• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS BELAJAR MEMBACA UNTUK

D. Konsep Pendidikan Islam

maka tujuan akhirnya pada waktu hidup didunia ini telah berakhir pula.

Ketiga, Tujuan Sementara, yaitu tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus (TIU dan TIK), dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda. Keempat,Tujuan operasional yaitu tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.79

Berkaitan tujuan pendidikan pada Usia dini, berdasarkan Pasal 3 PP No. 27/1990, Tujuan pendidikan pra sekolah secara umum yaitu:

Pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.80

Sedangkan tujuan pembelajaran membaca untuk anak usia dini, agar anak memiliki kemampuan membaca sejak usia dini sehingga kelak memiliki kegemaran membaca dan ilmu membaca agar mampu menelaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.81

Sehingga tujuan pembelajaran membaca untuk anak usia dini secara umum dapat disimpulkan bahwa, bagaimana agar anak memiliki kemampuan membaca sejak usia dini dengan mudah sesuai perkembangannya, agar ketika dewasa memiliki kebiasaan membaca.

2. Konsep Pendidik

Sebagai pendidik anak, diantara sifat utama yang harus dimilikinya yaitu mampu memuliakan dan menghargai kemampuan anak, serta mampu memberi keteladanan budi pekerti yang baik. Rasulullāh saw bersabda,

َة َرا َمُ ع ُنْب ُ

دي ِع َس اَنَث َّد َح ٍشاَّي َع ُنْب ُّب ِلََع اَ نَ

ثَّ

د َح ُّ ب ِقر ْ ش َمِّ

دلإ ِدي ِلَونِْلإ ُنْب ُساَّب َعْلإ اَنَث َّد َح للَّإ ُ َّ َّ

لَ َص ِ َّ

للَّإ ِلونِ ُس َر ْن َع ُث ِّد َحُي ٍكِلا َم َنْب َسَنَ أ ُ

ْع ِم َس ِ ا َم ْعُّنلإ ُنْب ُثِرا َحْ لإ ب ِ ي َ َ ت ْخَ

أ ْم ُهَبدَ َ

أ إونُِ ن ِسْحَ

أ َو ْمُ كدَ َ

لْ ْوَ أ إونِ ُمِرْ

كَ أ َلاَ

ق َمَّ

ل َس َو ِهْيَ لعَ

79 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam..., h. 30-32

80 Peraturan Pemerintah RI No. 27/1990..., h. 2

81 Lihat tafsir surat al-‗Alaq.

Muliakanlah anak-anakmu dan ajarkanlah mereka budi pekerti yang baik (HR.

Ibnu Majah).82

Sementara itu menurut para ahli beberapa diantara sifat pendidik yang harus dimiliki pendidik utamanya dalam pendidikan Islam diantaranya, bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaninya, baik akhlaknya, bertanggungjawab, dan berjiwa nasional.

Hal itu selaras dengan pendapat Zakiah Daradjat, beliau mengatakan,

Dilihat dari ilmu pendidikan Islam secara umum untuk menjadi guru yang baik dan dapat diperkirakan memenuhi tanggungjawab yang dibebankan kepadanya hendaknya, bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaninya, baik akhlaknya, bertanggungjawab, dan berjiwa nasional.‖83

Diantara pendapat para ahli, masih ada yang terlewatkan bahwa salah satu permasalahan kurangnya kualitas dan kompetensi pendidik adalah masalah kesejahteraan84 pendidik. Oleh karena itu, karena proses pembelajaran harus dijalankan dengan suasana yang menyenangkan, maka pendidik juga harus dalam situasi lahir dan kebatinan yang menyenangkan, diantaranya tercukupinya kebutuhan pokok dan kebutuhan mengajar sang pendidik itu sendiri.

Sehingga pendidik yang Islami khususnya dalam proses pengenalan membaca untuk anak usia dini yaitu, mampu memuliakan dan menghargai kemampuan anak, serta mampu memberi keteladanan budi pekerti yang baik, bertakwa kepada Allāh, berilmu, sehat jasmaninya, baik akhlaknya, bertanggungjawab, berjiwa nasional, penyayang, penyabar, ramah, lembut, empati, kreatif dan sejahtera.

3. Konsep Metode

Metode pengenalan membaca dalam pendidikan Islam secara umum dapat mengadopsi konsep yang bersumber dari al-Qur‘an dan hadis.

Konsep ‗mengenalkan‘ pada proses pembelajaran yang pertama kali diajarkan kepada Adam as oleh Allāh swt, yaitu diantaranya dengan

82 Abi ‗Abdillah Muhammad ibn Yazid al-Quzwaini, Sunan Ibnu Mājah, Juz 1, (Beirut: Dār al-Fikr, tt), h. 597

83 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam..., h. 40-41

84 Kesejahteraan berasal dari kata Sejahtera berarti, aman sentosa dan ‎makmur;

selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Dikutip dari Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), cet.

14 h. 1241

mengenalkan nama-nama benda dengan pengulangan-pengulangan hingga Nabi Adam as memahaminya dan mampu menyebutkannya secara benar yang dipersaksikan oleh malaikat Jibril as. Namun kiasan nama-nama benda itu dapat bermakna sangat luas. Hal ini didasarkan pada firman Allāh swt,

ِبۢ نَ

أ َلاَ قَ

ف ِةَ

ك ِئَٰٓ َل َمۡلئ َلَ َع ۡم ُه َضَرَع َّمُث ا َهَّلُك َءٓاَم ۡسَ ۡ لۡئ َمَ

دإ َء َمَّ

لَ ع َو ِؤ ِءٓ َ

آُ

لَٰٓ َٰٓ ِءٓا َم ۡسَ سِب ب ِ يونِ

َ ي ِق ِد َٰ َص ۡمُتن ُك ٣١

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‗Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!‘. (Q.S. al-Baqarah [2]: 31)85

Menurut Tafsir al-Mishbah,

Dia yakni Allāh mengajar adam nama-nama benda seluruhnya, yakni memberinya potensi pengetahuan tentang nama-nama atau kata-kata yang digunakan untuk menunjuk benda-benda atau mengajarkannya fungsi-fungsi benda.

Ayat ini menginformasikan bahwa, manusia dianugerahkan Allāh potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin, dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa.

Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata-kata kerja, tetapi mengajarkan terlebih dahulu nama-nama, ini papa, ini mama, itu mata, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang difahami oleh para ulama dari firmannya: Dialah mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.

Setelah pelajaran dicerna oleh Adam as, sebagaimana difahami dari kata kemudian, Allāh mengemukakannya benda-benda itu, kepada para malaikat, lalu berfirman,‘Sebutlah kepadaku nama-nama benda itu, jika kamu benar dalam dugaan kamu bahwa kalian lebih wajar menjadi khalifah. Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka.86

Dari tafsir ayat ini dapat difahami bahwa, dalam konteks pengenalan membaca untuk anak usia dini, konsep ‗mengenalkan‘ dapat di kiaskan dengan mengenalkan simbol-simbol bacaan dengan kiasan nama-nama benda, seperti ba (baju), ca (cabe) dan seterusnya. Sehingga anak dapat membaca dengan cepat dan tepat. Lebih utamanya seiring berjalannya waktu anak diajarkan memahami maksudnya.

Dari penjelasan tersebut dapat simpulkan bahwa, konsep pembelajaran pertama yang diajarkan oleh Allāh swt kepada Nabi Adam

85 Departemen Agama…, h. 7

86 M. Quraisy Shihab..., h. 146

as adalah ―mengenalkan‖ nama-nama benda. Kemudian berlanjut kepada pengenalan karakteristiknya.

Dalam hadis, konsep belajar sangat dianjurkan adalah

―pengulangan‖ artinya dengan mengulang-ulang materi belajar sampai orang yang diajarkan menjadi faham. Hal itu sebagaimana dicontohkan oleh nabi agar anak memperoleh kefahaman dengan baik. Rasulullāh saw bersabda,

َلاَ

ق ِد َم َّصلإ ُدْب َع اَنَث َّد َح َلاَق ُة َدْب َع اَنَث َّد َح

ُة َما َمُ ث اَ

نَ ثَّ

د َح َلاَ ق َّ نَ

ث ُمْ لإ ُنْب ِ َّ

للَّإ ُ دْبع اَ َ

نَ ثَّ

ً د َح ث َ

لََ ث َمَّ

ل َس َمَّ

ل َس إَ ذ ِؤ َ

اَ ك ُ

هَّ

نَ أ َمَّ

ل َس َو ِهْيَ لَ

ع للَّإ ُ َّ َّ

لَ َص ِّ ب ِ نَّ

نلإ ْنَ ع ٍسَ

نَ أ ْنَ

ع َِّ

للَّإ ِدْبَ ع ُنْب إَ

ذِإَو ا

اً ث َ

لََ ث اَ

َٰٓ داعَ َ

أ ٍة َم ِلَ كِب َمَّلَكَت

-Telah menceritakan kepada kami (Abdah) berkata, -Telah menceritakan kepada kami (Abdushshamad) berkata, Telah menceritakan kepada kami (Abdullah bin al-Mutsanna) berkata; (Tsumamah bin Abdullah) telah menceritakan kepada kami dari (Anas) dari Nabi ṣallallahu ‗alaihi wasallam, bahwa Nabi ṣallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam, diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga kali. (HR. Bukhari)

Menurut Mana Khalīl al-Qathān mengutip dari berbagai hadis tentang bagaimana metode dalam belajar yaitu khususnya pada belajar membaca al-Qur‘an, Abu Nadrah berkata, Abu Sa‘id al-Khudri mengajarkan al-Qur‘an kepada kami, lima ayat diwaktu pagi dan lima ayat diwaktu petang. Dia memberitahukan bahwa Jibril menurunkan al-Qur‘an lima ayat-lima ayat. (HR. Ibn Asakir)87

Dari Khalid bin Dinar dikatakan, Abul ‗Aliyah berkata kepada kami;

Pelajarilah al-Qur‘an itu lima ayat demi lima ayat; karena Nabi saw, mengambilnya dari Jibril lima ayat demi lima ayat.(HR. Baihaqi).88

Selanjutnya Umar berkata, Pelajarilah al-Qur‘an itu lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkan al-Qur‘an kepada Nabi saw lima ayat demi lima ayat. (HR. Baihaqi).89

Dari petikan terjemah hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa, membaca, atau belajar membaca dan menghafal yang efektif serta memberi kesan adalah dilakukan dengan metode bertahap-tahap dan berulang-ulang dengan sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya

87 Mannā Khalīl al-Qathān..., h. 164

88 Mannā Khalīl al-Qathān..., h. 164

89 Mannā Khalīl al-Qathān..., h. 164

dalam momentum90 yang tepat, diantaranya diwaktu pagi dan petang91 hingga tercapai tujuannya secara tepat.

Konsep pembelajaran selanjutnya yaitu suasana yang gembira. Hal itu sesuai hadis Rasulullāh saw,

ِك ِلاَم ِنْب ِسَ نَ

أ ْنعَ إو ُ ِّش َعُ

ت َ

آ َو إو ُ ِّشي َلاَ َ ق َمَّ

ل َس َو ِهْيَ

لع َ الله ُ َّ

لَ َص ِّ ب ِ نَّ

نلإ ِنعَ

ملعلإ باتك بف يراخبلإ هجرخإ( إو ُرِّ

فَ نُ

تَ

آ َوإو ُ ِّشب َوَ

-Dari Anas bin Malik dari Nabi saw, ‗Mudahkanlah dan jangan kamu persulit.

Gembirakanlah dan jangan kamu membuat lari‖. (HR. Bukhari)

E. Membaca dalam Pendidikan Islam