• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ARUS PERUBAHAN: MENUJU PENENTUAN NASIB SENDIRI

C. Reformasi 1998

Ketika gerak maju masyarakat sipil Indonesia mulai memuncak, harapan akan penentuan nasib sendiri rakyat Timor-Leste masih samar-samar. Sehingga

420

perubahan yang lebih cepat. Laporan Chega! menuliskan: 421

Akhir kekuasaan Suharto datang secara mendadak. Dipicu oleh krisis moneter Asia Timur yang melanda hebat seperti tsunami pada tahun 1997, dan mengekspos betapa rawan Orde Baru di balik mistifikasi tentang Orde Baru yang tidak bisa dihancurkan.

Pada saat yang sama dukungan nyata dari rakyat Indonesia semakin meluas dan meninggi bersama dengan pasang naiknya perjuangan rakyat Indonesia untuk menuntaskan reformasi total.422 Pada aksi-aksi mahasiswa di Yogyakarta, Jakarta, dan kota-kota lainnya sejak tahun 1996, seringkali mulai mencantumkan tuntutan referendum dan mengibarkan bendera Timor-Leste beriringan dengan bendera Indonesia.423

Strategi ‘Indonesianisasi konflik’, menempatkan aktivis-aktivis Timor-Leste pada garis yang sama, dengan gerakan demokrasi di Indonesia. Misalnya di kota pergerakan, Yogyakarta, dibentuk KPRP (Komite Perjuangan Rakyat Indonesia untuk Perubahan). Elemen pergerakan seperti PRD, Serikat Pengamen Indonesia (SPI), Dewan Pelajar Yogyakarta (DPY), dan mahasiswa Timor-Leste dari Impettu (Ikatan Mahasiswa Pelajar Timor Timur) ikut bergabung. Di mana dalam aksi KPRP, mahasiswa Timor-Leste selalu mendapat giliran mempopulerkan gagasan kemerdekaan Timor-Leste. Majalah Talitakum

421

Lihat laporan Chega, Op.Cit., Bab 7.1 ‘Hak Penentuan Nasib Sendiri’. Hlm. 124.

422

Lihat Kiswondo, ‘Perjuangan Rakyat Maubere: Perjuangan Suatu Bangsa Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri’. Dalam Odi Shalahuddin dan Joko Utomo (Editor). 2000. Indonesia Berkaca: Refleksi Kritis Atas Perubahan. Forum LSM DIY-YAPPIKA.Yogyakarta. Hlm. 13.

423

khususnya di Yogyakarta dapat memperoleh informasi mengenai masalah Timor-Leste.424

Demikian juga, aksi-aksi KPRP, dengan dukungan mahasiswa Timor-Leste, terlibat beberapa kali bentrok dengan ABRI. Aksi terpenting, yaitu pembakaran patung Suharto, di kampus UGM (11 Maret 1998), dengan membentangkan spanduk berukuran besar, bertuliskan ‘Tolak Suharto’, sehingga harus bersitegang dengan organisasi kemahasiswaan yang menolak isu Suharto dimunculkan dalam aksi.425

Namun beberapa mahasiswa Timor-Leste dan aktivis PRD, mengarak patung Suharto, hasil kreasi mahasiswa Institut Seni Yogyakarta, dari kampus filsafat UGM yang membuat aksi menjadi menegangkan. Panitia aksi berjaket almamater, melalui pengeras suara meminta patung Suharto tidak dibakar. Namun tiga aktivis PRD dan dua mahasiswa Timor-Leste, yaitu Hortensio Pedro Vieira dan Lirio Fonseca, menyiramkan bensin dan membakar patung Suharto di depan Balairung, UGM. Aksi itu diliput wartawan lokal dan asing, sehingga menjadi berita menghebohkan keesokan harinya.426

Selain itu, pada demonstrasi mahasiswa Timor-Leste di Departemen Luar Negeri, Jakarta (12 Juni 1998), KPRP memberikan solidaritas dengan

424

Talitakum, edisi 2 Januari – Februari 1999. Majalah ini, diterbitkan mahasiswa Timor-Leste di Yogyakarta. Sedangkan di kota-kota lain di pulau Jawa, juga menjadi basis penting, namun pada penulis tidak terdapat data yang cukup. Di Jember (Jawa Timur) misalnya ada FKMJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Jember), yang mendukung perjuangan Timor- Leste.

425

Idem. Ide pembakaran patung Suharto datang dari PRD.

426

pembantaian Santa Cruz, 12 November 1998, dan 23 tahun invasi Indonesia ke Timor-Leste, 7 Desember 1998 [aksi ini digelar di depan kantor perwakilan PBB di Jakarta]. Sebaliknya aksi KPRP di Boulevard UGM (Yogyakarta), dengan mendirikan kemah ‘Anti-Dwifungsi ABRI’, mahasiswa Timor-Leste ikut memberikan dukungan. Di depan kemah mahasiswa Timor- Leste, berdiri tegak bendera Falintil, dan sejumlah spanduk bertuliskan ‘Gerakan Revolusioner Pemuda Timor-Leste untuk Kemerdekaan’, dan yel- yel ‘Viva Falintil’, ‘Viva Povo Maubere (rakyat Maubere)’, ‘Viva Xanana’, ‘Viva Konis Santana’, dan ‘Viva Taur Matan Ruak’. Demikian juga, acara pentas seni digunakan untuk memperkenalkan akar perlawanan yang berciri kultural. Mulai dari pementasan tarian perlawanan, seperti ‘Tebedai’, maupun lagu-lagu perjuangan seperti ‘Olarinda’, yang syairnya dirubah menjadi oh…he…le…le…oh…he…le…la, Ami Isin Maubere, Klamar Mós Maubere [oh…he…le…le…oh…he…le…la, Jiwa kami Maubere dan Raga Kami Maubere], dikenal luas dan dihafal para aktivis KPRP.427

Pada akhirnya, ketika gelombang rakyat yang dipelopori mahasiswa meluas menuntut Suharto mundur, gerakan pro Timor-Leste di Indonesia, bersama mahasiswa dan pemuda Timor-Leste ikut memberi andil. Mulai dari tahap awal gerakan demokrasi, maupun pada puncak-puncak aksi massa menentang Orde Baru. Ketika terjadi penembakan mahasiswa, pada bulan Mei di Jakarta oleh tentara, di Dili, Dewan Solidaritas Mahasiswa Pemuda Pelajar Timor

427

menyebutkan: 428

•Turut berduka cita atas gugurnya sejumlah mahasiswa, para pejuang demokrasi dan rakyat Indonesia yang telah menjadi korban tindakan tidak manusiawi ABRI.

•Mendukung dan menghargai upaya penegakan iklim demokrasi yang diperjuangkan para mahasiswa Indonesia.

•Mengutuk sikap tidak manusiawi ABRI yang diwujudkan dalam pembantaian terhadap mahasiswa, pejuang demokrasi, yang merupakan rakyat Indonesia sendiri.

•Mendesak pemerintah transisi Habibie, agar menindak personel ABRI yang melakukan pembantaian sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. DSMPPTT berharap semoga Indonesia dan Timor-Leste lebih berani memperjuangkan demokrasi dan kemerdekaan bagi negaranya masing- masing.

Namun akhir dari gaung reformasi, tidak lantas menjadikan isu Timor-Leste sebagai isu penting. Tidak seperti halnya isu- isu menyangkut suksesi kepresidenan, anti- militerisme atau praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Hilmar Farid menuturkan: 429

Gerakan reformasi 1998 itu, memang sangat-sangat moderat…demonstrasi mahasiswa memang militan, meriah. Slogan-slogannya hebat-hebat, tetapi secara politik…dipandu oleh kekuatan yang moderat tuntutannya. Jangankan pembebasan Timor Timur [Timor Leste], waktu itu menyerukan pembebasan Tapol, itu pun tidak disambut. Jadi, masih ada Tapol yang dipenjara pada saat itu. Budiman dan lain- lain masih dipenjara, apalagi Tapol PKI 65. [Ini] memperlihatkan sekali keterbatasan gerakan massa 1998.

Hal ini, tidak terlepas dari hegemoni Orde Baru yang ditanamkan bertahun-tahun bahwa NKRI sebagai kesatuan yang utuh, termasuk Timor-Leste diterima luas. Opini yang berkembang, menyebutkan lepasnya Timor-Leste, akan berefek domino bagi lepasnya daerah-daerah lain, yang umumnya didasarkan

428

Novas, 19 November 1998.

429

pada waktu pendudukan kantor DPR/MPR di Jakarta, oleh ribuan mahasiswa, yang sama sekali tidak menyinggung hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Timor-Leste. Demikian juga, ketika duapuluhan hingga tigapuluhan mahasiswa Timor-Leste yang hadir, oleh sejumlah aktivis mahasiswa Indonesia, diminta meninggalkan lokasi. Tampaknya ada keengganan untuk melibatkan mahasiswa Timor-Leste dalam proses reformasi, karena dianggap memecah belah keutuhan NKRI. Hilmar Farid mengatakan, hal itu mengingatkan bahwa Timor-Leste tidak pernah menjadi bagian dari perjuangan reformasi Indonesia.430 Sehingga demonstrasi seribuan mahasiswa Timor- Leste menuntut referendum di Deplu, Jakarta (10-12 Juli 1998), tidak mendapat dukungan aktivis mahasiswa Indonesia. Kecuali para aktivis yang berkecimpung dalam gerakan pro Timor-Leste.431 Lefidus Malau mengatakan kenyataan itu di luar bayangan semula: 432

Bayangannya dulu…momentumnya justru dari [Timor-Leste]. Ternyata dari Jakarta, tapi ketemu juga situasinya. Bayangannya adalah legitimasi militer dari [Timor] Leste…membongkar semua kebusukan dari awal sampai akhir…Aneksasi yang tidak melalui konsultasi dengan DPR, tidak ada pernyataan perang…kekacauan dalam managemen negara. Ini harus ditata kembali. Nah…ketika reformasi, ada delegitimasi negara. Dalam artian, tentara ketakutan jalan-jalan. Sebelumnya mereka, kalau pakaian seragam petentang-petenteng. Pada saat reformasi itu, di jalanan polisi juga nggak ada. Tapi, bukan dalam artian delegitimasi yang mendasar. Jadi, lebih kepada kebencian-kebencian personal…yang selama ini tidak di bawah masuk kedalam…kerangka konstitusional.

430 Idem. 431 Idem. 432

mahasiswa dengan dukungan kelas menengah, tidak lantas menjadikan masalah Timor-Leste, sebagai isu penting dalam koridor perjuangan demokrasi Indonesia. Sejumlah elit yang tampil sebagai tokoh reformis, justru tidak memberikan dukungan bagi perjuangan Timor-Leste. Pandangan Megawati Sukarno Putri, dari PDIP (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan), mencerminkan hal itu, dan tidak mengherankan mengingat salah seorang pengurus PDIP adalah jenderal (purnawirawan), Theo Syafei, yang tangannya ikut berlumuran darah di Timor-Leste.

Namun keterbukaan pasca tumbangnya Suharto, memberi peluang bagi kampanye penentuan nasib sendiri Timor-Leste. Laporan Chega! menuliskan jatuhnya Suharto merupakan ‘keuntungan moral.’433 Termasuk kalangan masyarakat sipil Indonesia, menyebutkan kemerdekaan Timor-Leste, tergantung pada demokratisasi di Indonesia, atau paling tidak pada perubahan kepemimpinan.434 Yeni Rosa Damayanti mengatakan: 435

Saya mendengar dari mahasiswa Timor Timur di Jawa, bahwa Xanana sendiri mengatakan kemerdekaan Timor Timur akan tergantung pada proses demokratisasi Indonesia. Akan sulit untuk mencapai kemerdekaan tanpa demokrasi di Indonesia [yang berarti Soeharto harus jatuh].

Bergulirnya reformasi, membuat beberapa gerakan pro Timor-Leste, menyesuaikan strateginya, lebih lanjut. Suatu masa di mana persoalan

433

Lihat laporan Chega, Loc..Cit., Bab 7.1 ‘Hak Penentuan Nasib Sendiri’. Hlm. 124. Dikutip dari Bernard Williams dalam Carlos Santiago Nino, Radical Evil on Trial. Yale University Press. Pricenton, New Jersey 1999.

434

Idem.

435

tetapi lama, yaitu Solidamor (Solidaritas Perjuangan untuk Penyelesaian Damai Timor-Leste), berdiri pada bulan Juli 1998. Diketuai Bonar Tigor Naipospos, yang sebagian anggotanya berasal dari aktivis pergerakan tahun 1990-an awal, yang aktif di Pijar. Solidamor didirikan sebagai organisasi advokasi, informasi dan aksi yang bersifat independen dan peduli pada masalah dan nasib Timor-Leste, dengan menghimpun anggota orang Indonesia, dari berbagai profesi dan latar belakang. Bidang pekerjaannya, meliputi:

•Membangun kepedulian publik, support serta kampanye terhadap masalah Timor Timur.

•Menganalisa dan membentuk jaringan kerja advokasi, aksi dan informasi mengenai Timor Timur.

•Memproduksi buletin, buku, film, brosur dan dokumen lainnya mengenai semua aspek masalah Timor Timur.

•Membangun solidaritas dan kerjasama dengan lembaga- lembaga advokasi hak asasi manusia dan demokratisasi.

•Pendampingan terhadap rakyat Timor Timur yang membutuhkan bantuan advokasi sosial dan non advokasi

Support terhadap rakyat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri. Fund Rising untuk membangun rakyat Timor Timur

Menurut Bonar Tigor Naipospos, ada beberapa alasan penting yang menjadi bagian dari kampanye Solidamor, yaitu pertama, masa- masa akhir sebelum reformasi, isu Timor-Leste telah menjadi ganjalan untuk meraih kepercayaan internasional hampir di semua forum internasional; kedua, masalah Timor-Leste telah menjadi beban untuk rakyat Indonesia, karena kenyataannya sebagian biaya pemerintahan di Timor-Leste, ditanggung Jakarta; ketiga, biaya operasi militer yang besar dan ketiadaan transparansi. Sementara, untuk memulihkan kepercayaan internasional, Indonesia harus memperbaiki kinerjanya

Solidamor, yaitu BEBASKAN INDONESIA DARI TIMOR TIMUR.436

Sampai pada referendum 1999, Solidamor melakukan beberapa kampanye penting. Di antaranya dengan pendekatan popular, melalui penyelenggaraan Timor-Leste Fair (8-10 Desember 1998); seminar dengan mengundang pembicara dari kalangan, aktivis, akademisi dan tokoh-tokoh Timor-Leste. Misalnya diadakan seminar akbar bertaraf internasional (30-31 Desember 1998), bekerja sama dengan Universitas Islam, Paramadina Mulya, Jakarta, bertema ‘Demokratisasi Indonesia dan Masalah Timor Timur’.437 Demikian juga diadakan dialog dengan sejumlah partai politik yang bermunculan setelah reformasi. Di mana selain PRD dan PUDI (lahir sebelum reformasi), dua partai baru yaitu PAN (Partai Amanat Nasional) pimpinan Amien Rais dan Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) pimpinan Mochtar Pakpahan, menyatakan mendukung referendum. Selain itu, diadakan survei terhadap pandangan masyarakat kampus mengenai persoalan Timor-Leste di kota-kota besar di pulau Jawa.438

Pada masa ini, di Timor-Leste, organisasi masyarakat sipil bertambah dengan dibukanya cabang Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan

436

Wawancara Bonar Tigor Naipospos, Jakarta, 23 Mei 2007.

437

Tampil sebagai pembicara antara lain, Nurcholis Madjid, T. Mulya Lubis, Sabam Sirait, Dino Patti Djalal, Lukman Sutrisno, Gerry van Klinken, Harold Crouch, Olle Tornquist, James Dunn, Anders Uhlin, Pat Walsh, Lord Avebury dan lain- lain. Sedangkan dua nama dari luar yang dicekal yaitu Akihisa Matsuno, yang diusir dari Bandara Soekarno-Hatta, dan Barbedo Magalhães dipersulit visanya. Lihat Solid, Volume 03, Februari – Maret, 1999.

438

Sebagian dari hasil survei itu, 66,9% menyatakan informasi pemerintah mengenai Timor-Leste tidak layak dipercayai, dan 65,5% menerima penyelesaian masalah Timor-Leste, ditentukan rakya t Timor-Leste sendiri. Lihat Solidamor. 1998. Timor Timur Di Mata Masyarakat Kampus. Solidamor. Jakarta.

yaitu Fokupers (Forum Komunikasi Perempuan Lorosa’e [Juli 1997]) dan Gertak (Gerakan Perempuan Timor-Leste Anti Kekerasan [November 1998]), di mana kehadiran organisasi-organisasi tersebut, turut memperkuat kerja Yayasan Hak.439