BAB II MASALAH TIMOR-LESTE DAN HEGEMONI ORDE BARU
A. Orde Baru dan Pembasmian Kaum Kiri Indonesia
Orde Baru didirikan dari kekisruhan politik yang terjadi pasca Gerakan 30 September 1965.37 Peristiwa ini, berawal dari penculikan terhadap beberapa jenderal pimpinan Angkatan Bersenjata yang dinilai tidak loyal terhadap Presiden Sukarno yang populis, oleh para perwira muda Angkatan Darat (AD). Namun kegagalan gerakan tersebut, membawa Jenderal Suharto ke pucuk pimpinan AD
36
Sebagian besar informasi di bagian ini diambil dari Max Lane. 2007. Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia Sebelum dan Sesudah Soeharto. Reform Institut. Jakarta.
37
Istilah Gerakan 30 September digunakan sebagai nama dari gerakan tersebut, dari pada G 30 S/PKI yang diberikan Orde Baru atau Gestok yang diberikan Sukarno. Dua nama ini dilekatkan kemudian, sehingga bersifat anakronis. Lihat Asvi Warman Adam. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Ombak. Yogyakarta. Hlm. v.
ketika Presiden Sukarno yang tidak mempunyai kendali atas aparatus penindas yakni, polisi dan tentara, menyerahkan kewenangan kepada Jenderal Suharto untuk menertibkan kekacauan.38 Ini dimanfaatkan oleh Suharto yang secara perlahan memangkas semua kekuatan yang mendukung Sukarno, sebelum akhirnya merebut jabatan presiden.
Setelah membent uk Kopkamptib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), Suharto membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia), yang diikuti pemberlakuan sensor dan pembredelan terhadap 46 harian dari 163 surat kabar, serta pemenjaraan terhadap ratusan wartawan yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 65. Terutama yang berhubungan dengan PKI, diadili tanpa pengadilan selama lebih dari 10 tahun.39 Ini disambut gembira penerbit-penerbit yang berseberangan dengan PKI. Namun euforia ini, menjadi suatu ironi sejarah. Daniel Dhakidae menuliskan: 40
Pada hari mereka menguburkan surat kabar dan penerbitan lain yang berhubungan dengan PKI dan hari tersebut diterima sebagai hari kemenangannya maka pada hari itulah mereka memukul palu ke atas paku peti mati dan mengayunkan sekop pencedok tanah untuk menggali liang kubur kebebasan pers di Indonesia.
Namun demikian, tidak sama halnya dengan surat kabar yang dikelola AD, seperti Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha tetap diijinkan terbit, yang
38
Max Lane. Op.Cit., Hlm. 26.
39
Fauzan. 2003. Mengubur Peradaban: Politik Pelarangan Buku di Indonesia. LKIS. Jakarta. Hlm. 101.
40
Daniel Dhakidae. 2003. Cendikiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru. Gramedia. Jakarta. Hlm. 367.
melancarkan propaganda citra jahat (demonisasi) terhadap PKI. Sejarawan Baskara T. Wardaya, menuliskan: 41
Melalui koran-koran ini dan melalui berbagai cerita yang beredar di masyarakat dikisahkan mengenai macam- macam kekejaman PKI di Lubang Buaya, seperti “pesta harum bunga”, kisah pemotongan alat-alat vital, serta kisah pencungkilan mata sampai sekarang belum terbukti.
Berita-berita itu dipropagandakan media yang menuduh PKI sebagai dalang dari Gerakan 30 September. Namun sampai sejauh ini, para sejarawan menemukan fakta- fakta yang meragukan PKI sebagai dalang dari peristiwa tersebut. Walaupun demikian, selama Orde Baru berkuasa, hampir tidak ada ruang untuk mengajukan pandangan yang berbeda dari apa yang diklaim sebagai kebenaran tunggal. Seperti dinyatakan penulis dan aktivis Australia, Max Lane: 42 Semasa Orde Baru cerita-cerita tersebut kemudian diulang-ulang tanpa debat atau versi tandingan resmi dan diajarkan pada generasi baru yang dididik pada masa Orde Baru.
Dengan menuduh PKI dan unsur- unsur militer yang mendukungnya, Orde Baru melancarkan pembasmian terhadap sayap kiri yang terorganisir dan juga kelompok yang mengikuti arah yang dianjurkan Sukarno. Max Lane mengatakan teror tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri proses revolusi nasional di Indonesia: 43
Itu artinya menghentikan politik pergerakan, yaitu semua gagasan dan metode yang telah menjadi bagian integral revolusi nasional Indonesia.
41
Baskara T. Wardaya. 2006. Op.Cit., Hlm. 176. ’Pesta Harum Bunga’ adalah nama yang diberikan untuk pesta orgi yang merupakan rekayasa Orde Baru.
42
Max Lane. Op.Cit., Hlm. 51.
43
Ini dimulai dengan pembunuhan terhadap kaum kiri antara tahun 1965-1968, yang menurut sejumlah analis diperkirakan mencapai jumlah 500.000 sampai 2 juta orang dibantai oleh militer (AD), yang bergerak bersama milisi dari ormas Islam ikut menahan, menyiksa dan membunuh.44 Pada saat yang sama untuk memberi gambaran wajah sipil, mahasiswa di bawah bendera Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 66, bersama figur-figur PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), dimobilisasi di jalanan untuk menentang Sukarno dan PKI. Kelompok-kelompok ini, bersekutu dengan militer dan memainkan peran penting dalam memonopoli wacana ideologis, di antaranya dengan menguasai media masa.45
Maka tidak mengherankan, kalau berbagai pembunuhan tidak pernah dipermasalahkan selama Orde Baru berkuasa. Namun media massa, sebaliknya memberi persetujuan ketika hampir semua struktur pemaksa diarahkan untuk menciptakan teror. Demikian juga dilakukan penyesuaian kurikulum sekolah pada tahun 1978 melalui penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila), yang menjadi ‘benang merah’ pembenaran atas pembantaian massal di Indonesia. Max Lane menuliskan: 46
Tahun 1978, labelisasi PKI sebagai ‘pengkhianat’ dan jahat merupakan satu-satunya wacana publik, yang ditanamkan selama 13 tahun dalam pengajaran sekolah dan monopoli media oleh Angkatan 66. Program
44
Ibid., Hlm. 39.
45
Max Lane. Op.Cit., Hlm. 98.
46
Idem. Tanggung jawab P4 pada tahun 1979 diserahkan kepada BP 7 (Badan Pembinaan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
kampanye jaha t dan pengiblisan PKI dan Soekarnoisme benar-benar lengkap dan total.
Indoktrinasi juga dilakukan dengan menghilangkan ingatan terhadap politik pergerakan 1920-an, dan sebagai gantinya Orde Baru menonjolkan kisah kepahlawanan Suharto dan tentara.47 Sehingga menyisakan kekosongan politik mobilisasi massa di Indonesia selama hampir 10 tahun.
Baru pada tahun 1974, suatu demonstrasi besar sejak Orde Baru berkuasa, diorganisir mahasiswa menentang modal asing, terutama modal Jepang, bertepatan dengan kunjungan PM Jepang, Tanaka. Aksi ini, berkembang menjadi kerusuhan yang dengan cerdik oleh Orde Baru diberi nama Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), untuk mengingatkan orang pada nama penyakit.48
Orde Baru belajar dari peristiwa itu, sehingga keistimewaan mahasiswa untuk melakukan mobilisasi yang dihadiahkan kepada kampus saat mahasiswa-mahasiswa KAMI bersekutu dengan militer, ditarik kembali. Di kampus diberlakukan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK), yang menjauhkan mahasiswa dari aktivitas politik dan diarahkan agar fokus pada aktivitas belajar dan menjadi kader pembangunan. Ini sesuai dengan konsep Jenderal Ali Murtopo, tentang ’massa mengambang (floating mass)’ yang sepenuhnya bertolak belakang dengan situasi Indonesia
47
Ibid., Hlm. 50-51.
48
Pada saat kerusuhan pecah, saluran politik telah lama tersumbat karena kebijakan politik ’massa mengambang.’ Dalam kerusuhan itu, paling tidak 11 orang meninggal, 17 orang luka serius, 120 luka ringan, dan 755 orang ditangkap. Sebanyak, 807 mobil dan 187 motor diperkirakan hancur, terutama karena dibakar serta 144 gedung dibakar. Ibid., Hlm. 85.
1965, yaitu menjauhkan massa rakyat, terutama rakyat pedesaan dari aktivitas politik. Namun diarahkan untuk bekerja dan berproduksi dalam kegiatan pembangunan. Max Lane menyebutnya mengingatkan orang pada gagasan ‘perkakas yang bersuara’ yang biasa dijumpai dalam masyarakat perbudakan.49
Di bawah Orde Baru, Indonesia mengadopsi kebijakan pro-Barat. Perubahan yang 10 tahun kemudian ikut menentukan perubahan politik di Timor-Leste, dan hampir sangat unik, karena partai nasionalis Fretilin ketika merumuskan revolusi bagi kemerdekaan Timor-Leste, tidak dikonfrontir oleh Portugal sebagai bekas negara penjajah, namun oleh tetangganya bekas koloni Belanda yang militeristik.50 Pada titik ini, kita menjumpai kemiripan berbagai pola pembunuhan dan pembinasaan terhadap rakyat Timor-Leste dengan pembinasaan kaum kiri di Indonesia. Di mana Orde Baru mengawalinya dengan mengerahkan semua struktur negara untuk mengisolasi masalah Timor-Leste dari rakyat Indonesia.
Sejauh mana isolasi tersebut, diterapkan melalui kepemimpinan intelektual maupun kontrol atas arus informasi dan terhadap institusi negara dan masyarakat, selanjutnya dibahas peran hegemonik yang dijalankan pemerintahan Orde Baru untuk mendapat persetujuan dari rakyat Indonesia terhadap Integrasi Timor Timur.
49
Ibid., Hlm. 43.
50
Dalam hal ini, akan dibahas dua perkara berikut, yaitu peran kaum agamawan serta intelektual, dan penulisan sejarah Timor-Leste.