BAB I PENDAHULUAN
G. Landasan Teori
Untuk memperjelas arah dan batasan tulisan ini, metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidimensional,23 dengan mengacu pada beberapa konsep sosiologis seperti teori gerakan sosial. Menurut sejarawan Inggris, Peter Burke, bahwa kadang-kadang penentangan (resistensi) sehari-hari berubah menjadi perlawanan terbuka atau semacam Gerakan Sosial, yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu gerakan itu pada dasarnya untuk memulai suatu perubahan atau gerakan tersebut merupakan reaksi atas perubahan yang terjadi.24
Sementara, menggunakan istilah yang agak berbeda, Robert Marsel tidak
23
Penulis mengacu pada buku yang ditulis sejarawan, Sartono Kartodirdjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Gramedia. Jakarta.
24
Peter Burke. 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Obor. Jakarta. Hlm. 132-136.
menggunakan Gerakan Sosial namun menyebutnya sebagai Gerakan Kemasyarakatan, yang disebutnya sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga (non instituonalised) yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan di dalam masyarakat.25 Lebih jauh Marsel mengemukakan beberapa tema, yaitu pertama, Gerakan-Gerakan Kemasyarakatan paling tepat dimengerti dalam hubungannya dengan organisasi dan perilaku organisatoris. Kedua, apapun yang menjadi tujuan atau cita-cita sebuah Gerakan Kemasyarakatan, strateginya [cara-cara mencapai tujuannya] biasanya rasional. Adanya strategi dengan menggunakan cara-cara rasional ini terlihat di dalam organisasi-organisasi gerakan yang bertingkah sama seperti organisasi lainnya. Ketiga, aktivitas utama dari organisasi gerakan adalah memobilisasi berbagai macam konstituensi dengan aneka cara guna memperoleh sumber-sumber daya yang dibutuhkan. Sumber-sumber daya dalam arti luas dapat mencakupi waktu dan tenaga para aktivis, dana, senjata, dukungan media dan sebagainya. Keempat, bentuk organisasi dan strategi-strategi penggalangan sumber daya dari sebuah gerakan kemasyarakatan membuatnya begitu serupa dengan bentuk-bentuk tindakan yang terlembaga. Selain itu, menurut Marsel, peran penting kaum profesional dalam gerakan kemasyarakatan, karena menjelang akhir abad ke-20, semua masyarakat adalah masyarakat yang berciri organisasi, di mana suatu tindakan perubahan sosial menuntut pula keahlian teknis tingkat tinggi, khususnya dalam mengelola sumber-sumber daya, merencanakan strategi, menghimpun dana, melakukan tekanan (pressure) terhadap kelompok elit dan
25
Robert Marsel. 2004. Teori Pergerakan Sosial: Kilasan Sejarah dan Catatan Bibliografis. Resist Book. Yogyakarta. Hlm. 55
menggunakan kontak dengan media massa.26
Dalam hal ini, terkait dengan organisasi formal sebagai obyek kajian, Peter Burke menuliskan: 27
Organisasi-organisasi yang sukses itu menulis sejarah resminya, sejarah ini sering memberi kesan seolah-olah organisasi-organisasi ini direncanakan dan dilembagakan secara sadar sejak awal berdirinya. Dengan cara begitu, sulit untuk tidak melihat masa kini berdasarkan masa lalu, tetapi kecenderungan ini harus dilawan, konsep tentang gerakan ini mendorong kita untuk mengetahui perubahan dan spontanitas di sekitar masa berdirinya organisasi, suatu ‘masa’ yang mungkin saja berlangsung selama satu generasi yang kemudian disusul oleh datangnya fase rutinisasi atau ‘kristalisasi’.
Apa yang dikemukakan Burke dan Marsel, cukup relevan dalam melihat peran masyarakat sipil yang memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri rakyat Timor-Leste. Namun demikian belum sepenuhnya mencakup definisi yang dimaksudkan dengan masyarakat sipil dalam tulisan ini.
Istilah masyarakat sipil adalah konsep lama dalam pemikiran sosial politik, yang pada awal abad ke-20, oleh Antonio Gramsci diberi makna baru. Berdasar orientasi dasar Marxis, istilah masyarakat sipil dinyatakan sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan atau aturan-aturan formal, meskipun tetap mengandung unsur rekayasa seperti lazimnya institusi politik. Konsep ini juga diartikan sebagai wadah politik budaya. Lembaga- lembaga masyarakat sipil itu adalah institusi keagamaan (mesjid, pesantren, gereja), sekolah, serikat pekerja, dan berbagai organisasi lainnya yang dalam kenyataannya acapkali bisa dibelokkan menjadi sarana kelas penguasa dalam memelihara hegemoninya
26
Terdapat 8 tema yang dikemukakan Marsel, namun empat tema tersebut paling relevan dengan tulisan ini. Ibid., Hlm. 56-58.
27
terhadap masyarakat. Di samping itu, masyarakat sipil juga merupakan arena di mana hegemoni itu sendiri dapat ditentang atau digoyahkan secara sah.28
Dalam hal ini, terminologi masyarakat sipil dalam konteks Timor- Leste perlu mengacu pada 4 alasan yang dikemukakan dalam laporan CAVR, Chega! :29
Pertama, sebagai satu sektor istilah ini membedakan dari sektor-sektor penting lainnya, yang membentuk masyarakat demokrasi, seperti halnya pemerintah dan bisnis. Istilah ini mengakui timbulnya “sektor ketiga” dan perannya yang independen dalam menanggulangi masalah- masalah dunia. Dalam konteks Timor-Leste hal ini sangat relevan, karena…masyarakat sipil memainkan peran yang memiliki ciri khas tersendiri, dan dalam hal Timor-Leste biasanya berseberangan dengan pihak pemerintah dan bisnis. Kedua, istilah ini lebih luas dibanding “non- governmental organization” (NGO) dan “grup solidaritas,” yang sering digunakan dalam konteks ini, tapi tidak cukup luas untuk mencakup luas dan ragam individu, grup dan organisasi yang memberi dukungan Timor-Leste dalam penentuan nasib sendiri. Ketiga, istilah “masyarakat sipil”, tidak sekedar “non-governmental organization” (NGO), tetapi memiliki isi positif dan mewakili komitmen untuk membangun masyarakat yang beradab berdasarkan nilai- nilai perdamaian, hak asasi manusia dan demokrasi. Istilah ini pantas dalam pembelaannya terhadap Timor- Leste, dengan mempromosikan nilai- nilai dasar, dan umumnya beroperasi tanpa kekerasan, di dalam batas-batas hukum dan melalui jalur hukum. Terakhir, istilah masyarakat sipil direkomendasikan, karena telah diadopsi secara resmi oleh PBB, dan menandai pergeseran penting dalam pemikiran internasional. Telah tumbuh pengakuan di lingkungan pemerintah, bahwa masyarakat sipil memiliki peran dalam pemerintahan global, dan bahwa pekerjaan PBB bukan lagi monopoli pemerintah.
Sementara dalam membahas peran hegemoni Orde Baru, digunakan konsep hegemoni berdasar ide Antonio Gramsci, seperti dikutip Burke bahwa penguasa memerintah tidak dengan kekerasan (atau dengan kekerasan
28
Adam Kuper dan Jessica Kuper, 2000. Ensiklopedia Ilmu-Ilmu Sosial 1. Grafindo. Jakarta. Hlm. 113-115.
29
Lihat laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR). 2005. Chega! (Jangan Lagi, Berhenti, Cukup), Bab 7.1. ‘Hak Penentuan Nasib Sendiri’. Hlm. 104. http://www.cavr-timorleste.org/chegaFiles/,
mata) melainkan dengan persuasi. Persuasi bersifat tak langsung; kelas yang diperintah melihat masyarakat melalui cara pandang penguasa, berkat pendidikan dan juga posisi mereka dalam masyarakat.30
Dalam hal ini, definisi hegemoni harus ditempatkan dalam konteks historis Indonesia, sebagaimana konsep hegemoni zaman Gramsci harus ditempatkan dalam konteks analisis historis Italia zaman Gramsci, terlebih analisis historis zaman Gramsci adalah upaya teoretis yang dilakukan sebagai produk pencarian hubungan teori dan praktek marxisme. Nezar Patria dan Andi Arief menulis tentang situasi Indonesia terkait dengan konsep hegemoni Gramsci bahwa: 31
Di Indonesia dapatlah dikatakan, fenomena kekuasaan di negeri ini tidaklah dalam bentuk hegemoni Gramsci, di mana masyarakat memberikan persetujuannya kepada penguasa untuk berkuasa. Idealnya konsep Gramsci penguasa menggunakan hegemoni total, tanpa harus menggunakan kekerasan.
Lebih lanjut Nezar Patria dan Andi Arief menuliskan: 32
Orde Baru justru lebih mengedepankan dominasi yang berarti penggunaan aparatus koersif untuk penggunaan hegemoni...sesungguhnya yang terjadi adalah dominasi politik besar oleh negara terhadap masyarakat sipil.
Namun dapat dilihat dari cara pandang yang berbeda, yaitu meskipun pemerintahan Orde Baru menjalankan dominasi melalui aparatus koersifnya, namun juga menggunakan kepemimpinan intelektual dalam mentransfer ide-ide penguasa melalui lembaga pendidikan dan juga mengambil alih kontrol atas pers sebagai upaya hegemoni. Sebagaimana menurut Gramsci bahwa kelas sosial akan
30
Peter Burke., Op.Cit., Hlm. 128.
31
Nezar Patria dan Andi Arief. 1998. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm. 184-185.
32
memperoleh keunggulan (supremasi) melalui dua cara yaitu, pertama, dominasi/paksaan, kedua, kepemimpinan intelektual dan moral, dan yang terakhir inilah yang dimaksud Gramsci sebagai hegemoni.33
Dalam mengidentifikasi peran masyarakat sipil, digunakan untuk mengkaji Gerakan pro Timor-Leste di Indonesia sedangkan konsep hegemoni digunakan untuk mengkaji upaya- upaya persuasif Orde Baru.