGUNAN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil karya saya, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya aku sebagai tulisan atau pikiran saya, kecuali yang tersebut di dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, atas perbuatan tersebut maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Purwokerto, Februari 2015 Yang membuat pernyataan

NUR LAILA NIM. E1A011283

(5)

iv

SWT atas limpahan karunia-Nya, sehinga peyusun dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B) KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011 TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta).” Skripsi ini disusun sebagai persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Proses penyusunan skripsi ini penyusun banyak menerima bantuan dan dukungan dari berbagai pihak Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1. Dr. Angkasa, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

2. Weda Kupita, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing I/Penguji I, yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi terselesaikannya skripsi ini. 3. Sanyoto, S.H.,M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II/Penguji II, yang telah

meluangkan waktu beliau sehingga proses penyusunan dan pembimbingan skripsi ini dapat diselesaikan.

4. H. Kadar Pamuji, S.H., M.H., selaku Dosen Penguji III yang telah memberikan revisi guna perbaikan.

(6)

v

studi untuk meraih gelar Sarjana Hukum tercapai.

7. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi yang mampu menumbuhkan semangat untuk menyelesaikan studi ini.

Penyusun menyadari bahwa skripsi ini mengandung banyak kelemahan, oleh sebab itu penyusun dengan terbuka menerima segala bentuk kritik dari pembaca dengan harapan skripsi ini dapat dijadikan bahan wacana dan kepustakaan bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya Hukum Administrasi Negara.

Purwokerto, Februari 2015

(7)

vi

HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

ABSTRAK ... ix ABSTRACT ... x BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A.Latar Belakang ... 1 B.Perumusan Masalah ... 6 C.Kerangka Teori ... 7 D.Tujuan Penelitian ... 11 E.Kegunaan Penelitian ... 12

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A.Negara Hukum ... 13

B.Peradilan Tata Usaha Negara ... 19

1. Pengertian Peradilan Tata Usaha Negara ... 19

2. Pengertian Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara ... 23

3. Asas-asas Khusus Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara 27 4. Kompetensi Absolut ... 29

(8)

vii

D.Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik ... 45

E.Menara Telekomunikasi ... 52

1. Tata Cara Mendirikan Menara Telekomunikasi ... 52

2. Izin Mendirikan Menara Telekomunikasi ... 55

3. Tata Cara Membongkar Menara Telekomunikasi ... 58

BAB III. METODE PENELITIAN ... 61

A.Metode Penelitian ... 61

B.Pendekatan Penelitian ... 62

C.Spesifikasi Penelitian ... 63

D.Lokasi Penelitian ... 63

E.Sumber Bahan Hukum... 63

F. Metode Pengumpulan Bahan Hukum... 65

G.Metode Penyajian Bahan Hukum... 66

H.Metode Analisis Bahan Hukum... 66

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 67

A.Hasil Penelitian ... 67 B.Pembahasan ... 90 BAB V. PENUTUP ... 123 A.Kesimpulan ... 123 B.Saran ... 124 DAFTAR PUSTAKA

(9)

viii

Oleh: NUR LAILA

E1A011283 ABSTRAK

Penelitian ini bersumber pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta, bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan dan mengetahui serta menganalisis pertimbangan hukum Hakim apakah telah sesuai atau tidak dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.

Penggugat dalam perkara a-quo yakni PT. Konsorsium Komet, Tergugatnya Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan, objek gugatannya Surat Perintah Bongkar (SPB) Nomor: 722/1.795.2/SPB/S/2011 terhadap Menara Telekomunikasi milik Penggugat.

Pertimbangan hukum Hakim menyatakan bahwa Surat Keputusan Objek Sengketa bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dari segi wewenang, karena Tergugat tidak berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek Sengketa, seharusnya yang berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek Sengketa adalah Walikota Jakarta Selatan. Pertimbangan hukum Hakim sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yakni Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997, dan sudah sesuai dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik yakni khususnya asas kepastian hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas.

(10)

ix

Oleh: NUR LAILA

E1A011283 ABSTRACT

This research source in decision of state Administrative Court Number 214/G/2011/PTUN-Jakarta, purposed to recognize and analyze judge’s law consideration wheter it is proper with the statute and principles of Good Governance. The method that used this research is normative juridical with statute approach and case approach.

Plaintiff in case a-quo that Konsorsium Komet Company, Defendants to Chief of the Supervision ang Building Publishing Official (P2B) of South Jakarta, the object lawsuit is Demolition Order Letter (SPB) Nomor 722/1.785.2/SPB/5/2011 against the Telecommunication Tower’s Plaintiff.

The consideration law Judge in this case a-quo council object of dispute that the decree has ben in contracdition with the statute in term of authority, because defendants is not authorized issue the object of dispute, authorities should issue the object of dispute is the Mayor of South Jakarta. Judge law considerations are in accordance with the statute that decree of the Governor of Jakarta Number 1068 of 1997, and is in conformity with the Principles of Good Governance in particular the principles of legal security, principles of openness and principles of accountability.

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia dapat dikatakan sebagai negara hukum karena memenuhi unsur-unsur konsep negara hukum rechstaat, salah satunya pada unsur yaitu adanya peradilan administrasi.1 Sedangkan dalam prinsip negara hukum demokrasi terdapat adanya pembagian kekuasaan dan salah satu kekuasaan dalam pemerintahan adalah kekuasaan kehakiman (judicative). Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara, yang berada di bawah Mahkamah Agung. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen Jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa: kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman menentukan bahwa susunan, kekuasaan serta hukum acara Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya diatur dalam undang-undang. Atas dasar ketentuan tersebut, untuk

1 Ridwan H.R, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008, hlm.

(12)

badan peradilan yang ada di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, kemudian mengalami perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk melindungi kepentingan rakyat dan memberikan perlindungan hukum sesuai dengan konsep dari negara hukum. Selain itu Peradilan Tata Usaha Negara juga memiliki tugas dan berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana yang diatur dalam Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.2 Pengertian sengketa Tata Usaha Negara ditentukan dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, yang menyatakan sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau pejabat Tata Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tersebut di atas, berarti terbitnya Keputusan Tata Usaha Negara menjadi sebab terjadinya sengketa Tata Usaha Negara. Orang atau Badan

2 R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha NegaraEdisi Kedua, Jakarta, 2010, hlm.

(13)

Hukum Perdata yang kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan, hal ini sesuai dengan ketentuan hak gugat sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004.

Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa orang atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis ke Pengadilan yang berwenang dengan tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi. Dasar pengajuan gugatan di Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia adalah Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 yang kini direvisi melalui UU Nomor 9 Tahun 2004. Pasal 53 tersebut menurut Philipus M. Hadjon mengandung asas keabsahan dalam pemerintahan yang memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu sebagai berikut:

a) Bagi aparat pemerintahan, asas keabsahan berfungsi sebagai norma pemerintahan (bestuursnormen);

b) bagi masyarakat, asas keabsahan berfungsi sebagai alasan mengajukan gugatan terhadap tindak pemerintahan (beroepsgronden);

c) bagi hakim, asas keabsahan berfungsi sebagai dasar pengujian suatu tindak pemerintahan (toetsingsgronden).3

Pengadilan yang berwenang, yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 sebagaimana tercantum dalam Pasal Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyatakan

3

Riawan. Tjandra W. Perbandingan Sistem Peradilan Tata Usaha Negara dan Conseil d’eat sebagai Institusi Pengawas Tindakan Hukum Tata Usaha Negara.

law.uii.ac.id/images/stories/Jurnal%20Hukum/...3.../W-Riawan-Tj.pdf. Diakses pada tanggal 31 Desember 2014

(14)

bahwa pengadilan yang berwenang untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang daerah hukumnya ada pada tempat kedudukan tergugat.

Alasan pengajuan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 kemudian direvisi melalui Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 sehingga alasan pengajuan gugatan di Peradilan Tata Usaha Negara terdiri dari:

a) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

b) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.

Hak gugat yang dimiliki orang atau Badan Hukum Perdata dimaksudkan untuk menggugat ke Pengadilan yang berwenang, guna menuntut agar Keputusan Tata Usaha Negara yang merugikannya dinyatakan batal atau tidak sah. Salah satu putusan Peradilan Tata Usaha Negara tentang pembatalan suatu Keputusan Tata Usaha Negara dengan pertimbangan hukum Hakim bahwa Tergugat tidak berwenang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara terdapat dalam Putusan PTUN Jakarta dalam Perkara Nomor: 214/G/2011/Ptun-Jakarta. Para pihak dalam gugatan Tata Usaha Negara tersebut yakni, PT. Konsorsium Komet sebagai Penggugat dan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan sebagai Tergugat, sedangkan obyek sengketanya yaitu Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B)

(15)

Kota Administrasi Jakarta Selatan Nomor 722/1.795.2/SPB/5/2011, tanggal 12 September 2011.

Sengketa Tata Usaha Negara tersebut di atas dapat digambarkan, pertama: Penggugat telah membangun atau memiliki Menara Telekomunikasi dengan ketinggian + 42 M, terletak di JL. Bunga Mayang III, Rt. 04, Rw. 01 Kel. Bintaro Kec. Pesanggrahan Jakarta Selatan sejak tahun 2003, tetapi Pengggugat mendapat izin membangun berdasarkan Keputusan Kepala Suku Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan Kodya Jakarta Selatan Nomor : 71/KM/S/2005 tanggal 6 Juni 2005, karenanya masa berlaku Menara tersebut terhitung sejak tahun 2005. Kedua: dengan berakhirnya masa berlaku Menara Telekomunikasi tersebut pada tahun 2008, maka Penggugat mengajukan perpanjangan izin kepada Tergugat sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan. Meskipun telah memenuhi persyaratan untuk mengajukan perpanjangan Menara Telekomunikasi tersebut, Tergugat tidak mengeluarkan izin perpanjangan karena salah satu alasan yaitu, penolakan dari warga sekitar untuk perpanjangan Menara Telekomunikasi beroperasi lagi. Ketiga: Bukannya menerbitkan izin perpanjangan, Tergugat justru mengeluarkan Surat Perintah Bongkar (SPB) No. 722/1.785.2/SPB.S/2011, tanggal 12 September 2011, sehingga dengan diterbitkannya SPB tersebut Penggugat merasa dirugikan dan mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta. Hakim dalam Amar Putusannya mengabulkan seluruh gugatan Penggugat dan menganggap bahwa Surat Keputusn Obyek Sengketa tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yakni Keputusan Gubernur

(16)

Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan tidak sesuai dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.

Berdasarkan uraian masalah di atas dapat dideskripsikan adanya persoalan hukum mengenai pembatalan suatu Keputusan Tata Usaha Negara ditinjau dari aspek kewenangan Pejabat Tata Usaha Negara. Dari persoalan tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap sengketa tersebut, dan hendak menuangkannya dalam bentuk skripsi dengan judul

“Pembatalan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan Nomor 722/1.795.2/SPB/5/2011 tentang Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 214/G/2011/Ptun-Jakarta).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengambil pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan?

(17)

2. Apakah pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan telah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik?

C. Kerangka Teori

Negara hukum menurut A. Hamid S. Attamimi, dengan mengutip Burkens, mengatakan bahwa negara hukum secara sederhana adalah negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum.4 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, menyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum. Negara hukum menentukan bahwa pemerintah harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus tunduk pada pemerintah. Dalam negara hukum, eksistensi hukum dijadikan sebagai instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan, pemerintahan dan kemasyarakatan.

Pemikiran manusia mengenai negara hukum lahir dan berkembang dalam situasi kesejarahan. Oleh karena itu, meskipun konsep negara hukum di anggap sebagai konsep universal, tetapi pada tataran implementasi ternyata memiliki karakteristik beragam. Hal ini terjadi, karena pengaruh-pengaruh

4

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi, Jakarta: PT RajaGrafindo Cetakan ke-7, 2011, hlm. 21.

(18)

situasi kesejarahan dan juga di samping itu baik secara historis dan praktis konsep negara hukum muncul dalam berbagai model, seperti negara hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan Rechstaat, negara hukum menutup konsep Anglo Saxon Rule of Law), konsep Socialist Legality dan konsep negara hukum Pancasila.

Berdasarkan uraian di atas, negara hukum bertujuan untuk mengendalikan negara atau pemerintah dari kemungkinan adanya tindakan sewenang-wenang atau penyalahgunaan kekuasaan. Untuk menjamin agar tidak terjadinya hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu lembaga yang dapat mewujudkan ketertiban dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam penegakan hukum ada 3 (tiga) unsur yang selalu harus mendapat perhatian, yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Tujuan pokok dari hukum adalah ketertiban. Tujuan lain dari hukum adalah tercapainya keadilan. Untuk mencapai ketertiban dibutuhkan adanya kepastian hukum dalam pergaulan antar manusia dalam masyarakat.

Peradilan merupakan suatu lembaga yang memberi harapan bagi setiap pencari keadilan untuk mendapatkan suatu keadilan dan kepastian hukum yang memuaskan dalam suatu perkara. Di Indonesia terdapat 4 (empat) lingkungan Peradilan, salah satunya Peradilan Tata Usaha Negara, yang mengadili sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan orang atau badan hukum perdata dalam lapangan hukum publik. Sedangkan menurut Pasal 1 angka 4 Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Jo. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009,

(19)

sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik dipusat maupun di daerah sebagai akibat dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Peradilan Tata Usaha Negara dalam menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara, merupakan peradilan yang mencari kebenaran materiil disamping kebenaran formilnya. Karena dalam Peradilan Tata Usaha Negara terdapat hukum acara yang merupakan salah satu cara untuk mencari dan mempertahankan hukum materiil. Hukum acara menurut Sjachran Basah merupakan hukum formal, karena ia merupakan salah satu unsur dari peradilan, demikian pula dengan hukum materialnya. Peradilan tanpa hukum maka akan lumpuh, sebab tidak tahu apa yang akan dijelmakan, sebaliknya peradilan tanpa hukum formal akan liar, sebab tidak ada batas-batas yang jelas dalam melakukan wewenangnya.5

Sengketa dalam Peradilan Tata Usaha Negara merupakan akibat dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang melanggar Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, di samping itu juga melanggar Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Permasalahan dalam sengketa ini adalah Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan oleh Penggugat dianggap tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai

5

Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Revisi 5, PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 21-22

(20)

Keputusan Tata Usaha Negara yang sah. Dalam hal ini Penggugat menganggap bahwa Tergugat telah melanggar ketentuan dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Informasi dan Komunikasi, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jo Peraturan Gubernur Nomor 89 Tahun 2006 Jo Peraturan gubernur Nomor 138 Tahun 2007 dan Peraturan Gurbernur Nomor 126 Tahun 2009 serta melanggar Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik ketika mengeluarkan Surat Perintah Bongkar kepada Penggugat.

Berdasarkan uraian di atas, Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dapat dikatakan sah menurut hukum (rechmatig), harus memenuhi syarat materiil dan syarat formil dalam pembuatannya. Sebagaimana juga telah disebutkan oleh S.F. Marbun, keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara mencakup syarat materiil dan syarat formal seperti wewenang, substansi dan prosedur.6 Selain itu keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dinilai dengan tolok ukur Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Asas-asas Pemerintahan Umum yang Baik adalah meliputi asas: kepastian hukum, tertib penyelenggaraan negara, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas dan akuntabilitas sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

6 S.F. Marbun, Administrasi Negara dan Upaya Administratif Di Indonesia, cet 3,

(21)

Berdasarkan sengketa di atas, dapat dilihat bahwa untuk mendirikan bangunan Menara Telekomunikasi harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan. Selain itu, juga harus memiliki izin mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh Walikota masing-masing daerah dimana Menara tersebut di bangun, kecuali untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta harus mendapatkan izin dari Gubernur. Begitu pula mempunyai izin mendirikan bangunan dari masyarakat sekitar. Berbicara mengenai pembangunan suatu bangunan, juga berbicara persoalan mengenai pembongkaran bangunan, begitu pula dengan pembangunan Menara telekomunikasi. Untuk melakukan pembongkaran Menara harus mengikuti Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, sehingga tidak akan menimbulkan sengketa yang berujung pada pengadilan.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang

(22)

mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.

E. Kegunaan Penelitian

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kepustakaan di bidang Hukum Administrasi Negara yang lebih khususnya mengenai Hukum Peradilan Tata Usaha Negara.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan bagi penulis sekaligus untuk menjadi pedoman dan acuan bagi mereka yang akan melakukan penelitian serupa, serta para praktisi Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Negara Hukum

Negara hukum berasal dari istilah bahasa Jerman “Rechsstaat”,

bahasa Perancis “Etat de Droit”, dalam bahasa Italia “Stato di Diritto” dan masuk ke dalam kepustakaan Indonesia melalui bahasa Belanda

“Rechtsstaat”. Istilah Rechtsstaat berasal dari Robert von Mohl dan merupakan ciptaan golongan borjuis yang ketika itu kehidupan ekonominya sedang meningkat, sekalipun kehidupan politiknya sebagai suatu kelas sedang menurun.7 Indonesia beberapa kali mengalami perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam perubahan ke-empat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada tahun 2002, konsepsi Negara Hukum atau “Rechtsstaat” yang sebelumnya hanya tercantum dalam Penjelasan UUD 1945, dirumuskan dengan tegas dalam Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan, “Negara Indonesia adalah Negara Hukum.” Dalam konsep Negara Hukum itu, diidealkan bahwa yang harus dijadikan panglima dalam dinamika kehidupan kenegaraan adalah hukum, bukan politik ataupun ekonomi. Karena itu, jargon yang biasa digunakan dalam bahasa Inggris untuk menyebut prinsip Negara Hukum adalah “the

rule of law, not of man.” Yang disebut pemerintahan pada pokoknya adalah

7 Hotma P. Sibuea, Asas Negara Hukum. Peraturan Kebijakan, Asas-Asas Umum

(24)

hukum sebagai sistem, bukan orang per orang yang hanya bertindak sebagai “wayang” dari skenario sistem yang mengaturnya.8

Hukum merupakan sebagai suatu sistem, menurut Lon Fuller di dalam suatu negara hukum terdapat sistem-sistem hukum sebagai berikut:

1) Hukum harus dituruti oleh semua orang, termasuk oleh penguasa negara. 2) Hukum harus dipublikasikan.

3) Hukum harus berlaku kedepan

4) Kaedah hukum harus ditulis secara jelas, sehingga dapat diketahui dan diterapkan secara benar.

5) Hukum harus menghindari diri dari kontradiksi-kontradiksi. 6) Hukum jangan mewajibkan sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi.

7) Hukum harus bersifat konstan sehingga ada kepastian hukum. Tetapi hukum harus juga diubah jika situasi politik dan sosial telah berubah. 8) Tindakan para aparat pemerintah dan penegak hukum haruslah konsisten

dengan hukum yang berlaku.9

Negara hukum (rechtsstaat) bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban umum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan hukum terdapat pada rakyat. Negara hukum menjaga ketertiban hukum supaya jangan terganggu dan agar semuanya berjalan menurut hukum. Negara hukum menurut F.R. Bothlingk adalah “De staat, waarin de wilsvrijheid van

gezagdsdragers is beperkt door grezen van recht” (negara, di mana kebebasan kehendak pemegang kekuasaan dibatasi oleh ketentuan hukum). Lebih lanjut disebutkan bahwa dalam rangka merealisasi pembatasan pemegang kekuasaan tersebut, maka diwujudkan dengan cara, “Enerzijds in

een binding van rechter en administratie aan de wet, anderjizds in een begrenzing van de bevoegdheden van de wetgever”, (di satu sisi keterikatan

8Jimly Asshiddiqie. Konsep Negara Hukum Di Indonesia.

www.jimly.com/makalah/.../135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014.

(25)

Hakim dan pemerintah terhadap undang-undang, dan di sisi lain pembatasan kewenangan oleh pembuat undang-undang). A. Hamid S. Attamimi, dengan mengutip Burkens, mengatakan bahwa negara hukum secara sederhana adalah negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum.10

Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Menurutnya ada tiga unsur pemerintahan yang berkonstitusi, yaitu: pertama, pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan umum; kedua, pemerintahan dilaksanakan menurut hukum yang berdasarkan pada ketentuan-ketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang menyampingkan konvensi dan konstitusi; ketiga, pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan-tekanan yang dilaksanakan pemerintahan despotik. Dalam kaitannya dengan konstitusi, Aristoteles mengatakan, konstitusi merupakan penyusunan jabatan dalam suatu negara dan menentukan apa yang dimaksudkan dengan badan pemerintahan dan apa akhir dari setiap masyarakat, konstitusi merupakan aturan-aturan dan penguasa harus mengatur negara menurut aturan-aturan tersebut.11 Philipus M. Hadjon mengemukakan 3 (tiga) macam konsep negara hukum, yaitu; rechtsstaat, the rule of law, dan negara hukum pancasila.12

10Loc. Cit., hlm. 21.

11Ibid., hlm. 2

(26)

Negara hukum rechtsstaat pada dasarnya bertumpu pada sistem hukum kontinental Romawi-Jerman yang disebut civil law system. Salah satu ciri utama dari sistem hukum ini adalah melakukan pembagian dasar ke dalam hukum perdata dan hukum publik. Munculnya konsep rechtsstaat dari Freidrich Julius Stahl, yang diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, unsur-unsur negara hukum menurut Stahl adalah sebagai berikut:

1) Perlindungan hak-hak asasi manusia;

2) Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; 3) Pemerintahan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan; dan 4) Peradilan administrasi dalam perselisihan.13

Gagasan negara hukum yang berasal dari Stahl ini dinamakan negara hukum formil, karena lebih menekankan pada suatu pemerintahan yang berdasarkan pada undang-undang.

Konsep Rechsstaat di Eropa Kontinental sejak semula didasarkan pada filsafat liberal yang individualistik, maka ciri individualistik itu sangat menonjol dalam pemikiran negara hukum Eropa Kontinental itu. Dalam sejarah modern, Perancis dapat disebut sebagai negara yang terdahulu mengembangkan sistem hukum ini. Sistem hukum Kontinental mengutamakan hukum tertulis yaitu Peraturan Perundang-undangan sebagai sendi utama sistem hukum kontinental, selalu berusaha untuk menyusun hukum-hukumnya dalam bentuk tertulis. Bahkan dalam satu sistematika yang diupayakan selengkapnya mungkin dalam sebuah kitab undang-undang,

13

(27)

penyusunan ini disebut kodifikasi. Sistem hukum kontinental sering pula disebut sistem hukum kodifikasi (codified law).14

Negara hukum Rule of Law dipelopori oleh Dicey yang berasal dari Inggris yang berkembang di negara-negara Anglo Saxon. Konsep ini menekankan pada tiga tolak ukur atau unsur utama yaitu:

1) Supremasi hukum (supremacy of law), dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan (absence of arbitrary power), sehingga seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum.

2) Kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law), baik bagi rakyat biasa maupun bagi pejabat.

3) Terjaminya hak-hak asasi manusia dalam undang-undang atau keputusan pengadilan.15

Sistem Anglo Saxon tidak menjadikan Peraturan Perundang-undangan sebagai sendi utama sistemnya. Sendi utamanya adalah yurisprudensi. Sistem hukum Anglo Saxon berkembang dari kasus-kasus konkret dan dari kasus konkret tersebut lahir sebagai kaidah dan asas hukum, karena itu sistem hukum ini disebut sebagai sistem hukum yang berdasar kasus (case law system).16

Perkembangan unsur-unsur negara hukum di atas, menjadikan pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya harus sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum, yang bertumpu pada konstitusi dan Peraturan Perundang-undangan, dengan kedaulatan rakyat. Korelasi ini tampak dari kemunculan istilah demokrasi kontitusional, sebagaimana disebutkan disebutkan di atas. Dalam sistem demokrasi, penyelenggaraan negara itu

14Ibid., hlm. 6-8 15Ibid., hlm. 3 16Ibid., hlm. 7

(28)

harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat. Demokrasi merupakan cara paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara hukum. Dengan demikian, negara hukum yang bertopang pada sistem demokrasi dapat disebut sebagai negara hukum demokratis (democratische rechtsstaat). Disebut negara hukum demokratis, karena di dalamnya mengakomodir prinsip-prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi. J.B.J.M. ten Berge menyebutkan prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi tersebut sebagai berikut:

1. Prinsip-prinsip negara hukum;

a. Asas legalitas. Pembatasan kebebasan warga negara (oleh pemerintah) harus ditemukan dasarnya dalam undang-undang yang merupakan peraturan umum. Undang-undang secara umum harus memberikan jaminan (terhadap warga negara) dari tindakan (pemerintah) yang sewenang-wenang, kolusi, dan berbagai jenis tindakan yang tidak benar. Pelaksanaan wewenang oleh pemerintahan harus ditemukan dasarnya pada undang-undang tertulis (undang-undang formal).

b. Perlindungan hak-hak asasi. c. Pemerintah terikat pada hukum.

d. Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum. Hukum harus dapat ditegakkan, ketika hukum itu dilanggar. Pemerintah harus menjamin bahwa di tengah masyarakat terdapat instrumen yuridis penegakan hukum. Pemerintah dapat memaksa seseorang yang melanggar hukum melalui sistem peradilan negara. Memaksakan hukum publik secara prinsip merupakan tugas pemerintah.

e. Pengawasan oleh Hakim yang merdeka. Superioritas hukum tidak dapat ditampilkan, jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan organ pemerintahan. Oleh karena itu, dalam setiap negara hukum diperlukan pengawasan oleh Hakim yang merdeka.

2. Prinsip-prinsip demokrasi;

a. Perwakilan politik. Kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara dan dalam masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan, yang dipilih melalui pemilihan umum.

b. Pertanggungjawaban politik. Organ-organ pemerintahan dalam menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik, yaitu kepada lembaga perwakilan.

c. Pemencaran kewenangan. Konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu organ pemerintahan adalah kesewenang-wenangan.Oleh

(29)

karena itu, kewenangan badan-badan publik itu harus dipencarkan pada organ-organ yang berbeda.

d. Pengawasan dan kontrol. Penyelenggaraan pemerintahan harus dapat dikontrol.

e. Kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum. f. Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.17

Negara hukum menentukan bahwa pemerintah harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus tunduk pada pemerintah. Negara hukum dijadikan sebagai instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan, pemerintahan dan kemasyarakatan. Penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan dalam suatu negara hukum itu terdapat aturan-aturan hukum yang tertulis dalam konstitusi atau peraturan-aturan-peraturan-aturan yang terhimpun dalam konstitusi atau peraturan-peraturan yang terhimpun dalam hukum tata negara serta penyelenggaraan negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat.

B. Peradilan Tata Usaha Negara

1. Pengertian Peradilan Tata Usaha Negara

Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara, yang berada di bawah Mahkamah Agung. Pentingnya Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya sengketa antara pemerintah dengan warga Negara akibat adanya kegiatan pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

17Ibid., hlm. 9-10

(30)

Mengenai apa yang dimaksud dengan Tata Usaha Negara, Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menentukan bahwa Tata Usaha Negara adalah Administrasi Negara yang melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Dalam praktik, Tata Usaha Negara tidak hanya melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan kegiatan yang bersifat pelaksanaan Peraturan Perundang-undangan, tetapi juga melaksanakan fungsi untuk menyelesaikan urusan pemerintahan yang penting dan mendesak yang belum diatur dalam Peraturan Perundang-undangan.

MenurutPhilipus M. Hadjon dkk, mengemukakan Penjelasan Pasal 1 angka 1 menyatakan apa yang dimaksud dengan urusan pemerintahan adalah kegiatan yang bersifat eksekutif. Pada dasarnya pemerintah tidak hanya melaksanakan undang-undang, tetapi atas dasar “Freis Ermessen” dapat melakukan perbuatan lainnya meskipun belum diatur secara tegas oleh undang-undang.18

Menurut Indroharto arti pada urusan pemerintahan dalam Pasal 1 angka 1 yaitu semua kegiatan penguasa dalam negara yang tidak merupakan kegiatan atau aktivitas pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan bukan pula kegiatan atau aktivitas mengadili

(yudikatif) yang dilakukan oleh badan-badan pengadilan yang bebas.19 Pemahaman terhadap Peradilan Adminstrasi akan lebih mudah jika terlebih dahulu dimengerti unsur-unsur yang melengkapinya. Menurut S.F. Marbun, setidaknya terdapat lima unsur dalam Peradilan Adminstrasi, yaitu:

1. Adanya suatu instansi atau badan yang netral dan dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga mempunyai kewenangan untuk memberikan putusan. Dalam hal ini adalah adanya Pengadilan

18 R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 8

19 Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara,

(31)

Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan berpuncak pada Mahkamah Agung.

2. Terdapatnya suatu peristiwa hukum konkret yang memerlukan kepastian hukum. Peristiwa hukum konkret disini adalah adanya Sengketa Tata Usaha Negara akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara oleh pejabat TUN.

3. Terdapatnya suatu peristiwa hukum yang abstrak dan mengikat umum. Aturan hukum tersebut terletak di lingkungan Hukum Administrasi Negara.

4. Adanya sekurang-kurangnya dua pihak. Sesuai dengan ketentuan hukum positif, yakni Pasal 1 angka 4 UU PTUN, dua pihak disini adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang selalu sebagai Tergugat dan rakyat pencari keadilan (orang perorang atau badan hukum privat).

5. Adanya hukum formal. Hukum formal disini adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan peraturan-peraturan lainnya.20

Pengadilan Tata Usaha Negara berdasarkan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa , memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara. Pengadilan tata usaha negara merupakan pengadilan tingkat pertama untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara bagi rakyat pencari keadilan, sedang pengadilan tinggi tata usaha negara merupakan pengadilan tingkat banding terhadap sengketa yang telah diputus oleh pengadilan tata usaha negara, kecuali beberapa hal berikut ini: a. Sengketa kewenangan mengadili antar pengadilan tata usaha negara di

daerah hukumnya; dalam hal ini pengadilan tinggi tata usaha negara bertindak sebagai pengadilan tingkat pertama dan terakhir.

b. Sengketa yang terhadapnya telah digunakan upaya administrasi;

dalam hal ini pengadilan tinggi tata usaha negara bertindak sebagai pengadilan tingkat pertama.21

20Riki Septiawan. Pengertian-Pengartian dalam Hukum Acara PTUN

.http://rikiseptiawan180991.blogspot.com/2012/12/pengertian-pengartian-dalam-hukum acara.html. Diakses pada tanggal 05 September 2014

21

Mr. Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Acara Pengadilan Tata Usaha Negara dan UU PTUN 2004, Bogor: Ghalia Indonesia Cetakan 1, 2004, hlm. 5.

(32)

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara disamping memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa , memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara, mengatur mengenai susunan dan kekuasaan dari lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, juga diatur mengenai tata acara dari pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara. Mengenai susunan dari pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, oleh Pasal 8 ditentukan bahwa pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara terdiri dari:

1) Pengadilan Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan Tingkat Pertama;

2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan Tingkat Banding.

Adapun kekuasaan dari pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara adalah sebagai berikut:

a. Pasal 50 menentukan bahwa: Pengadilan Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara di tingkat pertama;

b. Pasal 51 menentukan: (1) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus sengketa Tata Usaha Negara ditingkat banding. (2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara juga bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus di tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antara Pengadilan Tata Usaha Negara di dalam daerah hukumnya. (3) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan di tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dala Pasal 48. (4) Terhadap putusan Pengadilan tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (3) dapat diajukan permohonan kasasi.

Hukum Peradilan Tata Usaha Negara dapat disimpulkan sebagai hukum yang mengatur urusan pemerintahan yang bersifat eksekutif dan

(33)

memiliki kebebasan bertindak dalam memutus suatu perkara yang menjadi wewenang dari badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

2. Pengertian Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Hukum materiil dapat ditegakkan dengan adanya hukum acara atau sering juga disebut hukum formil. Hukum acara merupakan ketentuan yang mengatur bagaimana cara dan siapa yang berwenang menegakkan hukum materiil dalam hal terjadi pelanggaran terhadap hukum materiil. Tanpa hukum acara yang jelas dan memadai, maka pihak yang berwenang menegakkan hukum materiil akan mengalami kesulitan menegakkan hukum materiil. Untuk menegakkan ketentuan hukum materiil Tata Usaha Negara, maka digunakan hukum acara Tata Usaha Negara. Secara sederhana Hukum Acara diartikan sebagai Hukum Formil yang bertujuan untuk mempertahankan Hukum Materiil.

Hukum acara menurut Sjachran Basah merupakan hukum formal, karena ia merupakan salah satu unsur dari peradilan, demikian pula dengan hukum materialnya. Peradilan tanpa hukum maka akan lumpuh, sebab tidak tahu apa yang akan dijelmakan, sebaliknya peradilan tanpa hukum formal akan liar, sebab tidak ada batas- batas yang jelas dalam melakukan wewenangnya.22 Pada umumnya secara teoretis cara pengaturan terhadap hukum formal dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu:

a. ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum materiilnya atau dengan susunan, kompetensi dari badan yang

22

(34)

melakukan peradilan dalam bentuk undang-undang atau peraturan lainnya.

b. ketentuan prosedur berperkara diatur tersendiri masing-masing dalam bentuk undang-undang atau bentuk peraturan lainnya.

Apabila mengikuti penggolongan tersebut di atas, maka Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, mengikuti kelompok yang pertama, karena dalam Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara tersebut memuat hukum materiil sekaligus hukum formilnya. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dimuat dalam Pasal 53 sampai Pasal 141. Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara terdiri atas 145 Pasal, dengan hukum materiil sebanyak 56 Pasal, sedangkan hukum materiil sebanyak 89 Pasal.23

Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan Hukum Tata Usaha Negara (Hukum Administrasi Negara). Dengan kata lain hukum yang mengatur tentang cara-cara bersengketa di Peradilan Tata Usaha Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam proses penyelesaian sengketa tersebut. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang tersebut dapat dikatakan sebagai suatu hukum acara dalam arti luas, karena

23Ibid., hlm. 22-23

(35)

undang ini tidak saja mengatur tentang cara-cara berperkara di Pengadilan Tata Usaha Negara, tetapi juga sekaligus mengatur tentang kedudukan, susunan dan kekuasaan dari Pengadilan Tata Usaha Negara. Untuk hukum acara yang berlaku di Peradilan Tata Usaha Negara tidak dapat digunakan Hukum Acara Tata Usaha Negara seperti halnya Hukum Acara Pidana atau Hukum Acara Perdata, hal ini disebabkan karena Hukum Acara Tata Usaha Negara mempunyai arti sendiri, yaitu peraturan yang mengatur tentang tata cara pembuatan suatu ketetapan atau Keputusan Tata Usaha Negara. Aturan ini biasanya secara inklusif ada dalam Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembuatan ketetapan atau Keputusan Tata Usaha Negara tersebut.

Ada beberapa ciri khusus yang membedakan antara Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dengan Hukum Acara peradilan lainnya, yaitu sebagai berikut:

1) Peranan Hakim yang aktif karena ia dibebani tugas untuk mencari kebenaran materiil (Pasal 63 ayat (2) huruf a dan hurf b, pasal 80 ayat (1), pasal 85, pasal 95 ayat (1), pasal 103 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986).

2) Adanya ketidakseimbangan antara kedudukan Penggugat dan Tergugat. Dengan mengingat hal ini maka perlu diatur adanya kompensasi, karena diasumsikan bahwa kedudukan Penggugat adalah dalam posisi yang lebih lemah dibandingkanTergugat selaku pemegang kekuasaan publik. 3) Sistem pembuktian yang mengarah kepada pembuktian bebas.

(36)

4) Gugatan di Pengadilan tidak mutlak bersifat menunda pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Pasal 67 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986).

5) Putusan Hakim tidak boleh melebihi tuntutan Penggugat, tetapi dimungkinkan membawa Penggugat ke dalam keadaan yang lebih buruk sepanjang hal ini diatur dalam undang-undang.

6) Putusan Hakim tidak hanya berlaku bagi para pihak yang bersengketa, tetapi juga berlaku bagi pihak-pihak yang terkait.

7) Para pihak yang terlibat dalam sengketa harus didengar penjelasannya sebelum Hakim membuat putusannya.

8) Dalam mengajukan gugatan harus ada kepentingan dari sang Penggugat.

9) Kebenaran yang dicapai adalah kebenaran materiil dengan tujuan menyelaraskan, menyerasikan, menyeimbangkan kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum.

Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara tidak dapat terlepas dari hukum Peradilan Tata Usaha Negara. Karena hukum acara merupakan hukum formil yang bertujuan untuk mempertahankan hukum materiilya. Dalam hal ini hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara akan mempertahankan hukum Peradilan Tata Usaha Negara. Dimana hukum Peradilan Tata Usaha Negara mengatur cara bagaimana bersengketa di Peradilan Tata Usaha Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam proses penyelesaian sengketa tersebut. Sehingga

(37)

hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara sangat penting adanya berada di Peradilan Administrasi.

3. Asas-asas Khusus Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Satjipto Rahardjo berpendapat bahwa barangkali tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa asas hukum merupakan jantungnya peraturan hukum. Bahwa dengan adanya asas hukum, hukum itu bukan sekedar kumpulan peraturan-peraturan, oleh karena itu asas mengandung nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan etis. Paul Scholten sebagaimana dikutip oleh Bruggink memberikan definisi asas hukum adalah pikiran-pikiran dasar yang terdapat di dalam dan di belakang sistem hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dan putusan-putusan Hakim, yang berkenaan dengannya ketentuan-ketentuan dan keputusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya.24 Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, maka secara garis besarnya dapat menggali beberapa asas hukum yang terdapat dalam Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Asas hukum dalam acara peradilan tata usaha negara, bukanlah asas-asas umum yang sering digunakan dalam hukum-hukum lainnya. Hukum acara peradilan tata usaha negara memiliki ciri khas pada asas-asas hukum yang melandasinya, yaitu:

a. Asas praduga rechmatig(vermoeden van rechmatigheid = praesumptio iustae causa). Asas ini mengandung makna bahwa setiap tindakan

24 Zairin Harahap, Loc Cit.

(38)

penguasa selalu harus dianggap rechmatig sampai ada pembatalannya. Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986). Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat hanya dapat dibatalkan dan bukan batal demi hukum.

b. Asas pembuktian bebas. Dengan asas ini Hakim dalam melakukan pembuktian, tidak tergantung pada fakta yang dikemukakan para pihak. Hakim yang menetapkan beban pembuktian dan juga penilaian pembuktian sepenuhnya diserahkan kepada Hakim. Hal ini berbeda dengan ketentuan Pasal 1865 BW. Asas ini dianut Pasal 107 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 hanya saja masih dibatasi ketentuan Pasal 100.

c. Asas keaktifan Hakim (dominus litis). Keaktifan Hakim dimaksudkan untuk mengimbangi kedudukan para pihak karena tergugat adalah pejabat tata usaha negara sedangkan penggugat adalah orang atau badan hukum peradata. Dengan asas ini pula Hakim berwenang mengadakan pemeriksaan persiapan untuk mengetahui kelengkapan gugatan, sehingga pemeriksaan di persidangan harus dianggap bahwa gugatan telah sempurna. Ultra petita dalam hal ini tidak di larang, sehingga terdapat reformatio in peius menjadi dimungkinkan. Dalam hal melakukan pengujian, Hakim tidak terikat pada alasan mengajukan gugatan yang diajukan oleh Penggugat. Penerapan asas ini antara lain terdapat dalam ketentuan Pasal 58, 63 ayat (1, 2, 80) dan ayat (85).

(39)

d. Asas putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat “erga

omnes”. Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa hukum publik. Dengan demikian putusan pengadilan Tata Usaha Negara berlaku bagi siapa saja, tidak hanya bagi para pihak yang bersengketa. Dalam rangka ini kiranya ketentuan Pasal 83 tentang intervensi bertentangan dengan asas erga omnes.25

4. Kompetensi Absolut

Pembahasan mengenai kompetensi berkaitan dengan peradilan. Adapun pengertian peradilan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan tugas memutus perkara dengan menerapkan hukum “in concreto” dalam mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materiil, dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal.26

Unsur-unsur peradilan, berupa: a). Adanya suatu aturan hukum yang abstrak yang mengikat umum, yang dapat diterapkan pada suatu persoalan, b). Adanya suatu perselisihan hukum yang konkrit, c). Ada sekurang-kurangnya dua pihak, d). Adanya suatu aparatur peradilan yang berwenang memutuskan perselisihan.27

Unsur-unsur tersebut berhubungan terhadap mengajukan gugatan, karena gugatan tersebut akan ditentukan Pengadilan mana yang berwenang untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan suatu perkara. Kewenangan yang dimilki oleh peradilan yang diberikan oleh

25

Philiphus M. Hadjon dkk., Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Jogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002, hlm. 313

26

Sjachran Basah., Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia,

Alumni Bandung, 1989, hlm. 29

(40)

undang, dapat disebut dengan istilah kompetensi. Kompetensi berasal dari bahasa Latin, yaitu competentia yang berarti hetgeen aan iemand toekomt

(apa yang menjadi wewenang seseorang).28 Selanjutnya kompetensi diartikan sebagai kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu).29

Kompetensi yang dimiliki oleh badan peradilan diperoleh 2 (dua) cara. Pertama, kompetensi kehakiman atribusi adalah kewenangan mutlak. Kompetensi absolut adalah kompetensi badan peradilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu dan secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan peradilan lain. Kedua, kompetensi kehakiman distribusi atau sering disebut kompetensi relatif ialah sesuai dengan asas actor seguitur forum rei (yang berwenang adalah pengadilan tempat kedudukan tergugat).30

Kompetensi absolut berhubungan dengan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara untuk mengadili suatu sengketa menurut obyek atau materi atau pokok sengketa.31 Sejalan dengan pendapat itu, ada yang mengatakan bahwa berkaitan dengan kompetensi absolut, maka yang menjadi obyek sengketa Peradilan Tata Usaha Negara adalah perbuatan pemerintah yang mengeluarkan keputusan (beschikking).32 Penting dipahami, kompetensi absolut yaitu sengketa Tata Usaha Negara, menurut

28

Victor Vayed Neno, Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut Peradilan Tata usaha Negara, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hlm. 29. Sebagaimana dikutip oleh Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia, Alumni Bandung, 1989, hlm. 65

29

Ibid., hlm 29-30

30 Victor Vayed Neno, Op. Cit., hlm. 32-33 31Loc. Cit., 32

(41)

Pasal 47 adalah Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara. Selanjutnya Pasal 1 angka 10 diatur bahwa, Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau Badan Hukum Perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa Kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundangan-Undang yang berlaku.

Adapun ciri-ciri kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara yaitu: 1. Pihak-pihak yang bersengketa adalah orang atau badan hukum perdata

dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

2. Obyek yang disengketakan adalah Keputusan Tata Usaha Negara yakni penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

3. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara.

4. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu bersifat konkrit, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.33

Ciri-ciri tersebut lebih kepada menunjukkan unsur-unsur dari sengketa Tata Usaha Negara dari subyek dan obyek sengketanya.34 Kedua unsur ini penting dalam penentuan kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut Pasal 1 angka 10 UU No. 5 Tahun 1986, maka yang menjadi subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum Perdata dan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara

33

S.F. Marbun dan Moh. Mahmud MD, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: Liberty, 1987, hlm. 186

(42)

Subyek adalah orang atau badan hukum Perdata secara absolut pasti selalu menjadi Penggugat. Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Indroharto, bahwa orang atau badan hukum perdata yang dirugikan oleh keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Orang-orang atau badan hukum perdata sebagai alamat yang dituju oleh suatu KTUN. Di sini orang atau badan hukum perdata tersebut secara langsung terkena kepentingannya oleh keluarnnya Keputusan Tata Usaha Negara yang di alamatkan kepadanya karena itu jelaslah ia berhak mengajukan gugatan.

2. Orang-orang atau badan hukum perdata yang dapat disebut sebagai pihak ketiga yang berkepentingan, meliputi:

a. individu-individu yang merupakan pihak ketiga yang berkepentingan. Kelompok ini merasa terkena kepentingannya secara tidak langsung dengan dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang sebenarnya di alamatkan kepada orang lain. b. Organisasi-organisasi kemasyarakatan sebagai pihak ketiga dapat

merasa kepentingannya karena keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara itu dianggapnya bertentangan dengan tujuan-tujuan mereka perjuangkan sesuai dengan anggaran dasarnya.

3. Badan atau jawatan Tata Usaha Negara yang lain, namun undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara tidak memberi hak kepada Badan atau jabatan Tata Usaha Negara untuk menggugat. Sebab subyek sebagaimana Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara secara absolut hanya akan menjadi Tergugat.35

Selanjutnya yang menjadi obyek sengketa Tata Usaha Negara adalah Keputusan Tata Usaha Negara itu sendiri, sebagaimana yang terdapat pada Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Termasuk ke dalam Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara adalah ketentuan yang terdapat pada Pasal 3.

35Ibid., hlm. 49

(43)

Para sarjana hukum menyebut hal ini dengan Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif-Negatif yaitu sebagai berikut:

1) Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.

2) Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dimaksud telah lewat, maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang dimaksud.

3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan dianggap telah mengeluarkan keputusan penolakan.36

C. Keputusan Tata Usaha Negara

1. Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara

Sengketa Tata Usaha Negara menurut Pasal 1 angka 10 Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Unsur-unsur sengketa Tata Usaha Negara berdasarkan ketentuan pengertian sengketa Tata Usaha Negara adalah sebagai berikut:

36 Indroharto, Op. Cit., hlm. 35-35

(44)

1) sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara

2) sengketa tersebut antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.

3) sengketa yang dimaksud sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara.37

Sengketa Tata Usaha Negara selalu sebagai akibat dari dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara. Antara sengketa Tata Usaha Negara dengan dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara selalu harus ada hubungan sebab akibat. Tanpa dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, tidak mungkin sampai terjadi adanya sengketa Tata Usaha Negara. Mengenai apa yang dimaksud dengan Keputusan Tata Usaha Negara tertuang dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.

Uraian dari maksud Keputusan Tata Usaha Negara tersebut, akan ditemukan unsur-unsurnya sebagai berikut:

a. Penetapan tertulis

Penjelasan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 menyebutkan bahwa, istilah penetapan tertulis terutama menunjuk

(45)

kepada isi bukan kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Keputusan Tata Usaha Negara itu memang diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan tertulis bukanlah bentuk formalnya seperti surat keputusan pengangkatan dan sebagainya. Persyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan segi pembuktian. Oleh karena itu, sebuah memo atau nota dapat memenuhi syarat tertulis tersebut dan akan merupakan Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini apabila sudah jelas:

1) Badan atau Pejabat TUN mana yang mengeluarkannya; 2) maksud serta mengenai hal apa isi tulisan itu;

3) kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di dalamnya.38

Unsur penetapan tertulis ini ada pula pengecualiannya, yaitu Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang dikenal dengan Keputusan Tata Usaha Negara fiktif atau negatif. Sedangkan dalam penjelasan Pasal 3 ayat (2) disebutkan bahwa: Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang menerima permohonan dianggap telah mengeluarkan keputusan yang berisi penolakan permohonan tersebut apabila tenggang waktu yang ditetapkan telah lewat dan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara itu bersikap diam, tidak melayani permohonan yang diterimanya.

38Ibid., hlm. 18-19

(46)

b. Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara

Menurut Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yang dimaksud dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah Badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Atau dengan perkataan lain, Badan atau Pejabat Tata Usaha negara adalah Badan atau Pejabat yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan mempunyai wewenang untuk melaksanakan urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan dalam hal ini dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang dimaksud urusan pemerintahan ialah kegiatan yang bersifat eksekutif. Indroharto menyatakan bahwa apa yang dimaksud dengan kegiatan yang bersifat eksekutif adalah kegiatan yang bukan kegiatan legislatif atau yudikatif. c. Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan Peraturan

Perundang-undangan

Dalam negara hukum, setiap tindakan hukum pemerintah harus berdasarkan pada asas legalitas, yang berarti bahwa pemerintah tunduk pada undang-undang. Esensi dari asas legalitas adalah wewenang, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu. Tindakan hukum tata usaha negara dapat diartikan sebagai perbuatan hukum Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersumber pada ketentuan hukum Tata Usaha Negara yang dapat menimbulkan hak atau kewajiban pada orang lain. Dapat dilihat bahwa tindakan Badan atau

(47)

Pejabat Tata Usaha Negara ini dilakukan atas dasar Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yang menimbulkan akibat hukum mengenai urusan pemerintahan terhadap seseorang atau badan hukum perdata.

d. Bersifat konkret, individual dan final

1) Bersifat konkret, artinya obyek yang diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan.

2) Bersifat individual, artinya Keputusan Tata Usaha negara itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu, baik alamat maupun hal yang dituju.

3) Bersifat final, artinya sudah definitif dan karenanya dapat menimbulkan akibat hukum. Keputusan yang masih memerlukan persetujuan instansi atasan atau instansi lain belum bersifat final, karenanya belum dapat menimbulkan suatu hak atau kewajiban pada pihak yang bersangkutan.

e. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata Keputusan merupakan wujud konkret dari tindakan hukum pemerintahan. Secara teoritis, tindakan hukum berarti, tindakan-tidakan yang berdasarkan sifatnya dapat menimbulkan akibat hukum tertentu. Tindakan hukum adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menciptakan hak dan kewajiban. Sehingga, tindakan hukum pemerintahan adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh organ

(48)

pemerintahan untuk menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu khususnya di bidang pemerintahan atau administrasi negara. Yang dimaksud dengan menimbulkan akibat hukum adalah menimbulkan akibat hukum Tata Usaha Negara, karena penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha yang menimbulkan akibat hukum tersebut adalah berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara.

Akibat hukum Tata Usaha Negara tersebut dapat berupa:

1) menguatkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang telah ada (declaratoir), misalnya surat keterangan dari Pejabat Pembuat Akta Tanah yang isinya menyebutkan antara A dan B memang telah terjadi jual beli tanah atau surat keterangan dari Kepala Desa yang isinya menyebutkan tentang asal-usul anak yang akan nikah;

2) menimbulkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang baru (constitutief), misalnya Keputusan Jaksa Agung tentang pengangkatan calon Pegawai Negeri Sipil atau Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan yang isinya menyebutkan suatu Perseroan Terbatas diberikan izin mengimpor suatu jenis barang.39

Lalu lintas pergaulan hukum khususnya dalam bidang keperdataan, dikenal istilah subyek hukum, yaitu ”dedrager van de

rechten en plichten” atau pendukung hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Subyek hukum ini terdiri dari manusia (natuurlijke persoon)

39Ibid., hlm. 18-29

Figur

Memperbarui...

Related subjects :