BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN
B. Pengenalan Membaca Untuk Anak Usia Dini dalam
Pengenalan membaca untuk anak usia dini merupakan proses yang sangat penting. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bersumber dari al-Qur‘an. Al-Qur‘an menempatkan perintah membaca sebagai tugas pertama dari wahyu pertama untuk manusia. Sebagaimana terkandung makna yang sangat luas dan dalam pada ayat, terjemah dan tafsir surat al-‗Alaq ayat satu sampai lima.
Penerapan membaca pada anak harus mengikuti aspek kemampuan, minat dan bakatnya, karena sifat dasar anak baru lahir adalah suci, sebagaimana hadis Rasulullāh saw,
ْيَ
لع َ الله ُ َّ
لَ َص ِالله ُل ْونِ ُس َر َلاَ ق : َلاَ
ق ُ هْ
نع َ ُ
الله َ ب ِض َر َ ة َرْي َرُ
ٰٓ ْ ِ يَ إ ْنعَ ٍدْونُِل ْونِ َم ُّلُك : َمَّل َس َو ِه
) ْم ِل ْس ُمَو ىِرا َخُبْ لإ ُ
هإ َو َر( ِهِن َسِّج َمُي ْوَإ ِهِنَ ِّصَِّنُي ْوَ إ ِهِنإَ
د ِّونِ َهُي هإ َونَِبُ َ اَ
ف ِةَر ْط ِفْ لإ َ
لََ ع ُ
دَ ل ْونُِي
Dari Abu Hurairah ra, Ia berkata: Rasulullāh saw bersabda : ‗Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.‘ (HR. Bukhari dan Muslim).9
Sedangkan tentang perintah mendidik anak diantaranya untuk membaca al-Qur‘an,
Sabda Rasulullah saw,
: َلاَ ق ُ
هْ نع َ ُ
الله َ ب ِض َر ٍّ ب ِلَع ْنَ عَ ُل ْونِ ُس َر َلاَ
ق : َمَّ
ل َس َو ِهْيَ
لع َ الله ُ َّ
لَ َص ِالله ْمُ
كَ د َ
لْ ْوَ إ إ ْونُِبِّ
دَ إ ِظ ْ ب ِف ُ َ
أ ْرُ قْ
لإ َ ةَ
ل ْم َح َّ
ِإَ ف ِ َ
أ ْرُ قْ
لإ ُ ةَ
أ َر ِق َو ِهِتْيَب ِل َْٰٓ
إ ِّب ُح َو ْمُ كِّيِبَ
ن ِّب ُح : ٍلا َص ِخ ِث َ لََ
ث َ لَعَ ِّل
َي ِف ْصَإ َو ِهِهاَيِبْ نَ
إ َ َم ُ هَّ
ل ِظ ظل ِظ َ لْ َم ْونَِي ِالله ) ِمَ
لْيَّ
دلإ ُ هإ َو َر( ِهِها
8 Departemen Agama..., h. 598
9 Mangun Budiyanto, Mempertanyakan Pembelajaran Membaca Al-Qur‟an Untuk Usia Taman Kanak-kanak, [Online]. Tersedia di,
https://mangunbudiyanto.wordpress.com/2010/12/09/mempertanyakan-pembelajaran-membaca-al-quran-untuk-usia-taman-kanak-kanak/, [akses, 17 Februari 2020]
Dari Ali ra ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ‗Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca al-Qur‟an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi al-Qur‘an akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya‘. (HR. Ad-Dailami).
Dalam hadis lain Rasulullāh saw bersabda,
َع ُ َّللَّإ َّ
لَ َص ِ َّ
للَّإ ُلونِ ُس َر َلاَ ق : َلاَ
ق ، ٍساَّب َع ِنْبإ ِنعَ ِ ت ِغ َّصلإ ِملا ُغْ
لإ ُ ظْ
ف ِح َمَّ
ل َس َو ِهْيَ ل ِءا َمْ
لإ َ لََ
ع ِباَ ت ِكْ
لاَ ك ُ ُ تْ
كَي ا َم َ
د ْعَب ِلُجَّرلإ ُظ ْف ِح َو ، ِر َج َحْ لإ ب ِف ِشْ
قنلاَّ َ ك
-Dari Ibnu Abbas, Rasulullāh Shallallāhu ‗alaihi wa sallām bersabda; ‗Hafalan anak kecil bagaikan melukis/mengukir di atas batu dan hafalan anak seorang dewasa bagaikan menulis diatas air‘. (Hadits Marfu‘ diriwayatkan oleh Khatib dalam al-Jami‘nya).
Membaca merupakan aktifitas menuntut ilmu, menuntut ilmu hukumnya wajib bagi Muslim. Oleh karenanya setiap muslim memiliki kewajiban untuk itu, dengan tanpa melihat batasan usia, sebagaimana hadis
Rasulullāh saw,
ٍم ِل ْس ُم ِّلُك َلَ َع ٌة َضْيِرَ بلط ف ِمْ
ل ِعْ لإ
-Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap Muslim (HR. Ibnu Abdil Barr).
Jika diperbandingkan kapan waktu yang tepat mengajarkan membaca pada anak, dapat merujuk kepada bagaimana Rasulullah saw menuturkan dalam sebuah hadis tentang perintah mengajarkan shalat yaitu saat anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan kirinya.
Biasanya anak dapat mengenal tangan kanan dan kirinya saat berusia 2-7 tahun (fase pra operasional). Rasulullāh saw bersabda,
َثَّ
َ د َح ثَّ
د ّح ، ٍبْ
ٰٓ َو ُنْب ِإ اَ نَ
ثَّ
د َح ، ُّىِرْه َملْإَد ْوإَد ُنْب ُ ا َمْيَل ُس اَن
َثَّ
د َح ، ٍد ْع َس ُنْب ُما َش ِٰٓاَن ْ ن
َم ِلا َلاَ قَ
ف ، ِهْيَ لَ
ع اَ نْ
لَ خَ
د : َلاَ ق ُّ ن َه ُجلْ
إ ِبْيَب ُخ ِنْب ِالله ِدْبَع ُنْبُ ذا َع ُم
ِّلَ َصُي َرن َم : ِهِتَ أر
ُّ ِ ن َّصلإ َر َ
اَ ك : ْ َ
لاَ قَ
ف ؟ فَ
ْ
ذَي َّن ِم ٌلُج ْونِ ُس َر ْنع ُرَ ُ
ك َلاَ
قَ ف ، َ
ك ِلَ ذ ْنَ
ع َلِئ ُس ُهَّنَإ صلى الله عليه وسلم ِالله ِل ِةَ
لا َّصلاِب ه ْو ُر ُمُ َ
ف ِه ِلا َم ِش ْن ِم ُهَنْي ِمَي َفَرَعإَ ذ ِإ
Dari Hisyam bin Sa‘d dia berkata, ‗Pernah kami pergi rumah Mu‘adz bin Abdullāh bin khubaib al-Juhni lalu dia berkata kepada istrinya, Kapankah anak itu harus mengerjakan sholat? maka istrinya berkata,‘ seorang diantara kami menyebutkan dari Rasulullāh saw bahwasannya beliau pernah ditanya tentang itu, maka beliau
bersabda, ‗Apabila anak itu telah mengetahui kanan dan kirinya, maka suruhlah dia mengerjakan sholat ‗. (HR.Abu Dawud).10
Menurut Pendidikan Islam waktu yang tepat untuk pengenalan membaca yaitu sejak anak bisa bicara, bahkan adak dapat dibacakan ayat-ayat al-Qur‘an, kisah dan irama ketika masih dalam kandungan, karena ia mendengar dan melihat. Sebagaian para ahli lainnya menyuruh mengenalkan bacaan sejak usia tiga tahun.
Diantara metode Rasulullah saw dalam pengenalan membaca adalah metode Talaqqai (bertemu) yaitu bertemu untuk menerima bacaan dengan berulang-ulang. Nabi Muhammad saw adalah sosok yang ummi (tidak dapat membaca menulis) dan diutus ditengah umatnya yang buta huruf. Tentang Rasulullāh saw buta huruf dan berada ditengah kaum yang buta huruf, ditegaskan dalam al-Qur‘an. Firman Allāh swt,
ن ِۡ
لۡئ َو ِةَٰى َر ۡونَِّتلئ ف ۡمب ِ ُ
ٰٓدن ِع اًبوُتۡك َم ۥُهَنو ُد ِجَي ي ِذَ َّ
لئ َّ بمُِّّ ۡ لۡئ َّ ب ِ نَّ
نلئ َلونِ ُس َّرلئ َ ونِ ُعِبَّ
ت َي َني ِذَّ
ِلي ِج لئ
َٰٓ َب َخۡلئ ُمِهۡيَل َع ُم ِّر َحُي َو ِ َٰ َبِّي َّطلئ ُم ُهَ
ل ُّل ِحُي َو ِرَ كن ُمۡ
لئ ِنع ۡم ُهَٰى َهَ ۡ
نَي َو ِفو ُرۡع َمۡلٱِب مُ
ٰٓ ُر ُمۡ
َ س َي ث ِئُ هو ُ َصَِّ
ن َو هو ُرُ زَّ َ ع َو ۦ ِهِب ْ
إونُِ
ن َمإ َء َني ِذَّ
لٱَ
ف م ِهٓۚۡ ۡيَل َع ۡ َناَك ب ِرنَّ
لئ َل َٰ َ لۡ
غَ ۡ لۡئ َو ۡمُ
ٰٓ َ ۡصۡ ِؤ ۡم ُهۡن َع ُ َضَي َو
َ ونِ ُح ِلۡ ف ُمۡ
لئ ُمُ
ٰٓ َ ك ِئَٰٓ َل ْوُ
أ ٓۥُ ه َع َم َلِزنُ
أ ٓي ِذَّ
لئ َرونُِّ
نلئ ْ إونِ ُع َبَّ
تئ َو ١٥٧
(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-A‘raf [7]: 157)11
Mengenai kaum Nabi Muḥammad saw sebagai kaum buta huruf, juga diterangkan dalam al-Qur‘an.
Firman Allāh swt,
ِّي ِّمُ ۡ لۡئ ب ِف َ
ث َعَب ي ِذَّ
لئ َونُِ
ٰٓ
َ لع َ ْ
إونُِ لۡ
تَي ۡم ُهۡ
ن ِّم لْونِ ُس َر َن َب َٰ َ
ت ِكۡ لئ ُم ُه ُمِّ
ل َع ُي َو ۡم ِهيِّ
كَ
زُي َو ۦ ِهِتَٰ َيإَء ۡمِهۡي
ٖ يِبُّم ٖلَٰ َ ل َ
ض ب ِقَ ل ُلۡبَ
ق ن ِم ْ إونُِ
ناَ
ك ِإَو َة َمۡك ِحۡ لئ َو ٢
10 Hadis ini terdapat pada kitab shalat dengan nomor hadits 497 halaman 243 Sunan Abu Dawud juz 1, dikutip oleh, Tamamul Wafa‘, Tafsir Hadits Tentang Orangtua Mengajarkan Sholat Ketika Anak Telah Mengetahui Tangan Kanan Dan Kiri.
11 Departemen Agama…, h. 171
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (as-Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. al-Jumu‘ah [62]: 2)12
Namun para ahli menyebutnya bahwa Rasulullāh saw tidak dapat membaca dalam arti tekstual (mekanis), bukan membaca dalam makna yang luas (pemahaman). Hal itu adalah Rahasia dan Kehendak Allāh swt.
Dimasa Raslullah saw, bacaan al-Qur‘an saat itu belum memiliki titik dan tanda harakat (tanda baca), hanya berupa simbol-simbol tulisan, maka bacaan al-Qur‘an saat itu menjadi bacaan yang sulit diajarkan kepada umat Islam. Salah satu cara untuk memudahkan membaca al-Qur‘an saat itu dengan metode menghafal dengan „Talaqqi‟ yaitu membacakan bacaan dengan berulang-ulang sehingga menjadi hafal tanpa melihat teks.
Hal itu didasarkan pada firman Allāh swt,
ۥُ هَ
نإ َء ۡرُ ق َو ۥُ
ه َع ۡم َج اَ نۡيَ
لع َ َّ
ِؤ ١٧
ۥُ
هَ نإ َء ۡرُ
ق ۡ ِبَّ
تٱَ ف ُ
ه َٰ َ نۡ
أ َرَ ق إَ
ذ ِإَ ف ١٨
17) Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18) Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. (QS. al-Qiyāmah [75]: 17-18).13
Metode Talaqqi, sangat efektif bagi para penghafal al-Qur‘an yang memiliki daya ingat ekstra dan anak-anak dibawah umur yang belum mengenal baca tulis. Metode ini adalah metode pertama dilakukan Rasul dalam mengajarkan Qur‘an kepada sahabat. Rasul menerima al-Qur‘an dari Jibril as., dengan cara mendengar bacaan Jibril sebagaimana Jibril menerima pertama kali dari Allah swt. Jibril mendengar ayat-ayat dari Allah swt kemudian menyampikannya kepada Rasul saw.14
Oleh karena Rasulullah saw sosok yang buta huruf, namun memiliki upaya yang sungguh-sungguh mengajarkan membaca ditengah kaum yang juga buta huruf metode tersebut merupakan kemestiannya.
Tentang Rasulullāh saw mengajarkan kepada sahabatnya dengan membacakannya (talaqqi) yaitu didasari pada, Firman Allāh swt (Q.S. al-Jumu‘ah [62]: 2) yang telah disebutkan bahwa, ―Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka…‖.
12 Departemen Agama…, h. 554
13 Departemen Agama…, h. 578
14 Farid Wajdi dan Masagus Fauzan Yayan, Quantum Tahfiz, (Palembang: YKM Pres, 2010), h. 172
Ditengah semangat kaum muslimin untuk belajar membaca dan mempelajari al-Qur‘an, mulailah muncul berbagai permasalahan terutama karena bentuk tulisan al-Qur‘an berupa simbol-simbol yang menurut umat saat itu sulit untuk dibaca dan banyaknya perubahan cara baca dalam struktur bahasa Arab yang dipraktekkan oleh umat dari suku non Arab. Maka dilakukan upaya inovasi berupa penambahan tanda-tanda titik dan harakat dengan tanpa merubah substansi bacaan al-Qur‘an itu sendiri.
Menurut Donny Achmadi bahwa, namun ketahuilah sesungguhnya bahwa proses ‗Membaca‘ yang Rasulullāh sebutkan dalam banyak riwayat hadits adalah proses membaca al-Qurān yang berasal dari ingatan atau hafalan (Hifzh fish shuduur) bukan bacaan yang berasal dari tulisan (fish shutuur), karena begitulah awal mula al-Qurān diturunkan juga berasal dari ingatan, sebagaimana proses turunnya wahyu al-Qurān dari Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril as dengan sebuah proses yang disebut dengan metode Talaqqi.
Metode Talaqqi yang luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi kita semua dalam menuntut ilmu Al-Quran yaitu metode Talaqqinya Nabi Muhammad saw kepada Malaikat Jibril as, ayat demi ayat dibacakan dengan tartil kemudian Rasul mengikutinya sebagaimana bacaan yang disampaikan oleh malaikat Jibril, bahkan metode ini Allah ceritakan didalam Al-Quran ketika Allah swt sedikit memperingatkan Nabi Muhammad saw untuk tidak terlalu cepat mengikuti bacaannya Malaikat Jibril ketika al-Qur‘an dibacakan kepadanya karena dengan harapan lebih cepat menguasai dan menghafalnya, padahal terekamnya bacaan al-Qur‘an yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ke dalam dada Nabi Muhammad saw itu adalah semata-mata tanggungan Allah swt.
Sebagaimana bisa kita simak didalam al-Qur‘an surat al-Qiyamāh ayat 16 – 18.
Dan mengingat dizaman Rasulullāh saw itu terdapat beragam suku bangsa dan kabilah Arab, dalam upaya memudahkan membaca menurut suku bangsanya maka tercetuslah model bacaan dengan nama Qira‟at Sab‟ah (tujuh macam cara membaca).
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa-bahasa mengenai satu makna;
dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka al-Qur‘anpun diturunkan sejumlah lafaz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu.
Dan jika terdapat perbedaan al-Qur‘an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.15
Pada fase Mekkah dan Madinah salah satu program utama pengajaran yaitu membaca dan menulis utamanya pada lembaga pendidikan Kuttāb tingkat pertama di Mekah dan lembaga Masjid di Madinah.
Sedangkan pada masa Daulah ‗Abbāsiyah abad II Islam mencapai puncak kejayaannya karena membaca menulis menjadi budaya bangsa.
C. Metode Pengenalan Membaca Yang Efektif Untuk Anak Usia