• Tidak ada hasil yang ditemukan

BLOK BBLOK A

DIBAGI MENJADI 4 SUB-BLOK

2) Pembiayaan Pembangunan

a. Manajemen Pembiayaan Pembangunan

Setiap usaha pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara akan mambutuhkan anggaran yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan sampai pada tahap pengendalian. Sehingga dalam setiap pembangunan wilayah perkotaan, disamping dibutuhkan suatu program dan rencana pengembangan yang terarah, terpadu, dan menyeluruh, juga sangat diperlukan perencanaan di bidang manajemen pengelolaan pembiayaan pembangunan.

Penggalian sumber-sumber pendapatan daerah perlu mendapat perhatian yang lebih besar guna mendukung pembiayaan dan belanja pembangunan daerah, agar daerah tersebut dapat tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri tanpa harus bergantung dengan sumber pendapatan dari luar. Tetapi dalam rangka pelaksanaan pembangunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Jalan Susuan - Padangkerta Kabupaten Karangasemini, sangatlah diperlukan upaya Pemkab Karangasem untuk melakukan penggalian dana yang bersumber dari kalangan dunia usaha (swasta/investor) maupun peranserta masyarakat.

Karena melalui keterpaduan antara program dan manajemen pembiayaan pembangunan serta keterlibatan secara aktif dari seluruh komponen pembangunan yang ada, akan dapat merealisasikan setiap rencana penataan dan program pengembangan yang disusun. Pelaksanaan pembangunan ditetapkan dalam 2 tahap periode lima tahunan. Tahapan lima tahun pertama pun dibagi lagi menjadi 5 periode jangka pendek 1 tahun anggaran.

Sesuai dengan strategi pembangunan yang ditetapkan atas dasar skala prioritas, rencana program investasi kemudian disusun pada masing-masing tahap pelaksanaan pembangunan yang mencakup :

• Kuantitas pekerja,

• Besaran rencana anggaran biaya, • Prakiraan waktu pelaksanaan, dan • Usulan sumber pendanaan.

b. Strategi Pembiayaan Pembangunan

Sumber-sumber penerimaan keuangan Kabupaten/Kota secara umum dapat dikelompokkan ke dalam penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan. Penerimaan rutin

Satgas Randal Kab. Karangasem III-243 berasal dari subsidi pemerintahan atau instansi yang lebih tinggi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan daerah , penerimaan dari dinas-dinas, dan penerimaan dari pinjaman daerah. Penerimaan pembangunan berasal dari subsidi pemerintah dan/atau instansi yang lebih tinggi, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan pinjaman daerah.

Sedangkan secara khusus, realisasi sumber pendapatan Kabupaten Karangasem terdiri atas :

• Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu. • Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang meliputi :

 Pajak Daerah,  Restribusi Daerah,  Laba Perusahaan Daerah,  Penerimaan dari Dinas-Dinas,  Penerimaan Lain-Lain

• Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak yang terdiri dari pos-pos :  Sumbangan.

 Bantuan.

• Penerimaan Pembangunan yang meliputi :  Pinjaman Pemerintah Daerah,  Pinjaman Untuk Perusahaan Daerah,

PAD merupakan salah satu sumber dana potensial bagi Pemkab Karangasem yang memungkinkan untuk dikembangkan dan ditingkatkan. Dalam pembiayaan pembangunan kota, selain mengandalkan PAD yang juga sangat penting adalah partisipasi masyarakat dan pihak swasta dalam membiayai pelaksanaan pembangunan. Dalam rangka pelaksanaan RTBL Kawasan Perencanaan, akan berkaitan erat dengan pembiayaan pembangunan yang sudah diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah serta mengacu pada UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai perubahan terhadap UU Nomor 18 Tahun 1997.

Di samping berpijak pada data komposisi penerimaan dan pengeluaran APBD, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah :

• Penerimaan dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. • Tingkat pertumbuhan pengeluaran keuangan daerah.

Satgas Randal Kab. Karangasem III-244 • Tingkat pertumbuhan ekonomi regional.

• Estimasi kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan prasarana.

Menyimak pesatnya pertumbuhan dan perkembangan fisik kawasan prioritas rencana, tentunya menambah beban dan tanggung jawab Pemkab Karangasem khususnya dalam pengadaan, pengoperasian, dan pemeliharaan sarana, prasarana, dan infrastruktur kawasan . Untuk itu, peningkatan PAD juga perlu disertai dengan upaya peningkatan pendapatan hasil swasta dan masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan program dan rencana penataan kawasan prioritas rencana, peran swasta perlu didorong agar memperbesar penanaman modal di sektor-sektor pembangunan yang sedang digalakkan pemerintah . Sedangkan peran serta masyarakat lebih banyak diarahkan pada upaya mambantu kelancaran pembebasan lahan dan pembiayaan fasilitas-fasilitas umum.

Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan banyaknya anggaran yang harus dikeluarkan untuk menangani permasalan perkotaan yang lain, menjadi kendala dalam memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat akan sarana, prasarana dan infrastruktur kawasan. Kondisi ini tentunya membutuhkan suatu perencanaan yang matang guna merumuskan keputusan dan kebijaksanaan sebagai upaya untuk memecahkan persoalan pembiayaan .

Selanjutnya, strategi yang ditempuh untuk membiayai pembangunan sebagai realisasi dari Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Jalan Susuan - Padangkerta Kabupaten Karangasemini terdiri atas :

a. Memantapkan prosedur , efisiensi , dan efektivitas proyek

Strategi ini ditempuh melalui upaya perbaikan prosedur perencanaan , penyusunan program rencana , dan manajemen anggaran pembiayaan . Penekanannya pada kejelasan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu kebijaksanaan , dasar hukumnya , dinas/instansi yang berwenang dan bertanggung jawab tang terkoordinasi dengan baik dan terpadu.

b. Mengurangi lingkup operasi sektor pelayanan

Pendekatannya dilakukan dengan menyerahkan sektor-sektor pelayanan tertentu kepada pihak swasta dengan mengijinkan menanamkan investasinya pada kegiatan tertentu yang telah ditetapkan, serta memberi dukungan (termasuk aspek kepastian hukum/asas legalitas) guna mengoperasikan melalui petode pengembalian secara langsung. Dalam realisasinya, aspek legalitas dan administrasi harus dirumuskan

Satgas Randal Kab. Karangasem III-245 secara jelas, tegas, dan pasti terutama yang berkaitan dengan hak, kewajiban, sanksi, dan denda sampai pada perlindungan hukumnya.

c. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi pihak swasta

Maraknya kegiatan dunia usaha di bidang kepariwisataan sepanjang kawasan perencanaan, merupakan potensi yang sangat besar dalam merealisasikan program dan rencana penataan yang telah disusun dalam RTBL. Kesadaran dunia usaha (pihak swasta) tidak hanya dituntut pada sosialisasi, tetapi yang terpenting adalah partisipasi dalam wujud kerelaan menyediakan lahan sekaligus mendanai setiap pelaksanaan program penataan terutama yang terkait langsung dengan lokasi kegiatan usaha mereka. Melalui strategi ini, akan terjalin suatu kerjasama yang baik dan memberikan keuntungan serta nilai tambah bagi kedua belah pihak.

d. Menumbuhkan dan meningkatkan aspirasi , partisipasi , dan peranserta masyarakat • Menumbuhkan aspirasi dan kesadaran masyarakat

• Peranan lembaga formal (Kelurahan dan Banjar Dinas) , lembaga non formal (LSM, Ormas, dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan) , lembaga adat tradisional (Desa Adat, Banjar Adat, Sekaa Truna, Sekaa Kesenian, dll) serta peranan tokoh-tokoh masyarakat diharapkan dapat manyerap aspirasi guna menumbuhkan kesadaran masyarakat. Strategi ini penekanannya dilakukan pada tahap sosialisasi program rencana penataan dan pengembangan kawasan.

• Meningkatkan partisipasi dan peranserta masyarakat

Strategi ini juga menuntut peran penting lembaga formal , lembaga on formal , dan lembaga adat-tradisional serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kawasan perencanaan. Hal ini diperlukan terutama pada tahap pelaksanaan pembangunan dari RTBL yang telah disusun . Peranserta masyarakat dapat dilibatkan dalam penggalan dana serta penyediaan lahan guna mendukung terwujudnya program dan rencana penataan serta pengembangan kawasan yang telah ditetapkan.