• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan islam anak usia dini pendidikan islam dalam menyikapi kontroversi belajar membaca pada anak usia dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pendidikan islam anak usia dini pendidikan islam dalam menyikapi kontroversi belajar membaca pada anak usia dini"

Copied!
223
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

Pendidikan Islam dalam Menyikapi Kontroversi Belajar Membaca Pada Anak Usia Dini

(2)
(3)

Dr. LALU MUHAMMAD NURUL WATHONI, M.Pd.I.

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

Pendidikan Islam dalam Menyikapi Kontroversi Belajar Membaca Pada Anak Usia Dini

(4)

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

Pendidikan Islam dalam Menyikapi Kontroversi Belajar Membaca Pada Anak Usia Dini

© Sanabil 2020

Penulis : Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I.

Editor : Nani Husnaini, M.Pd.

Layout : Muhammad Amalahanif Desain Cover : Sanabil Creative All rights reserved

Hak Cipta dilindungi Undang Undang

Dilarang memperbanyak dan menyebarkan sebagian atau keseluruhan isi buku dengan media cetak, digital atau elektronik untuk tujuan komersil tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit.

ISBN :

Cetakan 1 : Oktober

Penerbit:

Sanabil

Jl. Kerajinan 1 Blok C/13 Mataram

Telp. 0370- 7505946, Mobile: 081-805311362 Email: [email protected]

www.sanabil.web.id 978-623-7881-69-8

(5)

PRAKATA PENULIS

Assalāmu‟alaikum Warahmatullāhi Wa Barakātuh

Alhamdulillâh As-Syakûr, puji syukur tak terhingga penulis panjatkan kepada Sang Pendidik Pertama dan Utama Allah Swt., yang telah menuangkan konsep-konsep kehidupan melalui wahyu yang tertulis dalam bentuk kitab suci al-Qur‘an yang kemudian dijadikan sebagai institusi agama Islam. Berikut shalawat dan salam terlayangkan kepada sang konseptor pendidikan Islam Nabi Yang Agung Muhammad SAW sebagai guru kedua setelah Allah SWT (Q.S. al-Mudassir:74).

Berangkat dari adanya kegelisahan penulis terhadap adanya larangan mengajarkan membaca pada jenjang TK/RA (anak usia dini), serta ancaman penyakit mental hectic jika mengajarkannya, yang berimbas kepada Pendidikan Islam sebagai satu kesatuan sistemik pendidikan nasional walaupun bersifat normatif. Padahal membaca, merupakan perintah suci Allāh swt, disebutkan al-Qur‘an pada surat al-‗Alaq ayat satu sampai lima. Memeberikan pesan bahwa membaca merupakan gerbang pengetahuan dan kunci kesuksesan dalam belajar.

Faktanya, banyak kalangan yang masih pro dan kontra tentang mengajarkan membaca dan menulis pada anak usia dini (TK/RA). Sebagian menyatakan bahwa membaca dan menulis pada usia anak sebelum SD/MI berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD/MI, akibatnya anak tersebuat merasa terbebani dengan belajar membaca. Hal ini mengakibatkan waktu bermain, yang seharusnya adalah aktivitas dominan di usia mereka akan berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi dan kemampuan anak secara optimal dikemudian hari, asumsi ynag berkembang pun anak cepat berkembang, cepat layu. Sebagian lain berpendapat, tidak masalah mengajarkan membaca dan menulis sejak anak usia dini. Biasanya yang memiliki pendapat untuk membolehkan anak diajarkan baca dilatarbelakangi agar anaknya tidak mengalami kesulitan ketika masuk SD/MI. Tuntutan masuk ke SD/MI pada saat ini mensyaratkan bahwa anak sudah mampu untuk membaca dan menulis.

(6)

Sehingga merupakan kekhawatiran orang tua bahkan guru jika anak-anak mereka (TK/RA) belum bisa membaca ketika mau masuk di sekolah dasar (SD/MI). Orang tua khawatir tidak diterima di sekolah dasar saat seleksi masuk, sedangkan guru khawatir diaanggap tidak mampu memngajar dan khawatir gread sekolah menurun atau program kemampuan membaca menjadi brand sekolah (TK/RA) tersebut.

Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti karena masing- masing pendapat memiliki alasan yang cukup kuat. Hal ini yang mendorong penulis untuk menyusun buku yang berjudul, “Pendidikan Islam Anak Usia Dini: Pendidikan Islam dalam Menyikapi Kontroversi Belajar membaca pada Anak Usia Dini”. Diharapkan buku ini dapat memberikan paradigm baru terhadap pendidikan anak usia dini sesuai kajian Islam dan menjadi pencerahan secara ilmiah kepada pembaca, pemerhati pendidikan, pengembang, pengelola dan pelaksana pendidikan Islam di lapangan.

Buku ini disusun secara sederhana dan sitematis dengan mengedepankan prinsip dalam penelitian yaitu kejujuran dan berpedoman pada kaidah penulisan yang ada serta penguatan argumentasi dari pendapat para ahli sebagai upaya menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun sistematika buku dimulai dengan bab I tentang pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi dan tinjauan pustaka. Kemudian bab II tentang kajian anak usia dini membahas potensi anak usia dini, tujuan pendidikan diusia dini, prinsip-prinsip pendidikan diusia dini, aspek-aspek dan tahapan perkembangan anak usia dini, dan problematika pembelajaran anak usia dini. Pada bab III tentang analisis pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam yang membahas pengenalan membaca, metode pendidikan Islam, prinsip- prinsip metode pendidikan Islam, konsep pendidikan Islam, membaca dalam pendidikan Islam, urgensi pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam, metode pengenalan membaca untuk anak usia dini eja (SAS), gambar dan suku kata, tahapan, kelebihan dan kekurangannya, dan manfaat pengenalan membaca untuk anak usia dini.

Selanjutnya bab IV berisi temuan dan pembahasan yang membahas potensi anak usia dini, pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan islam, dan metode pengenalan membaca yang efektif untuk anak usia dini. Tearakhir bab V penutup: kesimpulan dan saran.

Banyaknya orang yang ikut menyertai kehadiran buku ini. Oleh karena itu, penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada semua

(7)

pihak yang tidak dapat penulis ucapkan satu per satu. Khusus saya uacapkan terimakasih kepada Ibu Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram Dr. Hj. Lubna, M.Pd. yang berkenan memberikan sambutannya untuk buku ini, terimkasih juga penulis sampaikan kepada tim Program Kompetisi Penulisan Buku Ajar dan Referensi merupakan salah satu program yang dikelola oleh FTK UIN Mataram pada tahun anggaran 2020. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada editor buku ini Ibu Kaprodi PIAUD FTK UIN Mataram Nani Husnaini, M.Pd.

Penulis berharap semoga kehadiran buku ini dapat menjadi bacaan segar bagi mahasiswa, pemerhati, praktisi dan para peneliti untuk terwujudnya pendidikan anak usia dini yang sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Penyusun menyadari, bahwa buku ini jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik, koreksi dan saran sangatlah diharapkan, guna kesempurnaan tulisan ini.

Akhirnya, hanya kepada Allah Swt. segala upaya ini diserahkan dan semoga buku ini akan memberi manfaat bagi penulis, pembaca dan seluruh pengkaji pendidikan Islam khususnya pada bidang pendidikan Islam anak usia dini. Semoga Allāh swt memuliakan semua, terutama orang-orang/pihak yang telah turut serta membantu dalam penyelesain buku, Âmîn yā Mujībassāilīn.

Wallahul Muawaffiqu Walhādi Ilā Sabīlirrasyād Wasalāmu‟alaikum wr.wb

Mataram, 22 September 2020 M.

Penyusun,

Lalu Muhammad Nurul Wathoni

(8)

KATA PENGANTAR DEKAN

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat & Salam semoga senantiasa terlimpah pada teladan agung Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai hari kebangkitan kelak. Berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, program penulisan buku ajar dan referensi telah dapat dirampungkan.

Kewajiban dosen untuk menulis dan memproduksi buku, baik buku ajar maupun buku referensi sejatinya sudah diatur dalam UU Nomor 12 tahun 2012 tentang perguruan tinggi dan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan sejumlah regulasi lainnya. Pasal 12 UU No.12 tahun 2012 dengan tegas menyebutkan bahwa dosen secara perseorangan atau kelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks yang diterbitkan oleh perguruan tinggi sebagai salah satu sumber belajar.

Kompetisi Buku Ajar dan Referensi (KOBAR) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram tahun 2020 adalah upaya Fakultas untuk berkontribusi dalam impelementasi undang-undang di atas, dimana secara kuantitatif, grafik riset dan publikasi dosen PTKI masih harus terus ditingkatkan. Tujuan lainnya adalah meningkatkan mutu pembelajaran dengan mewujudkan suasana akademik yang kondusif dan proses pembelajaran yang efektif, efisien dengan kemudahan akses sumber belajar bagi dosen dan mahasiswa. Publikasi ini juga diharapkan men-support peningkatan karir dosen dalam konteks kenaikan jabatan fungsional dosen yang ujungnya berdampak pada peningkatan status dan peringkat akreditasi program studi dan perguruan tinggi.

Secara bertahap, Fakultas terus berikhtiar meningkatkan kuantitas dan kualitas penerbitan buku. Pada tahun 2019 berjumlah 10 judul buku dan meningkat cukup signifikan tahun 2020 menjadi 100 judul yang terdistribusi dalam 50 judul buku ajar dan 50 judul buku referensi.

Ikhtiar Fakultas tidak berhenti pada level publikasi, namun berlanjut pada pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dosen di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, sehingga tahun 2020 menghasilkan 100 HKI dosen.

Kompetisi buku ajar dan referensi tahun 2020 berorientasi interkoneksi-integrasi antara agama dan sains, berspirit Horizon Ilmu UIN Mataram dengan inter-multi-transdisiplin ilmu yang mendialogkan metode dalam Islamic studies konvensional berkarakteristik deduktif-

(9)

normatif-teologis dengan metode humanities studies kontemporer seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hermeneutik, fenomenologi dan juga dengan metode ilmu eksakta (natural scincies) yang berkarakter induktif-rasional. Dari 100 judul buku, terdapat 10 judul tematik yang menjawab problem epistimologis pendidikan Islam, terutama terkait misi Kementerian Agama RI seperti moderasi Islam (Islam washathiyah), pendidikan inklusi, pendidikan anti korupsi, pendidikan karakter, pendidikan multikultural, etno-pedagogik, pembelajaran DARING (dalam jaringan), pendidikan & isu gender, ragam pesantren (pesisir, enterprenuer), dan tema teraktual yaitu merdeka belajar dan kampus merdeka.

Mewakili Fakultas, saya berterima kasih atas kebijakan dan dukungan Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H Mutawali, M.Ag dan jajarannya, kepada 100 penulis yang telah berkontribusi dalam tahapan kompetisi buku tahun 2020, dan tak terlupakan juga editor dari dosen sebidang dan penerbit yang tanpa sentuhan zauqnya, perfomance buku tak akan semenarik ini. Tak ada gading yang tak retak; tentu masih ada kurang, baik dari substansi maupun teknis penulisan, di ‗ruang‘ inilah kami harapkan saran kritis dari khalayak pembaca. Semoga agenda ini menjadi amal jariyah dan hadirkan keberkahan bagi sivitas akademika UIN Mataram dan ummat pada umumnya.

Mataram, 29 Oktober 2020 M 12 Rabi‘ul Awal 1442 H Dekan

Dr. Hj. Lubna, M.Pd.

NIP. 196812311993032008

(10)

DAFTAR SINGKATAN

Swt; Subhānahū Wa Ta‘āla Saw; Salallāhū ‘Alaihi Wasallām As; Alaihissalām

Ra; Radhiyallāhu ‘Anhu TK; Taman Kanak-Kanak RA; Raudhatul ‘Atfāl

PAUD; Pendidikan Anak Usia Dini Depag; Departemen Agama Kemenag; Kementerian Agama

Kemendiknas; Kementerian Pendidikan Nasional

Kemendikbud; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen; Direktorat Jendral

Dikdasmen; Pendidikan Dasar dan Menengah Sisdiknas; Sistem Pendidikan Nasional

Permendiknas; Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

Permendikbud; Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Perpres; Peraturan Presiden

PMA; Peraturan Menteri Agama PP; Peraturan Pemerintah UU; Undang-Undang

Balitbang: Balai Penelitian dan Pengembangan Dkk; Dan Kawan-kawan

(11)

DAFTAR ISI

Prakata Penulis ... v

Kata Pengantar Dekan... viii

Daftar Singkatan ... x

Daftar Isi ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian... 13

D. Metodologi ... 13

E. Tinjauan Pustaka ... 19

1. Konsep dan Standar Nasional PAUD ... 19

2. Anak Usia Dini Menurut Teori dan Para Ahli ... 21

3. Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini ... 28

4. Pendidikan Islam ... 38

5. Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan Islam ... 42

BAB II KAJIAN ANAK USIA DINI ... 57

A. Potensi Anak Usia Dini. ... 57

1. Potensi Bakat dan Kecerdasan Menurut Para Ahli. ... 57

2. Potensi dalam al-Qur’an Hadis ... 67

3. Pengembangan Potensi Batiniah Lebih Diutamakan ... 71

4. B.J Habibie; Contoh Pengembangan Potensi Yang Baik... 74

B. Tujuan Pendidikan Diusia Dini ... 75

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan Diusia Dini ... 77

(12)

D. Aspek-Aspek dan Tahapan Perkembangan Anak Usia

Dini ... 82

E. Problematika Pembelajaran Anak Usia Dini ... 87

1. Paradigma Belajar Sambil Bermain ... 87

2. Larangan Pengajaran Membaca di PAUD (TK/RA)... 93

3. Ancaman Penyakit Mental Hectic Jika Saat TK Diajarkan Membaca... 95

4. Ketidakselarasan Materi Pelajaran TK dengan SD ... 96

5. Metode Membaca Kurang Relevan Untuk Anak Usia Dini ... 98

BAB III ANALISIS BELAJAR MEMBACA UNTUK ANAK USIA DINI DALAM PENDIDIKAN ISLAM ... 105

A. Belajar Membaca ... 105

1. Pengertian dan Implementasinya ... 105

2. Bahasa Indonesia: Asal-usul, Karakteristik dan Struktur ... 109

3. Jenis Membaca ... 111

4. Aspek Ketrampilan dan Tahapan Membaca ... 112

5. Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini ... 114

B. Metode Pendidikan Islam ... 117

C. Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam ... 126

D. Konsep Pendidikan Islam... 131

1. Konsep Tujuan ... 131

2. Konsep Pendidik ... 132

3. Konsep Metode ... 133

E. Membaca dalam Pendidikan Islam ... 136

1. Perintah Baca Dalam al Qur’ān ... 136

2. Membaca di Zaman Rasulullāh saw ... 138

3. Metode Membaca di Zaman Rasulullāh saw ... 140

4. Menurut Ulama dan Para Ahli; Usia Dini Saat yang Tepat Pengenalan Membaca ... 145

F. Urgensi Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan Islam ... 146

(13)

1. Landasan Historis ... 146

2. Landasan Normatif ... 148

3. Landasan Filosofis ... 149

4. Landasan Yuridis ... 150

5. Landasan Psikologis ... 151

6. Landasan Sosiologis ... 153

7. Landasan Faktual ... 154

8. Landasan Fenomenologis ... 156

G. Metode Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini Eja (SAS), Gambar dan Suku Kata, Tahapan, Kelebihan dan Kekurangannya ... 157

1. Metode Eja ... 157

2. Langkah-langkah Metode Eja ... 160

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eja (SAS) ... 162

4. Metode Gambar ... 164

5. Metode Suku Kata ... 166

H. Manfaat Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini ... 168

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ... 173

A. Potensi Anak Usia Dini ... 173

B. Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan Islam ... 176

C. Metode Pengenalan Membaca Yang Efektif Untuk Anak Usia Dini ... 181

BAB V PENUTUP ... 183

A. Kesimpulan ... 183

B. Saran ... 184

DAFTAR PUSTAKA ... 185

SINOPSIS BUKU ... 207

BIODATA PENULIS ... 209

(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia dini berada pada tahap golden age periode kehidupan manusia. Pada tahap emas ini, para pendidik khususnya orang tua perlu memberikan stimulasi dan pendidikan terbaik untuk tumbuh kembang anak salah satunya dengan mengajakannya membaca.1 Namun, faktanya sampai saat ini belajar membaca masih menjadi kontroversi (pro dan kontra) dalam masyarakat di Indonesia, khususnya dikalangan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), orangtua siswa PAUD, dan para pengelola atau penyelenggaraan lembaga pendidikan anak usia dini, baik di Taman Kanak-Kanak (TK) di bawah Dinas Pendidikan Kemendikbud ataupun Raudhatul Athfal (RA) di bawah Kementerian Agama.

Mengajarkan membaca pada anak usia dini menjadi momok yang menakutkan di masyarakat, hal ini seiring dengan pernyataan jika mengajarkan membaca pada usia dini, anak akan terserang penyakit mental hectic.2 Berdasarkan kebahasaan istilah hectic dapat berarti riuh, ribut, tidak tenang, sangat sibuk, ramai sekali, mental hectic dapat diartikan sebagai kondisi kejiwaan yang tidak tenang, bingung, sibuk karena merasa dikejar-kejar tugas.3

Selain penyataan tersebut, sebagian masyarakat tetap resah karena sejak lama pemerintah tetap konsisten melarang belajar membaca

1 Fajriyatul, Islamiah dan Asep Supena, ―Konsep Pendidikan Hafidz Qur‘an pada Anak Usia Dini‖, Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Volume 3 Issue 1 (2019) Pages 30 – 38, h. 31

2Tentang mental hectic, sebuah pernyataan Sudjarwo, mantan Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional RI, ―Anak usia dini di bawah lima tahun (TK/RA) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‗mental hectic‟. Penyakit itu akan merasuki anak tersebut disaat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD)‖, dikutip dari, artikel, Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Terkena Mental Hectic.[Online]. Tersedia di,

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/07/18/125274, [akses, 23 Mei 2020]

3Kompasiana, Calistung Tidak Menyebabkan Mental Hectic. [Online]. Tersedia di, http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/03/calisting-tidak-menyebabkan-mental- hectic-685274.html, [akses, 23 Mei 2020]

(16)

kepada anak usia dini meskipun untuk kelomplok B atau usia 6 tahun yang akan masuk sekolah dasar. Pemerintah tetap berpegang kepada pandangan tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yang beranggapan bahwa pembelajaran yang bersifat intelektualisme (membaca, menulis) tidak sesuai dengan azas taman kanak-kanak4, meskipun Ki Hajar Dewantara mengakui bahwa pendidikan taman Indria yang digagasnya mengadopsi konsep Montessori yang memasukkan academic materials dalam pendidikannya.5

Dengan adanya larangan mengajarkan membaca secara langsung pada jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) oleh Kemendikbud,6 yang tetap berlaku. Serta larangan pemerintah mengadakan tes membaca sebagai syarat masuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), namun masih banyaknya sekolah SD/MI sampai saat ini yang melakukan tes seleksis masuk SD/MI dengan baca tulis7 serta tuntutan orang tua (wali siswa TK/RA) untuk anak mereka diajarakan membaca di sekolah semakin melahirkan kontroversi.

Para guru PAUD, orangtua siswa PAUD, para pengelola atau penyelenggara PAUD memiliki pandangan dan sikap berbeda-beda.

Sebagian besar orangtua menganggap penting belajar membaca diberikan kepada anak mereka terutama siswa kelompokk B sebagai persiapan memasuki sekolah dasar. Dikalangan guru TK/RA Ada guru yang sama sekali mengajarkan membaca karena takut diketahui pengawas Dinas pendidikan atau Kementerian Agama, namun tidak sedikit guru TK/RA (PAUD) yang lain secara terang-terangan mengajarkan membaca karena dianggap penting untuk persiapan siswa

4 Taman Siswa boleh dibilang memakai kedua-duanya sebagai terkandung dalam sifat pendidikan Montessori dan Froebel itu, akan tetapi pelajaran panca indra dan permainan anak itu tidak terpisah, yaitu dianggap satu, sebab dalam Taman Indria hiduplah kepercayaaan, bahwa dalam segala tingkah laku dan segala keadaan hidupnya anak-anak itu sudah dihiasi oleh Sang Maha Among segala alat yang bersifat mendidik si anak. Lihat Dewantara, Karya Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa, 1977), h. 278

5 Masnipal Dan Arif Hakim, ―Perbedaan Pendapat Pembelajaran Prabaca, Pratulis Dan Prahitung Bagi Anak Usia Dini‖, Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 2, No. 1 (Juni 2018), h. 2

6 Surat Edaran Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia di, www.kemdiknas.go.id//

, [download, 26 Mei 2020]

7 Fahmi, ―Kontroversi Anak Paud Mengikuti Les Membaca Sebagai Persiapan Masuk Sekolah Dasar‖, JPP PAUD UNTIRTA ISSN: 2355-830x, Volume 4 Nomor 1, Mei 2017, hlm. 12

(17)

masuk sekolah dasar dan agar dianggap mampu menagajar kalau siswa mampu membaca meskipun dengan resiko mendapat teguran dinas pendidikan. Adapun dikalangn lembaga PAUD ada yang melarang belajar membaca, namun banyak lembaga PAUD yang sembunyi- sembunyi kadang secara terang-terangan mengajarkan membaca pada siswanya (TK/RA) apalagi untuk lembaga PAUD yang elite (bona fide) untuk mempertahankan gread lembaga.

Kontroversi belajar membaca di kalangan pendidikan anak usia dini telah berlangsung lama dan sampai saat ini belum ada titik temu memadai masing-masing memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Data tersebut diperkuat hasil penelitian Masnipal dan Arif Hakim bahwa sebanyak 52,5% responden guru TK/RA menyatakan bahwa Dinas Pendidikan/Kementrian Agama tidak mewajibkan mengajar membaca di TK dan RA, sebanyak 31% menyatakan melarang, 40%

membolehkan, dan 29% membiarkan pembelajaran membaca di TK dan RA. Data tersebut dapat diartikan bahwa terjadinya prokontra dikalangan kepala sekolah dan guru TK/RA terhadap pembelajaran membaca di taman kanak-kanak dan Raudhatul Athfal diakrenakan berbeda pendapat, ada yang setuju dan tidak, meskipun jumlah yang setuju lebih banyak.8

Hasil olah data lainnya menunjukkan bahwa sebanyak 87,5%

responden menyatakan bahwa TK dan RA di sekitar sekolah mereka memberikan pembelajaran membaca, hanya 36,25% sekolah dasar di sekitar TK dan RA mereka memberlakukan anak sudah bisa baca sebagai syarat masuk; ada 80% responden menyatakan di TK dan RA tempat mereka bekerja turut memberikan pembelajaran membaca, ada 82,5% responden menyatakan alasan mereka memberikan pembelajaran membaca, karena tuntutan orangtua siswa. Data tersebut jika diterjemahkan menunjukkan bahwa (1) sebagian besar TK dan RA di sekitar sekolah mereka memberikan pembelajaran membaca siswanya;

(2) sebagai kecil sekolah dasar di sekitar TK dan RA mereka memberlakukan anak sudah bisa baca sebagai syarat masuk; (3) sebagian besar di TK dan RA tempat mereka bekerja turut memberikan pembelajaran membaca; (4) sebagian besar menyatakan alasan kepala

8 Masnipal Dan Arif Hakim, ―Perbedaan Pendapat Pembelajaran Prabaca, Pratulis Dan Prahitung Bagi Anak Usia Dini‖, Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 2, No. 1 (Juni 2018), h. 7

(18)

sekolah dan guru memberikan pembelajaran membaca karena tuntutan orangtua siswa.9

Sikap prokontra masyrakat (pemerintah, penyelenggara PAUD, kepala sekolah, guru, dan orangtua siswa) mengenai pembelajaran membaca, sejalan dengan pendapat para ahli PAUD yang berbeda-beda.

Banyak ahli yang tidak merekomendasikan atau bahkan melarang pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung bagi anak usia dini, meskipun untuk kelompok B (usia 5-6 tahun), akan tetapi tidak sedikit ahli mendukung dan menganggap penting belajar membaca-menulis di TK/RA. Morrison (2012) menyebut bahwa pengalaman akademik seperti baca-tulis, dan membaca, matematika sangat penting diajarkan di anak usia dini selain ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial, dan seni.

Havighurst (1972), menganggap penting mempersiapkan keterampilan- keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung pada masa kanak-kanak (anak usia dini).

Bahkan tokoh PAUD seperti Pestalozzi (1747-1827) sejak lama memasukan dalam kurikulum kegiatan membaca pada anak usia dini.

Montessori (1870-1952) juga memasukkan pada kurikulum anak usia dini academic materials, yaitu pengajaran membaca, menulis, dan matematika dalam pendidikan anak usia dini selain practical life dan sensory materials. Tokoh perkembangan anak seperti Havighurst (1972), mengklasifikasi tugas-tugas perkembangan awal masa kanak-kanak dengan mempersiapkan diri untuk membaca dan mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung pada akhir masa kanak-kanak. Hurlock (1980) menyarakan agar pada awal masa kanak-kanak diberikan belajar membaca dan membentuk kalimat.

Saat ini kurikulum taman kanak-kanak (TK) di Amerika juga mencakup aktivitas agar anak mempelajari pengalaman akademis, seperti baca-tulis dan membaca, matematika, di samping praktik yang sesuai perkembangan. Bahkan para ahli PAUD di negara itu memberikan prioritas tinggi terhadap kemampuan baca-tulis anak.10

Selain itu, berkaca dari sistem pendidikan di negara Finlandia, bahwa program membaca merupakan kegiatan wajib bagi kedua orangtuanya dan bagi anak yang hendak memasuki sekolah. Diawal reformasi pendidikan digulirkan, Finlandia mencanangkan sebuah visi

9 Masnipal Dan Arif Hakim, ―Perbedaan Pendapat Pembelajaran Prabaca…, h. 7

10 Morrison, Fundamentals of Early Childhood Education, 5th Edition, (New Jersey:

Pearson Education, Inc., 2008), h. 88

(19)

yang jelas untuk bangsa mereka, yaitu menjadi knowledge based society. Visi ini mensyaratkan semua warganegara terdidik dengan baik sehingga bisa menjadi aset bagi pembangunan negara. Visi yang jelas memberi arah yang jelas bagi segenap bangsa Finlandia termasuk bagi bidang pendidikan.11

Sistem pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Rekor prestasi belajar siswa yang terbaik di negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dan di dunia dalam membaca, matematika, dan sains dicapai para siswa Finlandia dalam tes PISA (Programme for International Student Asessement). Untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity package (paket persalinan) yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri.12

Selain di Finlandia, di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak- anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‗mengorbankan‘

anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan. Sehingga Dedi Supriadi Guru Besar Universitas Pendidikan Bandung, dengan tegas mengatakan bahwa anak usia dini dapat diajari membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan menurutnya, anak usia dini dapat diajar tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang balita bisa diajar membaca atau tidak, tetapi bagaimana mengajar anak balita membaca dan bagaimana sistem pendidikan untuk anak usia dini.

Perkembangan kualitas pendidikan pada anak sangat bergantung kepada sistem pendidikan itu sendiri. Berkaitan dengan sistem pendidikan, menurut data UNESCO13 yang dimuat di artikel pada

11 Irwan Syahril, artikel, Rahasia Reformasi Pendidikan Finlandia. [Online]. Tersedia di,

http://iwansyahril.blogspot.com/2013/08/rahasia-reformasi-pendidikan- finlandia.html, [akses, 2 Juni 2020]

12 Di kutip dari, “Mengapa Mutu Pendidikan di Finlandia Terbaik di Dunia?.[Online].

Tersedia di,

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan- finlandia-terbaik-di-dunia//, [akses, 27 Agustus 2020]

13 UNESCO adalah organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan PBB (bahasa Inggris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, disingkat UNESCO) merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada tahun 1945. Tujuan organisasi ini adalah mendukung perdamaian, dan keamanan dengan mempromosikan kerja sama antar negara melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya dalam rangka meningkatkan rasa saling menghormati yang berlandaskan

(20)

website BBC, sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia, diberitakan bahwa menurut tabel Liga Global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Ranking ini memadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010.

Indonesia berada diposisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Dua kekuatan utama pendidikan,yaitu Finlandia dan Korea Selatan, diikuti kemudian oleh tiga negara di Asia, yaitu Hongkong, Jepang dan Singapura.14

Dalam sistem pendidikan yang baik memiliki kemampuan membaca merupakan suatu konsekwensi, karena jenjang pendidikan adalah sistematis, saling terkait satu sama lain, begitu juga jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA) seharusnya berfungsi sebagai ajang persiapan lahir dan batin anak untuk memasuki jenjang lebih lanjut yaitu Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI)15, karena pada saat anak memasuki jenjang SD/MI mengharuskan anak sudah bisa membaca dan bahkan memahami maksudnya. Memiliki kemampuan membaca adalah hal yang sangat mendesak saat anak memasuki SD/MI kelas satu, karena tuntutan materi pelajaran yang ada.

Memiliki kemampuan membaca juga sebagai kebutuhan manusia yang paling mendasar, karena dengan membaca anak mudah berinteraksi dengan lingkungannya. Membaca juga dapat membuka tabir kegelapan, mempercepat terserapnya ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu memiliki kemampuan membaca sebaiknya sejak usia dini.

Menurut para ahli, usia dini atau usia TK merupakan usia emas (golden age), dikatakan demikian karena pada usia dini sedang tumbuh dan

kepada keadilan, peraturan hukum, HAM dan kebebasan hakiki. [Online]. Tersedia di, http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_Pendidikan,_Keilmuan,_dan_Kebudayaan_P BB, [akses, 2 Juni 2020]

14Kompasiana, Kualitas Pendidikan di Indonesia. [Online]. Tersedia di, http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/03/kualitas-pendidikan-indonesia-refleksi- 2-mei-552591.html, mengutip dari,

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/11/121127_education_ranks.shtml), [akses, 14 April 2020]

15 Lihat buku tematik kelas I SD semester 1, Kurikulum 2013, materi pelajaran dan soal dalam tematik mengharuskan siswa bisa membaca dan memahami teksnya.

Bahkan pertanyaannya berbentuk essay (esai), esai menurut Kamus Bahasa Indonesia berarti karangan atau prosa, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), cet. 4, h. 381

(21)

berkembangnya milyaran sel saraf otak anak16, otak tersebut memerlukan rangsangan apabila tidak mendapat rangsangan maka sel saraf otak tersebut tidak berfungsi secara maksimal dan bahkan akan mati, oleh karena itu pembelajaran pada usia ini memerlukan perhatian secara khusus. Pengenalan membaca merupakan salah satu cara memberikan rangsangan kepada anak untuk menggali potensinya yang sangat luar biasa tersebut.

Anak usia dini sejak lahir telah dibekali potensi yang besar oleh Allah swt untuk dikembangkan, perkembangan potensi dan fitrah tersebut ditentukan oleh pendidikan kedua orangtua dan lingkungannya, jika diarahkan menjadi baik, maka baiklah dia, jika diarahkan menjadi jahat maka jahatlah dia, jika dibiarkan potensi itu juga tersia-siakanlah potensi itu.

Menurut Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, ―Secara genetik struktur otak anak terbentuk sejak lahir, tetapi fungsi otak sangat ditentukan cara peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya.‖17 Salah satu upaya memanfaatkan potensi anak usia dini adalah dengan menananamkan kecintaan membaca.

Dalam Islam, sesuai dengan perintah pertama (wahyu) dari Allah kepada manusia melalui malaikat jibril yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu perintah membaca karena membaca merupakan gerbang pengetahuan dan kunci kesuksesan dalam belajar.18 Sebagaimana tertuang dalam al-Qur‘an surah al-Alaq ayat 1-5;

َقَ لَ

خ ي ِذَّ

لئ َ

كِّب َر ِمۡسٱِب

ۡأ َرۡ قئ ١

ٍقَ لَ

ع ۡن ِم َنَٰ َسنِۡ لۡئ قَ َ

لَ خ ٢

َو ۡ

أ َرۡ قئ ُم َرۡ

كَ ۡ لۡئ ك ُّب َرَ ٣

َمَّ

لَ ع ي ِذَّ

لئ

ِمَ لَ

قۡ لٱِب ٤ ۡمَ

ل ۡع َي ۡمَ

ل ا َم َن َٰ َسن ِۡ لۡئ َمَّ

لَ ع ٥

16Menurut Clark, sel otak anak memiliki kisaran antara100-200 miliar sel otak.

Namun dari hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.

Horward Gardner menyatakan bahwa anak pada usia lima tahun pertama selalu diwarnai dengan keberhasilan dalam belajar segala hal. Artikel, Lutfiana Safitri, Golden Age pada Anak Usia Dini. [Online]. Tersedia di,

http://m.kompasiana.com/post/read/636143/3/golden-age-pada-anak-usia- dini.html [akses, 23 Januari 2020]

17Hamzah B.Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran, Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan, (Jakarta: PT. BumiAksara, 2009), cet. 2, h.

7

18 Fahmi, ―Kontroversi Anak Paud Mengikuti Les Membaca Sebagai Persiapan Masuk Sekolah Dasar‖, JPP PAUD UNTIRTA ISSN: 2355-830x, Volume 4 Nomor 1, Mei 2017, hlm. 12

(22)

(1) Bacalah dengan (menyebut) namaTuhanmu yang Menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-Alaq [96]: 1-5).19

Ayat tersebut mensyiratkan bahwa, Allah swt memerintahkan membaca, dengan perulangan perintah karena betapa pentingnya membaca, bermakna bahwa dengan membaca Allah swt akan memberitahukan hal-hal yang baru, memberikan kefahaman, memberikan sebahagian rahasia-rahasianya. Dengan membaca manusia dapat memperkaya cakrawala fikirnya melalui perantaraan kalam.

Membaca adalah bagian dari kegiatan pembelajaran dan pembelajaran merupakan aktifitas pendidikan, oleh karena itu tak dapat dipisahkan dalam aktifitas kehidupan, terutama pendidikan Islam.

Menurut pendapat Montessori20, bahwa membaca merupakan kecakapan fundamental anak paling penting yang akan selalu dipelajari.

Membaca berarti kesuksesan. Di sekolah, di dunia kerja, dan di dalam kehidupan, tanpa ada latar belakang membaca yang baik, anak benarbenar akan menderita, karena pada kecakapan membaca inilah sebagian besar proses belajar di masa-masa akan datang dan kesuksesan dipertaruhkan.

Menurut Jean Peaget, usia dini (2-7 tahun) merupakan fase pra operasional,21 atau tahapan usia yang dikategorikan bahwa anak belum

19 Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Bandung: CV. Penerbit J- Art, 2005), h. 598

20 Montessori dalam Fahmi, ―Kontroversi Anak Paud Mengikuti Les Membaca Sebagai Persiapan Masuk Sekolah Dasar‖, JPP PAUD UNTIRTA ISSN: 2355-830x, Volume 4 Nomor 1, Mei 2017, hlm. 12

21Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Dikutip dari, Wikipedia Ensiklopedia, Teori Perkembangan Kognitif. [Online].

Tersedia di,

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif#Tahap_operasional_kon kret, [akses, 5 Mei 2020]

(23)

bisa berfikir logis, namun sudah memiliki penalaran intuitif. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Menurut Thomson dalam Hawadi mengatakan,‖Bahwa waktu yang paling tepat untuk belajar membaca adalah saat anak-anak duduk di TK/RA.‖22

Menurut Martini Jamaris23, Anak usia Taman Kanak-kanak telah memiliki dasar kemampuan untuk belajar membaca dan menulis. Hal tersebut dapat dilihat dari ;

(1) Kemampuan anak dalam melakukan koordinasi gerakan visual, (2) Kemampuan anak dalam melakukan diskriminasi secara visual, (3) Kemampuan kosakata,

(4) Kemampuan diskriminasi auditori atau kemampuan membedakan suara yang didengar.

Aquami menambahkan24, bahwa masa anak usia dini (TK/RA) adalah masa pembentukan watak yang ideal ditekankannya memberikan pendidikan Al-Qur‘an sebelum menerima lukisan yang negatif, anak perlu didahului pendidikan membaca AlQur‘an sejak dini. Bila pada masa kanak-kanak ini pendidikan Al-Qur‘an terlambat diberikan, kelak akan sulit memberikannya bahkan dibutuhkan tenaga ekstra untuk itu.

Masa dewasa tidaklah seperti masa kanak-kanak. Pepatah mengatakan

―Belajar di waktu kecil laksana menulis di atas batu dan belajar di waktu besar laksana melukis di atas air‖. Sedangkan pepatah Aran mengatakan,

―Bidayatuka Hinayatuaka” (masa kecil menentukan masa dewasa). Selain menyeru mendidik anak membaca Al-Qur‘an, Rasulullah saw juga menekankan pentingnya mendidik anak menulis huruf-huruf Al-Qur‘an.

Ibnu Sina juga menegaskan dalam bukunya yang berjudul As- Siyasah, ide-ide yang cemerlang dalam mendidik anak. Dia menasihati agar dalam mendidik anak dimulai dengan mengajarkannya al Qur‗an al- Karim yang merupakan persiapan fisik dan mental untuk belajar. Pada

22Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 37.

23Martini Jamaris, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak (Jakarta: Grasindo, 2006), h. 53.

24 Aquami, ―Korelasi antara Kemampuan Membaca Al-Qur‘an dengan Keterampilan Menulis Huruf Arab pada Mata Pelajaran Al-Qur‘an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah Quraniah 8 Palembang‖, JIP: Jurnal Ilmiah PGMI Volume 3, Nomor 1, Juni 2017, h. 79

Versi Online: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/jip

(24)

waktu itu juga anak-anak belajar mengenal huruf-huruf hijaiyah, cara membaca, menulis dan dasar-dasar agama.25

Sesuai fitrahnya anak usia dini merupakan usia bermain, namun bermain juga harus memiliki konsep yang jelas sehingga tidak disalah artikan ditengah masyarakat, yang dapat berdampak buruk dalam kelangsungan pendidikan itu sendiri. Pengenalan membaca dengan konsep dan metode yang tepat merupakan suatu upaya yang sangat relevan dalam penelitian ini, yang akan merangsang anak melakukan aktifitas membaca dengan senang dan tanpa paksaan. Anak-anak jika tanpa diberikan rangsangan maka akan menghasilkan respon yang kurang maksimal, sangat merugikannya dan membuang-buang kesempatan masa-masa emasnya. Jika hal ini diabaikan akan menjadi precedent buruk bagi kelangsungan pendidikan dan kehidupan anak itu sendiri.

Menurut Nur Asiyah, para ulama dan ilmuwan zaman dahulupun bahkan secara sungguh-sungguh belajar sejak berusia dini. Tokoh-tokoh dan ilmuwan dalam Islam seperti Imam Syafi‘i, Imam ath-Thabari, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Umar bin Abdul Aziz, mereka bukan hanya sekedar mampu membaca dan menulis bahkan mereka telah mampu menghafal al-Qur‘an 30 juz pada usia tujuh tahun, bahkan menjadi ilmuwan sejak kecil dan sangat masyhur hingga saat ini.26

Salah satu fenomena awal abad 21 yaitu menjadi ilmuwan cilik atau doktor cilik dari Iran yang saat itu berusia tujuh tahun, Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i27 serta Musa hafiz cilik RCTI dari

25 Ibnu Sina dalam M. Athiyah Al Abrasy, at-Tarbiyah alIslāmiyah wa Falasatuhā, (TTp: ‗Isa al-Bābi alJalabī wa syirkāhu, 1969), h. 163.

26 Nur Asiyah, Ilmuwan Islam yang Hafal al-Qur'an Sejak Kecil. [Online]. Tersedia di, http://sekolahtarbiyatulquran.blogspot.com/2013/01/ilmuwan-islam-yang-hafal-al- quran-sejak.html, [akses, 23 Januari 2020]

27 Menurut Risamsi, Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i, Lahir pada tanggal 16 Februari 1991 di kota Qom, sekitar 135 kilometer dari Teheran, ibu kota Iran. Dia adalah Doktor Cilik Hafal dan Faham Alquran. Dia mendapat gelar Doktor pada usia 7 tahun di Hijaz Collage Islamic University yang terletak di jantung wilayah Kerajaan Inggris,sekitar 32 kilometer dari kota Birmingham. Dia menjalani ujian selama 210 menit dan memperoleh nilai 93. Sesuai standar dari Hijaz Collage Islamic University, dengan nilai 93, Husein menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang “Science of The Retention of The Holy Quran."

Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i, yang mulai belajar Al Quran pada usia 2 tahun, dan berhasil hafal 30 juz dalam usia 5 tahun. Pada usia sebelia itu dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi Al Quran, tapi juga mampu menerjemahkan arti setiap ayat ke dalam bahasa ibunya (Persia), memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapansehari-hari. Bahkan dia mampu

(25)

Indonesia yang hafiz al-Qur‘an 30 juz diusia lima tahun, dan baberapa anak cilik pengahfal al-Qr‘an sebagai peserta hafiz Indonesia RCTI, mereka semua menjadi bukti bahwa anak usia dini memiliki potensi bakat dan kecerdasan yang sangat besar.

Begitu vitalnya pengenalan membaca dalam proses pendidikan usia dini melalui jenjang formal baik TK maupun RA dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Namun justeru belajar membaca dilarang diajarkan secara langsung pada jenjang tersebut. Hal itu sesuai regulasi- regulasi yang dikeluarkan Kemdikbud, salah satunya surat Dirjen Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional tahun 2009 yang masih berlaku, surat tersebut ditujukan kepada seluruh Gubernur, Bupati/Walikota di Indonesia, dengan surat No.1839/C.C2/TU/2009, tanggal 23 April 2009. Pada angka lima, huruf d, menyebutkan sebagai berikut,

Pengenalan membaca, menulis dan berhitung (calistung) dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaransendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain, dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak.

Menciptakan lingkungan yang kaya dengan ―keaksaraan― akan lebih mamacu kesiapan anak untuk memulai kegiatan calistung.28

mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris ke berapa, di kiri atau di sebelah kanan halaman Al Quran. Dia mampu secara berurutan menyebutkan ayat-ayat pertama dari setiap halaman Al Quran, atau menyebutkan ayat- ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari ayat terakhir ke ayat pertama. Yang lebih mengagumkan lagi, di usia 7 tahun Husein berhasil meraih gelar doktor honoris causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, pada Februari 1998. Saat itu, Husein menjalani ujian selama 210 menit, dalam dua kali pertemuan. Ujian yang harus dilaluinya meliputi lima bidang. Yakni, menghafal Al Quran dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu, menerangkan topik ayat Al Quran, menafsirkan dan menerangkan ayat Al Quran dengan menggunakan ayat lainnya, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, dan metode menerangkan makna Al Quran dengan metode isyarat tangan. Dikutip dari, Risamsi, Doktor cilik hafal Al-Qur'an dari umur 5 tahun, [Online]. Tersedia di, http://risamsi6.blogspot.co.id/2012/03/doktor-cilik- hafal-al-quran-dari-umur-5.html, [akses, 2 Agustus 2020]

28 Dikutip dari, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Surat Edaran Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia di, www.kemdiknas.go.id/, [download, 26 Mei 2020]

(26)

Larangan29 mengajarkan membaca secara langsung di TK tersebut menjadi dilema serius ditengah masyarakat. Kekhawatiran anak terkena mental hectic bila diajarkan membaca sejak dini, terlalu berlebihan dan merupakan pandangan yang memerlukan pembuktian.

Dalam berbagai penelitian ilmiah dan pendapat para ahli, menunjukkan bahwa memiliki kemampuan membaca pada anak usia dini memiliki banyak manfaat bagi anak dan masa depannya. Pada zaman dan tekhnologi yang serba canggih ini dengan hadirnya media internet yang dapat menjangkau dunia dalam hitungan detik, anak-anak dapat termotivasi membuat hal-hal positif, dengan bimbingan dari orangtua dan lingkungannya. Oleh karena itu pelarangan mengajarkan membaca dusia diasumsikan tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Larangan mengajarkan membaca pada anak TK/RA dan permasalahan membaca pada anak usia dini tersebut diasumsikan belum adanya konsep dan metode yang baik dan tepat yang selaras dengan perkembangan anak usia dini.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut sebagai landasan urgensinya penelitian ini, maka sangatlah relevan disusunnya buku referensi tentang, “PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI:

Pendidikan Islam dalam Menyikapi Kontroversi Belajar membaca pada Anak Usia Dini”.

B. Rumusan Masalah

Agar pembahasan dalam penelitian ini terarah berikut rumusan masalahnya,

a. Bagaimana potensi anak usia dini?;

b. Bagaimana pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam?;

c. Apa manfaat memiliki kemampuan membaca sejak usia dini?.

29 Bersamaan dalam proses penulisan ini terdapat data terbaru bahwa, larangan pengenalan membaca secara langsung telah diperbaharui menjadi, ― Pengenalan aksara dan angka (pra-keaksaraan) bagi anak usia dini disesuaikan dengan tahap perkembangan anak yakni melalui kegiatan bermain, mendongeng, membacakan cerita, mengenalkan buku gambar dan didukung oleh lingkungan keaksaraan. Tidak diperkenankan mengajar membaca, menulis aksara dan angka diluar kemampuan anak.‖ Dikutip dari, Surat Edaran Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor.

219/C.C2.1/DU/2015 Tentang Penyelenggaraan PAUD Pada Angka Tiga. [Online].

Tersedia di, http://paudni.kemdikbud.go.id/dpn/, [akses, 2 September 2020]

(27)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut,

1. Mengetahui potensi anak usia dini;

2. Mengetahui pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam;

3. Mengetahui manfaat memiliki kemampuan membaca sejak usia dini;

D. Metodologi

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif analitik. Fokus penelitian diarahkan untuk mengkaji belajar membaca pada Pendidikan Anak usia dini yaitu memecahkan masalah terhadap kontroversi belajar memabaca pada anak usia dini dengan menggunakan pisau analisis pendidikan Islam.

Sebagai penelitian kepustakaan dituntut melakukan content analisis yaitu menganalisa data-data kepustakaan yang terkait secara ilmiah, yang disampiakan secara deskriptif untuk menggambarkan bagaimana pendapat pendidikan Islam terhadap prokontra belajar membaca untuk anak usia dini sehingga menjadi fakta dengan tidak menyertakan pendekatan numerik (perhitungan).

Seiring kemajuan tekhnologi data pustaka bukan hanya berada dalam perpustakaan semata melainkan dapat diakses melalui mesin pencari data pada jaringan internet diantaranya, google, googlebooks, googlescholar, literasi digital, perpustakaan digital, perpustakaan online dan lain sebagainya.

Riset kulitatif ini terbatas untuk mengetahui bagaimana data-data yang ada khususnya yang ditulis para ahli sesuai bidangnya masing-asing dapat menjawab permasalahan dalam rumusan masalah yang diteliti dengan cara mendeskripsikan serta menganalisis dengan tekhnik analisis data yang telah ditentukan. Hal itu sebagaimana diungkapkan para ahli riset.

Menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Riset kualitatif bersifat deskriptif, dalam arti hanya bersifat mendiskripsikan makna data atau fenomena yang dapat ditangkap oleh pelaku riset, dengan menunjukkan bukti-buktinya. Pemaknaan terhadap fenomena itu banyak

(28)

tergantung pada kemampuan dan ketajaman pelaku riset dalam menganalisanya.30

Menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori adalah, ‖Riset kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan riset yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami.‖31

Hal senada diungkapkan oleh Lexi J. Moloeng, ―Penelitian kulalitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.‖32

Pengertian lain tentang studi kepustakaan yaitu upaya penelaahan dengan menggunakan sumber data tulisan dari berbagai literatur. Hal itu sesuai pendapat para ahli.Menurut Mestika Zed, Akhirnya bahwa riset pustaka tentu saja tidak hannya sekedar urusan membaca dan mencatat literatur atau buku-buku sebagaimana yang sering dipahami banyak orang selama ini. Apa yang disebut dengan riset pustaka atau teks ini ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.33 2. Sumber Data Penelitian

1) Data Primer

Data primer merupakan data utama, sebagaimana lazimnya penelitian kepustakaan maka data utamanya berupa tulisan, kata-kata, pendapat, pesan atau argumentasi dan ketentuan yang berasal dari orang/sumber pertama atau utama yang terkait dengan objek permasalahan yang dikaji.

Orang pertama atau utama yaitu orang atau lembaga yang menulis atau menyodorkan data berupa pendapat atau ketentuan dalam buku maupun dokumen lainnya yang relevan dengan objek kajian.

Data primer dapat diperoleh melalui perpustakaan maupun melalui jaringan internet34 dan sebagainya. Khusus pada data primer yang diperoleh dari jaringan internet diperoleh melalui mesin pencarian data

30 Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 123

31Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 121

32Lexi J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (PT. Remaja Rosdakarya, 2012), cet. 30, h. 6

33Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h. 3

34 Istillah internet merupakan singkatan dari, Interconection Networking. Secara sederhana internet bisa diartikan sebagai a global network of computer network. Dikutip dari, Fandi Tjiptono dan Totok Budi Santoso, Strategi Riset Lewat Internet, (Yogyakarta:

Penerbit Andi, 2000), h. 2

(29)

diantaranya, google, gmail, bing dan sebagainya dari alamat website- website lembaga dengan organisme resminya maupun perseorangan. Hal itu dilakukan untuk menjaga orisinilitas data dari sumber utamanya. Hal itu selaras dengan pendapat para ahli.

Menurut Sumadi Suryabrata, ―Data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan langsung oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.‖35

Menurut Suharsimi Arikunto, ‖Sumber primer adalah sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau pihak yang hadir pada waktu kejadian, yang digambarkan tersebut berlangsung, sehingga mereka dapat dijadikan saksi.‖36

Adapun sebagai sumber primer/utama penelitian ini, sebagai berikut:

a) Al-Qur‘an dan hadis.

b) Tafsir-tafsir al-Qur‘an dan Tafsir Tarbawi c) Kitab-kitab Syarah hadits dan Hadits Tarbawi

d) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS), nomor 20 tahun 2003

e) Undang-Undang Republik Indonesia, nomor 23 tahun 2002, jo. UU nomor 35 tahun 2014, tentang perlindungan anak

f) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

g) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 27 tahun 1990, tentang pendidikan prasekolah

h) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik- Integratif

i) Salinan peraturan Menteri Pendidikan Nasional (PERMENDIKNAS) No. 58 Tahun 2009, tentang standar Pendidikan Anak Usia Dini

j) Regulasi-regulasi (Permendikbud) dan Surat edaran larangan mengajarkan membaca secara langsung di pendidikan usia dini yakni jenjang TK/RA

35 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014), cet. 25, h. 39

36 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998), cet.

4, h. 83

(30)

k) Permendikbud No. 146/2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini

l) Buku-buku dan jurnal-jurnal tentang PAUD

m) Permendikbud No. 137/2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

n) Peraturan Menteri Agama No. 13 tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.

o) Peraturan Pemerintah RI No. 55 tahun 2007, tentang pendidikan Agama dan pendidikan keagamaan.37

p) Peraturan Menteri Agama No. 3 tahun 2012, tentang pendidikan Keagamaan Islam.

2) Data sekunder

Data Sekunder38 disebut juga data tambahan. Menurut Sumadi Suryabrata, ―Data sekunder itu biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.‖39

Dalam penelitian ini data sekunder berasal dari semua jenis data tertulis baik berupa buku, jurnal penelitian, surat kabar, artikel, makalah, atau semua jenis dokumen dan karya ilmiah lain yang berkaitan dengan objek penelitian yaitu Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

Data sekunder diperoleh baik dari perpustakaan, buku maupun melalui jaringan internet melalui website-website atau situs-situs yang dapat dipercaya yang relevan dengan objek kajian dan berbagai sumber lainnya.

37 http://kemenag.go.id/file/dokumen/PP5507.pdf

38Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder pada umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip, baik yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Manfaat dari data sekunder adalah lebih meminimalkan biaya dan waktu, mengklasifikasikan permasalahan-permasalahan, menciptakan tolak ukur untuk mengevaluasi data primer, dan memenuhi kesenjangan-kesenjangan informasi. Jika informasi telah ada, pengeluaran uang dan pengorbanan waktu dapat dihindari dengan menggunakan data sekunder. Manfaat lain dari data sekunder adalah bahwa seorang peneliti mampu memperoleh informasi lain selain informasi utama.

[Online]. Tersedia di, http://accounting-media.blogspot.com/2014/06/data-primer- dan-data-sekunder.html, [akses, 1 Juni 2020]

39 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014), cet. 25, h. 39

(31)

3. Tekhnik Analisis Data

Teknik adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori-teori, dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan masalah penelitian.40

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumenter (metode dokumentasi41). Teknik dokumenter adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip, dan termasuk buku-buku tentang pendapat, teori, dalil-dalil pendididkan Islam yang berhubungan dengan belajar membaca pada anak usia dini. Dalam penelitian teknik pengumpul data dilakukan secarasitematik yaitu:

a. Tahapan penelitian

1. Inventarisasi data : mengumpulkan dan menginventarisir semua data yang berhubungan dengan penelitian. Peneliti mengumpulkan berbagai data baik yang berupa sumber buku, naskah penelitian, dokumen, surat kabar, essai atau jurnal untuk dikaji lebih mendalam tentang Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2. Pemisahan dan klasifikasi data : memilah data yang telah

diperoleh menjadi data primer, data sekunder dan data pendukung. Peneliti melakukan pemisahan dan klasifikasi data agar memudahkan dalam mengkaji penelitian.

3. Mereduksi data : dengan membuang data yang tidak perlu dan tidak terpakai yang tidak memiliki hubungan dengan penelitian.

4. Unitisasi data : yaitu mengunit-unitkan data sesuai dengan bab bahasan pada penelitian yang dilakukan.

5. Inferensi data : menganalisis semua data yang ada baik itu data primer maupun data sekunder dengan metode penelitian yang peneliti gunakan dalam rangka memperoleh kesimpulan akhir.

Atau menganalisis data untuk mendapatkan temuan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis kemudian diuraikan kembali dalam bentuk tulisan yang sistematis.

6. Kesimpulan penelitian : akumulasi dari hasil analisis penelitian.

40 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), h.

181

41 Metode Dokumentasi, yakni dilakukan dengan cara menghimpun dan menelaah data dari berbagai leteratur baik dari artikel, surat kabar, buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan objek penelitian dan dapat memberi informasi terhadap penelitian ini.

(32)

b. Analisa Data

Analisis data adalah proses mengolah data dengan cara mengorganisasikan data dan mengurutkan data ke dalam pola, kategorisasi, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan dan tafsiran tertentu dari tafsiran itu.42

Teknik analisis data kualitatif43 ini, penulis menggunakan metode analisis isi (Content Analysis44), dimana peneliti menjabarkan hasil penelitian yang berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini, mengkelasifikasikannya menurut bagian yang telah ditentukan untuk kemudian dicocokkan dengan literatur yang relevan. Selanjutnya ditelaah menurut pandangan pendidikan Islam.

Adapun metode berpikir yang digunakan adalah metode berpikir induktif45 ketika membahas tentang Pendidikan Anak Usia Dini, dan juga menggunakan metode berpikir deduktif46 ketika membahas tentang pendidikan Islam.47

c. Analisis hasil

Pada analisis hasil penelitian ini menggunakan unsur-unsur metodis sebagai berikut48:

42 Soetandoyo Wingjosoebroto, Pengolahan Dan Analisa Data, dalam Koentjoronigrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarat: PT. Gramedia, 1977), hlm. 328

43 Analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisir data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesisnya, mencari dan menemukan pola, menemukan yang penting dan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Lihat Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif:

Aktualisasi Metodologi ke Arah Ragam Varian Kontemporer (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), h. 219

44 Content Analysis yaitu teknik analisis untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (Replicaple) dan sahih dengan memperhatikan konteksnya. Lihat Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologi ke Arah Ragam Varian Kontemporer (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), h. 219

45 Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Lihat J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: W. Balai Pustaka 2006), h. 444 .

46 Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Yusuf, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan. (Jakarta:

Pranada Media Group, 2015), cet. ke-2. h. 17-18

47 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung, Alfabeta, 2009), h. 335.

48 Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian: Pengantar Teori dan Panduan Praktis Penelitian Sosial Bagi Mahasiswa dan Peneliti, h. 100.

(33)

Deskripsi : metode ini digunakan untuk memberikan uraian dan gambaran yang jelas serta utuh dengan memaparkan segenap pemikiran yang berkaitan dengan pendidikan Islam dengan Pendidikan Anak Usia Dini.

Verstehen : metode ini digunakan untuk lebih memahami secara komprehensif mengenai pemikiran tentang pendidikan Islam khususnya yang mengenai Anak Usia Dini (AUD).

Interpretasi : setelah data terkumpul dan mencukupi untuk diteliti, peneliti menyelami dan mendalaminya sehingga didapatkan arti dan makna pendidikan Islam yang dapat digunakan untuk memandang permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini.

Holistik : analisis ini digunakan oleh peneliti untuk memahami data secara menyeluruh sehingga benar-benar didapatkan pemahaman yang tepat. Pokok pikiran sentral dari pendidikan Islam dijadikan acuan untuk melakukan interpretasi dalam rangka menemukan pemahaman yang holistik berkaitan dengan pendidikan anak usia dini yang lebih menekankan pada perkembangan peserta didik.

Refleksi : metode ini digunakan untuk mengembangkan inspirasi baru yang didapat selama penelitian setelah diperoleh pemahaman yang komprehensif dari hasil penelitian.

Heuristik : metode ini digunakan oleh peneliti setelah melalui refleksi untuk menemukan hal yang baru mengenai Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dengan sudut pandang pendidikan Islam.

E. Tinjauan Pustaka

1. Konsep dan Standar Nasional PAUD

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, membaca diartikan sebagai melihat serta memahami apa yang tertulis atau mengeja dan melafalkan.

Membaca dapat pula diartikan sebagai suatu proses mengkontruksi arti antara tulisan dengan pengalaman yang diperoleh. Dengan demikian dalam membaca terkandung proses melihat tulisan, memprediksi artinya, dan mengintegrasikan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya.49

49 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), cet. 4, h. 461

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah ingin mendiskripsikan jenis kesulitan belajar membaca Al- Qur’an, bentuk layananan bimbingan yang dilakukan guru pendidikan agama Islam

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi siswa kelas X dalam membaca al- Qur‟an, upaya -upaya yang dilakukan guru PAI dalam

Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada pengaruh membaca Kitab Suci bersama dalam keluarga X

Dengan demikian dapat diketahui bahwa upaya kelurga dalam memberikan pendidikan agama Islam kepada anaknya dapat dikelompokkan kepada mengajarkan anak membaca

Beberapa masalah yang menjadi kendala atau hambatan terlaksananya pembinaan membaca Alquran di Lembaga Dakwah dan Pendidikan Islam Raudhatu Bina`ir Rabbaniy (RABBANI) ini

Penelitian ketiga dari Johan Istiadie dalam skripsinya yang berjudul “ Prinsip Pendidikan Moral Pada Anak menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam”,

Akan tetapi pada kenyataan yang terjadi di Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah adalah membaca Al- Qur‟an, berdzikir dan menjaga wudhu tidak berpengaruh

4 “Punishment bagi peserta didik yang melanggar tidak ada hanya memberi binbingan saja.” 5 “Dalam Kesulitan belajaran membaca dan menulis Al-Qur‟an tidak hanya beban bagi guru tapi