• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN ANAK USIA DINI

E. Problematika Pembelajaran Anak Usia Dini

5. Metode Membaca Kurang Relevan Untuk Anak Usia

mentradisinya budaya mengeja. Walaupun faktor kompetensi guru juga merupakan hal yang sangat menentukan. Namun metode memiliki peranan yang sangat besar. Metode eja ini dianggap tidak sesuai dan kurang relevan dengan perkembangan anak usia dini.

Menurut Nurani Musta‘in,

Mengeja adalah suatu cara lama yang sering dipakai orangtua atau pengajar untuk mengajarkan membaca. Caranya dengan memperkenalkan abjad satu persatu terlebih dahulu dan menghafalkan bunyinya. Langkah selanjutnya adalah menghafalkan bunyi rangkaian abjad/huruf menjadi sebuah suku kata. Mula-mula rangkaian dua huruf, tiga huruf, empat huruf hingga anak mampu membaca secara keseluruhan.

Kelemahan dari metode ini adalah, anak-anak balita sulit merangkaikan bunyi huruf yang satu dengan yang lain. Mengapa b ditambah a menjadi ba (bukan be a)?. Kelemahan berikutnya adalah setelah anak menguasai rangkaian suku kata, anak akan kesulitan kembali menghilangkan proses pengejaan sehingga mampu

99 Permendikbud, singkatan dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

100 Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), pasal 5 ayat 10 huruf c., h. 6

membaca dengan normal. Misalnya pada tulisan: baju (dibaca be a dan je u) anak-anak akan sulit menghilangkan ejaan ‗be a dan je u‘ untuk bisa membaca baju.101

Selaras dengan pendapat Nurani Musta‘in, pendapat lain juga mengatakan bahwa bisa dibayangkan bahwa jika anak haruskan mengenal nama-nama huruf terlebih dahulu sebelum membaca, maka akan sangat sulit dan sedikit berkorelasi pada tujuan belajar membaca, mengingat mengenal nama huruf memerlukan disiplin ilmu tersendiri.

Dalam Bahasa Indonesia, huruf dibagi menjadi empat kelompok, yakni :

1. Huruf vokal atau huruf hidup

Huruf Vokal adalah bunyi ujaran akibat adanya udara yang keluar dari paru-paru tidak terkena hambatan atau halangan. Jumlah huruf vokal ada 5, yaitu a, i, u, e, dan o.

2. Huruf Konsonan atau Huruf Mati

Huruf Konsonan adalah bunyi ujaran akibat adanya udara yang keluar dari paru-paru mendapatkan hambatan atau halangan.

Jumlah huruf konsonan ada 21 buah, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

3. Huruf Diftong atau Huruf vokal Rangkap

Huruf diftong adalah gabungan dua buah huruf vokal yang menghasilkan bunyi rangkap. Dalam Bahasa Indonesia huruf diftong berbentuk ai, au, dan oi. Contoh : Bangau, Pakai, Sengau, Perangai, dsb.

4. Huruf konsonan rangkap

Gabungan dua huruf konsonan ada 4 buah dalam bahasa Indonesia, yaitu : kh, ng, ny, dan sy. Contohnya : nyamuk, syarat, kumbang, khawatir, dsb.102

Memahami bahwa keterampilan membaca merupakan kemampuan pokok dalam bahasa dan menjadi alat komunikasi yang penting, diberbagai negara justru menjadikan pengenalan membaca sebagai program unggulan disetiap jenjangnya, termasuk jenjang usia dini, negara-negara tersebut diantaranya Finlandia, Jepang dan sebagainya.

Negara menghendaki dengan memiliki kemampuan membaca pada anak usia dinianak memiliki kesiapan mental untuk mengahdapai pendidikan

101 Nurani Musta‘in, Anak Islam Suka Membaca, (Solo: Pustaka Amanah, 2012), cet.

57, h. 11-12

102 Macam-Macam Huruf atau Aksara dalam Bahasa Indonesia, [Online]. Tersedia di, http://www.organisasi.org/1970/01/macam-macam-huruf-atau-aksara-dalam-bahasa-indonesia.html, [akses, 7 Januari 2020]

lebih lanjut, disamping itu dengan membaca semua hal menjadi mudah termasuk objek pendidikan yaitu ilmu pengetahuan.

Berdasarkan hasil-hasil ilmiah yang dilakukan berbagai Perguruan Tinggi ternama di Indonesia dan beberapa ahli, tidak ada satupun bukti yang menghubungkan antara belajar membaca dengan penyakit mental hectic, dan tidak ada dampak negatif yang perlu ditakutkan dari pengenalan membaca pada anak usia dini, baik membaca diajarkan secara langsung atau tidak langsung. Jika pendapat dan ketentuan tanpa didasari data dan fakta maka dapat merusak tatanan, nilai-nilai, tujuan dan prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan itu sendiri.

Padahal berbagai ketentuan perundang-undangan menghendaki program membaca merupakan program yang harus dibudayakan dan menjadi prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan.

Dalam hal membaca, dilain pihak membaca merupakan kebutuhan yang utama dalam proses penddikan namun dilain pihak menentangnya untuk diijadikan program utama pendidikan, terutama pada pendidikan TK/RA. Sistim yang baik dapat dengan mudah diimplementasikan oleh setiap kelembagaan dan masyarakat secara umum dengan mudah pula.

Hal ini dapat dilakukan dengan merekonstruksi kembali sistim tujuan pendidikan usia dini.

Sementara itu menurut UU Sisdiknas No. 20/2003, pasal empat ayat lima; tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan bahwa,

―Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.‖103

Selaras dengan UU Sisdiknas, dalam Permendikbud No. 137/2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini menyebutkan pentingnya membaca dan kemampuan sebagai standar kemampuan dalam aspek bahasa dalam standar isi PAUD, ketentuan tersebut berbunyi, ―Keaksaraan, mencakup pemahaman terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dalam cerita.104

TK/RA sebagai kelembagaan formal yang berada dalam jenjang PAUD memiliki peran yang sangat vital utamanya mendidik anak usia dini dan mengikuti jenjang pendidikan lanjutan. Mempersiapkan anak untuk memiliki kemampuan membaca merupakan suatu keutamaan

103 Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003..., h. 4

104 Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), pasal 10 ayat 5 huruf c., h. 6

dalam rangka memenuhi tuntutan pada kurikulum di jenjang SD. Hal ini dikarenakan muatan materi pelajaran SD menuntut siswa memiliki ketrampilan membaca. Baik pada Kurikulum 2004/2006 dan Kurikulum 2013.

Fenomena tentang perlunya belajar membaca, menulis dan berhitung sejak anak usia dini akhirnya banyak memunculkan berbagai metode dan teori, diantaranya;

1. Glenn Doman dengan kartu flash-nya, dimana ia menunjukkan bahwa pada bayi jauh lebih mampu belajar dari yang kita bayangkan;

2. Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Amerika, tentang cara memandang calistung sebagai sebagian kecil keterampilan yang seharusnya diperoleh anak, seperti motorik dan sensorik;

3. Dr. Marian Diamond, Profesor University of California-Berkeley, menyimpulkan bahwa pada umur berapapun semenjak manusia lahir hingga meninggal dunia sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan

4. Elisabeth G. Hainstock, Penemu metode montessori, menyatakan bahwa puncak perkembangan otak anak adalah saat usia pra sekolah.105

Dari pendapat dalam persfektif para ahli lainnnya, jika pengenalan membaca sebagian pendapat mengatakan bahwa itu adalah pelajaran yang sulit, maka bukan membacanya yang dilarang, namun mencari konsep dan metode yang tepat dan mudah untuk mengupayakan anak dapat memiliki kemampuan membaca sejak usia dini yang perlu dilakukan. Sebagaian para pakar mengatakan bahwa anak usia dini dapat diajarkan sejarah, geografi dan sebagainya.

Berasarkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan dan data tersebut sebagai kesimpulan bahwa prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dan standar isi dalam aspek bahasa dalam ketentuan adalah, upaya mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung, hal itu sesuai dengan UU Sisdiknas N0. 20/2003 dan Permendikbud No. 137/2014 sebagaimana diuraikan sebelumnya.

105 Bunda Ranis, Pro Kontra Mengajarkan Calistung pada Anak Usia Dini. [Online].

Tersedia di,

http://www.bimba-aiueo.com/pro-kontra-mengajarkan-calistung-pada-anak-usia-dini/[akses, 9 Agustus, 2020]

Pemaknaan jenjang program pembelajaran pada TK/RA sebagai jenjang formal dalam satuan pendidikan PAUD telah secara tegas mengamanatkan program pengenalan membaca pada program pembelajaran formal. Hal ini karena sebagai lembaga dan jenjang pendidikan dalam sistem pendidikan nasional, keberadaan TK/RA merupakan jenjang persiapan memasuki jenjang SD sebagai jenjang terstruktur dan sistemik.

Jika menggunakan prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan sebagai asumsinya, maka pengenalan membaca pada TK/RA menjadi suatu keniscayaan. Namun karena subjek belajarnya adalah anak usia dini, pengenalan membaca harus dilakukan secara terpadu, terintegrasi dengan prinsip-prinsip metode pendidikan dan aspek-aspek perkembangan anak usia dini. Pertanyaannya bukan lagi apakah anak usia dini bisa diajarkan membaca, namun bagaimana cara mengajarkan membaca pada anak usia dini.

Peranan negara dalam mengupayakan kajian-kajian ilmiah dalam mencari solusi program pengenalan membaca di jenjang TK/RA sebagai jenjang formal anak usia dini, merupakan hal yang mendesak, karena menyangkut hajat hidup jutaan manusia. Disamping menyediakan sarana dan prasarana serta regulasi yang menunjang program pengenalan membaca pada anak usia dini menjadi sangat penting.

Berdasarkan pendapat para ahli, ketentuan dan analisis diatas sebagai kesimpulan yaitu, perbedaan sudut pandang tentang fitrah dan potensi anak usia dini menjadikan pendapat, namun perbedaan itu merupakan dinamika pemikiran. Pada konteks pengenalan membaca, merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran oleh karena itu pelarangan yang ditindak lanjuti dengan lahirnya regulasi dan ketentuan seharusnya didasari pada bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga pengenalan membaca yang dilakukan dengan metode yang kurang tepat juga akan membahayakan potensi kecerdasan dan perkembangan anak usia dini.

Sebagaimana larangan mengajarkan membaca secara langsung pada jenjang TK dalam Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional No.1839/C.C2/TU/2009, tanggal 23 April 2009, pada angka lima, huruf d, hal itu bertolak belakang dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003, yang menjadikan program membaca, menulis dan berhitun sebagai prinsip pengembangan dan pembudayaannya. Larangan tersebut juga bertentangan dengan, Permendikbud No. 137/2014, tentang standar nasional pendidikan anak usia dini menyebutkan pentingnya membaca

sebagai salah satu standar pencapaian perkembangan dalam aspek bahasa.

Oleh karena itu konsep pengenalan membaca harus dirancang secara terpadu, terintegrasi, terkoneksi dengan subjek belajar dan objek belajar. Kajian-kajian secara komprehensif secara berkesinambungan harus terus diupayakan utamanya peran serta para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk merumuskan dan membangun paradigma dan pembudayaan membaca melalui pengenalan membaca diusia dini sebagaimana Negara-negara maju menerapkan konsep tersebut, hal itu agar pendidikan mampu menuju kemajuan sebagaimana bangsa-bangsa lain, menerapkan program pengenalan membaca diusia dini.

Dengan demikian problematika dan kontroversi pengenalan membaca pada anak usia dini tidak menjadi polemik yang berkepanjangan ditengah masyarakat pada umumnya dan dunia pendidikan khususnya tanpa solusi.