BAB III ANALISIS BELAJAR MEMBACA UNTUK
C. Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam
komponen-komponennya, utamanya dalam konsep dan implementasinya.
Tentang pentingnya berpedoman pada al-Qur‘an dalam mengimplementasikan pendidikan, dan bukan hanya berpedoman pada teori ilmiah semata diungkapkan oleh ahli pendidikan Islam dari Mesir, Abdurrahman Saleh Abdullah dalam bukunya, Educational Theory a Quranic Outlook yang telah diterjemahkan oleh H. M Arifin. Beliau mengatakan, apabila kita menerima teori ilmiah sebagai paradigma bagi teori pendidikan, maka kita mesti meninggalkan semua bentuk fakta-fakta metafisika (al-Ghaibiyat) dari al-Qur‘an. Ilmu pengetahuan dengan demikian, hanya berkenan dengan obyek-obyek yang dapat diamati dengan panca indera. Ini berarti teori ilmiah tidak dapat meliputi unsur yang tidak dapat diamati dan diuji secara ilmiah. Secara nyata, al-Qur‘an merupakan sebuah buku (kitab) yang secara tidak langsung diturunkan kepada Nabi Muhammad saw menunjukkkan verivikasi-verifikasi ilmiah yang telah menggugurkan pengujian sederhana terhadap isi kandungan al-Qur‘an. Q.S al-Baqarah [2]: 3 menyatakan, bahwa beriman yang ghaib merupakan bagian dari iman yang mendahului petunjuk tingkah laku yang dapat diamati secara nyata. Sistem etika yang berasal dari al-Qur‘an harus diakui kebenarannya, sebab berasal dari Allāh dan bukan harus menjadi sistem paling baik karena makna-makna eksperimen ilmiahnya.
Teori pendidikan Islam terutama sekali harus berasal dari al-Qur‘an, apabila teori ini mempunyai ketepatan-ketepatannya sendiri.68
Tentang prinsi-prinsip metode pendidikan Islam, para ahli diantaranya M. Arifin dalam Asmal May menjelaskan bahwa, prinsip metodologis yang dijadikan landasan psikologi dalam memperlancar proses pendidikan Islam, diantaranya;
1. Metode tersebut harus memanfaatkan teori kegiatan belajar mandiri;
2. Metode harus berawal dari apa yang sudah diketahui peserta 3. didik;
4. Prinsip memberikan suasana kegembiraan;
5. Memberikan layanan dan santunan yang lemah lembut;
6. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik atau menghargai anak didik;
7. Prinsip prasarat; Pengalaman dan pembelajaran yang telah
68 Abdurrahman Saleh Abdullah, Educational Theory a Quranic Outlook, diterj. H. M Arifin, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur‟an, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), cet. 3, hlm. 23-24
8. diserap menjadi apersepsi dalam pikiran mereka dihubungkan dengan hal-hal baru yang hendak disajikan;
9. Prinsip komunikasi terbuka;
10. Pemberian pengetahuan baru;
11. Prinsip memberikan model perilaku yang baik;
12. Prinsip praktik (pengamatan) secara aktif.69
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat tentang prinsip-prinsip metode pengajaran diantaranya bahwa, prinsip-prinsip metode pengajaran yaitu;
Individualitas, kebebasan, peranan lingkungan, globalisasi, pusat minat, aktivitas, motivasi, pengajaran berupa, pengajaran berkorelasi, konsentrasi dan integrasi. Prinsip-prinsip tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Misalnya prinsip individualitas hanya mungkin dilaksanakan bila ada prinsip kebebasan, pusat minat dan aktifitas. Begitu pula dengan korelasi akan sangat memberi kemungkinan bagi peragaan, motivasi dan lingkungan.70
Menurut Muhammad Abduh dalam Abuddin Nata menjelaskan, metode pengajaran yang selama ini hanya mengandalkan hafalan perlu dilengkapi dengan metode yang rasional dan pemahaman (insight).
Dengan demikian disamping siswa menghafal sesuatu bahan pelajaran, juga dapat memahaminya dengan kritis, objektif dan komprehensif.
Berkenaan dengan ini, Muhammad Abduh mengusulkan agar menghidupkan kembali munāzharah (diskusi) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan diri dari metode taklid buta terhadap para ulama.71
Menurut al-Nahlawiy dalam Munzir Hitami mengungkapkan, bahwa asumsi dasar pendidik sejati atau Maha Pendidik itu adalah Allāh yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum-hukum pertumbuhan, perkembangan dan interaksinya, sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. 72
Lebih lanjut menurut al-Nahlawiy dalam Munzir Hitami menjelaskan bahwa, ―Prinsip-prinsip pendidikan, ...adalah sebagai
69 Disarikan dari M. Arifin dalam Asmal May, Pengembangan Pemikiran Filsafat Pendidikan Islam, (Pekanbaru: Suska Press, 2012), cet. 1, h. 45-51
70 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) cet. 5, h. 118
71 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), cet. 2, h. 311-312
72 Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam..., h. 24-30
berikut, (1) integrasi; (2) keseimbangan; (3) persamaan; (4) pendidikan seumur hidup; (5) keutamaan.‖73
Nasih Ulwān seorang ulama dan ahli pendidikan Islam menjelaskan tentang metode pendidikan dan khususnya pendidikan bagi anak, menjelaskan, diantara metode-metode pendidikan Islami untuk anak yaitu, pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan adat kebiasaan, pendidikan dengan nasihat, pendidikan dengan perhatian, pendidikan dengan memberikan hukuman.74
Sebagaimana konsep pendidikan dalam Islam, pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam mengembangkan konsep pendidikan itu kedalam proses pembelajaran yaitu pada materi pengenalan membaca. Pengenalan membaca untuk anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran, asalkan memenuhi prinsip-prinsip pada aspek perkembangan anak usia dini secara proporsional.
Hal itu mendorong dilakukannya kajian-kajian ilmiah, dan ujocoba metode yang sesuai dengan kemampuan dan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik serta perkembangan rohaniahnya secara terus menerus dan berkesinambungan.
Dengan kemampuan membaca sejak usia dini harapan untuk memajukan suatu bangsa menjadi terukur dan terprogram dengan baik.
Hal inilah yang menjadi paradigma tentang kualitas sumber daya manusia dan pendidikannya di berbagai negara.
73 Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam..., h. 24-30. Berikut landasannya, prinsip-prinsip pendidikan selaras dengan apa yang terkandung adalam al-Qur‘an, menurut an-Nahlawiy;
a. Prinsip integrasi; (Q.S. Qashaas [28]: 77), (Q.S. Syam [91]: 7-10), (Q.S. al-Baqarah [2]: 208)
b. Prinsip keseimbangan; (Q.S. al-‗Asr [103]: 1-3), (Q.S. al-Anbiya [21]: 94), (Q.S.
Thaha [20]: 9-24), (Q.S. al-Tahrim [66]: 6), (Q.S. Ali Imran [3]: 110)
c. Prinsip persamaan; (Q.S. al-Nisa [4]: 1), (Q.S. al-An‘am [6]: 98), (Q.S. al-Araf [7]: 189), (Q.S. al-Zumar [39]: 6), (Q.S. al-Balad [90]: 10), (Q.S. al-Baqarah [2]:
38), (Q.S. al-Nisa [88]: 22)
d. Prinsip pendidikan seumur hidup; (Q.S. al-Maidah [5]: 39), (Q.S. al-Hijr [15]:
99), (Q.S. al-Thaha [20]: 114)
e. Prinsip keutamaan; (Q.S. al-Kahf [18]: 110), (Q.S. Lukman [31]: 13), (Q.S.
Lukman [31]: 22), (Q.S. al-Shaf [61]: 3).
74 Disarikan dari, Metode Pendidikan Anak Dalam Keluarga Menurut M. Nasih Ulwan, [Online]. Tersedia di,
https://mustafidinahmad.wordpress.com/2010/01/28/metode-pendidikan-anak-dlm-keluarga-menurut-m-nasih-ulwan/, [akses 20 Juni 2020]
Oleh karena itu perlunya paradigma baru tentang konsep membaca sebagai tolak ukur keberhasilan pengelolaan sumber daya manusia.
Karena dengan kemajuan pengelolaan sumber daya manusia secara komprehensif akan mampu menggeser paradigma lama tentang mengukur kemajuan bangsa dari semata-mata kekayaan sumber alamnya.
Karena jika sumber daya alam yang kaya raya tanpa dikelola oleh sumberdaya manusia yang berkualitas, sumberdaya alam itu tidak dapat dikelola secara maksimal.
Paradigma kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan sumber daya manusiannya. Sumber daya manusia yang unggul merupakan sumber daya manusia yang terlatih, terampil dan mampu menghadapi tantangan zaman serta berwawasan masa depan. Itu semua terwujud jika dipersiapkan sejak usia dini melalui pendidikan, lingkungan yang berkualitas, sistem yang baik dan regulasi yang mendukung.
Disamping itu orang tua juga memiliki peranan yang sama pentingnya dalam proses pendidikan dan penentuan lingkungannya itu.
Tentang paradigma kemajuan sumber daya manusia menurut ahli pendidikan Islam, M. Natsir dalam Abuddin Nata menjelaskan, paradigma mengukur kemajuan suatu bangsa saat ini sudah bergeser, yaitu dari yang semula mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu semata-mata pada kekayaan sumber daya alam (SDA), menjadi mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia (SDM).
Tentang penyertaan penyediaan pendidikan yang aktual, ahli filsafat Islam untuk kemajuan pendidikan, Amril Mansur menjelaskan bahwa, Pendidikan merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderungan manusiawi an sich, tetapi benar-benar aktual dalam realita kehidupannya. Jika demikian pendidikan adalah suatu kemestian bagi pemanusiaan manusia.
Tentang pendidikan Islam menurut Munzir Hitami, pendidikan dalam Islam, yang disebut dengan pendidikan yang Islami, pada hakikatnya merupakan upaya untuk membantu manusia untuk mengembangkan segenap potensinya sesuai dengan fitrahnya agar ia dapat memainkan perannya sebagai khalifah di bumi sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.75
75 Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam..., h. 114-115