TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori Penelitian
4. Konservatisme Akuntansi
a. Definisi Konservatisme Akuntansi
Konservatisme akuntansi adalah salah satu prinsip yang dianut dalam proses pelaporan keuangan perusahaan. Konservatisme dikenal dengan istilah prinsip kehati-kehatian. Berikut beberapa definisi tentang konservatisme akuntansi menurut para peneliti. Definisi konservatisme secara sederhana diungkapkan oleh Bliss (1924) dalam Merselina dan Sebrina (2016) menjelaskan bahwa konservatisme tidak mengantisipasi profit sama sekali, tetapi mengantisipasi segala kerugian.
Sedangkan definisi lain juga dinyatakan oleh Sulastiningsih dan Husna (2017) mereka mengatakan bahwa konservatisme akuntansi ialah salah satu prinsip yang berhubungan dengan informasi laba dan laporan keuangan, yaitu suatu tindakan hati-hati dalam menentukan laba. Selain itu, mereka juga mengatakan konservatisme akuntansi dapat digunakan sebagai kebijakan perusahaan dalam proses menyempurnakan laporan keuangan. Hal tersebut dapat mengakibatkan nilai kewajiban serta biaya akan cenderung tinggi dan nilai aktiva serta pendapatan akan cenderung rendah dalam penyajian laporan keuangan.
Selanjutnya menurut Maulana (2017) konservatisme yakni suatu sikap dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil tindakan atau keputusan atas dasar outcome yang terjelek dari ketidakpastian tersebut.
Konservatis juga mengandung makna berhati-hati di dalam menghadapi risiko dengan cara bersedia mengorbankan sesuatu untuk mengurangi
atau menghilangkan risiko tersebut. Implikasi konsep ini dalam laporan keuangan dengan segera mengakui biaya atau rugi yang kemungkinan besar akan terjadi, namun tidak segera mengakui pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya besar.
Definisi formal mengenai konservatisme juga ada dalam SFAC No. 2 FASB 1980, Glossary of Terms mendefinisikan konservatisme adalah sebagai reaksi kehati-hatian (prudent reaction) dalam merespon ketidakpastian dengan mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko yang melekat dalam situasi bisnis cukup layak dipertimbangkan.
Terakhir, penjelasan lengkap tentang konservatisme coba disampaikan oleh Juanda (2007) yang menjelaskan bahwa konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan maka akan menghasilkan angka-angka laba dan aktiva cenderung rendah, serta angka-angka-angka-angka beban dan utang cenderung tinggi. Kecenderungan seperti itu dapat terjadi karena konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Akibatnya, laba yang dilaporkan cenderung terlalu rendah atau kurang saji (understatment).
Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa konservatisme adalah tindakan kehati-hatian dalam menyajikan laporan keuangan. Prinsip ini menganggap ketika dalam keragu-raguan atau dalam keadaan yang tidak pasti, seorang manajer perusahaan akan menentukan pilihan perlakuan atau tindakan akuntansi yang didasarkan pada keadaan, harapan kejadian atau hasil yang memiliki dampak paling
tidak menguntungkan. Prinsip konservatisme mengimplikasikan bahwa nilai terendah dari aktiva dan pendapatan serta nilai tertinggi dari utang dan biaya sebaiknya dipilih untuk dilaporkan. Kecenderungan seperti itu dapat terjadi, karena konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya.
Ayuningsih et al., (2016) menyatakan bahwa ketidakpastian atas kejadian ekonomi dan bisnis dapat terjadi kapan saja, termasuk pada saat pengakuan pendapatan sekalipun. Akuntan akan dinilai konservatif, jika melakukan pengakuan pendapatan sudah benar-benar terealisasi atau di akhir atau tidak disegerakan. Suatu perusahaan akan cenderung bersikap hati-hati saat melakukan pengakuan pendapatan dengan tidak terburu-buru untuk menghindari ketidakandalan dalam laporan keuangan. Selain itu, perusahaan yang konservatif juga yakni perusahaan yang mengakui beban dengan segera mungkin, sehingga perusahaan tersebut akan lebih siap saat menghadapi kerugian yang diprediksikan.
Savitri (2016) mengungkapkan bahwa konservatisme diterapkan karena akuntansi menggunakan dasar akrual dalam membentuk maupun menyajikan suatu laporan keuangan perusahaan. Akrual menyebabkan pembentukan nilai akuntansi tidak hanya sekedar nilai riil dari transaksi uang masuk atau pun uang keluar saja, namun juga menyertakan suatu pencatatan tentang nilai transaksi yang menimbulkan kemungkinan dari masuk dan keluarnya uang di masa mendatang, baik yang disebabkan oleh transaksi di masa lalu maupun di masa sekarang.
b. Pro dan Kontra Prinsip Konservatisme
Konservatisme akuntansi merupakan prinsip penting yang telah lama mempengaruhi pelaporan keuangan. Selain itu, konservatisme saat kini juga menjadi pertimbangan dalam akuntansi dan laporan keuangan karena aktivitas perusahaan dilingkupi ketidakpastian. Pada umumnya, perusahaan di Indonesia memilih akuntansi konservatif walaupun pada kenyataannya konservatisme dipandang sebagai konsep akuntansi yang kontroversial. Banyak peneliti yang mendukung dan menentang prinsip konservatisme. Pihak yang mendukung menyatakan bahwa penggunaan konservatisme selain untuk mengantisipasi ketidakpastian di masa yang akan datang, juga bermanfaat untuk mengurangi sikap optimisme yang berlebihan pihak manajer perusahaan dalam melaporkan hasil usahanya.
Penerapan konservatisme pada laporan keuangaan juga mampu untuk mengurangi risiko kebangkrutan terhadap perusahaan, sebab pada dasarnya penyajian atau penilaian laba bersih yang terlalu tinggi, lebih berbahaya dari pada penyajian atau penilaian laba bersih terlalu rendah.
Hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya risiko tuntutan dari berbagai pihak yang berkepentingan, seperti investor yang menuntut dividen, lalu karyawan yang menuntut kenaikan upah, manajer yang menuntut bonus/
kompensasi, masyarakat yang menuntut pelayanan publik dan regulator yang menuntut pajak. Dengan demikian hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya kebangkrutan perusahaan. Kemudian, prinsip konservatisme juga mampu mengurangi biaya agensi akibat adanya asimetri informasi.
Berikut beberapa peneliti yang menyatakan dukungan terhadap penerapan kebijakan konservatisme pada pelaporan keuangan. Pendapat pertama disampaikan oleh Sari (2018), menjelaskan bahwa penggunaan konservatisme akuntansi akan menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena pada prinsip ini mencegah perusahaan untuk membesar-besarkan laba yang diperoleh dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan pendapatan maupun aktiva yang tidak overstated. Pendapat tersebut didukung oleh Aristiya dan Budiharta (2014), Alhayati (2013) serta Tista dan Suryanawa (2017) mereka menyatakan bahwa penerapan kebijakan akuntansi konservatif akan menghasilkan laporan keuangan yang pesimis. Hal ini diperlukan untuk menetralkan rasa optimistis yang berlebihan dari manajer dengan niat agar kinerjanya tersebut dinilai baik dan harga saham perusahaan dapat meningkat.
Selanjutnya dukungan lain juga disampaikan oleh Ahmed et al., (2002) dalam penelitiannya membuktikan konservatisme dapat berperan mengurangi konflik yang terjadi antara pihak manajemen dan pemegang saham akibat kebijakan dividen yang diterapkan perusahaan. Sedangkan menurut Lafond dan Watts (2008) penggunaan kebijakan konservatisme mampu mengurangi biaya keagenan dan mengurangi terjadinya asimetri informasi dalam pelaporan keuangan perusahaan.
Pernyataan yang lebih detail coba disampaikan oleh Hendriksen (1982) dalam Merselina dan Sebrina (2016) menyatakan bahwa terdapat beberapa argumen yang mendukung konsep konservatisme, antara lain:
1) Kecenderungan bersikap pesimis dianggap perlu untuk mengimbangi optimisme yang mungkin berlebihan dari manajer dan pemilik, sehingga kecenderungan melebih-lebihkan dalam pelaporan dapat dikurangi; 2) Penilaian laba yang terlalu tinggi (overstatement) lebih berbahaya bagi perusahaan maupun pemiliknya daripada penyajian yang bersifat terlalu rendah (understatement), dikarenakan risiko untuk menghadapi tuntutan hukum karena melaporkan hal yang tidak benar menjadi lebih besar; 3) Akuntan kenyataannya lebih mampu memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan mampu mengkomunikasikan informasi tersebut selengkap mungkin yang dapat dikomunikasikan kepada pihak eksternal yaitu kreditor maupun pemegang saham/investor.
Selain pihak-pihak yang mendukung penerapan konservatisme, ada pula pihak yang menentang dan meragukan manfaat konservatisme.
Para peneliti beranggapan bahwa penerapan akuntansi yang konservatif, maka akan menghasilkan laporan keuangan yang tidak berkualitas, tidak relevan dan tidak berguna. Karena penerapan prinsip ini, akan membuat laba serta aktiva menjadi bias, tidak mencerminkan nilai sesungguhnya, sehingga laporan keuangan sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi dan menilai risiko perusahaan.
Berikut beberapa pernyataan para peneliti yang menentang serta mengkritik penerapan prinsip konservatisme pada pelaporan keuangan.
Pendapat pertama disampaikan oleh Adhiputra (2018) dan Yanti et al.
(2017) yang menyatakan bahwa penerapan prinsip konservatisme dapat
mengakibatkan laporan keuangan menjadi bias, tidak mencerminkan realita sesungguhnya, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi risiko perusahaan. Rohmaniyah (2016) juga berpendapat hal yang serupa, menurutnya penerapan prinsip konservatisme dianggap sebagai kendala atau hambatan dalam mempengaruhi kualitas laporan keuangan, dengan menerapkan prinsip konservatisme menganggap laba yang dihasilkan tidak berkualitas, tidak relevan dan tidak bermanfaat.
Pendapat yang lebih lengkap dikemukakan oleh Kam (1995) dan Qiang (2003) dalam Juanda (2007) yang menjelaskan terdapat beberapa aspek yang menyebabkan konservatisme akuntansi ditolak antara lain:
(1) Ketidakkonsistenan. Ketika aktiva dilaporkan terlalu rendah karena digunakan ataudijual, hal ini akan mengakibatkan laba yang dilaporkan terlalu tinggi. Dalam kasus lain laba yang dilaporkan terlalu rendah pada periode sekarang akan dilaporkan terlalu tinggi pada periode berikutnya.
(2) Ketidakteraturan. Kebijakan perusahaan akan mempengaruhi tingkat konservatisme dalam laporan keuangan; (3) Penyembunyian. Dalam hal ini, investor mengalami kesulitan menentukan dan menemukan jumlah aset yang dilaporkan terlalu rendah, sehingga investor dalam posisi tidak diuntungkan; (4) Kontradiktif. Konservatisme akuntansi bertentangan dengan prinsip akuntansi lain seperti prinsip kos, prinsip penandingan, prinsip konsistensi, prinsip pengungkapan; (5) Konservatisme akuntansi bertentangan dengan karakteritik kualitatif laporan keuangan antara lain menyebabkan tidak relevan, tidak realibilitas, tidak komparabilitas.
c. Konservatisme Akuntansi dalam PSAK
Savitri (2016) mengungkapkan PSAK sebagai standar akuntansi di Indonesia merupakan salah satu pemicu timbulnya penerapan prinsip konservatisme. Hal ini dapat terjadi disebabkan PSAK memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi dari kumpulan metode yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Dengan demikian, akan mengakibatkan angka-angka yang berbeda pada laporan keuangan perusahaan, sehingga pada akhirnya menyebabkan laba yang cenderung konservatif. Menurut Savitri (2016), Zelmiyanti (2014), Harahap (2012) dan Merselina dan Sebrina (2016) menyatakan bahwa berikut beberapa pilihan metode pencatatan pada PSAK yang dapat menimbulkan laporan keuangan konservatif, diantaranya adalah:
1) PSAK Nomor 14 tentang persediaan, menyatakan bahwa perusahaan dapat mencatat biaya persediaan dengan menggunakan salah satu metode sebagai berikut yaitu First In First Out (FIFO), Last In First Out (LIFO) dan rata-rata tertimbang (weighted average). Novikasari (2012) menyatakan metode yang paling konservatif dalam penilaian persediaan yaitu metode LIFO, sedangkan yang paling optimis yaitu metode FIFO. Hal itu dikarenakan LIFO cenderung menghasilkan laba lebih kecil daripada FIFO. Apabila harga meningkat persediaan yang dihitung menggunakan LIFO akan lebih kecil daripada FIFO.
Bila persediaan akhir lebih kecil, maka harga pokok penjualan akan lebih besar sehingga menyebabkan laba dihasilkan lebih kecil.
2) PSAK Nomor 16 tentang aktiva tetap, yang mengatur estimasi masa manfaat dari aktiva tetap dan penggunaan metode penyusutan aktiva tetap. Estimasi masa manfaat atau umur ekonomis suatu aktiva tetap didasarkan pada pertimbangan manajemen berasal dari pengalaman perusahaan saat menggunakan aktiva yang serupa. Dengan demikian standar ini memungkinkan suatu perusahaan untuk mengubah masa manfaat aktiva yang digunakan dan mendorong timbulnya laba yang konservatif. Selain itu PSAK ini juga membahas mengenai beberapa metode yang dipergunakan untuk menyusutkan aktiva tetap. Antara lain ialah metode saldo menurun (double declining balance method), metode garis lurus (straight line method), metode jumlah unit (sum of the unit method). Berdasarkan beberapa metode tersebut, metode saldo menurun merupakan metode yang paling konservatif. Hal ini dikarenakan metode saldo menurun menghasilkan cost lebih tinggi pada periode awal, sehingga membuat laba lebih konservatif.
3) PSAK Nomor 19 tentang aset tidak berwujud yang berkaitan dengan metode amortisasi. Dalam ketentuan ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa metode amortisasi yang digunakan untuk mengalokasikan jumlah penyusutan dari aset tidak berwujud secara sistematis selama masa manfaatnya. Metode tersebut yaitu metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (double declining balance method). Jika dibandingkan, metode amortisasi saldo menurun lebih konservatif daripada metode garis lurus. Hal ini dikarenakan metode
saldo menurun menghasilkan cost yang lebih tinggi pada periode awal, sehingga laba menjadi kecil dan lebih konservatif. Kemudian, dilihat dari periode amortisasi, apabila periode amortisasi semakin pendek, maka semakin konservatif, serta apabila periode amortisasi semakin penjang maka semakin optimis (Harahap, 2012).
4) PSAK Nomor 20 tentang biaya riset dan pengembangan. Biaya riset dan pengembangan bukan merupakan kategori aktiva tak berwujud, namun aktivitas pengembangan tersebut yang menghasilkan sesuatu yang dipatenkan atau diperoleh hak ciptanya seperti produk, rumus serta hasil sastra baru, hal ini dapat dikategorikan sebagai aktiva tak berwujud (Novikasari, 2012). Lebih lanjut, menurut Harahap (2012) Jika suatu biaya riset dan pengembangan tersebut diakui sebagai cost pada periode berjalan, maka perusahaan akan menghasilkan laporan yang cenderung konservatif, dan jika biaya riset dan pengembangan diakui sebagai aktiva, maka laporan keuangan cenderung optimis.
Berdasarkan beberapa pilihan metode pencatatan tersebut, maka hal ini dapat mempengaruhi angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan. Sehingga dapat dikatakan secara tidak langsung konsep konservatisme akan mempengaruhi hasil dari laporan keuangan perusahaan. Selanjutnya penerapan konsep ini juga akan menghasilkan laba yang berfluktuatif dimana laba yang berfluktuatif akan mengurangi daya prediksi laba untuk memprediksi aliran kas perusahaan pada masa yang akan datang (Sari, 2018).
d. Pergeseran Konservatisme Menjadi Prudence
Pada tahun 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan keputusan yaitu melakukan konvergensi standar akuntansi nasional agar mengikuti standar akuntansi internasional yakni International Financial Accounting Standard/IFRS yang mulai diberlakukan secara efektif pada 2012. Dengan konvergensi IFRS diharapkan dapat memberikan manfaat seperti meningkatkan daya banding dari laporan keuangan, memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional, menghilangkan hambatan arus modal internasional, mengurangi biaya analisis keuangan bagi para analis, mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional serta meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju
“best practice”. Dengan mengadopsi IFRS berarti menggunakan bahasa pelaporan keuangan global, yang membuat perusahaan tentunya mudah dimengerti oleh pasar dunia (Merselina dan Sebrina, 2016).
Program konvergensi IFRS ke dalam standar akuntansi domestik (PSAK), secara keseluruhan akan berdampak pada beberapa perubahan.
Salah satunya yakni dalam hal pengukuran serta penilaian. Dimana pada standar akuntansi IFRS, membuka peluang penggunaan nilai wajar (fair value) yang lebih luas terhadap beberapa item, misalnya untuk aset tetap dan aset tidak berwujud. Dalam hal ini penggunaan nilai wajar bertujuan meningkatkan relevansi informasi akuntansi dalam pengambilan sebuah keputusan sebab menunjukkan nilai terkini (Sinta, 2016). Juanda (2012) lebih lanjut menambahkan bahwa dengan adanya program konvergensi
IFRS, hal ini juga berdampak terhadap penerapan prinsip konservatisme akuntansi. Dimana konservatisme akuntansi sudah tidak lagi digunakan.
Karena prinsip ini dinilai bertentangan dengan prinsip fair value. Prinsip fair value lebih menekankan pada relevansi, namun konservatisme lebih lebih menekankan reliabilitas. Juanda (2012) menjelaskan bahwa dalam pembuatan laporan keuangan IFRS penyajiannya harus understandable, relevan, reliable, comparable serta tanpa diikuti oleh bias konservatif.
Dengan demikian, dengan adanya adopsi IFRS membuat konservatisme yang sebelumnya berlaku pada standar akuntansi US GAAP, maka akan semakin berkurang tingkat penerapannya.
Kemudian sebagai gantinya IFRS memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan prudence. Menurut Suryani (2018) prudence dapat diartikan sebagai tingkat kehati-kehatian yang tinggi dalam menilai laba serta pendapatan agar tidak terlalu tinggi dalam kondisi yang tidak pasti.
Pada dasarnya, prudence hampir sama dengan konservatisme akuntansi, hanya saja lebih menekankan pada kehati-hatian dalam hal pelaksanaan penilaian yang dibutuhkan untuk membuat perkiraan yang akan sangat diperlukan ketika berada pada kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau pendapatan tidak akan dilebih-lebihkan dan kewajiban atau pengeluaran tidak dikurang-kurangkan (Hellman, 2008).
Dalam hal ini, perbedaan antara prudence dengan konservatisme secara mendasar terdapat dalam perihal pengakuan pendapatan. Dimana pada konsep prudence pendapatan sudah boleh diakui, jika syarat-syarat
atau ketentuan-ketentuan dalam pengakuan pendapatan (menurut IFRS) telah terpenuhi meskipun realisasinya belum diperoleh. Sedangkan pada konsep konservatisme agar segera mengakui beban terlebih dahulu yang kemungkinan besar akan terjadi, tapi tidak segera mengakui pendapatan yang akan datang walaupun peluang terjadinya besar sampai pendapatan tersebut benar-benar terealisasi baru boleh diakui. Dengan perbandingan ini, konsep prudence memang lebih mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya dibandingkan konservatisme yang dapat menimbulkan bias dan kurang relevan untuk pengambilan keputusan.
Meskipun dalam IFRS menyiratkan prinsip konservatisme sudah tidak lagi digunakan, tetapi pada dasarnya bahwa prinsip tersebut masih dipertahankan pada beberapa area tertentu (Juanda, 2012). Hal ini terjadi dikarenakan bahwa perusahaan-perusahaan hingga saat kini, tetap harus berhadapan dengan ketidakpastian ditengah era IFRS. Dengan ini, maka hal yang dianggap baik untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, salah satu tindakan yang dapat diambil yakni menganut prinsip konservatisme akuntansi pada level yang tepat, dalam laporan keuangan.
Menurut Juanda (2012) dan Novianti (2017) manjelaskan bahwa terdapat beberapa contoh area, dimana prinsip konservatisme akuntansi kemungkinan masih dipertahankan, misalnya area kompensasi kerugian menyebabkan pengakuan piutang pajak tangguhan, dan area kapitalisasi biaya pengembangan. Adapun penjelasan lebih rincinya akan dijabarkan pada bagian konservatisme akuntansi dalam IFRS bawah ini.
e. Konservatisme Akuntansi dalam IFRS
Terlepas dari perdebatan pro dan kontra tentang konservatisme, serta dilema penerapan konservatisme setelah konvergensi IFRS apakah masih diterapkan atau tidak, pada dasarnya bahwa konservatisme masih dipertahankan pada beberapa area tertentu, meskipun IFRS menyiratkan bahwa prinsip ini sudah tidak lagi digunakan, dan diganti dengan prinsip prudence. Adapun beberapa contoh area tertentu menurut Juanda (2012) dan Novianti (2017), dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Kompensasi kerugian menyebabkan pengakuan pada piutang pajak tangguhan. Aset pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi pajak belum dikompensasi, jika besar kemungkinan laba kena pajak masa depan akan memadai untuk dimanfaatkan dengan rugi pajak belum dikompensasi. Kriteria probabilitas (kemungkinan) yang digunakan, ialah kriteria kualitatif yang bersifat subjektif dimana dengan adanya kriteria subjective judgement ini terbuka peluang untuk menerapkan praktik konservatisme akuntansi.
2) Kapitalisasi biaya pengembangan. Salah satu syarat aset tetap tidak berwujud yang muncul seperti biaya pengembangan (atau dari tahap pengembangan pada proyek internal), dalam hal ini dapat diakui jika telah memenuhi bagaimana aset tetap tidak berwujud tersebut akan menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomi di masa depan.
Dalam sebuah perusahaan memperbarui estimasi mengenai arus kas masa depan dari biaya pengembangan yang dikapitalisasi, mungkin
ada “efek sementara” penerapan konservatisme yang mengarah pada penciptaan cadangan tersembunyi, yang kemudian dapat di-reversed atau dibalik kembali.
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, hal ini menunjukkan bahwasannya prinsip konservatisme tetap ada di dalam penerapan IFRS.
Namun prinsip konservatisme berdasarkan IFRS diterapkan dengan cara konservatisme sementara (perubahan estimasi akuntansi yang sementara misal understated aset bersih melalui penciptaan cadangan tersembunyi yang kemudian dapat dibalik) dibandingkan dengan cara konservatisme yang konsisten (penilaian aset bersih yang terlalu rendah). Hal ini berarti bahwa penekanan yang lebih rendah dari konservatisme yang konsisten pada implementasi IFRS, diganti dengan penekanan pada konservatisme sementara yang lebih besar (Juanda, 2012).
Hal ini memiliki dampak bagi pengguna laporan keuangan sebab efek penerapan konservatisme sementara, dimana memiliki tingkat yang lebih kompleks dalam pengukuran laba dibandingkan dengan penerapan konservatisme yang konsisten. Ketika prinsip konservatisme diterapkan dalam cara sementara, maka perusahaan akan memperlakukan beberapa kegiatan secara konservatif (contohnya item-item yang tidak memenuhi persyaratan kriteria pengakuan atau probabilitas lain), namun yang lain akan diperhitungkan sesuai IFRS (contohnya item-item yang memenuhi persyaratan probabilitas serta kriteria pengakuan lainnya) (Juanda, 2012 dan Novianti, 2017).