DAKWAH PADA MASYARAKAT MARGINAL DI KAMPUNG PECINAN ARGOPURO KUDUS
F. Temuan Penelitian
1. Kondisi Geograis Kampung Pecinan Hadipolo Kudus
Dukuh Argopuro yang menjadi lokasi penelitian ini ada satu RT yaitu masuk RT.6 RW.2.Desa Hadipolo dan berada di wilayah Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Letaknya berada di aliran sungai Jekulo yang bermuara di Lautan Jawa. Mayoritas penduduk Hadipolo, bermata pencaharian sebagai karyawan, wiraswasta, pekerja di jalanan dan buruh bangunan.
Dengan kebudayaan yang relatif sedikit maju dibanding beberapa tahun sebelumnya, penduduk Dukuh Argopuro dapat memenuhi wajib belajar 9 tahun. Adapun batas-batas wilayah Dukuh Argopuro yang merupakan bagian darai Desa Hadipolo memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. Luas dan batas wilayah
1. Luas desa/kelurahan : 516.500 Ha 2. Batas wilayah
a. Sebelah Utara : Desa Honggosoco b. Sebelah Selatan : Desa Tenggelas c. Sebelah Barat : Desa Ngembalrejo d. Sebelah Timur : Desa Jekulo
b. Orbitrasi (jarak dari pusat pemerintahan desa/kelurahan) 1. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : 25 km
2. Jarak dari ibukota Kabupaten/Kotamadya Dati II : 8 km 3. Jarak dari ibu kota propinsi Dati I : 56 km 4. Jarak dari ibu kota negara : 420 km18
Perumahan perumahan sosial “Pecinan”, Hadipolo, Kudus secara geograis termasuk terletak dalam perkampungan yang relatif tak terlalu ketinggalan yakni di desa Hadipolo. Desa Hadipolo pada 1985-an pernah sebagai pemenang dalam lomba desa tingkat kaputen Kudus, bahkan mewakilinya untuk maju pada lomba desa tingkat propinsi Jawa Tengah. Keberadaan desa tersebut termasuk strategis karena dilewati jalan raya besar jurusan Semarang-Surabaya, sehingga arus transportasi dan komunikasi relatif lancar. Karena itu desa Hadipolo dalam posisi ini memili citra yang positif di mata msyarakat Kudus dan sekitarnya.
Bahkan desa Hadipolo semakin dikenal luas di kancah perindustrian nasional karena desa ini merupakan pusat kerajinan “pandai besi” dengan produk berbagai alat rumah tagga mulai dari cangkul, pisau, palu, arit, hingga linggis. Di desa ini pula dikenal sebagai pusat penjualan besi-besi tua yang dikenal luas di masyarakat.
Hal ini menurut kepercayaan masyarakat setempat tak lepas dari “leluhur” atau dalam bahaya lokal disebut “danyang” daerah tersebut dikenal sebagai ahli pembuat keris “wesiaji” yang dikenal dengan “mbah Kyai Gusti”. Beliau dikenal sebagai seorang empu yang ternama pada zamannya bahkan beliau juga dikenal sebagai murid dari Sunan Muria Kudus, Raden Syahid.
Sebagaimana dikenal luas bahwa salah satu ciri masyarakay Jawa adalah pengaruh budaya nenek moyang yang kuat sehingga menjadi “mode of thinking” dalam menjalani hidup dan memaknai hidup termasuk dalam membangun kekuatan ekonomi. Karena itu masyarakat Hadipolo sejak dulu mengembangkan kerajinan “pandai besi” sebagai representasi paradigmatik terhadap tradisi nenek moyang yang pernah ada sebelumnya. Maka hingga sekarang Hadipolo menjadi sentral “pandai besi” di kabupaten Kudus.
Sedangkan perumahan sosial “Pecinan” tersebut terletak di bagian tengah desa Hadipolo, kira-kira 8 km sebelah timur kota Kudus.
18. 66 Dikutip dari papan monograi Balai Desa Hadipolo pada tanggal 25 Oktober 2008
Dakwah Pada Masyarakat Marginal di Kampung Pecinan Argopuro Kudus
Daerah tersebut semula adalah lahan “tanpa tuan” karena menurut cerita masyarakat setempat adalah tempat peninggalan komunitas keturunan Cina yang karena satu dan lain hal mereka meninggalkan lokasi tersebut. Sebagian menjelaskan komunitas keturunan Cina yang “lari” dari daerah tersebut karena mereka tidak menemukan kenyamanan bahkan sering diganggu oleh makhluk halus yang selalu saja datang silih berganti.
Namun sebagian yang lain menceritakan bahwa keberadaan keturunan Cina yang eksodus besar-besaran itu tak lepas dari ancaman politik lokal yang cenderung menganggap keturunan Cina sebagai ancaman ekonomi masyarakat lokal. Karena itu mereka tak tahan bertahan terlalu lama di kompleks tersebut. Sebagian yang lain menjelaskan daerah tersebut sebagai bekas kuburan Cina yang sudah lama tidak terawat sehingga musnah tiada bekas.19
Dengan berbagai versi yang ada yang jelas daerah tersebut tak lepas dari adanya peninggalan keturunan Cina yang lama tak terawat, lalu diambil alih oleh pemda Kudus dan dalam jagka waktu yang lama kosong tak dimanfaatkan. Namun yang jelas keberadaan tanah pecinan tersebut sebenarnya menjadikan citra Hadipolo yang positif menjadi tercoreng. Karena itu tetap saja desa Hadipolo mampu sebagai pemenang lomba desa dan maju di tingkat propinsi Jawa Tengah pada masa kepemimpinan H. Denin.
Maka dalam kondisi citra positif desa Hadipolo yang sedang melambung tersebut tiba-tiba muncul kebjakan dari Pemda Kudus untuk merelokasi kompleks kumuh di belantar Sungai Kaligelis Kudus agar dipindahkan ke kompleks Pecinan, Hadipolo. Hal ini tak lepas dari keinginan baik pihak pemda Kudus agar para anak-anak jalanan dan keluarga tuna wisma segera tertangani oleh dinas sosial sehingga mereka bisa hidup lebih layak dan mandiri hidup dalam hunian yang permanen.
Karena itu Pemda Kudus melalui dinas sosial pada tahun 1990- an membangun perumahan sangat sederhana (RSS) yang khusus diperuntukkan bagi tuna wisma terutama yang berasal dari pinggiran Kaligelis Kudus. Pemda Kudus memberikan syarat yang sangat ringan yaitu hanya dengan menunjukkan KTP/Kartu keluarga dengan sistem
19. Wawancara peneliti dengan Syaii, Hanai dan K. Ahmad Yasin warga desa Hadipolo, pada Juli 2008.
cicilan harian sebesar Rp 900,- (sembilan ratus rupiah) selama lima belas tahun.
Proses relokasi ini dilakukan dalam dua tahap yaitu; tahap pertama tahun 1990 dan tahap dua tahun 1993. Kini penghuni Perumahan Sosial Pecinan tersebut terdiri dari 115 rumah dengan jumlah penduduk kira-kira 500 orang dengan komposisi laki-laki sejumlah 214 orang dan perempuan 300an orang.
Pada awalnya masyarakat Hadipolo sebagian besar menolak kebjakan relokasi komunitas tuna wisma dari Kaligelis yang dipindahkan ke daerah Hadipolo, karena menurut warga setempat, kehadirian mereka dianggap sebagai ancaman keamanan bagi masyarakay Hadipolo. Hal ini tak lepas dari stigna negatif masyarakat Hadipolo terhadap anak-anak jalanan yang hidupnya dianggap tidak jelas hanya menjadi “biang keladi” dari berbagai tindakan-tindakan mulai dari pencurian, pencopetan hingga tawuran.
Sebagian besar warga Hadipolo merasa tidak nyaman dengan kehadiran para tuna wisma tersebut, apalagi citra desa Hadipoli yang sebelumnya sudah dikenal sebagai desa unggulan dan sekaligus sebagai pemenang lomba desa pada beberapa tahun sebelumnya. Kehadiran kompleks perumahan sosial ini, bagi kebanyakan warga Hadipolo dikhawatirkan hanya akan memperkeruh dan “mengotori” kampung yang sedang naik daun.
Sebagai dampak sosialnya, warga perumahaan Pecinan terutama anak-anak yang menjadi korban. Mereka dari tahun ke tahun merasa terpinggirkan dalam kehidupan sosial masyarakat di Hadipolo tersebut. Bahkan dalam pendidikan warga perumahan Pecinan tersebut merasa didiskriminasikan, karena mereka dianggap sebagai “keluarga kotor” yang tak mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Karena itu anak-anak mereka banyak yang tak mau sekolah hanya gara-gara diolok-olok oleh teman lainnya sebagai anak jalanan.
Namun seoring dengan berjalannya waktu serta proses komunikasi sosial yang berjalan secara alami, pada kahirnya warga perumahan “Pecinan” semakin mendapat pengakuan dari warga setempat, meski sebagian masih tetap tidak bisa menghilangkan stigma negatif yang terlancur ada sejak kehadirannya. Namun paling tidak perkembangan komunikasi yang lebih terbuka semakin terbangun, setidaknya dapat dilihat ketika diantara mereka memiliki “gawe”
Dakwah Pada Masyarakat Marginal di Kampung Pecinan Argopuro Kudus
mereka sebagian saling mengundang untuk sekedar ikut “tradisi slametan” atau mengikuti jam’iyah tahlil rutin setiap malam jumat.
Meskipun demikian ancaman kecurigaan ketika terjadi kasus pencurian atau perilaku negatif lain yang terjadi di Hadipolo dalam banyak hal komunitas pecinan seringkali sebagai “tertuduh”. Bahkan ancaman konlik sosial pun semakin rawan ketika komunikas sedang buntu. Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2006 dengan terjadinya tawuran antara warga perumahan sosial dengan penduduk setempat. Beberapa rumah warga perumahan sosial hancur, dan juga banyak yang terluka baik warga pribumi maupun warga perumahan sosial hanya gara-gara kesalahpahaman ketika salah seorang warga perumahan Pecinan menghadirkan Orkes Dangdut dalam rangka punya gawe resepsi pernikahan.
Karena itu kehadiran masyarakat pendatang yang kebanyakan dari tuna wisma di Hadipolo tersebut perlu mendapatkan penanganan dan pendampingan secara berkesinambungan agar mereka semakin diakui oleh masyarakat lain sebagai bagian dari manusia yang memiliki hak untuk hidup, berkumpul, memperoleh pendidikan dan mendapatkan kecukupan secara ekonomi sehingga menemukan kebahagianan dan kesejahteraan yang sejati.
2. Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat Perumahan Sosial