BAB III ANALISIS BELAJAR MEMBACA UNTUK
E. Membaca dalam Pendidikan Islam
3. Metode Membaca di Zaman Rasulullāh saw
Dimasanya, bacaan al-Qur‘an saat itu belum memiliki titik dan tanda harakat (tanda baca), hanya berupa simbol-simbol tulisan, maka bacaan al-Qur‘an saat itu menjadi bacaan yang sulit diajarkan kepada umat Islam. Salah satu cara untuk memudahkan membaca al-Qur‘an saat itu dengan metode menghafal dengan „Talaqqi‟ 99 yaitu membacakan bacaan dengan berulang-ulang sehingga menjadi hafal tanpa melihat teksnya.
99 Menurut Kamus Bahasa Arab, arti Talaqqi yaitu, bertemu; menemui. Dikutip dari, Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab Indonesia Al-Munawwir, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 1997), cet. 14, h. 1282. Namun kemudian istilah Talaqqi berkembang menjadi dasar metode pendidikan yang diadopsi lembaga-lembaga pendidikan Islam utamanya dalam belajar membaca dan menghafal a-Qur‘an. Metode Talaqqi yang luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi kita semua dalam menuntut ilmu Al-Quran yaitu metode Talaqqinya Nabi Muhammad saw kepada Malaikat Jibril as, ayat demi ayat dibacakan dengan tartil kemudian Rasul mengikutinya sebagaimana bacaan yang disampaikan oleh malaikat Jibril, bahkan metode ini Allah ceritakan didalam Al-Quran ketika Allah swt sedikit memperingatkan Nabi Muhammad saw untuk tidak terlalu cepat mengikuti bacaannya Malaikat Jibril ketika al-Qur‘an dibacakan kepadanya karena dengan harapan lebih cepat menguasai dan menghafalnya, padahal terekamnya bacaan al-Qur‘an yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ke dalam dada Nabi Muhammad saw itu adalah semata-mata tanggungan Allah swt. Sebagaimana
Hal itu didasarkan pada firman Allāh swt,
ۥُ هَ
نإ َء ۡرُ ق َو ۥُ
ه َع ۡم َج اَ نۡيَ
لَ ع َّ
ِؤ ١٧
ۥُ
هَ نإ َء ۡرُ
ق ۡ ِبَّ
تٱَ ف ُ
ه َٰ َ نۡ
أ َرَ ق إَ
ذ ِإَ ف ١٨
17) Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18) Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. (QS. al-Qiyāmah [75]: 17-18).100
Menurut Rektor Institut Ilmu al-Qur‘an Jakarta sekaligus Sekretaris Lajnah Pentahsih Mushaf al-Qur‘an Republik Indonesia, Ahsin Sakho Muhammad dalam Quantum Tahfiz menjelaskan tentang metode Talaqqi,
Metode ini sangat efektif bagi para penghafal al-Qur‘an yang memiliki daya ingat ekstra dan anak-anak dibawah umur yang belum mengenal baca tulis…. Metode ini adalah metode pertama dilakukan Rasul dalam mengajarkan al-Qur‘an kepada sahabat. Rasul menerima al-Qur‘an dari Jibril as., dengan cara mendengar bacaan Jibril sebagaimana Jibril menerima pertama kali dari Allah swt. Jibril mendengar ayat-ayat dari Allah swt kemudian menyampikannya kepada Rasul saw.101
Oleh karena Rasulullah saw sosok yang buta huruf, namun memiliki upaya yang sungguh-sungguh mengajarkan membaca ditengah kaum yang juga buta huruf metode tersebut merupakan kemestiannya.
Tentang Rasulullāh saw mengajarkan kepada sahabatnya dengan membacakannya (talaqqi) yaitu didasari pada, Firman Allāh swt (Q.S. al-Jumu‘ah [62]: 2) yang telah disebutkan bahwa, ―Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka…‖.
Ditengah semangat kaum muslimin untuk belajar membaca dan mempelajari al-Qur‘an, mulailah muncul berbagai permasalahan terutama karena bentuk tulisan al-Qur‘an berupa simbol-simbol yang menurut umat saat itu sulit untuk dibaca dan banyaknya perubahan cara baca dalam struktur bahasa Arab yang dipraktekkan oleh umat dari suku non Arab. Maka dilakukan upaya inovasi berupa penambahan tanda-tanda titik dan harakat dengan tanpa merubah substansi bacaan al-Qur‘an itu sendiri.
bisa kita simak didalam al-Qur‘an surat al-Qiyamah ayat 16 – 18.‖ Dikutip dari, Donny Achmadi, Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Al-Quran, [Online]. Tersedia di,
http://donnyachmadi.blogspot.co.id/2014/04/metode-talaqqi-dalam-pembelajaran-al.html// , [akses, 3 Januari 2020]
100 Departemen Agama (Depag), Al-Qur‟an dan Terjemahnya,..., h. 578
101 Farid Wajdi dan Masagus Fauzan Yayan, Quantum Tahfiz, (Palembang: YKM Pres, 2010), h. 172
Penambahan tanda-tanda titik pada hruruf Arab pertama kali dilakukan oleh Abul Aswād ad-Du‘ali pada abad ke I H. dan dilengkapi oleh Imam al-Kahlīl pada abad II H. pada masa kekhalifahan Bani
‗Abasiyyāh. Hal itu semata-mata dilakukan untuk memudahkan umat Islam dalam mempelajari cara membaca agar mudah dicerna dan di ingat. Rentang waktu yang cukup lama itu menandakan para ulama sangat berhati-hati dalam upaya melakukan usaha memudahkan umat dalam membaca dan mempelajari al-Qur‘an.
Tentang inovasi untuk mempermudah bacaan dengan memberinya titik dan harakat pada bacaan al-Qur‘an yang dilakukan Abu Al-Aswād Ad-Du‘ali, Dalam Wikipedia Ensiklopedia, dijelaskan,
Abul Aswād Ad-Du‘ali merupakan penggagas ilmu nahwu dan pakar tata bahasa bahasa Arab dari Bani Kinanah dan dijuluki sebagai Bapak Bahasa Arab. Nama aslinya adalah Zhalim bin Amr, lebih dikenal atau dengan julukannya Abu Al-Aswād ad-Du‘ali (atau Ad-Dili), orang yang diambil ilmunya dan yang memiliki keutamaan, dan Hakim (Qadhi) di Basyrāh. Dia dilahirkan pada masa kenabian Muhammad. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab. Dan yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah. Dia meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun.102
Bacaan al-Qur‘an pada mulanya ditulis tanpa titik dan harakat seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun, kondisi ini tidak
102 Dalam sejarahnya Ali bin Abi Thalib ra. adalah yang pertama kali mencetus kodifikasi ilmu Bahasa Arab, dia menyusun pembagian kalimat, bab inna wa akhawatuha, idhafah, imalah, ta‟ajjub, istifham dan lain-lain, kemudian dia memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Duali untuk mengembangkannya sambil berkata: "―ِجنلا اذه حنا; unhu hadzan nahwa!‖ (ikutilah yang semisal ini)". Maka istilah ilmu Nahwu diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib ini. Abul Aswad Ad-Duali diperintahkan untuk mengembangkan bahasa Arab oleh Ali bin Abi Thalib karena pada masa itu Islam telah berkembang ke berbagai negara dan orang asing (Ajam/non arab) banyak yang salah dalam berbahasa Arab dan kesulitan memahami al-Qur‘an, serta masuknya orang-orang ajam ke negeri-negeri Islam lalu mencampur bahasa mereka.
Dikisahkan bahwa yang membuat Abul Aswad Ad-Du‘ali semakin semangat mengembangkan bahasa Arab adalah pada suatu malam ia berjalan dengan putrinya, kemudian putrinya berkata:" ―ءامَلا مج ام; maa ajmalus sama‟i” (Apa yang paling Indah di langit?), kemudian Abul Aswad Ad-Du‘aliy berkata:" ―اهمِجن; nujumuha‖ (bintang-bintangnya), kemudian putrinya berkata, ―Saya bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)‖. Maka Abul Aswad Ad-Du‘aliy berkata membenarkan, katakanlah:"― ام ءامَلا مج ; ―maa ajmalas sama‟a”, (betapa indahnya langit). Dikutip dari, Wikipedia Ensiklopedia, Abu Al-Aswad Ad-Du‘ali, [Online]. Tersedia di,
https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Al-Aswad_Ad-Du'ali// , [akses, 12 Januari 2020]
mempengaruhi bacaan al-Qur‘an karena kaum muslimin saat itu adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Hal ini terus berlangsung hingga imperium Islam terus meluas ke berbagai wilayah di sekitar jazirah Arab. Bersamaan dengan itu, orang-orang Islam non-arab (‗ajamy) merasa kesulitan untuk membaca al-Qur‘an yang pada waktu itu masih masih ‗kosong‘. 103
Oleh karena itu, Abul Aswād Ad-Duali mejadi sosok yang berkiprah sangat penting bagi Muslimin. Dialah yang menemukan kaidah tata Bahasa Arab (nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat. Harkat yang diciptakan oleh Abu Aswād ini lalu disempurnakan Imam al-Kahlil bin Ahmad al-Bashry pada masa dinasti ‗Abbasiyāh, hingga menjadi bentuk harkat seperti yang ada sekarang. Adapun titik yang terdapat pada huruf ba‘, ta‘, tsa‘, jim, ha‘, kha‘, dzal, za‘, dan lainnya, itu terjadi pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Saat itu beliau memerintahkan gubernurnya di Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf.
Hajjaj bin Yusuf lalu menyuruh Nashr bin Ashīm dan Yahya bin Ya‘mur untuk merealisasikan keinginan khalifah Abdul Malik bin Marwan tersebut.
Gambar replika mushaf al-Qur’an menggunakan khat Kufi. (tulisan sebelum diberi tanda baca).104
Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr bin Ashīm menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan titik tanda harkat yang
103 Dempo Timur, Sejarah Penciptaan Harkat Dan Titik Pada Masing-masing Huruf dalam Al-Qur'an, [Online]. Tersedia di,
http://dempo-timur.blogspot.co.id/2013/04/sejarah-penciptaan-harkat-dan-titik.html#!/tcmbck// , [akses, 29 Januari 2020]
104 Ibid., Lihat juga di Wikipedia Encyclopedia, Samarkand Kufic Quran, [Online].
Tersedia di,
https://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand_Kufic_Quran, [akses, 18 Februari 2020]
digunakan oleh Abu al-Aswād al-Du‘ali Sejak saat itulah dalam mushaf al-Qur‘an sudah ada titik huruf dan titik harkat. Titik yang diciptakan oleh Abu al-Aswād disebut titik i'rab, sedangkan titik yang diletakkan oleh Nashr bin Ashim disebut titik huruf.
Dan mengingat dizaman itu terdapat beragam suku bangsa dan kabilah Arab, dalam upaya memudahkan membaca menurut suku bangsanya maka tercetuslah model bacaan dengan nama Qira‟at Sab‟ah (tujuh macam cara membaca).
Menurut Mannā Khalīl al-Qathān,
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa-bahasa mengenai satu makna; dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka al-Qur‘anpun diturunkan sejumlah lafaz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika terdapat perbedaan al-Qur‘an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.105
Atas jasa-jasa Abul Aswād ad-Du‘ali dan Imam al-Kahlīl, kemudian Islam menemukan kembali jatidirinya dan masa kejayaannya khususnya yaitu dimasa kekhalifahan ‗Abassiyāh pada abad III, karena umat Islam dapat dengan mudah mempelajari dan memahami isi dan kandungan al-Qur‘an.
Membaca al-Qur‘an dan membaca kitab atau buku menjadi suatu program unggulan dan pembudayaan masyarakat, bahkan pemerintah saat itu memberikan imbalan kepada setiap para penulis buku berupa hadiah berupa emas seberat buku yang ditulisnya. Dimasa ‗Abbasiyāh itu jugalah membaca dan kemajuan pendidikan menjadi sangat pesat.
Diantaranya terus menerusnya pemerintah ‗Abbasiyāh106 melakukan ekspansi ke Eropa dan mendirikan universitas pertama kali di dunia yaitu Universitas Cordova di Spanyol. Namun kemajuan Islam dimasa
‗Abbasiyāh dan budaya membaca saat itu, kini harus dihidupkan kembali jika ingin kembali Islam mengalami kejayaan.
105 Mannā Khalīl al-Qathān, Mabahis fi „Ulumil Qur‟an, diterj. Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur‟an, ..., hlm. 229-230
106 Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).
4. Menurut Ulama dan Para Ahli; Usia Dini Saat yang Tepat