• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MASALAH TIMOR-LESTE DAN HEGEMONI ORDE BARU

D. Rangkuman

Bab ini, tela h memperlihatkan bagaimana Orde Baru menjalankan peran hegemonik untuk mendapatkan persetujuan publik Indonesia mengenai Integrasi Timor Timur. Ini dimungkinkan karena tindakan represif maupun hegemoni yang dijalankan Orde Baru, yang berkuasa pasca Gerakan 30 September 1965, sehingga di Indonesia nyaris tidak ada kekuatan oposisi. Hegemoni dijalankan melalui kontrol atas institusi keagamaan maupun melalui lembaga pendidikan, seperti melalui penulisan ulang sejarah Timor- Leste yang banyak diperankan CSIS. Hal ini berefek panjang selama hampir satu dasawarsa, sebagai faktor utama yang menyebabkan publik Indonesia tidak mendapat informasi sebenarnya mengenai masalah Timor- Leste.

100

Pada bagian ini, akan dibahas pemberitaan media di Indonesia menjelang invasi ke Timor- Leste 1975 hingga keterbukaan Timor-Leste 1988. Dalam kurun waktu tersebut, media massa terutama surat kabar ikut membangun legitimasi yang mendukung Integrasi Timor- Timur dalam memori rakyat Indonesia,101 sehingga nyaris tidak memperoleh informasi mengenai keadaan Timor-Leste yang sebenarnya.

Kondisi ini, dimungkinkan karena pasca Gerakan 30 September 1965, pada tanggal 12 Desember 1966, penguasa Orde Baru mengeluarkan Undang-Undang (UU) Pokok Pers, yang mewajibkan penerbitan koran memperoleh Surat Izin Terbit (SIT), dan diperbaharui pada tahun 1982, digantikan UU No 21/1982, yang subtansinya tidak berubah. Bahwa penerbitan koran harus memiliki SIUPP (Surat Izin Penerbitan Pers), yang dikendalikan Menteri Penerangan.102 Undang-Undang ini, mutlak menjabarkan kontrol negara atas pemberitaan pers, sehingga pemerintah dapat membredel setiap surat kabar yang dianggap merugikan pemerintah dan masyarakat.

Di bawah kontrol demikian, peran pers dalam memberitakan masalah Timor-Leste, tidak lebih sebagai corong propaganda Orde Baru. Adapun

101

Peran yang sama dilakukan hingga referendum 1999, namun pada periode 1990-an, di Indonesia mulai tumbuh gerakan yang mendukung penentuan nasib sendiri rakyat Timor-Leste, sehingga relatif terdapat wacana-wacana alternatif sebagai tandingan.

102

Fauzan. Op.Cit., Hlm. 101-102.

pembahasan berikut, dimulai dengan beberapa tema pokok sehingga deskripsinya lebih bersifat tematis-kronologis.

A. Perang Dingin dan Wacana Anti Komunis

Propaganda yang dilakukan media massa Indonesia, kerapkali menyebarkan informasi yang menyebut Fretilin sebagai marxis/komunis.103 Sehingga mengaburkan peranan Fretilin dalam perjuangan melawan kolonialisme Portugal dan sistem kapitalisme yang menopangnya. Penyesatan informasi ini, dilakukan menjelang invasi militer Indonesia dan pada tahun-tahun awal sesudahnya masih kerap dilekatkan dengan Fretilin sepanjang dekade 1980-an. Komunisme adalah isu yang dominan dari suasana Perang Dingin ketika itu, di mana Amerika Serikat yang pada tahun 1974 baru saja kalah dan mundur dari kancah Perang Vietnam menginginkan agar prospek suatu “Kuba” kedua di Asia Tenggara akan menjadi penghalang bagi jalur kapal selam nuklir melalui Selat Ombai dan Wetar tidak terjadi. Geoffrey Gunn, menuliskan:104

103

Komunisme tidak mengakar di Timor-Leste, seperti di wilayah Asia Tenggara lainnya yang didukung gerakan komunis internasional. Sebagian besar pemimpin Fretilin adalah didikan Jesuit, sehingga pemahaman mengenai sosialisme bersumber dari ajaran keadilan sosial Gereja Katolik dan tradisi komunitarian di Timor- Leste. Marxisme meskipun berpengaruh, telah diadaptasi dengan situasi Timor-Leste diinspirasi oleh gagasan Amílcar Cabral di Guinea-Bissau. Namun, sebagai front Fretilin juga meliputi aliran sosial demokrat, maupun nasionalisme anti kolonial yang tajam dengan kemandirian ekonomi. Lihat Geoffrey C. Gunn. Op.Cit., Hlm. 442; wawancara George Aditjondro dengan Ramos Horta ‘Saudara ini komunis?’ Tempo, 15 Juni 1974 dan Chega! Op.Cit., Bagian 3 ’Sejarah Konflik’. Hlm. 29; serta John Taylor. Op.Cit., Hlm. 83-84.

104

Washington bersama Canberra secara konsisten memberi dukungan penghargaan kepada Indonesia atas peranan subordinatnya sebagai polisi regional.

Ini dimulai ketika kebijakan anti-komunis Jakarta, berubah menjadi kekhawatiran. Pengamat politik Michael Leifer, seperti dikutip Bambang Cipto, mengatakan Jakarta mempunyai keprihatinan mendalam tentang ancaman terhadap keamanan Republik, yang mungkin muncul dari perubahan tidak pasti di Timor-Leste.105 Meskipun kekhawatiran Jakarta, sebenarnya telah ditepis oleh Fretilin yang mengutus Jose Ramos Horta dan Alarico Fernandes ke Jakarta pada bulan Juni 1974, dan diterima Menteri Luar Negeri Adam Malik, untuk menunjukkan keinginan menjalin hubungan baik dengan Indonesia sebagai negara tetangga. Pada pertemuan itu, Adam Malik menulis sebuah surat kepada Ramos Horta, yang menganut prinsip-prinsip berikut: 106

I. Kemerdekaan setiap negara merupakan hak segala bangsa, tanpa terkecuali bagi rakyat Timor Timur juga.

II. Pemerintah dan rakyat Indonesia tidak berminat menambah atau memperluas wilayah, ataupun menduduki wilayah lain, lebih dari pada konstitusi yang telah ditetapkan.

III.Siapa saja yang akan memerintah di Timor di kemudian hari setelahnya kemerdekaannya, dapat diyakinkan bahwa Indonesia akan selalu berusaha untuk tetap mempertahankan hubungan baik, kekeluargaan, dan bekerja sama dalam hal- hal yang menguntungkan kedua negara.

Namun hampir pasti, para jenderal garis keras di Jakarta yang berpengaruh besar pada masa itu, mempunyai agenda yang berbeda, bersamaan dengan

105

Leifer menyebut kehadiran kelompok kiri di Timor- Leste menjadi alasan kekhawatiran Jakarta dan menyebut tidak ada ketamakan teritorial, lihat Bambang Cipto. 2003. Tekanan Amerika Terhadap Indonesia:Kajian Atas Kebijakan Luar Negeri Clinton Terhadap Indonesia. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm. 42-43.

106

propaganda anti komunis yang terus dilanggengkan. Hal ini terbilang unik, karena anti komunisme yang terus direproduksi Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaannya pada akhirnya menjadi alasan pembenar atas penyerbua n ke Timor-Leste. Ketika hal ini berlangsung, kontrol atas ingatan publik di Indonesia telah berlangsung hampir 10 tahun. Media massa dikontrol ketat agar pemberitaan mengenai komunisme ditulis berdasarkan versi resmi Orde Baru. Begitu juga semua tulisan disensor dan buku-buku ditulis ulang, terutama buku pelajaran sekolah hingga produksi film untuk keperluan indoktrinasi.107 Wacana anti-komunis di bawah Orde Baru mengalami reduksi besar-besaran, di mana komunisme sebagai ideologi diidentikkan sebagai ‘kaum atheis yang kejam’, ‘pengkhianat bangsa’, dan ‘anti Pancasila’.

Sementara itu, propaganda komunis terhadap Fretilin diawali oleh media massa Indonesia, yang melancarkan kampanye destabilisasi di Timor-Leste selama Operasi Komodo, dengan tujuan menciptakan keadaan yang kacau, yang digunakan untuk intervensi militer.108 Ini diawali dengan penggarapan terhadap sejumlah tokoh politik Timor-Leste dari partai UDT,109 oleh Opsus dan BAKIN.

107

Produksi film tentang kup komunis yang gagal pada tahun 1965, wajib ditonton oleh anak-sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di Timor-Leste yang baru dimasukkan ke wilayah Indonesia sejak 1975.

108

Geoffrey C. Gunn. Op.Cit., Hlm. 417. Operasi Komodo adalah operasi inteligen rahasia, yang dirancang Jenderal Ali Murtopo, Jenderal Benny Murdani dan Kepala BAKIN, Jenderal Yoga Sugomo.

109

Pemimpin UDT yang jatuh ke dalam persuasi Operasi Komodo, diawali F.X. Lopes da Cruz dan Mousinho, serta belakangan diikuti João Carrascalão. Setelah sebelumnya mereka diundang ke Jakarta, melihat-lihat pembangunan di Indonesia. Lihat John Taylor. 1998. Op.Cit., Hlm. 81, 88-89., dan F.X Lopes da Cruz. 1999. Kesaksian Aku dan Timor Timur. Yayasan Tunas Harapan Timor Lorosae. Jakarta. Hlm. 67.

Alhasil, beberapa pemimpin UDT ‘termakan’ isu anti-komunis sehingga memecah belah koalisi Fretilin- UDT yang mengarah kepada prospek kemerdekaan Leste [Mengenai partai politik di Leste, lihat bagian Integrasi Timor-Timur]. Meskipun langkah yang ditempuh, sebetulnya menyimpang dari platform UDT sebagai partai nasionalis, ma upun pandangan pribadi para pemimpinnya. Lopes da Cruz, yang selama bertahun-tahun dipekerjakan sebagai diplomat Indonesia, dalam otobiografinya menuliskan: 110

Kesan saya sejak semula amat buruk mengenai Indonesia, sebagai negara yang amat berambisi menjadi neo-kolonialis. Mereka akan menjajah tanah kami dengan pelbagai argumen historis, geografis, demografis, yang saya anggap cuma omong kosong belaka. Mengundangnya masuk ke Timor Timur dan kemudian menjadikannya majikan politik baru sungguh merupakan pengkhianatan tak terkira terhadap kepentingan seluruh rakyat.

Propaganda gencar media massa Indonesia mengenai ancaman komunisme, merupakan bagian dari perang urat syaraf, untuk menggambarkan kerentanan Timor-Leste terhadap intervensi asing [baca: komunis]. Cendikiawan Muslim, Abu Hanifah, pada harian yang dikelola sejumlah wartawan Protestan, Sinar Harapan, menuliskan bahwa penasehat-penasehat militer bermata sipit dari RRC, Korea Utara, atau Jepang konon membantu Fretilin.111 Harian Sinar Harapan juga secara mencolok, memuat foto Maria do Çeu Pereira dan suaminya, António Carvarinho, mahasiswa Timor-Leste dari Lisabon dengan mencap mereka sebagai

110

F.X. Lopes da Cruz. Ibidem., Hlm. 41.

111

Abu Hanifah, ‘Laporan Sepihak tentang Timor Timur oleh Guicciardi kepada DK-PBB’, Sinar Harapan, 19 Maret 1976.

Maois dari Portugal.112 Sementara UDT juga tidak luput dari propaganda. Mula-mula digambarkan sebagai fasis, namun pada akhirnya Sinar Harapan, menyebut Fretilin dan UDT tidak dapat dibedakan. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan diplomat Indonesia, bahwa UDT adalah gerakan sosialis, sehingga Timor-Leste akan dikuasai pemerintahan kiri.113 Sementara itu, Falintil (Forças Armadas de Libertação Nacional de Timor-Leste, Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor-Leste) - sayap bersenjata Fretilin, digambarkan sebagai pasukan teroris yang dibentuk kolonial Portugal yang berlaku kriminal dan kejam,114 serta kerap melakukan perampokan terhadap ternak dan makanan penduduk hingga melintasi perbatasan Indonesia.115 Gambaran demikian, dihadirkan melalui seorang Partisan Pejuang Integrasi [yang tanpa disebutkan namanya],116 ditampilkan sebagai representasi orang Timor-Leste mengisahkan kekejaman Fretilin: 117

Pembunuhan massal, dengan perlakuan di luar batas perikemanusiaan, pemenggalan leher, membunuh anak-anak kecil tak berdosa dengan cara dipegang kaki atau pun tangannya saja kemudian diangkat tinggi- tinggi dan

112

Sam Pardede, ‘Ekstrem Ketemu Ekstrem’, Sinar Harapan, Oktober 1974, Dikutip dari Helen Mary Hill. Op.Cit., Hlm. 82.

113

Lihat John Taylor. 1998. Op.Cit, Hlm. 93-94.

114

Mengutip James T. Siegel, Budiawan, menuliskan analisis tentang bagaimana negara menciptakan para kriminal. Selama Orba istilah komunis digunakan sebagai cara ‘mengkriminalisasi’ bagi yang lain, karena komunis adalah sama dengan kriminal (penjahat). Lihat Budiawan. Op.Cit., Hlm. 15-16.

115

‘Keadaan Timor Timur Dewasa Ini’, Berita Buana, 25 Maret 1983.

116

Penghilangan nama dalam artikel tersebut, ingin menunjukkan kekejaman Fretilin sebagaimana adanya, dari sudut pandang seorang Partisan [Pasukan yang dibentuk militer Indonesia dengan merekrut pemuda Apodeti, tahun 1974 dan dilatih di Timor Barat].

117

J. Supardjo, ‘Cerita Seorang Partisan Pejuang Integrasi Timor Timur’, Angkatan Bersenjata, 16 Desember 1977.

dibantingkan di depan mata orang tuanya adalah satu cara yang paling sadis yang selalu dilaksanakan oleh Fretilin.

Gambaran pola pembunuhan tersebut, sebenarnya tidak didukung fakta yang memadai, kecuali khas dilakukan oleh militer Indonesia selama pembantaian massal pasca Gerakan 30 September 1965, maupun terhadap rakyat Timor-Leste.118

Bagaimana pun berita-berita tersebut, adalah cerminan dari situasi Indonesia yang pro-barat pada era Perang Dingin ketika itu. Walaupun ini coba ditutupi pers dengan memberitakan kepalsuan ciri politik bebas aktif sejak zaman Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Demikian juga sengaja tidak diberitakan kunjungan PM Australia, Gough Whitlam (6 September 1975) dan Presiden AS, Gerald Ford (6 Desember 1975), ke Indonesia untuk memberi restu kepada Suharto, dalam menjalankan skenario pencaplokan Timor-Leste, termasuk dukungan dari sejumlah pimpinan CIA (Central Intelligence Agency).119 Pers juga tidak banyak memberitakan sejumlah pertemuan diplomatik antara Pemerintah Portugal dan Indonesia, sebagai upaya mencegah terjadinya pertumpahan darah di Timor-Leste, namun sebaliknya menulis berita-berita yang mendukung skenario pencaplokan.120 Harian Angkatan Bersenjata menuliskan bahwa andaikata Fretilin

118

Perbandingan pola pembunuhan ABRI, di Indonesia dan Timor-Leste, lihat George Aditjondro. 2000. Op,Cit., Hlm. 83-89.

119

Stanley, ’Nasionalisme Sempit Ubah Media Jadi Corong dan Alat Propaganda’, kata pengantar dalam Hotman Siahaan dkk. 2000. Pers Yang Gamang: Studi Jajak Pendapat Timor Timur. LKIS. Jakarta. Hlm. xxiiii.

120

itu partai kiri, pasti tidak berakar di kalangan rakyat,121 dan dipertegas tajuk rencana harian Pelita: 122

…secara ideologis, Fretilin tidak mustahil merupakan bagian dari komunis internasional yang selamanya tidak mungkin bersahabat dengan Indonesia sebagai negara non-komunis yang paling konsekuen di wilaya h Asia Pasifik ini.

Kebijakan anti-komunis Orde Baru, membuat negara- negara barat mendukung pencaplokan Timor-Leste, dan juga karena alasan-alasan pragmatis, untuk menjalin hubungan ekonomi yang menguntungkan dengan Indonesia. Setidaknya dukungan konstan yang diberikan, membawa Orde Baru pada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan gagal mencegah suatu intervensi militer ke Timor-Leste.

Namun seiring bergulirnya waktu, pada paruh pertama 1980-an, Indonesia mulai dihadapkan pada isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM), yang membuat wacana anti-komunis mulai memudar dan tidak lagi relevan. Lagi pula, PKI telah berhasil dihancurkan.123 Pada periode ini, Orde Baru dalam mengelola isu Timor-Leste, mulai mengalihkan ingatan kolektif publik, melalui kontrol atas bahasa dengan menggunakan eufemisme (penghalusan) seperti, ’kelompok anti-Republik’, maupun disfemisme (pengkasaran) seperti, ’pasukan gerombolan liar’, ’gembong’, dan ’teroris’, hingga pelabelan akronim GPK (Gerakan Pengacau

121

Mohamad Irsyad Sudiro, ’(Catatan dan Kesan dari Timor Timur (IV – Habis): Bagaimana Yang Paling Baik’, Angkatan Bersenjata, 27 Januari 1975.

122

‘Sikap Pemerintah Australia’, Pelita, 29 Juli 1983.

123

Akan tetapi reproduksi atas wacana anti-komunis dengan apa yang disebut bahaya laten komunis, acapkali masih digunakan untuk menyerang mereka yang dianggap sebagai musuh negara.

Keamanan) kepada semua yang berhubungan dengan Fretilin. Secara implisit, perubahan ini menandai ketidak relevansian dogma penting, bahwa Indonesia mencaplok Timor-Leste untuk menahan menyebarnya paham komunisme.

B. Propaganda Perang Saudara dan Inflitrasi Militer Indonesia

Operasi Komodo yang dilancarkan militer Indonesia, berujung pada Perang Sipil di Timor-Leste. Dimulai oleh kup UDT 11 Agustus, dan dibalas kontra kup Fretilin yang berlangsung singkat namun berdarah.124 Pers Indonesia memberitakannya sebagai perang saudara dengan dampak kekacauan yang luas dan berlarut- larut. Sebenarnya, situasi Timor-Leste tidaklah seburuk itu. Jumlah korban dari kalangan sipil dan militer, menurut Gunn, mengutip koran Portugis Diário de Noticias, dilaporkan lebih dari 2000 korban meninggal, namun lebih jauh ia mengatakan angka yang sebenarnya kurang dari itu.125 Selama perang sipil, Fretilin dengan dukungan orang-orang Timor-Leste yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Portugal (Tropaz), mendapat kemenangan. Sedangkan UDT yang kalah dan terjebak di perbatasan, memperoleh izin masuk ke wilayah Indonesia dan melanjutkan Movimento Anti Comunista Revolucinário (MACR, Gerakan Revolusi Anti Komunis), dikoordinir F.X. Lopes da Cruz, yang pembentukannya diumumkan di Dili pada hari- hari setelah kup UDT.126 Sementara Pemerintah kolonial Portugal setelah gagal mencegah perang sipil, menyingkir ke Ataúro, pulau kecil 25 km seberang laut kota Dili, sehingga praktis

124

Geoffrey C. Gunn. Op.Cit., Hlm. 417-418.

125

Idem.

126

Fretilin mengendalikan situasi dan secara de facto menjalankan roda pemerintahan di Timor- Leste.

Namun harian Angkatan Bersenjata, memberitakan perang masih berlangsung di dekat perbatasan Indonesia, dan Timor- Leste sangat kacau sebagai daerah tak bertuan yang berlaku hukum rimba.127 Padahal perang sebenarnya, adalah menghadapi Operasi Komodo yang dilancarkan militer Indonesia, sejak bulan Oktober dan November 1975. Dalam serangan ke Balibo, 16 Oktober, militer Indonesia membunuh 5 wartawan asing media eletronik sebagai upaya menghilangkan saksi mata penyerbuan besar-besaran yang difilmkan.128 Pembunuhan itu, membuat juru bicara Orde Baru, mulai dari Menlu Adam Malik sampai Menlu Ali Alatas menyebarkan kebohongan, bahwa ke-5 wartawan itu tewas ditengah-tengah tembak menembak antara pasukan Fretilin dan pasukan gabungan.129 Harian Angkatan Bersenjata menuduh Fretilin- lah yang harus bertanggung jawab, karena sebagai pihak pengundang seharusnya dapat menjamin

127

Mohamad Irsyad Sudiro, ‘Catatan dan Kesan dari Timor Timur: de Facto di Tangan Siapa’, Angkatan Bersenjata, 20 November 1975.

128

Ke-5 wartawan itu antara lain, Greg Shackleton dan Tony Stewart (Australia), Gary Cunningham (Aotearoa/Selandia Baru), serta Malcom Rennie dan Brian Peters (Britania Raya). Pembunuhan itu terjadi di bawah komando Mayor Yunus Yosfiah dan sampai sekarang belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Demikian juga wartawan Australia yang tersisa, Roger East dibunuh pada hari invasi ke Dili, 7 Desember 1975.

129

George Aditjondro. ‘Balibo I dan Balibo II: Dua Kebohongan Sebagai Alat Legitimasi Aneksasi Timor Lorosa’e Oleh Rezim Orde Baru’ kata pengantar dalam James Dunn. 1995. Insiden Balibo 1975 Terbunuhnya Lima Wartawan Itu. Fortilos dan Isai. Jakarta. Hlm.7. Kematian wartawan tersebut, selama bertahun-tahun didiamkan Pemerintah Australia, maupun Aotearoa/Selandia Baru dan Inggris, denga n pertimbangan hubungan ekonomi dengan Indonesia dianggap lebih penting.

keamanan para wartawan tersebut.130 Belakangan José Martins, salah seorang deklarator integrasi, membelot dan membeberkan pembunuhan para wartawan tersebut setelah berhasil ke luar negeri, membuat pers Indonesia menulis berita yang membela ABRI, dengan menampilkan para tokoh integrasi Timor-Leste sebagai sumber berita. Harian ABRI [sekarang TNI], Berita Yudha menuliskan: 131

Dalam laporannya, Panglima Tómas Gonçalves menyatakan, ketika pertempuran merebut Balibo berlangsung, suatu serangan gencar datang dari sebuah rumah. Pasukan gabungan melakukan pembalasan dengan tembakan2 senjata berat, sehingga rumah tsb mengalami kerusakan hebat. Ketika pasukan gabunga n memeriksa rumah tsb. Ternyata para penyerang semuanya tewas dan terdapat 15 mayat di dalamnya. Di antara mereka terdapat orang kulit putih yang berada di dalam rumah tsb.

Berita-berita tersebut, memungkinkan peningkatan intensitas serangan ABRI ke Timor-Leste, yang mendapat perlawanan sengit Fretilin.132 Sehingga baru berhasil merebut Atabae, kota kecil sekitar 20 km dari perbatasan Indonesia pada 25 November 1975, yang diliput sebagai kelanjutan dari perang saudara. Sedangkan operasi yang sebenarnya, tidak diberitakan sebagai satu rangkaian dari langkah sistematis persiapan militer, yang mendahului pelaksanaan operasi besar-besaran untuk mengintegrasikan Timor-Leste lewat Operasi Seroja.133 Dalam hal

130

‘Catatan dan Kesan dari Timor Timur (ii) ‘De Facto di Tangan Siapa’, Angkatan Bersenjata, 26 November 1975.

131

’Jose Martins Pembohong Besar’, Berita Yudha, 6 Mei 1976.

132

Serangan dilakukan dengan tembakan artileri, dan pemboman dari laut dan udara. Sebuah laporan harian CIA, The National Intellience Daily, melaporkan bahwa pada tanggal 20 Oktober, serangan Indonesia terhenti karena Jakarta gagal menguasai kota perbatasan Lebos. Lihat Chega! Op.Cit., Bagian 3, ’Sejarah Konflik’. Hlm. 52-53.

133

ini, wartawan tidak diberi keleluasaan melakukan tugas jur nalistik, kecuali yang bekerjasama dengan militer yaitu, LKBN Antara, TVRI, dan Berita Yudha, yang ikut dipersenjatai dan menyusup ke perbatasan wilayah Timor-Leste dengan kesatuan-kesatuan kecil yang dibentuk ABRI.134 Wartawan-wartawan ini, menjadi sumber berita dan sering dikutip media- media di Indonesia, yang tidak mempunyai akses ke Timor- Leste, sehingga berita-berita yang ditulis hampir selalu menguntungkan operasi militer Indonesia.

Ini terlihat dari disinformasi dengan memberitakan serangan mortir ke wilayah Indonesia. Harian Kompas yang dikelola sejumlah wartawan Katolik, mengutip Kapuspen ABRI, Brigjen Ramhadi, memberitakan tujuh penduduk Indonesia tewas karena serangan tersebut, dan menimbulkan reaksi keras di Indonesia. Presiden Suharto pun memerintahkan agar pasukan RI di perbatasan diperkuat, dan Jenderal M. Panggabean di depan pers menyatakan: 135

Sikap kita adalah siapa yang melanggar perbatasan dan menyerang akan kita pukul sampai habis.

Kemudian diikuti Menteri Luar Negeri Adam Malik, yang menanggapinya sebagai provokasi Fretilin: 136

134

Kelompok wartawan ultra-nasionalis, antara lain: Junisaf Anwar (LKBN Antara), Hendro Subroto dan Maraden Tampubolon (TVRI) serta Djumaryo (Berita Yudha). Ibid., Hlm. xx.

135

John Taylor. 1998. Op.Cit. Hlm. 107. Juga lihat ‘Presiden Perintahkan Perkuat Pasukan di Perbatasan Timor Portugis’. Kompas, 27 September 1975.

136

‘RI Tak Keberatan Timor Portugis Merdeka’, Sinar Harapan, 13 Juli 1975.

…hanya provokasi agar kita membalas dan kemudian Fretilin akan menggunakan alasan itu sebagai propaganda kepada dunia. Kita tahu itu, tapi kesabaran kita punya batas.

Lebih dari itu, John Taylor mengutip Antara, menyebutkan Fraksi ABRI juga marah, bahwa hal ini menunjukkan betapa terhormatnya UDT dan Apodeti, karena masih bertahan dalam kancah peperangan dan tidak bertindak di luar batas kemanusiaan. Sedangkan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) mengatakan: 137

…anggotanya siap dan menunggu perintah presiden untuk membantu masalah di perbatasan dengan Timor Portugis…

Dalam hal ini, hampir semua berita yang diturunkan pers Indonesia, nyaris tidak mempunyai pembanding, setelah pembunuhan wartawan asing di Timor-Leste. Mantan diplomat Australia di Dili, James Dunn menuliskan: 138

. ..laporan- laporan pers Indonesia berhasil mendapat kredibilitas, sesuatu yang sebenarnya bukan hak mereka. Kehadiran media Australia di Timor sangat sedikit dan lemah. Sementara laporan- laporan Antara, menjadi saluran berita utama, yang biasanya diterima begitu saja. Laporan-laporan itu terbukti dibuat tidak hanya untuk menciptakan kesan bahwa Timor Timur berada dalam keadaan kacau-balau dengan terus bergolaknya perang saudara, tetapi bahwa keadaan ini mendatangkan tekanan yang menyusahkan kepada Indonesia.

Akibat lebih jauh, menurut John Taylor informasi yang bias juga diperoleh masyarakat dunia, karena pers asing banyak mengutip media Indonesia: 139

137

John Taylor. 1998. Loc. Cit., Hlm. 107.

138

James Dunn. 1995. Op.Cit., Hlm. 7.

139

Dengan semangat nasionalisme yang dibangkitkan BAKIN, ditambah dengan kesetiaan agen pers dalam menyiarkan berita, bagaimana mungkin