TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori Penelitian
5. Konflik Kepentingan
Suatu perusahaan/instansi menerbitkan laporan keuangan, tujuannya ialah untuk memberikan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan tersebut kepada para pengguna laporan keuangan. Dalam hal ini, pengguna laporan keuangan sangat beragam, mulai dari pihak eksternal hingga pihak internal perusahaan. Selain itu kepentingan dari berbagai pihak tersebut juga beragam. Dengan demikian, dengan adanya berbagai pihak yang memiliki kepentingan masing-masing, maka hal ini dapat memungkinkan terjadinya konflik kepentingan antar pengguna laporan keuangan.
Adapun konflik kepentingan yang sering kali kerap terjadi yaitu baik antara manajer dengan pemegang saham/investor, manajer dengan kreditor, manajer dengan instansi pemerintah/regulator, investor dengan kreditor dan lain sebagainya. Namun dalam penelitian ini konflik kepentingan yang akan dibahas, lebih berfokus pada konflik kepentingan yang terjadi antara pihak investor dengan pihak kreditor (bondholder-shareholder).
Konflik kepentingan antara investor dengan kreditor bersumber dari masalah-masalah seperti (1) masalah penggantian aktiva (asset subsitusion), (2) masalah kebijakan dividen, (3) masalah penerbitan utang baru, serta (4) masalah underinvestment (Jensen dan Meckling, 1976, Sari, 2004). Investor memanfaatkan keempat permasalahan tersebut, untuk memperkaya dirinya dengan cara menekan pihak manajer agar melakukan transfer kekayaan aset/
aktiva milik kreditor menjadi milik investor. Dalam penelitian ini akan lebih berfokus membahas konflik yang terjadi seputar kebijakan dividen.
a. Konflik Investor-Kreditor Seputar Kebijakan Dividen
Menurut Hitten (2016) kebijakan dividen dapat diartikan sebagai suatu keputusan, apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham (investor) sebagai dividen atau ditahan sebagai retained earnings, dimana merupakan sumber dana internal perusahaan yang dapat bermanfaat untuk pembiayaan investasi di masa mendatang.
Pada dasarnya, dividen merupakan pendapatan bagi investor/pemegang saham yang dibagikan perusahaan dari laba perusahaan dan dividen juga mencerminkan tentang kinerja dari perusahaan. Dalam hal pembayaran dividen, dividen yang dibayarkan tergantung kepada kebijakan masing-masing perusahaan. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan menetapkan kebijakan dividen yang berbeda-beda. Dengan demikian, besar kecilnya dividen yang dibayarkan akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan maksimisasi kesejahteraan para pemegang saham/investor.
Konflik kepentingan yang terjadi antara investor dengan kreditor timbul bersumber dari suatu masalah keagenan, dimana masing-masing pihak tersebut baik antara investor dan kreditor memiliki motivasi untuk memenuhi kepentingannya dalam rangka memberikan keuntungan bagi diri pribadi. Adhiputa (2018) mengatakan konflik diantara mereka dapat terjadi, karena perbedaan kepentingan mengenai kebijakan pembayaran dividen akibat adanya pendanaan investasi dari utang. Masalah tersebut muncul ketika membayar dividen kas dalam jumlah besar, beresiko bagi kreditor karena mengurangi aktiva untuk pelunasan utang.
Konflik kepentingan diantara mereka, seputar kebijakan dividen dapat terjadi, ketika investor berusaha mengambil keuntungan dari dana kreditor melalui pembayaran dividen yang berlebih, terus menerus serta jumlahnya besar sebagai hasil dari investasinya. Sementara itu, kreditor memiliki kepentingan, menuntut perusahaan untuk tidak membayarkan dividen yang berlebihan kepada investor agar tersedia aset/jaminan yang cukup untuk pembayaran utang perusahaan kepada dirinya ketika jatuh tempo (Novita, 2017). Pihak kreditor juga berusaha menjaga keamanan dananya yang dipinjamkan kepada perusahaan, serta berharap mendapat keuntungan di masa mendatang berupa pendapatan bunga.
Pembayaran dividen yang berlebihan kepada pihak investor, hal ini akan secara simultan mengurangi kas dan modal perusahaan. Dengan berkurangnya kas dan modal perusahaan, maka mengakibatkan kreditor kehilangan jaminan pelunasan utangnya dari perusahaan tersebut. Selain itu, berkurangnya modal perusahaan tentu memotivasi perusahaan untuk menambah kembali porsi pendanaan dari utang pada pihak ketiga. Maka hal ini berpotensi meningkatkan risiko utang tak tertagih, sehingga akan memperbesar konflik yang terjadi antara investor dan kreditor.
Dalam konflik antara investor dengan kreditor, investor sebagai shareholder diasumsikan berada pada pihak yang sama dengan manajer, karena investor/pemegang saham dalam hal ini tentunya dapat memilih, mengangkat, mengkompensasi dan memecat manajer. Dengan demikian dianggap efisien untuk menyamakan tujuan manajer dengan tujuan para
investor. Investor dapat memaksa manajer perusahaan untuk membayar dividen, yaitu dengan memilih pejabat dalam perusahaan yang memiliki keberanian menawarkan kebijakan dividen sesuai harapan investor serta menggunakan alasan mencari tambahan pendanaan dari luar yang lebih besar. Dengan demikian hal ini memicu perusahaan untuk terus menerus membayarkan dividen kepada investor, sekaligus untuk menarik calon investor lainnya masuk (Nasih dan Hudaya, 2011).
Dilihat dari tingkat risiko yang dihadapi, ketika investor melalui manajemennya menjalankan aktivitas dengan risiko yang tinggi, tingkat risiko yang dihadapi kreditor jauh lebih tinggi dibanding yang dihadapi oleh investor (Adhiputra dan Astika, 2018). Berdasarkan hal demikian, untuk menghindari terjadinya transfer kekayaan kepada investor terkait kebijakan pembayaran dividen, maka kreditor akan mensyaratkan pihak manajer perusahaan untuk melakukan pembatasan pembayaran dividen, dan menerapkan metode akuntansi yang konservatif.
Juanda (2007) mengatakan bahwa penerapan metode akuntansi konservatif adalah salah satu cara untuk dapat mengurangi risiko kepada kreditor terkait pembayaran dividen yang berlebih. Sebab pada dasarnya perusahaan yang menerapkan akuntansi yang konservatif, maka laporan keuangannya akan menghasilkan nilai laba dan aktiva cenderung rendah sedangkan beban dan utang cenderung tinggi. Kemudian, nilai laba yang rendah tersebut mengakibatkan dividen yang dibagikan oleh manajemen perusahaan kepada investor juga akan berkurang. Selain itu, Fitri (2015)
juga mengungkapkan bahwa penerapan akuntansi yang konservatif akan memberikan gambaran kepada kreditor terkait ketersediaan aktiva yang cukup untuk pembayaran utang perusahaan kepada dirinya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka konservatisme diharapkan mampu mengatasi konflik kepentingan yang terjadi antara investor dengan kreditor seputar kebijakan pembayaran dividen.
Adhiputra dan Astika (2018) dalam hal ini melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan konservatisme akuntansi terhadap konflik bondholder-shareholder, hasil penelitiannya dapat membuktikan bahwa penerapan konservatisme akuntansi berpengaruh positif terhadapkonflik bondholder-shareholder. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa untuk meminimalkan konflik bondholder-shareholder maka perusahaan dapat menerapkan akuntansi yang konservatif dalam laporan keuangan.
Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2004), yang menyimpulkan bahwa konservatisme berperan dalam perusahaan yang menghadapi konflik bondholder-shareholder seputar kebijakan dividen yang timbul pada perusahaan yang mempunyai utang obligasi dan menerbitkan saham.
Konservatisme akuntansi dapat membatasi pembayaran dividen, kecuali dalam kondisi pembayaran dividen sangat rendah. Dalam hal ini, Adhiputra (2018) menjelaskan bahwasannya dalam kondisi pembayaran dividen sangat rendah, maka penggunaan akuntansi konservatisme tidak berpengaruh dalam mengatasi konflik bondholder-shareholder.
b. Mengatasi Konflik Kepentingan Seputar Kebijakan Dividen
Konflik kepentingan yang terjadi antara investor dengan kreditor mengenai kebijakan pembayaran dividen ini, bukan berarti tidak dapat dicegah. Selain dengan menggunakan akuntansi yang konservatif dalam penyusunan laporan keuangan, terdapat beberapa cara lain yang mampu untuk mengantisipasi atau mengurangi konflik kepentingan yang terjadi diantara mereka. Pendapat pertama disampaikan oleh Watts (2002) yang menyatakan bahwa untuk mengurangi konflik investor dengan kreditor, maka diperlukan adanya kontrak utang. Sedangkan menurut Begley dan Freedman (2004) untuk mengurangi konflik diantara mereka diperlukan adanya batasan terhadap kebijakan pendanaan dan investasi.
Kemudian menurut Smith dan Warner (1979), Healy dan Palepu (1990) dalam Sari (2004) yang menyatakan bahwa untuk mengantisipasi konflik dividen, kreditor biasanya memasukkan restriksi atas kebijakan dividen di dalam kontrak utang. Menurut Kalay (1982) terdapat 2 (dua) jenis restriksi (batasan) saat perusahaan membuat kontrak utang publik, yakni restriksi langsung dan restriksi tidak langsung. Restriksi langsung adalah pembatasan jumlah maksimum dividen berdasarkan jumlah laba atau retained earnings. Lalu restriksi tidak langsung adalah pembatasan dividen secara tidak langsung dengan cara menetapkan besar rasio pada neraca yang harus dipertahankan perusahaan. Contoh, menetapkan nilai maksimum rasio debt to asset, maka hal ini akan membatasi pembayaran dividen, karena mengurangi aktiva dan memperbesar rasio debt to asset.
6. Financial Distress (Kesulitan Keuangan) a. Definisi Financial Distress
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan adalah masalah mengenai kebangkrutan atau kepailitan. Masalah tersebut dapat diantisipasi dengan cara memprediksi sebab-sebab yang mengakibatkan timbulnya kebangkrutan yaitu dengan melihat ada atau tidaknya kondisi financial distress. Secara sederhana, financial distress atau yang dikenal dengan sebutan lainnya kesulitan keuangan, dapat didefinisikan sebagai kondisi keuangan suatu perusahaan yang sedang mengalami penurunan (Viola dan Diana, 2016). Definisi serupa juga disampaikan oleh Saputra (2016), Ramadhoni et al., (2014), Fathurahmi et al., (2015) menyatakan bahwa financial distress yakni munculnya sinyal atau gejala-gejala awal kebangkrutan ditandai dengan terdapatnya penurunan kondisi keuangan yang sedang dialami oleh suatu perusahaan, atau merupakan tahap awal yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi.
Sedangkan definisi lainnya dijelaskan oleh Margali et al., (2017) yang menyatakan bahwa financial distress adalah suatu kondisi, dimana keuangan perusahaan berada dalam keadaan yang tidak sehat atau kritis.
Selanjutnya pendapat yang berbeda coba disampaikan oleh Patunrui dan Yati (2017), menurut mereka bahwa financial distress merupakan suatu kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas yang sangat parah sehingga mengakibatkan perusahaan tersebut tidak mampu menjalankan atau melanjutkan kegiatan operasional dengan baik.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa financial distress adalah suatu kondisi tahapan awal yang terjadi, sebelum perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan atau dilikuidasi.
Dimana kondisi keuangan perusahaan sedang dalam keadaan yang tidak sehat atau kritis, hal ini disebabkan terjadinya penurunan jumlah volume cash secara terus menerus, sehingga mengakibatkan perusahaan tersebut tidak mampu menjalankan operasional dengan baik.
Saputra (2016) mengungkapkan bahwasannya financial distress dimulai ketika suatu perusahaan tersebut tidak mampu dalam memenuhi jadwal pembayaran atau ketika proyeksi arus kas akan mengindikasikan bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya, baik kewajiban yang bersifat jangka pendek dalam hal ini kewajiban likuiditas, maupun yang bersifat jangka panjang yakni kewajiban solvabilitas. Perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada kreditor karena perusahaan tidak mempunyai kecukupan dana, dimana total liabilities yang dimiliki lebih besar dibanding total assets-nya. Dengan demikian, semakin besar liabilities yang dimiliki perusahaan daripada assets, maka menyebabkan semakin besar pula risiko terjadinya financial distress.
Selain ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi liabilities kepada kreditor, terdapat cara lain untuk mengetahui tanda-tanda bahwa perusahaan sedang mengalami financial distress, adalah dengan melihat keadaan laba yang diperoleh perusahaan tersebut dalam periode tertentu.
Setyaningsih (2008) menjelaskan bahwa salah satu penyebab terjadinya
financial distress disebabkan oleh kegagalan perusahaan dalam kegiatan operasional untuk menghasilkan suatu laba. Pendapat tersebut didukung oleh Aryani (2016), yang mengatakan financial distress disebabkan oleh perusahaan mengalami kerugian atau laba bersih negatif dalam beberapa tahun. Menurutnya, perusahaan yang memperoleh laba negatif atau rugi selama dua tahun berturut-turut menunjukan bahwa perusahaan tersebut sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Agar lebih memahami masalah terkait financial distress, berikut ini Brigham dan Gapenski (1997) membagi financial distress menjadi 5 (lima) bagian diantaranya, economic failure, business failure, technical insolvency, insolvency in bankruptcy serta legal bankruptcy. Penjelasan lebih lanjut, maka dapat disampaikan sebagai berikut:
1) Economic Failure (Kegagalan Ekonomi)
Economic failure atau kegagalan ekonomi adalah keadaan dimana pendapatan perusahaan tidak dapat menutupi total biaya, termasuk cost of capital-nya. Perusahaan yang mengalami kegagalan ekonomi dapat melanjutkan kegiatan operasionalnya selama kreditor bersedia untuk menyediakan modal dan pemiliknya bersedia untuk menerima tingkat pengembalian (rate of return) di bawah pasar.
2) Business Failure (Kegagalan Bisnis)
Business failure atau kegagalan bisnis adalah suatu keadaan dimana perusahaan berhenti beroperasi dikarenakan ketidakmampuan untuk menghasilkan nilai laba atau penghasilan yang diterima tidak cukup
untuk menutupi jumlah pengeluarannya. Dalam hal ini sebuah bisnis yang menguntungkan dapat gagal, apabila tidak dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk memenuhi pengeluaran.
3) Technical Insolvency
Sebuah perusahaan dikatakan technical insolvency, jika tidak dapat memenuhi kewajiban lancarnya saat jatuh tempo. Ketidakmampuan membayar utang secara teknis menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya hanya sementara. Hal ini dikarenakan jika perusahaan diberi tenggang waktu, maka perusahaan mungkin dapat memenuhi utang lancarnya dan survive. Selain itu, di sisi lainnya, jika technical insolvency adalah gejala awal dari kegagalan ekonomi, ini mungkin menjadi peringatan pertama menuju bencana keuangan.
4) Insolvency In Bankruptcy
Sebuah perusahaan dikatakan insolvency in bankruptcy, apabila nilai buku utang melebihi nilai pasar aset. Kondisi tersebut tentunya lebih serius dibandingkan technical insolvency, karena pada umumnya ini merupakan suatu tanda economic failure dan bahkan mengarah pada aktivitas dari likuidasi bisnis. Sebuah perusahaan yang berada dalam keadaan insolvency in bankruptcy tidak perlu terlibat dalam tuntutan kebangkrutan secara hukum.
5) Legal Bankruptcy
Legal bankruptcy merupakan suatu bentuk formal kebangkrutan dan telah disahkan secara hukum perundang-undangan yang berlaku.
b. Penyebab Financial Distress
Financial distress bisa terjadi pada setiap perusahaan. Penyebab terjadinya financial distress juga bermacam-macam. Menurut Firmasari (2016) perusahaan yang mengalami financial distress dapat disebabkan karena permasalahan ekonomi, penurunan kinerja dan manajemen yang buruk. Sedangkan menurut Kristanti (2019), bahwasannya produk yang buruk juga bisa menjadi penyebab perusahaan mengalami hal itu. Selain itu masalah-masalah dalam keuangan seperti arus kas, praktik akuntansi, anggaran dan penetapan harga adalah penyebab lain yang bisa membuat perusahaan mengalami financial distress. Dalam hal ini Kristanti (2019) mengelompokkan 2 (dua) faktor yang membuat perusahaan mengalami financial distress, diantaranya ialah sebagai berikut:
1) Faktor Internal Perusahaan
Masalah yang terjadi dalam internal perusahaan bisa mempengaruhi dan memicu terjadinya kesulitan keuangan perusahaan, yaitu:
a) Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang buruk.
b) Produk yang buruk dan tidak sesuai dengan harapan konsumen.
c) Anggaran dan penetapan harga yang tidak realistis.
d) Ketidakmampuan perusahaan dalam mengikuti perkembangan teknologi dan lingkungan.
e) Saluran distribusi yang buruk sehingga membuat penjualan tidak sesuai dengan harapan serta produk mengalami kerusakan, yang mana dapat menimbulkan kerugian perusahaan.
2) Faktor Eksternal Perusahaan a) Sosial Budaya
Dalam hal ini ketidakmampuan perusahaan untuk menyesuaikan dengan lingkungan sosial budaya, dimana perusahaan beroperasi dapat memperbesar alasan perusahaan untuk gagal.
b) Kondisi Ekonomi Makro
Misalnya seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, kebijakan baru dari regulator, baik fiskal maupun moneter dan faktor makro lain yang bisa memicu kesulitan keuangan perusahaan.
c) Teknologi
Dalam hal ini, kehadiran teknologi baru sering kali menyulitkan beberapa perusahaan untuk segera mengadopsinya, sehingga hal tesebut membuat mereka menjadi kurang kompetitif di pasar.
d) Legal
Dalam hal ini, hukum yang mengatur mengenai kuota ekspor, impor, perdagangan adalah suatu subjek atas dikenainya penalti jika tidak diikuti, dan itu semua bisa menimbulkan permasalahan keuangan bagi perusahaan.
e) Bencana Alam
Dalam hal ini, suatu kejadian yang terkait dengan bencana alam merupakan salah satu faktor yang tidak bisa secara penuh untuk dilakukan pengendalian, namun hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kegagalan bisnis.
Kemudian, pendapat lain coba dijelaskan oleh Fachrudin (2008).
Dalam hal ini, Fachrudin (2008) mengelompokkan penyebab-penyebab kesulitan keuangan dan menamainya dengan model dasar kebangkrutan atau trinitas penyebab kesulitan keuangan. Menurutnya, ada tiga alasan utama mengapa suatu perusahaan bisa mengalami financial distress dan kemudian bangkrut, yakni sebagai berikut:
1) Neoclassical Model
Pada kasus ini, kebangkrutan dapat terjadi jika alokasi sumber daya yang dimiliki perusahaan tidak tepat. Manajemen yang kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang berada dalam perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan.
2) Financial Model
Pada penyebab ini, pencampuran aset benar tetapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints. Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang, tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek.
3) Corporate Governance Model
Pada model ini, kebangkrutan memiliki campuran aset serta struktur keuangan yang benar tetapi dikelola dengan buruk. Ketidakefisienan ini mendorong perusahaan untuk menjadi out of the market, sebagai konsekuensi masalah tata kelola perusahaan yang tidak terpecahkan.
Pada model ini, menjelaskan bahwa kepemilikan dapat berhubungan dengan struktur tata kelola perusahaan dan goodwill perusahaan.
c. Indikator Terjadinya Financial Distress
Harnanto (1984) dalam Firmasari (2016) mengemukakan bahwa terdapat beberapa indikator yang harus diperhatikan oleh pihak internal maupun manajemen perusahaan, sehubungan dengan kondisi financial distress, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Penurunan volume penjualan, disebabkan karena adanya perubahan selera konsumen.
2) Biaya produksi yang meningkat.
3) Keadaan persaingan yang semakin ketat.
4) Gagalnya ekspansi yang dilakukan perusahaan.
5) Pelaksanaan fungsi pengumpulan piutang yang tidak efektif.
6) Kurangnya kredit dari perbankan.
7) Ketergantungan terhadap piutang yang terlalu tinggi.
Sedangkan berikut di bawah ini juga terdapat beberapa indikator yang harus diperhatikan oleh pihak eksternal menurut Harnanto (1984) dalam Firmasari (2016), diantaranya ialah sebagai berikut:
1) Penurunan jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
2) Penurunan jumlah laba bersih (net income), yang terjadi secara terus menerus, bahkan hingga terjadi kerugian.
3) Ditutup atau dijualnya satu atau beberapa unit usaha.
4) Terjadinya pemecatan pegawai (PHK).
5) Pengunduran diri oleh eksekutif puncak.
6) Harga saham menurun secara terus menerus di pasar modal.
d. Solusi Perusahaan yang Mengalami Financial Distress
Financial distress dapat terjadi di berbagai perusahaan serta bisa menjadi penanda/sinyal dari kebangkrutan yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Jika perusahaan sudah masuk dalam kondisi financial distress, maka manajemen perusahaan harus bertindak hati-hati, karena apabila salah dalam mengambil keputusan bisa saja perusahaan tersebut menuju ketahap kebangkrutan atau dilikuidasi.
Kondisi financial distress juga memberikan dampak buruk bagi perusahaan. Karena hal tersebut dapat menghilangkan kepercayaan baik dari pihak investor, kreditor dan pihak eksternal lain. Dengan demikian, manajemen harus melakukan tindakan dan upaya untuk dapat mengatasi permasalahan financial distress dan mencegah terjadinya kebangkrutan.
Pada umumnya, perusahaan yang mengalami financial distress biasanya memiliki arus kas yang negatif, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo. Berikut ini terdapat empat solusi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengatasi financial distress, yakni:
1) Restrukturisasi Utang
Kristanti (2019) menjelaskan bahwa restrukturisasi adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kesulitan keuangan perusahaan.
Dengan restrukturisasi maka perusahaan mempunyai peluang untuk bertahan dan kembali pada kondisi sehat secara finansial. Dalam hal ini manajemen bisa melakukan restrukturisasi utang yakni mencoba meminta perpanjangan waktu pada pihak kreditor untuk pelunasan
utang, hingga perusahaan memiliki kas yang cukup untuk melunasi utang tersebut (Dwijayanti, 2010). Selain itu, tindakan lainnya yang dapat dilakukan menurut Kristanti (2019) yakni menggantinya utang perusahaan yang bermasalah dengan sejumlah sekuritas perusahaan (menambah modal) dan melakukan renegosiasi tentang syarat-syarat pembayaran utang dengan para kreditor.
2) Perubahan Manajemen Perusahaan
Apabila memang diperlukan, perusahaan mungkin harus melakukan penggantian manajemen, tentunya dengan memilih orang yang lebih berkompeten. Dengan begitu mungkin saja kepercayaan stakeholder bisa kembali pada perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari larinya investor potensial pada saat kondisi financial distress.
3) Mengurangi Biaya yang Kurang Efisien
Menurut Kholidah (2016), pengurangan biaya juga dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan melalui peningkatan efisiensi biaya operasional.
4) Melakukan Merger
Yang terakhir adalah dengan melakukan merger atau penggabungan dengan perusahaan lain. Perlu diperhatikan bahwa tidak sembarang perusahaan dapat dijadikan sebagai rekan merger. Maka dengan itu, perusahaan harus memastikan bahwa rekan merger memiliki kondisi keuangan yang sehat serta arus kas yang baik. Dengan cara ini, maka keuangan perusahaan akan terbantu dan terhindar kebangkrutan.