DAERAH PELAYANAN
A. Program Bangunan dan Lingkungan
1) Konsep Perancangan Struktur Bangunan dan Lingkungan
Konsep perancangan struktur tata bangunan dan lingkungan merupakan suatu gagasan perancangan dasar yang makro, dari intervensi desain struktur tata bangunan dan lingkungan yang hendak dicapai pada kawasan perencanaan, terkait dengan strutur keruangan yang berintegrasi dengan kawasan sekitarnya secara luas, dan dengan mengintegrasikan seluruh komponen perancangan kawasan yang ada.
Konsep perancangan struktur tata bangunan dan lingkungan di kawasan perencanaan Kota Amlapura dapat dirinci sebagai berikut:
a. Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan
• Kelompok bangunan niaga di sepanjang koridor jalan utama dengan ketinggian maksimal 3 lantai
• Kelompok bangunan hunian dengan ketinggian maksimal 2 lantai
• Kelompok bangunan akomodasi skala kecil (non bintang) dengan kepadatan sedang dan ketinggian maksimal 4 lantai.
b. Konsep Perancangan Struktur Tata Lingkungan • Jalan lokal sebagai aksesibilitas kawasan
• Jalur utama jalan sebagai jalan arteri dan kolektor yang bersifat linier 2) Konsep Komponen Perancangan Kawasan
Konsep ini memberikan suatu gagasan perancangan dasar yang dapat merumuskan komponen-komponen perancangan kawasan (peruntukkan, intensitas, dll). Komponen perancangan bangunan di kawasan perencanaan, meliputi:
• Penerapan konsep perpaduan langgam arsitektur pada setiap kelompok massa bangunan
• Konsep Sirkulasi Jalan
Secara lebih jelas, komponen perancangan kawasan diuraikan sebagai berikut:
Kelompok bangunan dengan massa bangunan deret (kopel), seperti niaga menggunakan langgam arsitektur tropis yang dipadukan dengan ornamentasi arsitektur lokal.
Satgas Randal Kab. Karangasem III-171 Kelompok bangunan dengan massa bangunan tunggal renggang atau tunggal
rapat, seperti perumahan menggunakan langgam arsitektur lokal yang dipadukan dengan arsitektur lokal lainnya
Kelompok bangunan dengan massa bangunan tunggal rapat atau berkelompok, seperti akomodasi non bintang menggunakan perpaduan arsitektur lokal dan arsitektur tropis.
Kelompok bangunan dengan massa bangunan tunggal renggang atau berkelompok, seperti akomodasi skala besar dan menengah menggunakan langgam arsitektur lokal dan arsitektur tropis.
Kelompok bangunan dengan massa bangunan tunggal rapat atau berkelompok, seperti perkantoran menggunakan langgam arsitektur tradisional lokal.
Kemudian, untuk sirkulasi jalan menggunakan konsep sebagai berikut: - Street picture : Penerangan jalan, rambu lalu lintas, halte - Struktur jalan dan geometrik jalan
- Signedsystem jalan : tata informasi jalan dan marka jalan - Parkir : on street parking dan off street parking
a. Konsep Struktur Peruntukan Lahan
Konsep struktur peruntukan lahan di kawasan perencanaan terdiri dari peruntukan lahan makro dan peruntukan lahan mikro. Konsep peruntukan lahan makro disesuaikan dengan peraturan zonasi Kawasan Kota Amlapura yang telah ada. Sedangkan, untuk konsep peruntukan lahan mikro dibagi kedalam segmen dengan rincian sebagai berikut:
- Segmen 1 diperuntukan untuk perdagangan jasa dan ruang terbuka hijau (RTH)
- Segmen 2diperuntukan untuk perdagangan jasa, perkantoran dan pendidikan
- Segmen 3 diperuntukan untuk perdagangan jasa, perumahan dan perkantoran
- Segmen 4 diperuntukan untuk perdagangan jasa dan perumahan
- Segmen 5 diperuntukan untuk perdagangan jasa, perumahan dan zona hijau
Satgas Randal Kab. Karangasem III-172 Intensitas pemanfaatan lahan di kawasan diatur melalui Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), dan Koefisien Tinggi Bangunan (KTB). Berikut ini pengaturan intensitas pemanfaatan lahan pada masing-masing blok, sebagai berikut:
Tabel 3.14 Konsep Intensitas Pemanfaatan Lahan pada tiap-tiap Segmen Kawasan Perencanaan
Segmen ProyeksiKDB (%) Bangunan (Lt)Tinggi KLB KDH (%) Segmen 1 80% 1-2 2,40 20 Segmen 2 80% 1-2 2,40 20 Segmen 3 80% 1-2 1,60 20 Segmen 4 80% 1-2 3,20 20 Segmen 5 80% 1-2 2,40 20
Sumber : Hasil analisis, 2015
Sedangkan, untuk masing-masing pemanfaatan lahan, konsep intensitasnya dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 3.15 Konsep Intensitas Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Penggunaan Lahan
di Kawasan Perencanaan Zona Kegiatan KDB Bangunan
Proyeksi (%) Tinggi Bangunan Proyeksi (Lt) KLB Bangunan Proyeksi
Perumahan 60% - 70% 2 2,40 20% - 40%
Toko, Ruko 80% 1 – 2 2,40 20%
Kantor 60% 2 1,20 40%
Fasilitas
Pendidikan 40 %- 60% 2 1,20 40% -60%
Sumber : Hasil analisis, 2015
c. Konsep Tata Bangunan dan Lingkungan
Untuk tata bangunan, konsep yang dikembangkan adalah pengaturan kelompok bangunan berdasarkan pemanfaatannya, yaitu sebagai berikut:
Satgas Randal Kab. Karangasem III-173 - Kelompok bangunan niaga di sepanjang koridor jalan utama dengan ketinggian
maksimal 3 lantai.
- Kelompok bangunan hunian dengan ketinggian maksimal 2 lantai.
- Kelompok bangunan akomodasi skala kecil (non bintang) dengan kepadatan sedang dan ketingian maksimal 4 lantai.
Konsep perancangan tata lingkungan yang dilakukan di kawasan perencanaan, meliputi perancangan aksesibilitas sebagai berikut:
- Jalur utama jalan sebagai kolektor yang bersifat linier - Jalan lokal sebagai aksesibilitas kawasan
d. Konsep Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
Sistem sirkulasi dan jalur penghubung yang terdapat di kawasan perencanaan cukup berfungsi dengan baik. Titik-titik puncak adanya tundaan kendaraan terutama di kawasan pendidikan, kawasan perkantoran serta kawasan perdagangan. Titik persimpangan besar yang ada di kawasan perencanaan yaitu perempatan Jalan A. Yani-Jalan KH. Samanhudi-Yani-Jalan Gn. Agung-Yani-Jalan Sudirman. Perempatan jalan ini direncanakan sebagai catus patha desa. Selain persimpangan besar tersebut terdapat juga persimpangan jalan dari kawasan perencanaan menuju kawasan sekitarnya seperti persimpangan Jalan Jeruk, Persimpangan Jalan Pesagi, Persimpangan Ksatrian, Persimpangan Jalan Kepaon Gebun dan Persimpangan Jalan Gajahmada.
e. Konsep Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau
Konsep sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau di Kawasan perencanaan dapat diuraikan sebagai berikut:
- Tiap 100 m2 ruang terbuka min. 1 pohon perindang.
- Taman telajakan min 0,5 m untuk perumahan kepadatan tinggi dan min 1 m untuk perdagangan jasa.
- Pada sepanjang koridor jalan tersedia tata hijau berupa pohon perindang maupun tanaman lainnya.
f. Konsep Tata Kualitas Lingkungan
Pecahayaan dengan alami maupun buatan yang dilengkapi dengan bukaan – bukaan yang besar untuk fungsi perdagangan jasa (restoran dan rumah makan). Sirkulasi pejalan kaki dalam perpetakan yang menuju sirkulasi pejalan kaki diluar perpetakan dengan perpaduan tutupan perkerasan dan rerumputan (grass block, paving block dll)
Satgas Randal Kab. Karangasem III-174 g. Konsep Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
1) Utilitas Bangunan
Tersedianya APAR dengan isi min 10 Kg
Smoke detector maupun fire detector untuk bangunan perdagangan jasa (Restoran, Rumah Makan, Café).
Pembuangan limbah tidak diperbolehkan dibuang di saluran drainase.
Menyediakan pengolahan limbah sendiri jika tidak terhubung dengan jaringan limbah kota.
Penyediaan tangga darurat untuk bangunan diatas 3 lantai yang menempel di luar dinding bangunan.
2) Utilitas Lingkungan
Penyediaan jaringan saluran drainase (tersier, sekunder dan primer) yang saling terhubung.
Tersedia jaringan sanitasi, air bersih, listrik dan komunikasi. Tersedia hydrant untuk pemadam kebakaran .
Menyediakan bidang peresapan seluas 1 m2 untuk setiap 100 m2 luas lahan yang diperkeras.
Tersedia tempat penampungan sampah