BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN
6.2 Kontribusi dan Rekomendasi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas, terbukti dengan jelas bahwa eksistensi Information Asymmtery (IA) dalam model yang diajukan sangat signifikan. Jika memperhatikan model yang diajukan dalam penelitian, terdapat dua variabel yang diduga mempengaruhi IA yaitu Corporate Governance (CG) dan Earning Management (EM). Pengaruh variabel CG terhadap IA sangat terbatas ditandai dengan koefisien determinasi yang sangat rendah sementara variabel EM tidak terbukti berpengaruh terhadap IA. Pada sisi lain variabel IA terbukti memiliki pengaruh yang relatif besar terhadap CoE dan CoD. Variabel IA bahkan secara jelas menjadi variabel intervening yang memediasi pengaruh CG terhadap CoE dan CoD. Bahkan, IA mampu mengubah tanda hubungan CG terhadap CoE yang secara langsung memiliki hubungan signifikan positif (tidak sesuai teori) menjadi signifikan negatif (sesuai teori).
Berdasarkan penjelasan diatas, secara akademis penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dengan menempatkan variabel IA sebagai sentral dalam model yang diajukan. Pada sisi pengaruh yang diberikan terhadap CoE dan CoD terbukti cukup besar, namun sebaliknya variabel IA belum dapat dipengaruhi variabel CG dan EM. Berdasarkan hal tersebut secara logis dapat dikatakan jika ingin menurunkan CoE dan CoD maka harus diupayakan CG dan EM dapat mempengaruhi IA sesuai teori. Rekomendasi yang diberikan terkait hal ini adalah
aspek efektifitas implementasi CG tersebut. Pada sisi variabel EM, rekomendasi yang diberikan lebih kepada aspek akademis terkait penelitian agar penelitian selanjutnya melakukan pengklasifikasian jenis EM yang dilakukan oleh perusahaan.
Selanjutnya dengan memperhatikan pengaruh dan hubungan antar variabel secara parsial akan dijelaskan beberapa kontribusi dan rekomendasi. Analisis terhadap ketiadaan pengaruh CG terhadap IA diduga karena implementasi CG lebih bersifat normatif dibandingkan fokus pada efektivitas CG itu sendiri. Padahal, sebagai konsekuensi perusahaan publik dengan kepemilikan yang tersebar pada banyak individu, implementasi CG tidak boleh terbatas pada sisi normatif namun harus benar-benar efektif karena CG adalah salah satu mekanisme perlindungan kepentingan invstor terutama investor retail yang tidak memiliki akses yang baik terhadap informasi yang lengkap.
Berdasarkan hal tersebut perlu dirancang berbagai aktifitas untuk mendorong efektifitas CG. Langkah utama dengan melakukan penyempurnan berkelanjutan atas mandatory corporate governance atau pengimplementsi aspek tata kelola yang diwajibkan. Namun tentunya hal tersebut tidak mencukupi, peneliti merekomendasikan beberapa hal berikut. Pertama, lembaga independen perlu mengeluarkan CGPI (Corporate Governance Perception Index) secara reguler dengan basis perusahaan yang diperluas. Pada saat ini CGPI yang dipublikasikan relatif sangat terbatas dan tidak lengkap hanya terbatas pada perusahaan yang secara sukarela bersedia dievaluasi. Hal ini harus diperluas hingga mencapai keseluruhan perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Riset yang dilakukan
harus berorientasi pada efektifitas bukan sekedar pemenuhan terhadap aspek normatif CG. Kedua, peneliti merekomendasikan bahwa dalam proses audit, auditor diwajibkan untuk menganalisis efektifitas CG sebagai tahap awal audit yang dapat diintegrasikan dengan tahap pemahaman bisnis klien. Pada sisi laporan audit, auditor harus lebih memberikan ruang yang lebih luas untuk menjelaskan aspek CG misalnya dengan memberikan paragrap penjelas secara khusus untuk merangkumkan hasil review atas implementasi CG.
Perhatian khusus diberikan pada keberadaan variabel EM karena dalam semua pengujian atas EM menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Dalam pandangan peneliti, hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, praktek EM pada dasarnya dapat didorong dua hal yaitu keinginan manajer untuk memperoleh keuntungan personal yang dijelaskan oleh agency theory. Pada sisi lain stewardship theory menjelaskan kemungkinan manajemen berniat untuk menyajikan informasi keuangan yang lebih mampu memprediksi arus kas di masa depan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Jika hal ini secara nyata terjadi maka data yang diperoleh tentu tidak dapat menjelaskan tren tersebut karena karakteristik data menjadi tidak homogen. Penyebab kedua yang mungkin dapat mengakibatkan hal tersebut adalah ketidakmampuan alat ukur pendeteksi manajemen laba untuk menentukan apakah sebuah perusahaan melakukan manajemen laba atau tidak.
Berdasarkan kedua hal diatas, peneliti merekomendasikan bagi para peneliti selanjutnya untuk memiliki perspektif aktifitas manajemen laba tidak selalu dalam pandangan yang cenderung “negatif” namun memandang dari dua sisi yaitu predicitive earning management dan opportunistic earning management. Jika dapat
dilakukannya, maka perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis kedua grup tersebut secara terpisah. Hal ini akan memberikan kedalaman analisis yang lebih baik dalam mengelaborasi penelitian pada topik manajemen laba. Rekomendasi kedua adalah mendorong kalangan akademisi untuk membangun model deteksi manajemen laba yang lebih akurat sehingga hasil pengukuran manajemen laba tersebut dapat menjadi lebih baik.
Selanjutnya dalam analisis dampak implementasi IFRS menunjukkan bahwa hal tersebut lebih berdampak pada pengaruh IA terhadap CoD dibanding terhadap CoE. Hal ini sangat logis karena perbankan dan lembaga keuangan lainnya relatif terbiasa menggunakan laporan keuangan dalam melakukan assesment terhadap risiko yang melekat pada suatu perusahaan. Hal ini membuat jika terjadi peningkatan kualitas informasi yang terkandung di dalam laporan keuangan, maka perbankan dan lembaga keuangan tersebut yang memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan investor/pemilik/calon pemilik yang tidak terbiasa melakukan review atas informasi laporan keuangan. Investor khususnya investor retail relatif tidak mampu melakukan analisis yang komprehensif atas laporan keuangan sekalipun laporan keuanga tersebut relatif sudah terstandarisasi dengan lebih baik pasca implementasi IFRS.
Peneliti memberikan rekomendasi yang sama dengan rekomendasi atas variabel CG yang telah dijelaskan sebelumnya dimana lembaga-lembaga independen perlu untuk menghasilkan review kinerja perusahaan secara komprehensif meliputi seluruh aspek dalam perusahaan dari mulai tata kelola hingga analisis prospek bisnis yang tercantum dalam catatan atas laporan keuangan.