4. Manfaat Penelitian
2.2 Penelitian Sejenis Terdahulu
Sebagai bagian dari komunikasi massa, pers memiliki peran dan fungsi penting sebagai dari saluran (channel) komunikasi politik. Peran pers di dalam komunikasi politik, telah mempertemukan berbagai kepentingan di ruang publik.
Saat pada posisi tersebut, maka pers telah menempatkan dirinya sebagai “ruang publik” bagi berbagai pihak untuk bertemu. Oleh karenanya, sebagai ruang publik, tempat bertemunya berbagai kepentingan, pers memiliki kekuatan dan pengaruh, dalam membentuk opini publik.
Terkait dengan pemilihan bupati, media pers dituntut memiliki peran secara demokratis mempublikasikan liputannya. Dalam konteks publikasi itu media, pers menjadi representasi dari kepentingan khalayak. Representasi itu diarahkan pada keberpihakan media kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan publik. Semua elemen memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan opini dan komunikasi politiknya di media pers secara rasional dan proporsional. Sebab, dalam pandangan Subiakto dan Ida (2012: 53), proses komunikasi politik yang terjadi, terutama di kalangan akar rumput (grassroot), dan beberapa di kalangan elit masih lebih banyak berbentuk kurang rasional.
Lebih lanjut disebutkan Subiakto dan Ida (2012:163), objektivitas media pers dalam pemilukada kadang kurang berkepentingan dengan esensi politik, melainkan menggunakan politik, utamanya political affairs, sebagai item bargaining atau tawar menawar yang bernilai ekonomi untuk pendapatan cash flow media kedepannya, jika calon yang didukungnya pada akhirnya menjadi penguasa daerah.
Hasil penelitian Dian dan Hendra (2017), menjelaskan bagaimana media massa dalam hal ini media cetak menkonstruksi pemberitaan Pilgub DKI Jakarta putaran kedua tahun 2017, dengan caranya masing masing. Penelitian itu mencoba membandingkan atau komparatif surat kabar Republika dan Harian Media Indonesia dengan mem-framing headline surat kabar itu pada sehari sebelum pencoblosan dan sesudah hari pencoblosan.
Model yang digunakan Dian dan Hendra, adalah framing model Entman.
Berdasarkan analisis framing yang dilakukannya terhadap berita headline sehari sebelum dan sehari sesudah pemungutan suara pemilukada DKI Jakarta putaran keduayang diterbitkan kedua surat kabar Republika dan Media Indonesia, terilihat pola yang signifikan dari kedua surat kabar dalam mengonstruksi keberpihakan mereka dalam pemilukada DKI Jakarta melalui praktik jurnalisme politik yang dijalankan berdasarkan kebijakan redaksinya.
Harian Media Indonesia dan Republika telah menunjukkan keberpihakannya dalam memberikan pelaksanaan pemilukada DKI Jakarta putaran kedua, walaupun konstruksi keberpihakan itu ditampilkan dengan framing yang berbeda berdasarkan pola praktik jurnalisme politik yang mereka anut.
Kedua media nasional itu juga berpengaruh aktif dalam menggiring opini publik untuk memberikan dukungan kepada salah satu pasangan calon dan pilgub DKI Jakarta putaran kedua. Tentunya hal itu tidak lepas dari latar belakang pendiri dan latar belakang ekonomi politik kedua media nasional tersebut.
Media massa dan penguasa memiliki kaitan yang erat dalam fungsinya.
Tidak hanya berfungsi mengawasi pemerintahan, disatu sisi media massa juga berperan dalam membangun citra positif penguasa. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan Nanda Rizki (2017), tesis yang berjudul Konstruksi Pemberitaan Tentang Bupati Bireuen Ruslan M Daud di Koran Serambi Indonesia, menjabarkan bagaimana sang Bupati digambarkan dengan citra diri yang positif pada kegiatan program pemberian beasiswa dan bedah rumah kepada masyarakat tidak mampu di Kabupaten Bireun di Koran Serambi Indonesia.
Model framing Pan dan Kosicki digunakan peneliti sebagai pisau analisisnya, yakni dengan membedah satu demi satu melalui empat strukturnya, yakni sintaksis, tematik, skrip dan retoris. Tidak berhenti pada analisis teks saja, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan redaktur dan wartawan dari Koran Serambi Indonesia tersebut sesuai relevansi terhadap tujuan penelitian.
Proses ini disebut juga dengan Discourse Practice Analysis guna mendiskusikan langsung dengan si pengkonstruksi berita itu sendiri, dalam hal ini orang-orang yang berada di balik dapur redaksi media Serambi Indonesia.
Dalam menganalisis teks, peneliti juga membagi dua isu berita, yang pertama mengenai berita program bedah rumah dan kedua berita program beasiswa. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat kontruksi pemberitaan tentang pencitraan Bupati Bireun pada program pemberian beasiswa dan bedah rumahkepada masyarakat tidak mampu di Kabupaten Bireun di Koran Serambi Indonesia yang dilakukan melalui proses framing atau pembingkaian oleh jurnalis atau penulis berita. Framing atau pembingkaian dilakukan dengan cara pemilihan sumber berita, pemilihan kutipan dari sumber berita, dan gambar yang mendukung framing pemberitaan. Pembingkaian berita juga dilakukan lewat pemilihan kata dan istilah yang digunakan dalam menyusun artikel berita sehingga menciptakan makna yang positif bagi citra diri Bupati Bireun.
Elina (2014), menggunakan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki dalam mem-framingberita Calon Presiden RI tahun 2014-2019, yang dimuat harian lokal Kaltim Post dan Tribun Kaltim. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif interpretatif. Peneliti membatasi periode pemberitaan yang dimuat kedua surat kabar lokal tersebut, yakni mulai dari tanggal 1-31 Desember 2013.
Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwah adanya pengaruh pemilik media memberikan dampak pada keberpihakan pemberitaan oleh media Kaltim Post sebagai salah satu surat kabar terbesar di Kalimantan Timur lebih menonjolkan sosok Dahlan Iskan didalam pemberitaannya. Tidak jauh berbeda dengan Kaltim Post, Tribun Kaltim juga lebih menonjolkan salah satu tokoh, yaitu Joko Widodo dalam setiap terbitannya. Pada sisi Teori Agenda Setting media
mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tersebut. Media mengatakan pada masyarakat apa yang penting dan tidak penting serta mengatur apa yang dilihat dan tokoh siapa yang harus didukung.
Fitra Ardiantoro (2010), dalam penelitiannya mengenai citra pasangan calon walikota dan wakil walikota periode 2010-2015 di Bandar Lampung, juga menggunakan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki sebagai pisau analisisnya, guna membedah berita yang dibuat Harian Umum Lampung Post edisi Juni 2010. Lampung Post sebagai media lokal menerbitkan halaman khusus dengan judul “Lampung Memilih Kepala Daerah”. Tentunya melalui halaman khusus tersebut Harian Lampung Post mempunyai pembingkaian tersendiri dalam mengkonstruksi berita-berita kepala calon kepala daerah yang maju dalam pertarungan.
Adapun tujuan dari penelitian ini, guna mengetahui bagaimana Harian Umum Lampung Post dalam mengkonstruksi empat aspek yang ada didalam model framing Zhandong Pan dan Gerald M. Kosicki yakni sintaksis, skrip, tematik dan retoris pada pemberitaan pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Bandar Lampung periode 2010-2015. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah studi dokumentasi dan wawancara. Sampel berita diambil sebanyak 7 berita, serta teknik penarikan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling.Kesimpulan dari penelitian ini adalah, bagaimana telah terjadi perang simbolik antara pihak yang berkepentingan terhadap isu ini. Media memiliki strategi wacana tersendiri dalam memaknai reaksi yang ditimbulkan dalam masalah pemberitaan seputar citra pasangan calon walikota dan wakil walikota Bandar Lampung periode 2010-2015, baik terkait visi misi, debat kandidat pasangan calon hingga kampanye.
Tidak hanya pada medium surat kabar yang menjadi sampel penelitian framing, media daring (online) juga tidak luput sebagai sampel penelitian, guna membedah berbagai berita yang telah melalui konstruksi. Ratih Cahya (2016) memilih membingkai berita pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada keikut sertaannya pada kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017. Media yang dipilih
adalah Sindonews.com dan Metronews.com pada periode tayang bulan Juli hingga September 2016.
Penelitian ini menggunakan model framing Robert N Entman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan konstruksionis.
Adapun sumber data yang diperoleh si peneliti, melalui data primer adalah teks berita metrotvnews.com dan sindonews.com yang tentunya berhubungan dengan realitas pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Untuk membatasi pemberitaan yang dimuat oleh kedua media, maka dipilih tanggal 27 Juli 2016 – 27 Agustus 2016. Ada empat aspek yang akan diuji melalui model framing Entman, yakni identifikasi masalah (define problems), identifikasi sumber masalah (diagnose cause), memuat keputusan moral atau evaluasi moral (make moral judgement) dan yang terakhir menekankan penyelesaian (suggest remedies).
Dari hasil analisis dan diskusi pembingkaian berita mengenai pencalonan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) di media Sindonews.com lebih banyak mengonstruksi Ahok sebagai sosok yang tidak konsisten dalam mengambil keputusan. Bahkan digambarkan sebagai seorang yang tega menyakiti hati pendukungnya demi memeroleh jabatan sebagai gubernur DKI Jakarta. Hal ini didukung dengan pemilihan narasumber dari pemberitaan di artikel yang lebih banyak memilih orang yang bersebrangan dengan ahok seperti anggota partai politik yang mendukung lawan Ahok. Sedangkan apa yang dimuat metrotvnews.com justru berbanding terbalik, dan mendukung penuh apa yang telah dilakukan Ahok.
Dari kedua media online tersebut, dapat dilihat bahwa konstruksi realitas oleh media massa bisa dilakukan dengan cara mengambil sudut pandang yang berbeda untuk dikonsumsi oleh khalayak. Sindonews.com dan metrotvnews.com banyak menggunakan Ahok sebagai define problem dan diagnose cause.
Sedangkan untuk make moral judgement dan suggest remedies tergantung dari masing-masing artikel. Namun, seringnya kedua media memberikan solusi yang berbeda. Sindonews.com lebih menunjukkan bahwa berpindahnya Ahok dari jalur
independen ke partai politik dinilai negatif. Sebaliknya media metrotvnews.com menganggap itu hal yang positif bagi pendukungnya.
Penelitian lainnya pada konteks framing pemberitaan pemilu, dilakukan oleh Ayub Dwi Anggoro (2014). Membedah tentang konstruksi berita yang dilakukan dua media televisi yakni TV One dan Metro TV dalam menayangkan secara audio visual, hasil pemilihan Presiden tahun 2014. Si peneliti melihat dua kubu yang bertarung dalam kontestasi pemilihan presiden, juga turut dibarengi dengan pertarungan medianya pula. Kondisi tersebut tentunya telah membelah kekuatan korporasi perusahaan media. Pertarungan yang paling mencolok adalah pertarungan TV One dengan Metro TV.
Model framing yang digunakan dalam penelitiannya yakni model Robert N. Entman, identifikasi tentang penggunaan media televisi untuk kepentingan politik demi mencapai kekuasaan diklasifikasikan dengan melakukan analisis bingkai sebuah peristiwa yang diberitakan yakni berita Pilpres 2014 di kedua korporasi media tersebut melalui pembahasan pendefinisian masalah. Berita hasil pemilihan presiden kemudian diidentifikasi sumber masalah dan kedua media TV One dan Metro TV kemudian membuat keputusan moral tentang berita hasil pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli 2014. Setelah itu pada spek yang terakhir menekankan pada penyelesaian, berita hasil pemilihan Presiden pada tanggal 9 Juli 2014 oleh kedua media TV One dan Metro TV dari hasil analisis tersebut ditemukan keberpihakan media pada pasangan calon presiden dalam konten pemberitaan yang disiarkan. TV One membingkai program pemberitaan yang mencitrakan Prabowo dan Hatta Rajasa sebagai pemenang Pemilu 2014-2019 sedangkan Metro TV memenangkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pemilu melalui tayangan program quick count.
Kesimpulan yang ditarik dari penelitian ini yakni, nilai keberimbangan dan kenetralitasan berita dan institusi media telah hilang pada pemberitaan program tayangan yang mengupas tentang hasil pemilu 2014 dengan judul acara Presiden Pilihan Rakyat (TV One) dan Presiden Pilihan Kita (Metro TV). Persaingan media tidak hanya pada ranah bisnis saja namun sudah merambah kepada wilayah politis. Hal itu tidak lepas dari keterkaitan pemilik media dalam persaingan
politik. Media kini tidak hanya terindikasi sebagai partisan, tetapi juga gagal menjalankan perannya dalam mengawal dan mengedukasi pemilu. Masyarakat juga dituntut cerdas dan terampil dalam bermedia, sehingga paham mana media yang kredibel dan tidak.
Keterbatasan waktu dan ruang dalam berkampanye keberbagai wilayah pemilihan membuat berkampanye di media menjadi opsi bagi setiap kontestan.
Media cetak salah satunya, juga memiliki pembaca setia setiap harinya. Penelitian yang dilakukan Saddam Amar (2016) mencoba mengonstruksi pemberitaan kampanye dua pasang kandidat Calon Walikota di Kota Medan tahun 2015.
Harian Analisa dipilih sebagai media yang akan di-framing. Si peneliti melihat media lokal tersebut dinilai berimbang dalam tiap pemberitaannya. Adapun sampel pemberitaan pada saat masa kampanye calon yakni tanggal 27 Agustus – 5 Desember 2015.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode framing Zhandong Pan dan Gerald M Kosicki. Fokus penelitian jelas mengarah pada empat aspek, yaitu sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Adapun hasil dari penelitian ini, Harian Analisa dinilai dalam setiap pemberitaannya cukup berimbang, hal itu dapat dilihat memberikan porsi ruang yang cukup bagi kedua kandidat yang bertarung di pemilihan walikota di Kota Medan. Dalam soal konstruksi berita Analisa dikatakan lebih netral dan berusaha untuk bertindak independen, bebas dan tanpa tekanan untuk memberitakan suatu peristiwa. Selain itu, konstruksi berita juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal surat kabar Analisa. Hal ini menunjukkan bahwa netralitas dan objektivitas media dipengaruhi oleh kepentingan pemilik media. Sementara itu bagi kedua kandidat yang bertarung dalam kontestasi pemilihan walikota, menganggap Harian Analisa dianggap penting dalam peran kampanye, sehingga kedua kandidatsecara bergantian hadir ke kantor redaksi Harian Analisa untuk bertemu dengan sang pemilik media, yakni Supandi Kusuma.
Secara keseluruhan berdasarkan tujuh Penelitian Terdahulu yang telah disampaikan diatas, adanya persamaan yang didapat dengan penelitian yang akan dilakukan yakni, dalam sisi metodologinya yaitu sama-sama menggunakan
analisis framing dengan paradigma konstruktivis. Adapan perbedaannya lebih kepada isu yang digunakan, media massa yang akan diteliti, serta tahapan yang lebih mendalam, yakni tidak sebatas mikro namun hingga ke tahap messo untuk menemukan jawaban langsung dari si pemproduksi teks.