1. Struktur Sintaksis
4.4 Konstruksi Pemberitan Ashari-Yusuf
Norman Fairclough, telah membagi analisis wacana dalam tiga dimensi, yakni analisis teks, analisis discourse practice dan social-cultural practice.Peneliti sendiri telah melaksanakan analisis pada teks (mikro) berita terkait pemberitaan pasangan calon Ashari-Yusuf dalam keikutsertaannya di Pilkada Kabupaten Deli Serdang Tahun 2018 pada surat kabar Harian Waspada.
Tidak sampai disitu, peneliti kemudian melanjutkan analisis ketahap discourse practice, analisis ini berfungsi untuk mengetahui proses produksi, penyebaran, dan penggunaan teks (messo). Adapun fokus utama, peneliti membatasi hanya pada dua tahap dimensi saja, mengingat adanya keterbatasan waktu yang dimiliki, sehingga nantinya analisis tidak sampai kepada tahap analisis social-cultural practice (makro).
Untuk melihat konstruksi sebuah berita dapat dilakukan upaya analisis, salah satunya analisis framing model Pan & Kosicki. Analisis pada teks telah terlebih dahulu dilakukan, dengan mengumpulkan enam teks berita yang dimuat oleh Harian Waspada pada periode kampanye, yakni dari bulan Februari hingga Juni 2018. Tidak semua berita kampanye Ashari-Yusuf yang muncul di Waspada untuk kemudian dianalisis, sebab penyeleksian isu harus dilakukan, dengan fokus pada teks yang berkaitan dengan isu kepemimpinan pasangan calon saja.
Setelah peneliti melakukan analisis teks terhadap enam berita kampanye Ashari-Yusuf yang terbit di Waspada, dapat disimpulkan terdapat pembingkaian berita dengan menonjolkan beberapa aspek dalam upaya memberi citra positif terhadap pasangan calon yang dilakukan Waspada. Pembingkaian terlihat dari adanya upaya Waspada dalam memilih sumber berita, kutipan, dan foto yang ditampilkan, hingga pemilihan judul dan istilah yang digunakan dalam teks berita.
Upaya tersebut tentu saja bertujuan memberi citra positif untuk pasangan calon Ashari-Yusuf dalam Pilkada Deli Serdang 2018.
Sintaksis, merupakan susunan kata atau frase dalam kalimat, dalam wacana berita sintaksis dapat ditunjukkan melalui beberapa bagian berita anatara lain, judul berita, latar informasi, kutipan sumber, opini dan penutup dalam satu kesatuan teks berita secara keseluruhan. Konstruksi teks berita yang dilakukan Waspada, ditemukan dengan adanya penggunaan kata “kami”. Kata tersebut juga beberapa kali digunakan oleh wartawan dalam mengawali sebuah kutipan dari narasumber. Hal itu merupakan bagian dari kata ganti (diri, petunjuk) dalam kosakata dasar dari bentuk ragam leksikon itu sendiri. Tentunya kata ganti “kami”
dapat dimaknai bahwa ada keterwakilan dari mayoritas masyarakat yang turut serta berharap dan memberi dukungannya kepada pasangan calon Ashari-Yusuf.
Pemilihan tokoh masyarakat serta pemuka agama sebagai narasumber berita, juga menjadi pertimbangan Waspada dalam isi teksnya. Tokoh masyarakat dan pemuka agama dianggap masih memiliki pengaruh didalam kehidupan sosial masyarakat. Tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam hal ini, dianggap sebagai “Patron Klien”. Kebijaksanaannya serta prilakunya diharapkan mampu memberi pengaruh yang signifikan terhadap arah dukungan masyarakat.
Upaya konstruksi teks lainnya juga dilakakukan penulis berita, hal ini ditemukan dengan adanya pemilihanistilah dan kata-kata didalam penulisan teks berita. Peneliti juga memaknai, bahwa ada kaitannya dengan teknik-teknik dalam propaganda. Propaganda merupakan rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang.
Peneliti mendapati ada dua artikel berita dengan menggunakan teknik propaganda Transfer dan Glittering Generality. Berita yang berjudul “H.Ashari Tambunan Contoh Kepemimpinan Ummar Bin Khattab” yang dimuat pada tanggal 25 Mei 2018 dan berita “Masyarakat Galang Tidak Ragukan Kepemimpinan Ashari”
yang dimuat pada tanggal 2 Juni 2018.
Skrip, merupakan upaya melihat dan mengamati bagaimana strategi bercerita atau bertutur yang dipakai wartawan dalam mengemas peristiwa kampanye Ashari-Yusuf selama berlangsung serta kelengkapan berita yakni 5W+1H. Unsur ini juga merupakan sebagai strategi wartawan dalam mengonstruksi berita, suatu peristiwa dipahami melalui pemberian bagian
penekan, yakni bagian mana yang hendak didahulukan dan bagian mana yang diletakkan kemudian.
Menganalisis pada struktur skrip, Waspada sebenarnya telah memenuhi kaidah penulisan dengan memenuhi keenam aspek penulisan, yakni aspek 5W+1H. Untuk mendukung konstruksi pemberitaannya. Meski terdapat juga beberapa berita tidak melengkapi unsur 5W+1H dan masih kurang dalamnya penjelasan dari unusur “Who” yang memberi informasi mengenai latar belakang nara sumber. Namun secara keseluruhan laporan berita yang disusun sudah cukup lengkap.
Tematik, unsur ini merupakan bentuk pengamatan yang berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannya, atas peristiwa kampanye pasangan calon Ashari-Yusuf. Unsur ini juga menekankan bagaiaman wartawan dalam membuat proposisi, kalimat, atau hubungan antar kalimat dalam teks beritanya. Hasil analisis yang telah dilakukan, Waspada berupaya mengkonstruksikan berita dengan menekankan pada tema kepemimpinan sosok dari Ashari-Yusuf dalam setiap kegiatannya. Hal itu tergambar dari pemilihan judul berita, seperti mencontoh sosok Umar bin Khattab, Ngopi Bareng, serta masyarakat yang tidak lagi meragukan kepemimpinan Ashari-Yusuf.
Retoris, adalah bagian unsur lainnya yang bekerja mengatamati cara wartawan dalam menekankan arti tertentu, dengan kata lain, struktur retoris melihat pemakaianpilihan kata, idiom, grafik, gambar, yang juga dipakai guna memberi penekanan pada arti tertentu. Penggunaan kata-kata khusus dan foto berita menjadi unit analisis ini. Tidak hanya teks, foto berita kampanye Ashari-Yusuf turut menjadi hal yang dikupas sebagai bentuk penekanan fakta.
Pemilihan kata yang digunakan oleh wartawan dalam menyususn berita bertujuan untuk menekankan maskud tertentu pada pembaca. Penggunaan kata seperti “tidak diragukan”, “menikmati hasil”, dan “pembangunan”, dalam beberapa paragraf kerap ditampilkan dengan berulang-ulang. Tujuan utamanya jelas, berupaya mempersepsikan kepada pembaca terkait citra positif yang dimiliki pasangan calon Ashari-Yusuf pada keikutsertaannya di Pilkada Deli
Serdang Tahun 2018. Foto-foto kegiatan kampanye yang ditampilkan lebih dari satu, juga merupakan bentuk penekanan fakta Waspada dalam mengkonstruksi realitas yang ada.
Untuk lebih meyakinkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan lebih valid, maka peneliti juga bertanya langsung kepada Penanggungjawab Harian Waspada melalui sebuah wawancara. Ada beberapa poin yang peneliti peroleh dari hasil wawancara, yang hal tersebut merupakan bagian dari upaya konstruksi teks berita kampanye pasangan calon Ashari-Yusuf yang dilakukan Harian Waspada. Dikutip dari transkrip hasil wawancara dengan Penanggungjawab Harian Waspada yaitu Sofyan Harahap, peneliti mengajukan pertanyaan “Menurut anda, bagaimana sosok kepemimpinan Ashari dimata anda?” kemudian Penanggungjawab Waspada menjawab bahwa:
“Saya kurang dekat dengan beliau jadi tidak banyak tahu tentang sosok beliau. Namun secara umum saya melihat, karena beliau calon tunggal dan mampu berhasil menang, otomatis masih disukai oleh masyarakat. Hal itu harus dihargai juga, sebab tidak mudah menjadi calon tunggal bisa menang, soalnya seperti yang diketahui, ada juga calon tungga yang kalah dengan kotak kosong. Selanjutnya upayanya untuk mempengaruhi partai politik dan berhasil memborongnya semua itu juga tidak mudah. Bahkan calon-calon lainya melihat fenomena ini juga harus berpikir ulang dan intropeksi diri untuk mencalonkan diri, melihat lawannya dengan dana yang melimpah, dukungan mayoritas partai dan juga memiliki jaringan yang luas”(wawancara, 11 Juli 2019).
Pertanyaan ini bisa menjadi dasar bagi peneliti bahwa Penanggungjawab Waspada juga memiliki pandangan yang positif kepada pasangan calon Ashari-Yusuf.
Pertanyaan berikutnya, peneliti bertanya pernahkan pasangan calon Ashari-Yusuf meminta langsung kepada Waspada untuk melakukan peliputan kegiatan kampanyenya? Penanggungjawab Waspada menjawab bahwa “
“Biasanya tidak dari beliau langsung yang meminta, melainkan dari tim sukseknya yang datang ke kita, itu hal biasa. Hal itu tidak jadi masalah, mengingat kita juga punya indepedensi yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Selama berita itu punya news value bisa saja kita muat. Jika news value tinggi akan kita letakan di halaman depan, jika rendah di halaman dalam, bahkan tidak dimuat sama sekali. Kami juga menawarkan opsi, agar
berita tersebut untuk dibuat kedalam halaman khusus atau berita pariwara”
(wawancara, 11 Juli 2019).
Perlu diketahui Waspada menyediakan halaman khusus yakni artikel pariwara atau advetorial. Teks ini bisa saja wartawan yang langsung meliput dilapangan ataupun pihak redaksi menerima berita (release) dari si pemesan. Hal itu merupakan bagian dari strategi Waspada. Keterbatasan halaman “Pentas Pilkada menjadi alasan Waspada untuk mengalihkan kepada halaman khusus pariwara.
Peneliti kembali bertanya, apakah kegiatan kampanye Ashari-Yusuf pernah dibcarakan dalam rapat proyeksi? Penanggungjawab Waspada menjawab bahwa:
“Tentunya pasti ada dibicarakan dalam setiap rapat pagi, dan itu tidak hanya kegiatan kampanye Ashari saja, semua pasangan calon juga dibicarakan dalam rapat pagi. Karena itu merupakan salah satu tahapan penting sebelum liputan ke lapangan. Karena itu juga bagian dari SOP agar nanti hasilnya dapat maksimal” (wawancara, 11 Juli 2019).
Dari jawaban tersebut Penanggungjawab Waspada menyatakan rapat proyeksi tidak fokus membahasa salah satu pasangan calon saja. Halaman Pentas Pilkada yang dipersiapkan khusus untuk berita peliputan terkait pelaksanaan pilkada di berbagai daerah di Sumatera Utara, juga mencakup keseluruhan berita kegiatan pasangan calon lainnya yang sedang bersaing merebut kursi kepemimpinan.
Pertanyaan berikutnya mengenai mengapa ditemukan frekuensi pemberitaan pasangan calon Ashari-Yusuf yang cukup sering dimuat?
Penanggungjawab Waspada menjawab bahwa:
“Ya, tentunya jika selama berita itu baik pastinya akan selalu muncul, seperti kegiatan sosialisasi program, atau berkaitan dengan visi misinya dan itu merupakan sebuah hal yang penting untuk diberitakan dan diketahui masyarakat. Bahkan masyarakat menilai hal seperti itu juga penting bagi mereka, sehingga mereka tahu apa saja programnya dan setelah terpilih nantinya mereka mampu untuk dapat mengawal dan mengawasinya”
(wawancara, 11 Juli 2019).
Penanggungjawab Waspada melihat suatu berita berdasarkan pada indikator nilai beritanya (news value). Hal itu yang menjadi pertimbangan dan
acuan para Redaktur apakah layak dimuat atau tidak serta dimana nantinya berita tersebut akan diletakan pada halaman koran.
Peneliti kembali bertanya mengenai bagaimana upaya Waspada dalam mengimbangi pemberitaan tentang kolom kosong yang merupakan lawan dari Ashari-Yusuf dalam Pilkada Deli Serdang 2018? Penanggungjawab Waspada menjawab :
“Tentunya, kita juga selalu komperhensif, meski hanya sebagai calon tunggal, kita selalu tetap mengkritisi jika itu tidak baik dan melenceng.
Kritikan itu tetap ada, sehingga masyarakat melihat sudut pandang tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Tidak hanya bersumber dari tim sukses paslon saja, tapi mengimbanginya dengan mencari masukan atau sumber informasi dari pengamat maupun masyarakat” (wawancara, 11 Juli 2019).
Adanya upaya yang dilakukan Redaksi Waspada dalam mengimbangi pemberitaan pasangan Ashari-Yusuf. Meski dalam pengamatan peneliti hanya sedikit pemberitaan mengenai pemberitaan sosialisasi yang dilakukan oleh KPU Deli Serdang. Bahkan informasi mengenai kolom kosong juga tidak ada dalam isi teks berita yang dimuat. Meski bukan upaya memobilisasi pemilih pro kolom kosong, namun harus ada upaya edukasi dan informasi yang dilakukan KPU Deli Serdang dengan Harian Waspada sebagai corong berita ke masyarakat. Sebab fenomena pasangan calon melawan kolom kosong baru pada pada periode ini terjadi di wilayah Deli Serdang.
Peneliti kembali bertanya mengenai, bagaimana konstruksi realitas Harian Waspada dalam memberitakan kampanye?
“Dalam meliput berita kampanye, Waspada memiliki tiga tahapan pemberitaan. Pertama sebelum kampanye, kedua saat kampanye berlangsung dan ketiga pasca pilkada. Hal itu memang sudah program yang dirancang khusus oleh redaksi sebagai sebuah strategi pemberitaan. Masing-masing Redaktur kemudian akan berkoordinasi kepada wartawan disetiap daerah. Redaktur juga akan merancang TOR (Term of Reference) liputan yang akan diteruskan kepada wartawannya”.
“Salah satu produknya yakni halaman Pentas Pilkada, yang memuat berbagai pemberitaan pilkada serentak 2018 di Sumatera Utara. Namun dengan hanya satu halaman saja, hal tersebut tidaklah cukup bila semua ditampung di rubrik Pentas Pilkada. News value-lah menjadi indikator dalam menentukan apakah berita itu di halaman depan atau halaman dalam.
Jadi kebijakan media pasti sudah ada masing-masing sebab pilkada sebuah peristiwa besar, jadi persiapannya juga harus besar, timnya juga besar sehingga hasilnya maksimal” (wawancara, 11 Juli 2019).
Dari penjelasan yang diutarakan Penanggungjawab Waspada, bahwa tim Redaksi telah mempersiapkan dengan matang halaman khusus Pentas Pilkada, sebagai wadah berita seputar pemilihan kepala daerah serta kegiatan kampanye pasangan calondi berbagai wilayah di Sumatera Utara. Pembuatan halaman khusus seperti Pentas Pilkada merupakan bagian dari kebijakan redaksi di setiap media manapun.
Berbicara kebijakan redaksi (Policy) dalam memberitakan kampanye, Penanggungjawab Waspada mengatakan, masing-masing media tentunya memiliki kebijakan tersendiri. Kebijakan itu datangnya dari Pimpinan Redaksi.
Bisa saja berpihak pada calon yang mana, Parpol yang mana dan sebagainya.
Pimpinan Redaksi lah yang bertanggung jawab atas hal ini. Hal tersebut dainggap sebagai dinamika media, agar segala pemberitaan mengenai kampanye yang beredar tidak hanya seragam, serta melulu pro pada kebijakan salah satu calon saja, tetapi juga mengambil sisi kritisnya terhadap kebijakan calon. Yang paling utama kebijakan pemberitaan kampanye haruslah berimbang (cover both side).