BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual penelitian ini disusun berdasaran teori dan berbagai penelitian terdahulu. Hubungan antarvariabel yang akan diteliti beserta penelitian yang membantu menjelaskan hubungan antarvariabel dijelaskan dalam gambar 3.1
(Confetti Gatsios, Marcos Da Silva, Jose Ambrozini, Assaf Neto, & Guasti Lima, 2016; Florou & Kosi, 2015;
Mohammadrezaei, Mohd-Saleh, & Banimahd, 2015; Turki, Wali, & Boujelbene, 2016)
Cost of
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Dampak Implementasi Internasional Finansial Reporting Standar (IFRS)
3.2.1. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Cost of Equity dan Cost of Debt
Berdasarkan agency theory terdapat konflik kepentingan antara manajer dengan stakeholder eksternal baik shareholder maupun bondholder. Dalam hubungan ini terdapat Information Asymmetry yang dapat menciptakan moral hazard. Manajemen perusahaan dapat memanfaatkan dana yang diperoleh dari shareholder maupun bondholder dengan cara yang tidak optimal atau tidak tepat misalnya dengan komsumsi berlebih, membangun ketergantungan personal, kompensasi berlebih, maupun cara lainnya. Tindakan ini akan meningkatkan default risk perusahaan sehingga shareholder maupun bondholder akan meminta premi risiko yang lebih besar. Premi risiko yang lebih besar tersebut akan meningkatkan Cost of Equity (CoE) dan Cost of Debt (CoD). Konflik kepentingan lainnya dapat terjadi antara shareholder dan bondholder dalam bentuk tindakan yang berusaha mengalihkan arus kas dari bondholder kepada shareholder. Cara yang dapat dilakukan misalnya dengan pembagian dividen maupun pembelian saham kembali sebagai ganti dari berinvestasi pada proyek proyek yang menguntungkan.
Corporate Governance (CG) menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah keagenan di atas. Mekanisme tata kelola dapat mengurangi konflik kepentingan sehingga agency cost dapat ditekan. CG yang baik akan mendorong terciptanya keputusan manajerial yang lebih baik untuk kepentingan berbagai pihak internal maupun eksternal perusahaan. Sejalan dengan riset yang dilaksanakan oleh Mazzotta & Veltri (2014), Ramly (2012), Hodges et al. (2014), Lima & Sanvicente
akan mendorong turunnya CoE perusahaan. Penelitian H.-W. Huang et al. (2016) juga menjelaskan bahwa pengungkapan yang dilakukan sebagai salah satu bukti implementasi tata kelola yang baik dapat menurunkan CoE sedangkan penelitian Zhu (2014) menjelaskan bahwa tata kelola yang baik akan menurunkan CoE dan CoD.
Dalam hubungan secara khusus dengan biaya hutang, pengaruh CG relatif memiliki pola yang sama. Penelitian Hashim & Amrah (2016) dan Hodges et al.
(2014) menyimpulkan bahwa CG yang baik akan menurunkan CoD. Sedangkan penelitian Ashbaugh-Skaife et al. (2006) dan Bhojraj & Sengupta (2003) menghasilkan kesimpulan bahwa CG yang baik akan dapat meningkatkan rating hutang perusahaan. Peningkatan rating berarti akan mendorong penurunan CoD perusahaan. Farooq & Derrabi (2012) bahkan menemukan kesimpulan bahwa dalam sistem hukum negara yang lemah, CG perusahan yang baik dapat menurunkan CoD perusahaan. Berbeda dengan berbagai penelitian di atas, Juniarti
& Natalia (2012) yang melakukan penelitian di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang berbeda yaitu CG yang baik tidak memiliki hubungan dengan bond rating serta tidak berpengaruh terhadap CoE. Terdapat dugaan bahwa alat ukur CG yang digunakan tidak dapat secara baik mengukur implementasi CG di dalam perusahaan.
Aspek CG yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini adalah mekanisme internal. Hal ini dilakukan karena seluruh variabel yang terdapat di dalam model secara teoritis dipengaruhi oleh mekanisme internal. Sejalan dengan penjelasan dalam penelitian yang dilakukan oleh Mazzotta & Veltri (2012) aspek
independensi dewan direksi, keberadaan komite-komite dibawah dewan komisaris, dan independensi komite-komite tersebut. Disamping atribut tersebut sejalan dengan berbagai penelitian lain, penelitian ini menambahkan atribut ukuran dewan komisaris dan independensi dewan komisaris. Dewan komisaris secara teoritis akan mempengaruhi mekanisme internal di dalam perusahaan. Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini menduga bahwa semakin baik implementasi CG pada sebuah perusahaan akan menurunkan CoE dan CoD. Hal ini dapat dicapai karena implementasi mekanisme internal CG yang baik memberikan batasan-batasan agar manajemen tidak melakukan berbagai tindakan untuk kepentingan personal.
3.2.2. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Earning Management
Perilaku earnings management (EM) secara umum diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu Real Earnings Management (REM) dan Accrual Earnings Management (AEM). Namun, dalam penelitian ini, EM difokuskan kepada AEM karena fokus yang akan diteliti adalah penyediaan informasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan sehingga seluruh istilah Earning Management dalam penelitian ini merujuk pada Accrual Earning Management. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tindakan EM akan memberikan dampak yang tidak baik bagi investor. Dalam rangka mengurangi dampak negatif tersebut dikembangkan tata kelola perusahaan yang baik. Visvanathan (2008) menyimpulkan bahwa terdapat fungsi yang penting dari Corporate Governance (CG) terhadap peningkatan kualitas laporan keuangan. Kualitas laporan keuangan dalam pandangannya adalah yang bebas dari intervensi manajemen. Penelitian Y. Gao (2010) juga
meningkatkan kualitas informasi akuntansi yang dihasilkan manajemen. Klein (1998) yang menyatakan bahwa ukuran dewan direksi yang besar dapat mendistribusikan pekerjaan dan juga dapat meningkatkan kemampuan pengawasan dari direktur. Yermack (1996) juga menyatakan bahwa beberapa perusahaan lebih menyukai ukuran dewan direksi yang besar untuk tujuan pengawasan yang lebih efektif.
Penelitian terdahulu mendukung gagasan yang menyatakan bahwa dewan direksi yang independen akan lebih mampu dalam melakukan pengawasan yang lebih efektif sehingga dapat membatasi praktik EM. Ramachandran et al. (2015), Visvanathan (2008), Klein (1998), Hashemi & Rabiee (2011) dan Uwuigbe et al.
(2014) menghasilkan kesimpulan yang hampir sama yaitu berbagai proksi CG yang digunakan memberikan pengaruh negatif terhadap praktik EM yang diukur dengan discreationary accrual perusahahaan. Hasil sebaliknya diperoleh oleh Tejo &
Sanjaya (2016) yang melaksanakan penelitian di Indonesia yang menghasilkan kesimpulan bahwa komposisi direksi tidak mempengaruhi manajemen laba.
Selain karakteristik dewan direksi, karakteristik komite-komite dibawah dewan komisaris seperti komite audit, komite remunerasi, dan komite nominasi perusahaan juga merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam usaha mengurangi aktivitas EM. Hal ini karena esensi komite-komite tersebut adalah bagian dari dewan direksi yang dipercaya untuk mengawasi berbagai proses di dalam perusahaan. Berbagai penelitian terdahulu menyatakan bahwa efektivitas komite audit berhubungan positif dengan besarnya ukuran komite audit. Komite audit yang semakin besar cenderung lebih memberikan partisipasi yang lebih baik
yang lebih terpercaya. Berdasarkan hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa ukuran komite audit berhubungan negatif dengan EM. Berdasarkan penjelasan tentang keterkaitan faktor-faktor CG yang mempengaruhi EM di atas dapat dikatakan bahwa CG memberikan pengaruh negatif terhadap EM.
Perbedaan hasil yang diperoleh Tejo & Sanjaya (2016) menarik untuk dianalisis. Salah satu catatan yang diberikan untuk penelitian tersebut penggunaan proksi pengukur CG hanya menggunakan indikator yang sangat terbatas. Pada saat ini terdapat kecenderungan penggunaan pengukuran CG yang lebih baik dengan menggunakan item checklist yang meliputi aspek corporate governance yang lebih luas seperti yang digunakan oleh Siagian et al. (2013) dan Yaghoobnezhad et al.
(2012). Penelitian ini akan menggunakan item checklist yang sesuai dengan kondisi perusahaan di Indonesia. Berdasarkan hal di atas penelitian ini tetap dibangun di atas hipotesis bahwa semakin baik implementasi CG di suatu perusahaan akan menurunkan probabilitas manajemen melakukan tindakan-tindakan yang dapat diklasifikasikan sebagai EM.
3.2.3. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Information Asymmetry Sesuai dengan agency theory, tanpa adanya mekanisme kontrol maka manajemen akan memanfaatkan kondisi Information Asymmetry (IA) untuk keuntungan personal. Implementasi mekanisme CG yang baik diharapkan menekan IA. Sebagai contoh, kondisi ini dapat dicapai misalnya dengan eksistensi komisaris dan direksi independen, komite independen, berbagai pertemuan direksi dan lain sebagainya yang secara teoritis akan mendorong manajemen melakukan disclousure yang lebih
(2014), Cormier et al. (2010), Petra (2007), Siagian et al. (2013), Bar-Yosef &
Prencipe (2013), dan Karmani et al. (2015) seluruhnya menyatakan bahwa CG perusahaan yang baik akan menekan IA. Berdasarkan hal di atas penelitian ini akan dibangun di atas hipotesis bahwa semakin baik implementasi CG dalam suatu perusahaan akan menurunkan IA perusahaan tersebut.
3.2.4. Pengaruh Earning Management Terhadap Information Asymmetry Earning Management (EM) yang dilakukan oleh manajemen dengan memanfaatkan discreationary accrual yang dimilikinya akan membuat laporan keuangan yang dihasilkan tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Penelitian Abad et al. (2016), Neil Bhattacharya et al. (2012), Ascioglu et al. (2012), Cormier et al. (2013), dan Nilabhra Bhattacharya et al. (2011) mendukung hal tersebut bahwa EM dan Information Asymmetry (IA) memiliki hubungan positif.
Namun berbeda dengan penelitian tersebut Bar-Yosef & Prencipe (2013) menyimpukan bahwa praktik EM tidak mempengaruhi IA. Sekalipun terdapat perbedaan tersebut, namun berdasarkan pandangan bahwa pasar modal Indonesia cenderung tidak efisien, maka dalam konteks Indonesia, tindakan EM akan berdampak pada peningkatan IA.
3.2.5. Pengaruh Earnings Management Terhadap Cost of Equity dan Cost Of Debt
Tindakan Earning Management (EM) yang dilakukan oleh manajemen dengan memanfaatkan akses mereka terhadap discreationary accrual akan
(IA). Hasil penelitian Nilabhra Bhattacharya et al. (2011) secara khusus memberikan kesimpulan yang memberikan sumbangsih signifikan dalam pembentukan penelitian ini yaitu bahwa EM memberikan pengaruh positif terhadap CoE baik secara langsung maupun melalui IA. Penelitian lain Kim & Sohn (2013), Strobl (2013), dan Patro & Kanagaraj (2016) menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu bahwa EM berpengaruh positif terhadap CoE. Penelitian U. Bhattacharya et al. (2003)juga memberikan gambaran yang lengkap terhadap keseluruhan aspek Earning Managementyang membuat laporan keuangan menjadi kurang informatif.
Penelitian Miiller & Martinez (2016) yang meneliti hubungan EM dengan hutang menyimpulkan pengaruh negatif EM terhadap rating kredit yang berarti EM berpengaruh positif terhadap CoD. Penelitian tersebut sejalan dengan Shen &
Huang (2013) yang menemukan bukti empiris bahwa lembaga pemeringkat akan menurunkan rating kredit jika mendeteksi manajemen melakukan EM.
Namun demikian penelitian McInnis (2010) perlu untuk diperhatikan karena memberikan hasil yang berbeda padahal melaksanakan penelitian dengan rentang waktu sampai 30 tahun dengan jumlah sampel mencapai 6.076 perusahaan justru menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh income smoothing salah satu cara dari EM terhadap CoE. Arya et al. (2003) yang juga melaksanakan penelitian di Amerika serikat menemukan fakta bahwa tindakan EM yang dilakukan oleh manajer tidak selalu berdampak buruk bagi investor. Penelitian Fattouh et al. (2015) yang meneliti hubungan EM dengan CoD juga menemukan kesimpulan tidak adanya pengaruh EM atas penentuan CoD.
EM terhadap CoE. Hasil-hasil penelitian tersebut memberikan hasil yang acak.
Terdapat beberapa dugaan yang dapat menyebabkan hal tersebut. Pertama, tindakan EM yang dilakukan manajemen memiliki tujuan yang bervariasi antara menambah kualitas informasi (benefecial Earning Management) dan memanfaatkan EM untuk tujuan yang menguntungkan personal (oppurtunistic Earning Management).
Kedua, terdapat dugaan cara beberapa metode pengukuran EM tidak selalu sesuai dengan kondisi sehingga tidak dapat mendeteksi EM. Berdasarkan keseluruhan penjelasan di atas serta kecenderungan bahwa pasar modal di Indonesia cenderung tidak efisien, penelitian ini dibangun di atas hipotesis bahwa semakin tinggi tindakan EM pada suatu perusahaan tertentu akan meningkatkan CoE dan CoD perusahaan tersebut. Hal ini didasarkan pada dugaan bahwa praktek manajemen laba yang dilakukan di Indonesia lebih mengarah tindkan manajemen memanfaatkan kelebihan informasi yang dimiliki untuk kepentingan personal.
3.2.6. Pengaruh Information Asymmetry Terhadap Cost of Equity dan Cost of Debt
Agency theory menjelaskan bahwa Information Asymmetry (IA) adalah perbedaan informasi yang dimiliki oleh manajemen dan pemilik perusahaan. Dalam hal ini manajemen memiliki informasi yang lebih baik karena terlibat langsung dengan aktifitas operasional harian perusahaan sementara pemilik tidak terlibat dalam aktifitas harian tersebut. Hal ini membuat manajemen dapat mengintervensi informasi yang dipublikasikan perusahaan baik dalam bentuk laporan keuangan maupun publikasi lainnya. Publikasi informasi yang telah diintervensi tersebut
oleh pihak eksternal manajemen. Informasi yang secara ekslusif hanya dimiliki oleh manajemen membuat disparitas informasi diantara pemilik, calon pemilik, kreditur, dan calon kreditur menjadi relatif besar. Secara teoritis jika manajemen mempublikasi seluruh informasi yang ada secara lengkap maka disparitas informasi diantara pihak-pihak tersebut dapat diminimalisasi.
Pada sisi lain, dalam konsep dasar hubungan antara risk dan return, semakin besar risiko berimplikasi pada meningkatnya return yang dipersyaratkan. Semakin besar IA yang melekat pada suatu sekuritas akan meningkatkan risiko terkait informasi arus kas masa depan dari sekuritas tersebut. Hasil penelitian Lambert et al. (2011) memberikan hasil yang variatif dengan menemukan kesimpulan bahwa IA mempengaruhi cost of capital pada pasar tidak sempurna namun tidak demikian pada pasar yang sempurna. Hasil ini cukup menarik untuk ditindaklanjuti di pasar modal Indonesia karena pasar modal Indonesia diduga tidak berada dalam bentuk persaingan sempurna. Penelitian Hwang et al. (2013), Levi & Zhang (2014), dan He et al. (2013) memberikan kesimpulan yang hampir sama di mana IA memberikan pengaruh positif terhadap cost of capital. Berdasarkan penjelasan diatas, penelitian ini didasarkan pada dugaan bahwa terdapat pengaruh positif dari IA terhadap cost of capital baik Cost of Equity (CoE) maupun Cost of Debt (CoD)
3.2.7. Pengaruh Cost of Equity Terhadap Cost of Debt
Hubungan antara Cost of Equity (CoE) dengan Cost of Debt (CoD) menarik untuk diteliti. Tidak terlalu banyak penelitian yang mengkaji hubungan ini. Secara umum hubungan rasional antara kedua variabel tersebut adalah positif, artinya ketika CoD
menyimpulkan bahwa CoE naik perlahan ketika CoD naik secara moderat namun CoE akan naik secara tajam ketika leverage mengalami peningkatan yang lebih agresif. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berasumsi bahwa CoD berpengaruh secara positif terhadap CoE.
3.2.8. Pengaruh Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS)
Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS) akan digunakan sebagai variabel pembentuk sub grup sampel. Artinya peneliti menduga akan terdapat perbedaan pengaruh antar variabel yang diteliti sebelum dan sesudah implementasi IFRS. Hal ini didorong oleh konsep pengembangan IFRS yang berusaha mengurangi Information Asymmetry (IA) [(Ball, 2006); (E. Lee et al., 2010); (Epstein & Mirza, 1999)]. Pemahaman ini mendorong penelitian ini meletakkan variabel IA menjadi titik sentral dalam model yang dikembangkan.
Seluruh hubungan yang mempengaruhi atau dipengaruhi IA kemungkinan akan mengalami perubahan setelah implementasi IFRS. Perbedaan hubungan sebagai akibat penurunan IA pasca implementasi IFRS diakibatkan peningkatan kualitas informasi dan pengungkapan yang lebih lengkap dalam laporan keuangan yang dipubikasikan oleh perusahaan. Perubahan ini tidak hanya akan terjadi pada IA, implementasi IFRS berdasarkan berbagai penelitian empiris juga mampu menurunkan CoE dan CoD [(Li, 2010); (Daske et al., 2008)]. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian menduga bahwa secara keseluruhan model yang dikembangkan akan mengalami perubahan pasca implementasi IFRS.
et al. (2015) dan Turki et al. (2016) bahwa terdapat perbedaan praktik akuntansi yang cukup signifikan sebelum dan sesudah implementasi IFRS. Berdasaran penelitian-penelitian tersebut dan berdsarkan tujuan pengembangan dan implementasi IFRS untuk mengurangi Information Asymmetry maka penelitian ini akan melakukan prosedur multigrup untuk memperoleh bukti empiris bahwa pasca implementasi IFRS hubungan antar variabel dalam model penelitian ini mengalami perubahan. Pengujian hal ini akan dilakukan dengan membedakan sub sampel sebelum dan sesudah implementasi IFRS dengan menggunakan analisis multigroup.
3.3. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan penjelasan dalam kerangka konseptual maka hipotesis di dalam penelitian ini adalah:
1. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadap Cost of Equity.
2. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadap Cost of Debt.
3. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadap Earning Management.
4. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadap Information Asymmetry.
5. Earning Management berpengaruh secara positif terhadap Information Asymmetry.
6. Earning Management berpengaruh secara positif terhadap Cost of Equity.
7. Earning Management berpengaruh secara positif terhadap Cost of Debt.
9. Information Asymmetry berpengaruh secara positif terhadap Cost of Debt.
10. Cost of Debt berpengaruh berpengaruh secara positif terhadap Cost of Equity.
11. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadap Cost of Equity melalui Information Asymmetry.
12. Corporate Governance berpengaruh secara negatif terhadapCost of Debt melalui Information Asymmetry.
13. Earning Management berpengaruh secara positif terhadap Cost of Equity melalui Information Asymmetry.
14. Earning Managemen berpengaruh secara positif terhadap Cost of Debt melalui Information Asymmetry.
15. Terdapat perbedaan pengaruh Corporate Governance terhadap Information Asymmetry sebelum dan sesudah Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS).
16. Terdapat perbedaan pengaruh Earning Management terhadap Information Asymmetry sebelum dan sesudah Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS).
17. Terdapat perbedaan pengaruh Information Asymmetry terhadap Cost of Equity sebelum dan sesudah Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS).
18. Terdapat perbedaan pengaruh Information Asymmetry terhadap Cost of Debt sebelum dan sesudah Implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS).
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel Corporate Governanca (CG) dan Earning Management (EM) terhadap Cost of Equity (CoE) dan Cost of Debt (CoD) melalui variabel Information Asymmetry (IA) dengan menggunakan dua grup yaitu sebelum dan sesudah penerapan International Financial Reporting Standard (IFRS) di Indonesia.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode pengamatan 2007 sampai 2016. Data diperoleh di situs PT. Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id), situs The Indonesian Capital Market Institute (TICMI) (www.ticmi.co.id), serta membeli data di perpustakaan Bapepam khususnya data perdagangan pasar.
4.3 Jenis dan Data Penelitian
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang telah dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pengawas Pasar Modal untuk periode 2007 sampai 2016 dan untuk beberapa variabel penelitian yang membutuhkan data time series lebih panjang akan dikumpulkan sejak tahun 2006.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan perusahaan manufaktur didasarkan pada pertimbangan bahwa perusahaan manufaktur memiliki seluruh aktivitas dan tahapan operasional sehingga dapat menjadi gambaran yang utuh dalam melakukan berbagai analisis. Perusahaan manufaktur terdiri tiga sektor yaitu sektor industri dasar dan kimia, industri kimia, dan industri barang komsumsi. Dalam perkembangan riil perusahaan, bisnis yang dijalankan dapat berkembang menjadi lebih variatif bahkan menjadi sangat luas, namun demikian masing-masing perusahaan akan tetap dikategorikan kedalam satu sektor diatas, bahkan selanjutnya kedalam salah satu sub sektor dalam sektor tertentu tergantung bisnis inti yang dikembangkan oleh perusahaan tersebut.
Pada akhir tahun 2016 terdapat 144 perusahaan dalam kategori industri manufaktur. Dalam penentuan sampel, keseluruhan perusahaan tersebut dianalisis kecukupan datanya. Kecukupan data diantaranya ditentukan oleh:
1. Perusahaan tersebut harus telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2007 hingga 2016 tanpa pernah di delisting serta selalu mempublikasikan laporan keuangan dan laporan tahunan melalui website resmi BEI dan/atau website resmi perusahaan.
2. Laporan keuangan dan laporan tahunan memberikan informasi yang dibutuhkan dan sesuai dengan satuan yang digunakan dalam penelitian ini misalnya bunga hutang dinyatakan dalam bunga atas hutang rupiah, serta data yang diperlukan untuk menghitung variabel penelitian relatif tersedia di dalam laporan keuangan dan laporan tahunan masing-masing perusahaan.
No Sektor CTBN,LION,LMSH, PICO, BRPT, BUDI, DPNS, EKAD, SRSN,AKPI, APLI, BRNA, IGAR, TRST, CPIN, JPFA, SIPD, FASW, INKP, KDSI, SPMA 2 Aneka
Berdasarkan hal diatas, dari 144 perusahaan yang terdaftar di tahun 2016, hanya 102 perusahaan yang telah dan tidak pernah mengalami delisting sejak tahun 2007. Sementara diantara 102 perusahaan tersebut, hanya 65 perusahaan yang memiliki data yang cukup untuk diolah dalam penelitian ini. Daftar sampel secara lengkap dapat dilihat dalam tabel 4.1. Daftar nama sampel penelitian terdapat dalam lampiran 1. Selanjutnya dengan jumlah sampel sebanyak 65 perusahaan, maka penelitian ini telah mengobservasi sebanyak 650 laporan keuangan dan laporan tahunan yaitu untuk 65 perusahaan selama 10 tahun.
4.5 Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah Cost of Equity (CoE), Cost of Debt (CoD), Information Asymmetry (IA), Corporate Governance (CG), dan Earning Management (EM). Pengukurannya akan dijelaskan secara rinci pada bagian
pemilihan satu pengukuran tertentu. Pada variabel IA akan dijelaskan pengintegrasian pendekatan yang digunakan secara khusus dalam penelitian ini untuk menghitung IA masing-masing perusahaan. Ringkasan tabel operasional variabel ditunjukkan dalam tabel 4.2.
4.5.1 Cost of Equity (CoE)
Sebagai sebuah variabel yang dihasilkan dengan pendekatan estimasi, maka hasil pengukuran variabel ini akan relatif bervariasi tergantung pendekatan yang digunakan. Berbagai penelitian berikut seperti H.-W. Huang et al. (2016), Zhu (2014), Hwang et al. (2013), Levi & Zhang (2014), He et al. (2013), J. H. Lee (2014), dan Hasan et al. (2015) menggunakan berbagai pendekatan termasuk menggunakan rata-rata dari berbagai pendekatan yang digunakan secara bersama.
Berbagai penelitian tersebut pada umumnya merata-ratakan pendekatan yang dihasilkan oleh Ohlson & Juettner-Nauroth (2005), Claus & Thomas (2001), Gode
& Mohanram (2003), dan Easton (2004).
Pada awalnya peneliti berencana menggunakan dua atau lebih pendekatan yang telah dibangun tersebut, namun sebagai akibat keterbatasan data yang tersedia di Indonesia, berbagai pendekatan tersebut tidak dapat diaplikasikan. Data utama yang tidak tersedia adalah data estimasi return untuk t+1 dan t+2 yang menjadi komponen utama yang digunakan dalam berbagai pendekatan tersebut. Pendekatan yang relatif sederhana seperti dividen discounted model juga tidak dapat diimplementasikan dengan baik karena banyak diantara perusahaan yang terpilih sebagai sampel tidak membagikan dividen dalam waktu yang cukup lama.
digunakan adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM) (Sharpe, 1964) dengan formula sebagai berikut:
πΆππΈ = π π+ π½(π πβ π π)
Rf : risk free rate yang mengacu pada sekuritas bebas risiko Rm : return pasar yang diukur dengan return indeks pasar,
Ξ² : koefisien regresi retun saham dan return pasar untuk 5 tahun terakhir Berdasarkan mekanisme perhitungan yang dilakukan diatas, maka data yang diperoleh sebagai variabel CoE merupakan data dengan skala rasio.
4.5.2 Cost of Debt (CoD)
Perhitungan Cost of Debt (CoD) tidak serumit perhitungan CoE karena langsung menggunakan data yang tersedia di dalam laporan keuangan. Pada awalnya pengukuran CoD dalam penelitian ini akan mengikuti pengukuran yang
Perhitungan Cost of Debt (CoD) tidak serumit perhitungan CoE karena langsung menggunakan data yang tersedia di dalam laporan keuangan. Pada awalnya pengukuran CoD dalam penelitian ini akan mengikuti pengukuran yang