2.2 Landasan Teori
2.1.5 Konsep Tekanan Pekerjaan
Pada tahun 1962, beberapa peneliti pertama kali memperkenalkan konsep
“pressure” atau tekanan dalam bidang manajemen perusahaan sebagai salah satu pembahasan masalah yang berhubungan dengan stress dalam bekerja. Van Der dan Maes (1999) pernah menemukan lebih dari empat puluh definisi dari tekanan kerja dan akhirnya memutuskan bahwa belum ada konsep universal dari tekanan kerja sebagai hasil dari perbedaan sudut pandang dari berbagai penelitian.
Menurut Cook dan Rousseau (1984), tekanan didefiniskan sebagai sebuah emosi yang berhubungan dengan ketegangan mental yang diakibatkan oleh kelelahan.
Beehr (1994) mendefinisikan tekanan kerja sebagai sebuah kondisi yang berasal dari interaksi antara manusia dan pekerjaan disertai perubahan dalam diri manusia yang menyebabkan mereka menyimpang dari fungsi normal. Munz, Kohler dan Greenberg (2001) berpendapat bahwa tekanan adalah sebuah reaksi kegelisahan individu yang disebabkan oleh interaksi antara persyaratan dalam lingkungan dan karakteristik individu, dan stress adalah respon atau sebuah peringatan dini dari ketegangan yang berlebihan di beberapa aspek, dan ketika stress tersebut terjadi di tempat kerja, hal tersebut dinamakan tekanan kerja.
Kenyataan yang menunjukkan bahwa dewasa ini perkembangan yang semakin pesat di seluruh aspek kehidupan. Tingginya biaya hidup, semakin beratnya persaingan serta tuntutan hidup yang semakin meningkat dapat mengakibatkan tekanan kerja. Tekanan merupakan hasil dari interaksi antara tugas pekerjaan dengan individu-individu yang melaksanakan pekerja itu. Tekanan dalam hal ini adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Apakah ketegangan itu bersifat positif atau negatif
tergantung pada tingkat toleransi individu yangbersangkutan. Orang memberikan reaksi yang berbeda terhadap situasi yang dari luar nampaknya menyebabkan tuntutan fisik dan psikologis yang sama.
Beberapa individu menanggapi secara positif sebagai motivasi dan tanggung jawab yang ditingkatkan untuk menyelesaikan tugas pekerjaan. Individu lain menanggapi negatif, malahan mencari jalan keluar lain seperti alkoholik dan menggunakan obat-obat yang salah. Sehingga sangat diperlukan perhatian khusus bagi perusahaan berupaya mengadakan program untuk menangani pekerjaan yang menyebabkan tekanan. Masalah-masalah tentang tekanan kerja pada dasarnya sering dikaitkan dengan pengertian tekanan yang terjadi di lingkungan pekerjaan, yaitu dalam proses interaksi antara seorang karyawan dengan aspek-aspek pekerjaannya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ivancevich dan Matteson (1980) membagi penyebab tekanan menjadi penyebab tekanan pekerjaan yang berasal dari organisasi dan yang berasal dari luar organisasi; menekankan kepada pengaruh dari perbedaan individu dan persepsi dari tekanan dari masing-masing individu. Mereka mengklasifikasikan penyebab tekanan pekerjaan menjadi lima tipe dasar yaitu:
1. Kondisi psikologi 2. Faktor pribadi 3. Faktor dari tim 4. Faktor organisasi
5. Faktor dari luar organisasi
Diantara kelima faktor di atas, faktor pribadi meliputi pengembangan karir dan jabatan. Sedangkan faktor organisasi meliputi pergerakan organisasi, stuktur organisaasi, design pekerjaan dan tugas (Ivanevich, 1980). Pasuraman dan Alutto (1984) berpendapat bahwa penyebab tekanan pekerjaan adalah faktor lingkungan, variabel yang berhubungan dengan jabatan (seperti kapasitas kerja, task feature dan perhatian dari pimpinan), personal features (seperti karakteristik pribadi dan variabel demografi). Summer, et al (1995) mengklasifikasikan penyebab stress menjadi empat tipe yaitu karakteristik individual (seperti gender, jumlah tanggungan keluarga, dan lama bekerja), karakteristik sturktur organisasi (sentralisasi atau desentralisasi), karakteristik proses organisasi (seperti performance feedback, pengambilan keputusan). Siu, et al (2002) berpendapat bahwa tekanan kerja dapat dibagi menjadi beberapa kategori yaitu tekanan beban kerja, tekanan hubungan interpersonal, tekanan keseimbangan keluarga dan pekerjaan, tekanan peran manajerial, tekanan tanggung jawab pribadi, tekanan argumen, tekanan aktualisasi diri dan tekanan iklim organisasi.
Wang (2011) menyatakan bahwa tekanan yang dirasakan oleh karyawan bisa dibagi menjadi enam kategori yaitu tekanan dari pekerjaan itu sendiri, tekanan manajemen organisasi, ambiguitas jabatan dan konflik, hubungan interpersonal dan tekanan komunikasi, tekanan pengembangan karir dan tekanan kualitas pribadi. Tekanan dari pekerjaan itu sendiri meliputi stress yang diakibatkan oleh tugas atau pekerjaan, model dan proses kerja, hasil pekerjaan, yang diantaranya termasuk jam kerja, tanggung jawab, beban kerja, standar dan persyaratan kerja. Tekanan manajemen organisasi adalah stress yang yang diakibatkan oleh peraturan, regulasi dan tingkat demokrasi di dalam organisasi,
yang termasuk diantaranya tingkat rasionalitas dari korporasi, partisipasi karyawan dalam manajemen dan keadaan apakah saran dari karyawan digunakan oleh manajemen.
Ambiguitas dari jabatan adalah ketika karyawan merasakan ketidakpastian dari lingkungan kerja. Konflik jabatan adalah ketika karyawan baru merasakan ekspekstasi yang berbeda yang meliputi konflik antara individual, budaya organisasi dan ketidakcocokan antara tanggung jawab kerja dengan hak.
Hubungan interpersonal dan tekanan komunikasi secara umum adalah stress yang disebabkan ketika berkomunikasi dengan atasan dan berkoordinasi dengan rekan kerja. Tekanan pengembangan karir adalah stress akibat promosi, stress dari perencanaan karir, kekhawatiran tentang pengembangan prospek perusahaan.
Tekanan kualitas personal adalah adalah stress yang disebabkan oleh penambahan permintaan dan pengembangan sosial teknologi dan pengetahina dari kemampuan fisik dan personal.
2.1.4.2 Gejala-Gejala Tekanan Kerja
Adakalanya untuk mengetahui seseorang karyawan itu mengalami tekanan atau tidak itu susah, tetapi dengan mempelajari dan mengetahui gejala-gejala tekanan maka diharapkan dapat mengetahui apakah seorang karyawan itu mengalami tekanan atau tidak.
Menurut Hariandja (2009) tekanan emosi atau ketegangan yang dialami seseorang dan abstrak gejalanya, oleh para ahli dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu:
1. Gejala fisik
Perubahan-perubahan yang terjadi pada metabolisme organ tubuh seperti
denyut jantung yang meningkat, tekanan darah yang meningkat, sakit kepala dan sakit perut.
2. Gejala psikologis
Perubahan-perubahan sikap yang terjadi seperti ketegangan, kegelisahan, ketidaktenangan, kebosanan, cepat marah dan lain- lain.
3. Gejala keprilakuan
Perubahan-perubahan atau situasi dimana produktivitas seseorang menurun, absensi meningkat, kebiasaan makan berubah, merokok bertambah, banyak minum-minuman keras, tidak bisa tidur, berbicara tidak tenang, dan lain-lain.
Robbins (2017) mengatakan bahwa secara umum, seseorang yang mengalami stres pada pekerjaan akan menampilkan gejala- gejala yang meliputi tiga aspek, yaitu:
1. Physiological memiliki indikator yaitu terdapat perubahan pada metabolisme tubuh, meningkatnya kecepatan detak jantung dan napas, meningkatnya tekanan darah, timbulnya sakit kepala dan menyebabkan serangan jantung.
2. Psychological memiliki indikator yaitu terdapat ketidakpuasan hubungan kerja, tegang, gelisah, cemas, mudah marah, kebosanan dan sering menunda pekerjaan.
3. Behavior memiliki indikator yaitu terdapat perubahan pada produktivitas, ketidakhadiran dalam jadwal kerja, perubahan pada selera makan, meningkatnya konsumsi rokok dan alkohol, gelisah.
2.1.4.3 Dampak Tekanan
Sebelum berdampak positif, yaitu dapat memacu karyawan untuk berprestasi, disisi lain tekanan juga berdampak negatif, baik bagi individu yang terkena tekanan maupun bagi organisasinya. Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Robbins (2017) mengemukakan bahwa:
Adanya tekanan kerja tidak dengan sendirinya menyiarkan kinerja yang lebih rendah. Bukti menunjukan bahwa tekanan dapat berpengaruh secara positif atau negatif bagi kinerja karyawan. Bagi banyak orang tingkat tekanan yang rendah sampai sedang, memungkinkan mereka melakukan pekerjaannya dengan lebih baik, dengan meningkatkan kewaspadaan, kemampuan bereaksi, tetapi jika tingkat tekanannya tinggi atau bahkan tingkat sedang namun berkepanjangan, akhir- akhirnya kinerja akan merosot.
Lebih lanjut lagi Agoes menyatakan beberapa dampak negatif yang timbul dari tekanan, baik terhadap aspek fisik, fisiologis, perilaku, kesehatan, maupun organisasi. Beberapa dampak tersebut diantaranya:
1. Aspek subjektif, adalah akibat yang tidak berlaku umum, melainkan bersifat perindividu, artinya individu yang satu memungkinkan akan mengalami gejala-gejala yang berbeda. Akibatnya adalah, mudah gelisah, mudah menyerang orang lain, depresi dan mudah murung.
2. Aspek fisiologis, diantaranya mulut kering, sulit bernafas, tenggorokan bengkak, kadar gula darah meningkat.
3. Aspek perilaku, dampak tekanan terhadap perilaku ini berupa: mudah terkena kecelakaan, suka menggunakan obat-obatan, dan emosi sering meledak-ledak.
4. Aspek kognisi, dapat berupa: sulit mengambil keputusan, mudah lupa dan gangguan mental.
Sedangkan menurut Luthans (2006), dampak tekanan kerja pada karyawan adalah sebagai berikut :
1. Masalah kesehatan fisik :
a. Masalah sistem kekebalan tubuh,
b. Masalah sistem kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
c. Masalah sistem musculoskeletal, seperti sakit kepala dan sakit punggung.
d. Masalah sistem gastrointestinal, seperti diare dan sembelit.
2. Masalah Psikologis
Tingkat stres tinggi mungkin disertai dengan kemarahan, kecemasan, depresi, gelisah, cepat marah, tegang, dan bosan. Sebuah studi menemukan bahwa dampak stres yang paling kuat adalah pada tindakan agresif, seperti sabotase, agresi antar-pribadi, permusuhan, dan keluhan. Jenis masalah psikologis tersebut relevan dengan kinerja yang buruk, penghargaan diri yang rendah, benci pada pengawasan, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan, dan ketidakpuasan kerja.
3. Masalah perilaku
Perilaku langsung yang menyertai tingkat stres yang tinggi mencakup makan sedikit atau perubahan makan berlebihan, tidak dapat tidur, merokok dan minum, dan penyalahgunaan obat-obatan.
Beberapa pendapat para ahli diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa tekanan kerja dapat berdampak positif dan berdampak negatif.
Berdampak positif karena tekanan dapat meningkatkan produktifitas perusahaan, karena karyawan yang mengalami tekanan tersebut akan lebih waspada dalam pekerjaannya. Misalnya karena adanya kontrol yang berlebihan dari atasan.
Namun begitu meskipun produktifitas meningkat, tetap saja akan menimbulkan ketidakpuasan kerja dari karyawan tersebut karena karyawan tersebut akan merasa tegang, tidak tenang dalam bekerjanya, sehingga kalau tekanan ini berlangsung dengan cukup lama maka bisa saja akan menimbulkan penurunan motivasi dari pekerja tersebut karena tegang yang berkepanjangan dan akhirnya akan mengakibatkan sesuatu yang buruk bagi karyawan itu sendiri maupun organisasinya.
2.1.4.4 Penanggulangan Tekanan Kerja
Mengingat tekanan kerja dapat mengakibatkan dampak yang buruk seperti yang sudah diuraikan diatas, maka perlulah dicari cara untuk penanggulangan tekanan kerja. Di dalam bukunya, Hasibuan (2013) mengemukakan bahwa untuk mengetatasi tekanan dilakukan dengan pendekatan kejiwaan atau konseling.
Konseling adalah pembahasan suatuf masalah dengan seorang karyawan, dengan maksud pokok membantu karyawan tersebut agar dapat mengatasi masalah secara lebih baik, konseling bertujuan untuk membuat orang-orang menjadi lebih efektif dalam memecahkan masalah mereka. Adapun fungsi dari konseling adalah sebagai berikut:
1. Pemberian nasihat, yaitu dengan meyakinkan karyawan dalam pelaksanaan serangkaian kegiatan yang diinginkan.
2. Penentraman hati, yaitu dengan meyakinkan karyawan bahwa dia mampu untuk mengerjakan tugasnya asalkan dilaksanakan sungguh-sungguh.
3. Komunikasi, yaitu melakukan komunikasi dua arah, formal dan informal, vertikal maupun horizontal dan umpan balik harus ditanggapi manajer secara positif serta diberikan penjelasan seperlunya.
4. Pengenduran ketegangan emosional, yaitu memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk mengemukakan problem yang dihadapinya secara gamblang dan jangan diinterupsi sampai dia selesai mengemukakannya.