• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Golongan Islam dan Gereja Protestan

BAB II MASALAH TIMOR-LESTE DAN HEGEMONI ORDE BARU

B. Peran Kaum Agamawan dan Intelektual

3. Pandangan Golongan Islam dan Gereja Protestan

Indonesia adalah negara penganut Islam terbesar di dunia, dengan pemerintahan sekuler. Di mana pada tahun 1950-an, beberapa kali upaya mendirikan Negara Islam, berhasil digagalkan Pemerintahan Presiden Sukarno.

Meskipun demikian, Islam tetaplah kekuatan politik yang besar. Pada pemilu 1955, 3 partai Islam, yaitu Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), NU (Nadhatul Ulama) dan PSII (Partai Serikat Islam Indonesia) masuk dalam 5 yang terbesar, bersama 2 partai non-Islam, yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia) dan PKI. Dalam hal ini, golongan Islam terlibat perseteruan yang berkelanjutan denga n PKI, sebelum partai itu dibubarkan pasca Gerakan 30 September 1965.71

Pandangan golongan Islam terhadap invasi Indonesia ke Timor- Leste, umumnya sejalan dengan wacana anti-komunis yang dikembangkan Orde Baru. Ini karena golongan Islam tidak terlalu berkepentingan terhadap Timor-Leste yang latar belakang agamanya mayoritas Katolik. Namun opini umum, mengarah pada kelanjutan ide tentang pembasmian kaum komunis di Indonesia selama paruh akhir 1960-an.

71

Bagaimana perseteruan antara Islam dan kaum Komunis, lihat Budiawan. 2004. Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsilisasi Pasca Soeharto. Elsam. Jakarta. Hlm. 83-139. Di mana Budiawan memaparkan akar perseteruan secara historis. Bahwa dalam beberapa kasus, terjadi ‘sintesa’ antara Islam dan Komunis, dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang ditopang sistem kapitalisme pada tahun 1920-an. Namun juga terjadi perang wacana mengenai ‘Muslim’ sejati, yang apakah bertentangan ataukah sejalan dengan ajaran Komunisme, sampai pada Peristiwa Madiun 1948, ketika kepemimpinan PKI, mulai dikuasai tokoh-tokoh sekuler. Perseteruan berlanjut hingga tahun 1960-an, sehubungan penerapan kebijakan land reform.

Pada akhirnya persetujuan golongan Islam terhadap pendud ukan militer Indonesia di Timor- Leste sepanjang tahun 1980-an, selain dibatasi informasi yang dikontrol oleh militer, juga karena kekuatan golongan Islam terlalu disibukkan oleh upaya melepaskan diri dari kontrol Orde Baru, yang mengekang Islam sebagai kekuatan politik. Hal ini karena Suharto yang hidup di antara Islam Ortodoks yang populer dan semangat kebatinan Jawa, bersama Ali Murtopo yang dianggap anti-Islam;72 selalu mencurigai kekuatan Islam fundamentalis.73 Sehingga Orde Baru mengadopsi kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, berdasar nasihat seorang orientalis, Snouck Hurgronye, yaitu menekan praktik-praktik Islam yang berbau politik dan mentolerir praktik-praktik-praktik-praktik Islam kultural.74 Meskipun menjauhkan diri dari isu Timor-Leste, terdapat sejumlah organisasi Islam terlibat dalam penculikan anak-anak Timor-Leste dari komunitas Katolik dan di- Islam-kan di Indonesia.75 Terutama setelah invasi, ulama Islam diundang oleh tentara Indonesia dari Divisi Brawijaya (Jawa Timur) dan Siliwangi (Jawa Barat). Pada 18 Juli 1981, organisasi Islam utama, yang

72

M. C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Serambi. Jakarta. Hlm. 563, 587. Ini karena Ali Murtopo mendukung ide perkawinan baru yang mengizinkan wanita Muslim menikah dengan pria non-Muslim dan mengakui pernikahan sipil, yang ditentang golongan Islam. Idem.

73

Ketidaksukaan Suharto terhadap Islam, pada puncaknya memicu Peristiwa Tanjung Priok (12 September 1984). Di mana 28 orang dan mungkin lebih, tewas ditembak militer dalam suatu demonstrasi massa kalangan mesjid menentang pemerintah. Lihat M.C. Ricklefs., Ibid., Hlm. 615. Kebijakan anti Islam juga dijabarkan, dengan fusi partai-partai politik Islam ke dalam partai tunggal, yaitu PPP (Partai Persatuan Pembangunan) sejak 1973, sehingga mudah dikontrol.

74

Lihat catatan kaki Budiawan. Op.Cit., Hlm. 90.

75

bermarkas di Jakarta, DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) mulai melebarkan sayap ke Timor-Leste, dan mengatur pengiriman anak-anak dari Timor-Leste ke Makasar, antara akhir dasawarsa 1980-an, dan awal 1990-an. 76 Diikuti pada tahun 1982, Yayasan Kesejahteraan Islam Nasrullah (Yayasan Yakin) didirikan di Dili, yang bersama beberapa yayasan lain seperti Hidayatullah, An-Nur dan Yayasan Lemorai terlibat dalam pengiriman anak Timor-Leste ke Jawa untuk di-Islam-kan.77

Berbagai upaya ini, pada tahun 1990-an, intensitasnya mengalami peningkatan, yang memicu isu Islamisasi di Timor- Leste. Alasan di balik ini, didasarkan pada konsep bahwa Katolikisme sama dengan nasionalisme Timor-Leste, sehingga dengan meng-Islam-kan mereka, termasuk melaksanakan perintah Tuhan, berdasar misi patriotisme untuk mengubah anak-anak yang diselimuti komunis menjadi warga negara Muslim Indonesia yang baik.78 Gagasan yang dikritik George J. Aditjondro bahwa: 79

Islam telah menjadi kekuatan gerakan pendorong dalam kemerdekaan Palestina, Bosnia, dan Checnya, sangat mengherankan bahwa para pemimpin Islam yang oportunistik ini membutakan matanya dari fakta bahwa agama Katolik juga memiliki fungsi serupa dalam gerakan kemerdekaan di Irlandia Utara, Polandia dan Republik Baltik.

Ketidak acuhan terhadap peran revolusioner dalam agama lain ini terungkap dalam bagaimana para pemimpin agama ini berusaha mencemooh gerakan hak asasi manusia universal sebagai “konspirasi Kristen-Barat-Zionis”

76

Terdapat laporan yang mengatakan pengiriman dilaksanakan bekerja sama dengan anggota-anggota Bimbingan Mental dan Rohani militer. Lihat laporan Chega! Op.Cit., Bab 7.8 ‘Pelanggaran Hak Anak’. Hlm. 96.

77

Kelompok terbesar anak-anak Timor-Leste yang dikirimkan berada di Bandung dan Makasar. Idem.

78

George J. Aditjondro. 2000. Op.Cit., Hlm. 140.

79

terhadap apa yang mereka anggap sebagai Negara Indonesia yang pro-Muslim. Dengan kerangka pemikiran ini, peran Portugal dalam mempertahankan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi rakyat Timor-Leste digambarkan sebagai neo-kolonialisme atau neo- imprealisme. Juga dalam kerangka ini, religiositas orang Indonesia yang terlibat dalam gerakan HAM global ini mereka pertanyakan, terutama bila mereka adalah Muslim. Ironisnya, meskipun mereka secara terang-terangan mendukung Palestina, mereka merupakan – atau tidak – tahu bahwa panglima Indonesia dalam invasi ke Timor-Leste Jenderal Benny Murdani, yang kemudian menjadi panglima ABRI, adalah pengagum pasukan elite Israel, Mossad, dan memiliki hubungan dekat dengan angkatan bersenjata Israel….Murdani bahkan melengkapi ABRI dengan senapan mesin Uzi buatan Israel dan 28 pesawat penyerang Skywak bekas milik Israel.

Sementara opini yang berkembang di Indonesia, mengambarkan Islam mengalami diskriminasi selama masa kolonial Portugal, dan baru menemukan kebebasan pada masa integrasi. Ini menutup fakta bahwa imigran Arab di Timor-Leste, telah menjalin hubungan toleransi yang baik dengan Gereja Katolik pada masa itu.80

Sementara itu, golongan minoritas Protestan yang bersekutu dengan militer dalam propaganda anti-komunis 1960-an, menyetujui Integrasi Timor Timur yang dipandang positif bagi perkembangan Kristen di Indonesia. Sejumlah kecil, tentara dan perwira ABRI yang beragama Kristen Protestan, selama pendudukan di Timor-Leste, turut mendorong para penganut Katolik Timor- Leste, untuk beralih ke Gereja Protestan. Demikian juga PGI (Persatuan Gereja Indonesia) selalu mengatasnamakan Gereja Kristen Protestan Timor- Leste, baik

80

Lihat ‘Islam Makin Berkembang di Timor Timur.’ Merdeka, 25 November 1988. Demikian juga sebuah buku tentang Islam di Timor-Leste, tidak memasukkan para pemimpin Fretilin yang berasal dari komunitas Muslim Arab, seperti Hamis Basarrewan yang biasa dipanggil Hatta (karena pengagum Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia yang pertama) [ia meninggal dalam perang melawan ABRI] dan Mari Alkatiri, Perdana Menteri Timor-Leste (2002-05), dan Sekretaris Jenderal Fretilin hingga sekarang. Lihat Ambarak A. Bazher dan Euis Erinawat. 1995. Islam di Timor Timur. Gema Insani Press. Jakarta.

dalam forum nasional maupun internasional.81 Misalnya pada sidang raya Dewan Gereja-Gereja Asia (DGA), tahun 1985, di Seoul (Korea Selatan), delegasi Indonesia menentang setiap upaya memasukkan masalah Timor-Leste dalam agenda sidang.82 Baru pada tahun 1995, Gereja Kristen Timor Timur (GKTT), di bawah kepemimpinan Pendeta Arlindo Marçal, yang merupakan lulusan pertama dari seminari Protestan Indonesia, mengeluarkan GKTT dari PGI, pada pertemuan Dewan Gereja Dunia dan Konferensi Kristen Asia di Hongkong.83