TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori Penelitian
7. Risiko Litigasi
a. Definisi Risiko Litigasi
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dapat diartikan sebagai akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Sedangkan definisi litigasi menurut Ardana dan Sujana (2018) yakni klaim dari pihak ketiga kepada pihak manajer perusahaan atas suatu perbuatan yang melanggar perjanjian atau peraturan yang ada. Dari kedua penjelasan tersebut maka risiko litigasi didefinisikan sebagai risiko yang melekat pada perusahaan yang memungkinkan terjadinya ancaman litigasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang merasa dirugikan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut meliputi investor, kreditor, regulator serta pihak eksternal lainnya (Ramadhoni et al., 2014).
Kemudian definisi serupa juga dinyatakan oleh Paramita (2013), menurutnya risiko litigasi merupakan ancaman yang harus diterima oleh perusahaan akibat kinerja perusahaan yang dinilai buruk oleh para pihak stakeholder. Sedangkan Juanda (2007) menjelaskan bahwasannya risiko litigasi adalah risiko mendapatkan tuntutan hukum dari pihak eksternal yang menggunakan laporan keuangan untuk mengambil keputusan yang dikarenakan pihak-pihak tersebut merasa dirugikan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa risiko litigasi adalah risiko yang melekat atau risiko bawaan yang dimiliki oleh perusahaan berupa suatu ancaman dari
pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan tersebut, baik itu investor, kreditor dan regulator, dikarenakan kinerja perusahaan yang dinilai buruk, sehingga mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak para pihak yang memiliki kepentingan dengan perusahaan.
Juanda (2009) menjelaskan bahwasannya risiko litigasi terhadap perusahaan/instansi dapat terjadi disebabkan kesalahan dalam pelaporan keuangan. Dimana tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, yang sering terjadi pada perusahaan-perusahaan go-public. Bahkan, intensitas risiko litigasi semakin tinggi ketika penegakan hukum (law enforcement) pada lingkungan pasar modal dijalankan dengan baik. Kemudian di Indonesia sendiri, upaya dari pemerintah untuk melakukan penegakan hukum (law enforcement) pada bidang pelaporan keuangan perusahaan yang tercatat di dalam pasar modal, hal ini mulai menunjukkan intensitas meningkat.
Intensitas penegakan hukum tersebut, yang berakibat semakin tingginya kemungkinan perusahaan untuk mengalami litigasi.
Sedangkan (Savitri, 2016) mengungkapkan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi intensitas ancaman litigasi diantaranya yaitu, terbitnya peraturan baru, komposisi dewan direksi, sensitivitas investor, lingkungan hukum serta peraturan dalam suatu negara, tingkat keketatan aturan kontrak utang, kondisi politik, tingkat kepemilikan saham asing.
Seluruh faktor-faktor tersebut merupakan pendorong terjadinya litigasi, apabila manajer perusahaan tidak bertindak hati-hati dalam melaporkan hasil kinerja keuangan perusahaan kepada publik.
b. Risiko Litigasi dari Pihak Eksternal Perusahaan
Risiko litigasi sebagai faktor kondisi eksternal, didasarkan pada pandangan bahwa investor dan kreditor adalah pihak yang memperoleh perlindungan secara hukum (Nasir et al., 2014). Kemudian, investor dan kreditor dalam memperjuangkan hak-haknya atau kepentingannya dapat melakukan litigasi serta tuntutan hukum pada perusahaan. Sebagaimana diatur perundang-undangan yang melindungi pihak investor jika merasa dirugikan. Berdasarkan UURI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 61 ayat (1) menjelaskan bahwa “Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap Perseroan ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan yang wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan Komisaris”.
Selanjutnya, peraturan yang membahas perlindungan terhadap pihak kreditor, diantaranya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) mengenai Perikatan, pada Bab I Bagian 4 terkait Penggantian Biaya, Kerugian, Bunga Karena Tidak Dipenuhinya Suatu Perikatan, Pasal 1244 menjelaskan yakni “Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga, bila ia tidak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga, yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya walaupun tidak ada itikad buruk kepadanya”.
Apabila perusahaan menerima risiko litigasi, hal itu dikarenakan oleh ketidakmampuan dari perusahaan tersebut di dalam memenuhi hak-hak dari para pihak-hak yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan.
Termasuk tidak terpenuhinya hak-hak dan kepentingan investor maupun kreditor. Dalam hal ini, risiko litigasi dapat muncul dari investor karena ketidakmampuan perusahaan tersebut, dalam membagikan dividen serta pencapaian capital gain. Selain itu, risiko litigasi juga dapat muncul dari kreditor karena ketidakmampuan perusahaan tersebut dalam memenuhi/
melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dengan demikian, dalam rangka memperjuangkan hak-haknya investor maupun kreditor dapat melakukan litigasi terhadap perusahaan.
Ardana dan Sujana (2018) mengatakan bahwa pencegahan risiko litigasi dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas laporan keuangan.
Selain itu berbagai peraturan dan penegakan hukum yang berlaku dalam lingkungan akuntansi, hal ini menuntut manajer untuk lebih mencermati praktik-praktik akuntansi agar terhindar dari ancaman ketentuan hukum.
Tuntutan penegakan hukum yang semakin ketat inilah, akan berpotensi menimbulkan litigasi jika perusahaan tersebut melakukan pelanggaran.
Dengan demikian, hal ini akan mendorong manajer untuk bersikap hati-hati di dalam menerapkan akuntansinya. Begitu juga bagi akuntan, yang menyusun dan yang memeriksa laporan keuangan akan cenderung lebih konservatif. Karena kesalahan dalam memperkirakan keuntungan lebih berbahaya daripada kesalahan dalam memperkirakan kerugian.
c. Biaya Litigasi
Ketika suatu perusahaan telah menjadi objek litigasi, tidak hanya pihak-pihak internal perusahaan saja yang mengetahui masalah tersebut.
Namun, pihak-pihak eksternal perusahaan juga dapat mengetahui berita atau informasi mengenai kejadian tersebut. Hal ini tentunya tidak hanya dapat merusak reputasi perusahaan saja, namun juga dapat menurunkan moral bagi para pekerjanya. Lebih jauh lagi permasalahan tersebut dapat merugikan perusahaan, hingga membuat perusahaan kehilangan banyak uang. Karena perusahaan akan dikenakan sanksi berupa biaya ganti rugi apabila perusahaan terbukti bersalah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa risiko litigasi adalah risiko yang berpotensi mengakibatkan biaya tidak sedikit, karena berurusan dengan masalah hukum.
Anggraini (2016) menjelaskan bahwasannya biaya litigasi dapat didefinisikan sebagai biaya yang timbul ketika perusahaan memperoleh gugatan hukum dari pihak eksternal perusahaan, yaitu baik dari investor, kreditor maupun regulator. Lalu dengan adanya gugatan hukum tersebut maka perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya, misalnya biaya untuk menyewa pengacara (lawyer) dan biaya denda yang dikeluarkan apabila perusahaan terbukti bersalah. Dalam hal ini, biaya litigasi juga tentunya akan mempengaruhi laba perusahaan. Semakin tinggi biaya litigasi yang dikeluarkan oleh perusahaan, maka laba perusahaan semakin berkurang.
Selain itu, ancaman litigasi juga membuat perusahaan memperoleh citra buruk yang dapat menurunkan nilai perusahaan.
Bagi perusahaan, upaya untuk menghindari tuntutan gugatan dan ancaman litigasi mendorong manajer perusahaan untuk mengungkapkan informasi yang cenderung mengarah kepada, (1) Pengungkapan berita buruk dengan segera dalam laporan keuangan, (2) Menunda berita baik, (3) Memilih kebijakan akuntansi yang cenderung konservatif (Saputra, 2016). Secara rasional, manajer perusahaan akan menghindari kerugian akibat litigasi yakni dengan cara menyajikan pelaporan keuangan secara konservatif. Karena laba yang terlalu tinggi, hal ini tentunya mempunyai potensi risiko litigasi yang tinggi pula (Maulana, 2017).
Selain itu manajer juga akan terdorong untuk menginformasikan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Penyajian laporan keuangan yang yang tidak lengkap akan menimbulkan tuntutan hukum, karena investor maupun kreditor membutuhkan informasi keuangan yang akurat tentang perusahaan dalam rangka untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam hal ini, menurut Juanda (2007) bahwasannya lingkungan hukum yang berlaku pada suatu wilayah tertentu memiliki dampak yang signifikan terhadap kebijakan diskresioner manajer dalam melaporkan hasil keuangannya. Manajer akan melakukan penyeimbangan antara kos litigasi yang akan timbul dengan keuntungan yang akan diperoleh akibat akuntansi yang agresif. Pada lingkungan hukum yang sangat ketat, maka kecenderungan manajer untuk melaporkan keuangan secara konservatif semakin tinggi. Namun, pada lingkungan hukum yang longgar dorongan untuk melaporkan keuangan secara konservatif akan berkurang.