BAB I PENDAHULUAN
E. Tinjauan Pustaka
5. Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan
Kesimpulan tentang istilah pendidikan Islam adalah, pendidikan yang berpedoman kepada sumber ajaran Islam yaitu al-Qur‘an, hadis sebagai sumber utama serta pendapat ulama, yang bertujuan untuk mengaktifkan fitrah insaniayah (potensi) menjadikan manusia tersebut sebagai ahsani taqwim dan insan al-kamil110, kemajuan dengan ilmu dan amal untuk mencapai kebahagiaan dunia maupuan akhirat.
Sedangkan hakikat pendidikan Islam adalah pemanusiaan manusia menuju manusia Insan Kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang berdimensi imanensi (horizontal) dan berdimensi transendensi (vertikal) dan mampu memfungsikan dirinya sebagai khalīfah (wakil Allāh swt) dimuka bumi.
5. Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan Islam
motivasi dan tujuan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan, kebiasaan dan tradisi membaca. Berpijak dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan aktivitas untuk memahami ide atau gagasan yang tersurat maupun tersirat di dalam suatu bacaan.
Pendidikan Islam bersumber utama pada Qur‘an. Di dalam al-Qur‘an sendiri terdapat tiga kata yang secara langsung menunjuk pada arti ‗membaca‘, yakni qara‟a, tilāwah dan tartīl. Adapun kata qara‟a ( أرق) dalam berbagai bentuknya, terulang sebanyak 87 kali dan tersebar ke dalam 41 surah al- Qur‘an.114 Sedangkan kata tilāwah ( ةورت) dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 64 kali,115 sementara kata tartīl ( ريتأت) hanya diulang dua kali dalam al- Qur‘an.116 Namun, dari ketiga istilah tersebut sering kali diterjemahkan dengan ‗membaca‘ dalam Bahasa Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al- ‗Alaq ayat 1 (iqra‟ bismi Rabbika), QS. Al-Jumu‘ah ayat 2 (yatlū „alaihim āyātihī) dan QS.
Al-Muzammil ayat 4 (wa rattilil Qur‟āna tartīlā).
Dari ketiga ayat tersebut baik yang menggunakan kata qara‟a,tilāwah dan tartīl semuanya diterjemahkan dengan ‗membaca‘. Padahal, menurut Abī Hilāl al- ‗Askarī jika ada dua kata yang berbeda tetapi berarti satu makna, maka maknanya harus berbeda. Hal ini didasarkan dengan adanya perbedaan dari segi ta‟wīl, sifat, asal kata, derivasi kata dan
114 Lihat Muhammad Fu‘ād ‗Abd al-Bāqi, al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfāz al-Qur‟an al-Karīm, (Dār al-Kutub al-Misriyyah, 1364), h. 539-540. Sedangkan penjelasan kata qara‟a (membaca) dan dalam berbagai bentuknya yang tersebar dalam 41 surah al-Qur‘an adalah al-al-Qur‘an surah an-Nahl ayat 98, al-Isra‘ ayat 14, 45, 71, 93, 106, 9, 41, 45 (kata al-Qur‘an), 47, 60, 78, 82, 88, 89, al-Qiyamah ayat 18, 17, al-Syu‘ara‘ ayat 199, Yunus ayat 94, 15, 37, 61, al-‗Alaq ayat 1, 3, al-Haqqah ayat 19, al-Muzammil ayat 4, 20, al-A‘raf ayat 204, al-Insyiqaq ayat 21, al-A‘la ayat 6, al-Baqarah ayat 185, 228, an-Nisa‘ ayat 82, al-Ma‘idah ayat 101, al-An‘am ayat 19, at-Taubah ayat 111, Yusuf ayat 3, al-Hijr ayat 1, 87, 91, Taha ayat 2, 114, al-Furqan ayat, 30, 32, an-Namal ayat 1, 6, 72, 92, al-Qasas ayat 85, ar-Rum ayat 58, Saba‘ ayat 31, Yasin ayat 2, 69, Sad ayat 1, az-Zumar ayat 27,28, Fusilat ayat 3,26, 44, az-Zukhruf ayat 3,31, al-Ahqaf ayat 29, Muhammad ayat 24, Qaf ayat 1, 45, Qamar ayat 17, 22, 32, 40, ar-Rahman ayat 2, al-Hasyar ayat 21, al-Waqi‘ah ayat 77, al-Insan ayat 23, al-Buruj ayat 21, ar-Ra‘d ayat 31, asy-Syura ayat 7 dan al-Jinn ayat 1
115 Lihat Muhammad Fu‘ād ‗Abd al-Bāqī, al-Mu‟jam al Mufahras li Alfāz al-Qur‟an al-Karim, h. 155
116 Adapun pengulangan kata tartil itu hanya terdapat dalam al-Furqan ayat 32 dan Muzammil ayat 4. Untuk lebih jelasnya lihat pula , Mu‟jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur‟an al- Karim, h. 300
perbedaan dari segi harakat dari dua kata berbeda yang berdekatan arti tersebut.117
Dengan berlandaskan pada pendapat al-‗Askari tersebut, maka pemaknaan kata qara‟a, tilāwah dan tartīl dalam al-Qur‘an tentu bukan hanya bertumpu pada makna ‗membaca‘ semata, melainkan ada makna-makna yang lebih dalam dari masing-masing kata tersebut.
Penjelasan istialah membaca dalam term al-Qur‘an menunjukkan sangat jelas al-Qur‘an menyuruh membaca dan membaca merupakan perintah Allah swt dan yang pertama dan wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.
Sedangkan pengajaran membaca, merupakan cara/proses belajar pertama yang disampaikan oleh Allah swt kepada Adam as sebagai manusia pertama di dunia ini. Allah swt memperkenalkan nama-nama benda maupun alam sekitarnya untuk difahami dengan benar.
Hal ini didasarkan pada firman Allah swt, ِبۢ
نَ أ َلاَ
قَ ف ِةَ
ك ِئَٰٓ َل َمۡلئ َلَ َع ۡم ُه َضَرَع َّمُث ا َهَّلُك َءٓاَم ۡسَ ۡ
لۡئ َمدإ َء َمَ َّ
لع َوَ ِؤ ِءٓ َ
آُ
لَٰٓ َٰٓ ِءٓا َم ۡسَ سِب ب ِ يونِ
َ ي ِق ِد َٰ َص ۡمُتن ُك ٣١
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ―Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!‖. (Q.S. al-Baqarah [2]: 31)118
Dalam konteks pengenalan membaca, hal itu adalah perintah Allah swt dan merupakan wahyu pertama kali turun kepada nabi Muhammad saw, sebagai nabi akhir zaman, sebagaimana tertuang dalam al-Qur‘an surah al-Alaq ayat 1-5;
َقَ لَ
خ ي ِذَّ
لئ َ
كِّب َر ِمۡسٱِب
ۡأ َرۡ قئ ١
ٍقَ لَ
ع ۡن ِم َنَٰ َسنِۡ لۡئ قَ َ
لَ خ ٢
ُم َرۡ
كَ ۡ لۡئ ك ُّب َر َو َ ۡ
أ َرۡ قئ ٣
َمَّ
لَ ع ي ِذَّ
لئ
ِمَ لَ
قۡ لٱِب ٤ ۡمَ
ل ۡع َي ۡمَ
ل ا َم َن َٰ َسن ِۡ لۡئ َمَّ
لعَ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Diatelah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-Alaq [96]: 1-5)119
117 Syarifatun Nafi‘ah, ―Arā‘ al-‗Askari Haula Tarāduf fī al-Lugah al-‗Arabiyyah fī Kitābihi al-Furūq al-Lugah, Dirāsah Tahlīliyyah Wasfiyah Dalāliyyah‖, Skripsi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2008, h. 41
118 Departemen Agama…, h. 7
119 Departemen Agama…, h. 598
Belajar membaca adalah suatu upaya mencari ilmu untuk bekal dunia dan akhirat, dalam persfektif Islam sangat menekankan pentingnya ilmu dunia dan ilmu akhirat, mendapatkan hal itu tentunya dengan aktifitas belajar dengan upaya sistematis dan kesungguhan walaupun dengan berbagai metode dan pendekatan, namun tujuannya adalah usaha mendapatkan ilmu itu sendiri.
Menurut Mulyono Abdurrahman yang mengutip pendapat Lerner, mengatakan bahwa kemampuan membaca adalah merupakan dasar untuk menguasai bidang studi. Jika anak usia dini tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang terutama ketika akan melanjutkan studi berikutnya. Oleh karena itu, anak harus belajar membaca agar ia dapat membaca untuk belajar.120
Itulah kenapa membaca sebagai syarat mendapatkan dunia dan akhirat tentunya ilmu pengetahuan dimiliki melalui membaca. Sehingga memiliki kemampuan membaca dapat juga diartikan telah memiliki ilmu sebagai bekal untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Sabda Rasulullah saw riwayat Turmudzi,
ُّدلإَ د إ َرَ
أ ْن َم ِمْ
ل ِعْ
لاِب ِهْيَل َعَف ا َم ُٰٓ َدإ َرَ
أ ْن َم َو ، ِمْ ل ِعْ
لاِب ِهْيَل َعَف َة َر ِخآ ْ لْإَ
دإ َرَ
أ ْن َم َو ، ِمْ ل ِعْ
ل اِب ِهْيَل َعَف اَيْن
يذيم رتلإ هإور
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu. (HR. Turmudzi)
Dalam hadis, sangat dianjurkan anak diajarkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kehidupannya, misalnya shalat, berpuasa dan tentu belajar membaca, jika dibandingkan dengan belajar membaca, belajar shalat tentu jauh lebih sulit, namun walaupun sulit, anak sangat dianjurkan untuk mempelajarinya. Adapun waktu yang tepat untuk itu adalah ketika sudah bisa mengenal perbedaan antara tangan kanan dan kirinya. Biasanya anak dapat mengenal tangan kanan dan kirinya saat berusia 2-7 tahun (fase pra operasional).
Sejalan dengan itu Rasulullah saw bersabda, pada kitab shalat dengan nomor hadits 497 halaman 243 Sunan Abu Dawud juz 1,
120 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1999), h. 200
َثَّ
د ّح ، ٍبْ
ٰٓ َو ُنْب ِإ اَ نَ
ثَّ
د َح ، ُّىِرْه َملْإَد ْوإَد ُنْب ُ ا َمْيَل ُس اَنَث َّد َح
َثَّ
د َح ، ٍد ْع َس ُنْب ُما َش ِٰٓاَن ْ ن
َم ِلا َلاَ قَ
ف ، ِهْيَ لع اَ َ
نْ لَ
خد : َلاَ َ ق ُّ ن َه ُجلْ
إ ِبْيَب ُخ ِنْب ِالله ِدْب َع ُنْبُ ذا َع ُم
ِّلَ َصُي َرن َم : ِهِتَ أر
ُّ ِ ن َّصلإ
َك : ْ َ لاَ
قَ ف ؟ فَ
َر َ ا ُس َر ْنَ
ع ُرُ ك ْ
ذَي َّن ِم ٌل ُج َلاَ
قَ ف ، َ
ك ِلَ ذ ْنَ
ع َلِئ ُس ُهَّنَإ صلى الله عليه وسلم ِالله ِل ْونِ
ِةَ
لا َّصلاِب ه ْو ُر ُمُ َ
ف ِه ِلا َم ِش ْن ِم ُهَنْي ِمَي َفَرَعإَ ذ ِإ((
)دوإدونِبإ هإور(
Dari Hisyam bin sa‘d dia berkata, ‘‘Pernah kami pergi rumah Mu‘adz bin Abdullah bin khubaib al-Juhni lalu dia berkata kepada istrinya, Kapankah anak itu harus mengerjakan sholat? maka istrinya berkata,‘‘seorang diantara kami menyebutkan dari Rasulullah saw bahwasannya beliau pernah ditanya tentang itu, maka beliau bersabda, ‘‘Apabila anak itu telah mengetahui kanan dan kirinya, maka suruhlah dia mengerjakan sholat ‖. (HR.Abu Dawud).121
Dolores Durkin, peneliti yang mendalami masalah pengenalan membaca pada anak usia dini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk membuktikan anak yang diajarkan membaca sejak dini dan pengaruhnya pada masa depan. Kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun itu, dalam wikipedia ensiklopedia disebutkan, bahwa
1. Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
2. Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca.
3. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.122
Senada dengan Dolores Durkin, pakar pendidikan lainnya seperti Maria Montessori sebagaimana dikutip Miswahyuningsih, tentang urgensi pengenalan membaca juga dalam teorinya mengatakan, rentang
121 Hadis ini terdapat pada kitab shalat dengan nomor hadits 497 halaman 243 Sunan Abu Dawud juz 1
122 Wikipedia Ensiklopedia, Membaca Pada Anak. [Online]. Tersedia di, https://id.wikipedia.org/wiki/Membaca, [akses, 25 Juni 2020]
usia tiga sampai enam tahun, terjadilah kepekaan untuk peneguhan sensoris, semakin memiliki kepekaan indrawi, khususnya pada usia sekitar 4 tahun memiliki kepekaan menulis dan pada usia 4 – 6 tahun memiliki kepekaan yang bagus untuk membaca.123
Membaca juga merupakan prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan nasional yang diamanatkan Undang- Undang Republik Indonesia, sebagaimana termaktub dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 Bab 3 Pasal 4; tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan;
bahwa,―Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.124
Belajar membaca merupakan salah satu upaya memberikan stimulus, agar anak dapat memiliki respon yang baik disaatnya maupun dimasa yang akan datang. Menurut Ivan Pavlov dalam Ratna Wilis Dahar, ―Suatu respon dikeluarkan oleh stimulus yang dikenal.‖125
Jika dilakukan dengan metode dan konsep yang baik dan benar belajar membaca adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan.
Pernyataan bahwa dampak bagi anak jika diajarkan membaca secara langsung dapat terkena penyakit mental hectic dan pelarangan mengajarkan membaca secara langsung pada jenjang TK oleh oleh pemerintah perlu ditinjau kembali karena bertentangan prinsip-prinsip pendidikan, baik yang diamanatkan Undang-Undang maupun realitasnya. Jika larangan itu dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi kemajuan pendidikan itu sendiri. Menurut Mulyasa,
Hasil penelitian paling mutakhir yang dilakukan para ahli tentang perkembangan anak usia dini, sejak dini anak-anak telah siap belajar, dan siap merespons segala sesuatu yang datang dari lingkungannya, bahkan ketika dalam kandungan ibunya, janin telah merespons alunan musik. Teori ini sekaligus membantah teori lama yang merekomendasikan bahwa pendidikan baru dapat dimulai ketika anak berusia 7 tahun, sehingga sampai saat ini banyak TK/RA yang belum atau memberikan program pembelajaran secara khusus (matematika atau bahasa misalnya belum diprogramkan secara khusus).126
Jalaludin dan Abdullah Idi berargumentasi bahwa,
123 Miswahyuningsih, Menurut Montessori. [Online]. Tersedia di,
https://miswahyuningsih1201110008.wordpress.com/paud-menurut-para-tokoh/menurut-montessori/, [akses, 25 Juni 2020]
124 UU Sisdiknas..., h. 3
125 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011), h. 4
126 Mulyasa, Manajemen PAUD, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2014), cet. 4, h. 1
Kaum esensialis mengemukakan bahwa sekolah harus melatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis, keterampilan-ketrampilan inti kurikulum haruslah berupa, membaca, menulis, berbicara dan berhitung serta sekolah memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan penguasaan terhadap keterampilan-keterampilan tersebut. Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis, dan member pengajaran yang logis yang mempersiapkan hidup mereka, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial.127
Sejalan dengan pendapat diatas penelitian ini akan berupaya menyelidiki tentang permasalahan pengenalan membaca pada usia dini dan upaya untuk mengetahui pengenalan membaca untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam memberi kontribusi dan argumentasi dengan teori yang logis melalui pendekatan penelitian dan analisis data yang telah ditentukan.
Pemahaman dalam persfektif pendidikan Islam ini sebagai upaya menjawab bahwa pengenalan membaca pada anak usia dini diasumsikan tidak menimbulkan penyakit mental hectic dan sangat dianjurkan, terlebih era sekarang sangat berbeda dengan era terdahulu hal ini seiring dengan kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi baik melalui media internet maupun komunikasi lainnya, menuntut manusia bisa membaca sejak usia dini. Diharapkan temuan ini dapat bermanfaat dan menjadi alternatif solusi tentang kekhawatiran yang terjadi di masyarakat tentang mengajarkan membaca diusia dini.
Membaca dan pengenalan membaca untuk anak usia dini bukan membaca pada orang dewasa, para ahli menyebutnya, membaca untuk anak usia dini adalah membaca permulaan, membaca tingkat pertama (mekanis), membaca dalam arti mengucapkan bacaan untuk anak diusia dini berangkat dari simbol kongkrit menuju abstrak, membaca dalam pengertian membaca melafalkan (menghafal) untuk anak usia dini berangkat dari yang abstrak menuju kongkrit.
Pendidikan Islam yang berpedoman dari sumber utamanya yaitu al-Qur‘an dan al-Hadis, bahwa bahwa didalam al-al-Qur‘an maupun al-Hadits secara tekstual tidak ada larangan mengajarkan membaca kepada anak usia dini. Namun mengenai waktu yang tepat untuk mengajarkan atau mengenalkan membaca untuk anak usia dini menjadi perdebatan para para tokoh. Oleh karena itu perlu ilmu lain yang berkaitan dengan metode bagaimana agar anak usia dini dapat membaca dengan mudah
127 Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan (Jakarta: Arruz Media, 2010), Cet. 3, h. 107-108
merupakan tantangan dan ikhtiar manusia untuk menemukannya inovasi-inovasinya sehingga kekhawatiran itu hilang dengan sendirinya.
Sekalipun didalam hadits menjelsakan bahwa belajar itu tidak membatasi usia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW128.
دحللإ لىإ دهملإ نم ملعلإ إونِبلطإ
Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian (ibu) sampai liang lahad (meninggal).
Dalam hadits Nabi diatas dapat kita ketahui bahwa menuntut ilmu atau belajar itu tidak kenal batas usia dan waktu. hadis di atas dipahami sebagai sebuah pesan untuk belajar seumur hidup (long life education).
Sebenarnya lebih dari itu, hadis ini mencoba memberitau kita dua kategori ilmu. Keduanya diminta oleh Nabi SAW untuk kita pelajari, secara bertahap. Dimulai dari ilmu yang bersifat ―ayunan‖ (mengetahui adanya Tuhan) sampai kepada ilmu ―liang lahat‖ (berjumpa dengan Tuhan). Apa itu ilmu dalam ―ayunan‖? Itulah ilmu untuk anak usia dini, termasuk ilmu membaca dan juga berbagai cabangan ilmu untuk menghadapi dunia. Dalam budaya dan kearifan Islam, diajarkan mendidik anak usia dini dengan memperdengarkan bahasa, berbagai syair (senia baca-tulis) dan kalimah tauhid. Dengan itulah mereka tertidur. Yang menghantarkan mereka ke alam bawah sadar adalah kalimah-kalimah suci tentang Tuhan. Saat-saat menjelang tidur adalah kondisi paling nyaman (alfa) bagi sianak untuk menyerap pengetahuan.
Ini semacam hipnotherapy penanaman kesadaran ilahiyah bagi anak.
Dalam pendidikan Islam aktifitas pengenalan membaca adalah upaya mencari ilmu, menuntut ilmu adalah hukumnya wajib bagi muslim tanpa memandang usia. setiap muslim memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu, tanpa melihat batasan usia, sebagaimana hadis Rasulullāh saw,
ٍم ِل ْس ُم ِّلُك َلَ َع ٌة َضْيِرَ بلط ف ِمْ
ل ِعْ لإ
-Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap Muslim (HR. Ibnu Abdil Barr).
Berpedoman pada hadis tersebut maka menjadi penting menuntut ilmu, salah satunya ilmu tentang membaca, hal itu dikarenakan membaca merupakan pintu gerbang ilmu dan pengetahuan. Oleh karena itu peran
128 Hadits terdapat dalam kitab Kasyf adz-Dzunun karya Musthofa bin Abdullah tanpa penyebutan sanad periwayatannya. Juga dalam kitab Abjad al-„ilmi tulisan Muhammad Shiddiq Hasan Khan al-Qanuji yang juga tanpa menyebutkan sanadnya.
orangtualah, pendidikan dan lingkungannyalah yang mempengaruhi perkembangan anaknyaa.129 Tentang setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, sesuai Sabda Rasulullāh saw,
ْي َرُ
ٰٓ ْ ِ يَ إ ْنعَ ٍدْونُِل ْونِ َم ُّلُك : َمَّل َس َو ِهْيَ
لع َ الله ُ َّ
لَ َص ِالله ُل ْونِ ُس َر َلاَ ق : َلاَ
ق ُ هْ
نع َ ُ
الله َ ب ِض َر َ ة َر ) ْم ِل ْسُم َو ىِراَ
خُبْ لإ ُ
هإ َو َر( ِهِن َسِّج َمُي ْوَإ ِهِنَ ِّصَِّنُي ْوَ إ ِهِنإَ
د ِّونِ َهُي هإ َونَِبُ َ اَ
ف ِةَر ْط ِفْ لإ َ
لََ ع ُ
دَ ل ْونُِي
Dari Abu Hurairah ra, Ia berkata: Rasulullāh saw bersabda : ‗Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.‘ (HR. Bukhāri dan Muslim)130
Sedangkan tentang pentingnya pengenalan membaca pada anak, Rasulullāh saw bersabda,
: َلاَ ق ُ
هْ نَ
ع ُ
الله َ ب ِض َر ٍّ ب ِلََ ع ْنَ
ع : َمَّ
ل َس َو ِهْيَ لَ
ع الله ُ َّ
لَ َص ِالله ُل ْونِ ُس َر َلاَ ق ْمُ
كَ د َ
لْ ْوَ إ إ ْونُِبِّ
دَ إ ِظ ْ ب ِف ُ َ
أ ْرُ قْ
لإ َ ةَ
ل ْم َح َّ
ِإَ ف ِ َ
أ ْرُ قْ
لإ ُ ةَ
أ َر ِق َو ِهِتْيَب ِل َْٰٓ
إ ِّب ُح َو ْمُ كِّيِبَ
ن ِّب ُح : ٍلا َص ِخ ِث َ لََ
ث َ لَعَ ِّل
ِالله ) ِمَ
لْيَّ
دلإ ُ
هإ َو َر( ِهِهاَي ِف ْصَإ َو ِهِهاَيِبْ نَ
إ َ َم ُ هَّ
ل ِظ ظل ِظ َ لْ َم ْونَِي
Dari Ali ra ia berkata : Rasulullāh saw bersabda : ‗Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca al-Qur‟an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi al-Qur‘an akan berada di bawah lindungan Allāh, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya‘. (HR. Ad-Dailami)
Dalam hadis lain Rasulullāh saw bersabda,
َع ِنْبإ ِنَع ِ ت ِغ َّصلإ ِملا ُغْ
لإ ُ ظْ
ف ِح َمَّ
ل َس َو ِهْيَ
لع َ للَّإ ُ َّ َّ
لَ َص َِّ
للَّإ ُلونِ ُس َر َلاَ ق : َلاَ
ق ، ٍساَّب ِءا َمْ
لإ َ لََ
ع ِباَ ت ِكْ
لاَ ك ُ ُ تْ
كَي ا َم َ
د ْعَب ِلُجَّرلإ ُظ ْف ِح َو ، ِر َج َحْ لإ ب ِف ِشْ
قَّ
نلاَ ك
-Dari Ibnu Abbas, Rasulullāh Shallallāhu ‗alaihi wa sallām bersabda; ‗Hafalan anak kecil bagaikan melukis/mengukir di atas batu dan hafalan anak seorang dewasa bagaikan menulis diatas air‘. (Hadits Marfu‘ diriwayatkan oleh Khatib dalam al-Jami‘nya).
Menurut Donny Achmadi bahwa,
Namun ketahuilah sesungguhnya bahwa proses ‗Membaca‘ yang Rasulullāh sebutkan dalam banyak riwayat hadits adalah proses membaca al-Qurān yang berasal dari ingatan atau hafalan (Hifzh fish shuduur) bukan bacaan yang berasal dari tulisan (fish shutuur), karena begitulah awal mula al-Qurān diturunkan juga berasal dari ingatan, sebagaimana proses turunnya wahyu al-Qurān dari Allāh swt
129 Wathoni, Hadits Tarbawi Analisis Komponen-Komponen Pendidikan Perspektif Hadits.
(Lombok Tengah: Forum Pemuda Aswaja, 2020), h. 58
130 Mustofa Muhammad Ammarah, Jawāhir al-Bukhārī, Sahīh al-Bukhārī, Juz II, (Bairut: Dār al-Fikr, t.th), h. 152
kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril as dengan sebuah proses yang disebut dengan metode Talaqqi.131
Tentang pentingnya membaca sebagai landasan lainnya, ahli sejarah Islam Mahmud Yunus dalam Samsul Nizar mengungkapkan,
Ketika terjadi perang Badar ada beberapa tawanan musuh yang dapat ditawan kaum muslimin. Orang-orang tawanan yang mampu baca tulis, dapat menebus dirinya dengan mengajarkan baca tulis kepada 10 orang anak-anak madinah.132
Membaca merupakan ilmu yang sangat penting, merupakan pintu gerbang pengetahuan. Diantara syarat mendapatkan dunia dan akhirat tentunya dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Budaya membaca juga menjadikan Islam dan pendidikan Islam mencapai puncak kejayaannya seperti halnya dimasa Nabi Muhammād saw, al-Khulafa‘ al-Rasyidīn, dan masa Bani ‗Abbasiyāh, dimana membaca dan menulis menjadi tradisi dan budaya bangsa, sehingga saat itu disebut dijuluki ‗era emas kejayaan Islam‘, dimana setiap penulis buku akan dihadiahi oleh Negara berupa emas seberat buku yang ditulisnya.
Tentang waktu yang tepat untuk belajar diantaranya belajar shalat, untuk anak, dalam hadis dikatakan ketika anak sudah bisa mengenal tangan kanan dan kirinya. Biasanya anak dapat mengenal tangan kanan dan kirinya saat berusia 2-7 tahun (fase pra operasional).
Rasulullāh saw bersabda,
َثَّ
د ّح ، ٍبْ
ٰٓ َو ُنْب ِإ اَ نَ
ثَّ
د َح ، ُّىِرْه َملْإَد ْوإَد ُنْب ُ ا َمْيَل ُس اَنَث َّد َح
َثَّ
د َح ، ٍد ْع َس ُنْب ُما َش ِٰٓاَن ْ ن
ِّلَ َصُي َرن َم : ِهِتَ أر َم ِلا َلاَ
قَ ف ، ِهْيَ
لع اَ َ نْ
لَ خد : َلاَ َ
ق ُّ ن َه ُجلْ
إ ِبْيَب ُخ ِنْب ِالله ِدْبَع ُنْبُ ذا َع ُم
َّصلإ ُّ ِ ن َر َ
اَ ك : ْ َ
لاَ قَ
ف ؟ فَ
ْونِ ُس َر ْنَ ع ُرُ
ك ْ
ذَي َّن ِم ٌل ُج َلاَ
قَ ف ، َ
ك ِلَ ذ ْنَ
ع َلِئ ُس ُهَّنَإ صلى الله عليه وسلم ِالله ِل ِةَ
لا َّصلاِب ه ْو ُر ُمُ َ
ف ِه ِلا َم ِش ْن ِم ُهَنْي ِمَي َفَرَعإَ ذ ِإ((
Dari Hisyam bin Sa‘d dia berkata, ‗Pernah kami pergi rumah Mu‘adz bin Abdullāh bin khubaib al-Juhni lalu dia berkata kepada istrinya, Kapankah anak itu harus mengerjakan shalat? maka istrinya berkata,‘ seorang diantara kami menyebutkan dari Rasulullāh saw bahwasannya beliau pernah ditanya tentang itu, maka beliau
131 Dikutip dari, Donny Achmadi, Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Al-Quran, [Online]. Tersedia di,
http://donnyachmadi.blogspot.co.id/2014/04/metode-talaqqi-dalam-pembelajaran-al.html/ , [akses, 3 Januari 2020]
132 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana dan Prenada Media Group, 2013), cet. 5, h. 15
bersabda, ‗Apabila anak itu telah mengetahui kanan dan kirinya, maka suruhlah dia mengerjakan sholat ‗. (HR.Abu Dawud).133
Menurut Rektor Institut Ilmu al-Qur‘an Jakarta sekaligus Sekretaris Lajnah Pentahsih Mushaf al-Qur‘an Republik Indonesia, Ahsin Sakho Muhammad dalam Quantum Tahfiz menjelaskan tentang metode Talaqqi,
Metode ini sangat efektif bagi para penghafal al-Qur‘an yang memiliki daya ingat ekstra dan anak-anak dibawah umur yang belum mengenal baca tulis…. Metode ini adalah metode pertama dilakukan Rasul dalam mengajarkan al-Qur‘an kepada sahabat. Rasul menerima al-Qur‘an dari Jibril as., dengan cara mendengar bacaan Jibril sebagaimana Jibril menerima pertama kali dari Allah swt. Jibril mendengar ayat-ayat dari Allah swt kemudian menyampikannya kepada Rasul saw.134
Oleh karena Rasulullah saw sosok yang buta huruf, namun memiliki upaya yang sungguh-sungguh mengajarkan membaca ditengah kaum yang juga buta huruf metode tersebut merupakan kemestiannya.
Tentang Rasulullāh saw mengajarkan kepada sahabatnya dengan membacakannya (talaqqi) yaitu didasari pada, Firman Allāh swt (Q.S. al-Jumu‘ah [62]: 2) yang telah disebutkan bahwa, ―Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka…‖.
Sejarah pendidikan Islam metode membaca dimulai ketika Allāh swt mengenalkan kepada Nabi Adam as nama-nama benda, lalu Adam as diperintahkan untuk menyebut kembali apa-apa yang diajarkan itu secara benar yang dipersaksikan malaikat Jibril as, sehingga Adam as benar-benar memahaminya.
Hal ini didasarkan pada firman Allāh swt, ِبۢ
نَ أ َلاَ
قَ ف ِةَ
ك ِئَٰٓ َل َمۡلئ َلَ َع ۡم ُه َضَرَع َّمُث ا َهَّلُك َءٓاَم ۡسَ ۡ لۡئ َمَ
دإ َء َمَّ
لع َوَ ِؤ ِءٓ َ
آُ
لَٰٓ َٰٓ ِءٓا َم ۡسَ سِب ب ِ يونِ
َ ي ِق ِد َٰ َص ۡمُتن ُك ٣١
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‗Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!.‘ (Q.S. al-Baqarah [2]: 31)135
133 Hadis ini terdapat pada kitab shalat dengan nomor hadits 497 halaman 243 Sunan Abu Dawud juz 1, dikutip oleh, Tamamul Wafa‘, Tafsir Hadits Tentang Orangtua Mengajarkan Sholat Ketika Anak Telah Mengetahui Tangan Kanan Dan Kiri.
134 Farid Wajdi dan Masagus Fauzan Yayan, Quantum Tahfiz, (Palembang: YKM Pres, 2010), h. 172
135 Departemen Agama (Depag), Op. cit, hlm. 7
Peristiwa tersebut dapat menjadi pedoman, agar pendidikan dapat dilakukan sebagaimana awal mulanya dan dapat dikembangkan dalam berbagai metode dan strategi sesuai dengan perkembangan zaman, tak terkecuali pada proses pengenalan membaca.
Dolores Durkin, peneliti yang mendalami masalah pengenalan membaca pada anak usia dini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk membuktikan anak yang diajarkan membaca sejak dini dan pengaruhnya pada masa depan. Kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun itu, dalam wikipedia ensiklopedia disebutkan bahwa,
Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.136
Senada dengan Dolores Durkin, pakar pendidikan lainnya seperti Maria Montessori sebagaimana dikutip Miswahyuningsih, tentang urgensi pengenalan membaca untuk anak usia dini, dalam teorinya mengatakan, rentang usia tiga sampai enam tahun, terjadilah kepekaan untuk peneguhan sensoris, semakin memiliki kepekaan indrawi, khususnya pada usia sekitar 4 tahun memiliki kepekaan menulis dan pada usia 4 – 6 tahun memiliki kepekaan yang bagus untuk membaca.137
Mengenalkan bacaan kepada anak usia dini sangat berpengaruh positif yang signifikan diantaranya, anak memiliki kemampuan membaca lebih cepat dari teman lainnya, anak memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut, anak lebih mudah berinteraksi dengan dunia informasi, tekhnologi serta lingkungan sekitanya, anak dapat menyerap informasi secara cepat. Namun keberhasilan itu ditentukan bagaimana konsep dan pendekatan yang dilakukan dalam proses pendidikan dan implementasinya, disamping pengaruh guru yang utama. Diantara konsep
136 Wikipedia Ensiklopedia, Membaca Pada Anak. [Online]. Tersedia di, https://id.wikipedia.org/wiki/Membaca, [akses, 25 Juni 2020]
137 Miswahyuningsih, Menurut Montessori. [Online]. Tersedia di,
https://miswahyuningsih1201110008.wordpress.com/paud-menurut-para-tokoh/menurut-montessori/, [akses, 25 Juni 2020]