Dengan mekanisme PvP, potensi risiko tersebut dapat diminimalisir karena tidak ada risiko salah satu pihak tidak menerima mata uang yang dibelinya. Model PvP yang berkembang secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu model gross settlement dan netting settlement. Adapun beberapa model PvP yang saat ini berkembang dan digunakan di dunia, adalah sebagai berikut: 1. Model Netting
a. Continuous Link Settlement (CLS)
CLS merupakan suatu kliring transaksi valas (atau mekanisme penyelesaian transaksi valas secara netting) hard currency dimana saat ini terdapat 17 hard currencies yang di-settle melalui CLS. Mekanisme CLS ini diselenggarakan oleh special purpose bank di Amerika Serikat yang berada di bawah supervisi Federal Reserve dan penyelenggaraannya diawasi oleh 17 bank sentral dari 17 mata uang yang di-settle melalui CLS.
Sebagai penyelenggara kliring, CLS Bank mempunyai rekening untuk keperluan setelmen hasil kliring di bank sentral hard currencies. Sedangkan member CLS membuka rekening
multicurrency di CLS Bank sesuai mata uang yang diperdagangkan di CLS untuk keperluan
setelmen. Mekanisme setelmen CLS adalah sebagai berikut:
1) Bank-bank (di 17 negara) dengan posisi short hasil kliring CLS terhadap 17 currencies akan melakukan transfer dana ke rekening CLS Bank di 17 sistem RTGS pada waktu-waktu yang ditetapkan.
2) Selanjutnya, pada waktu-waktu yang ditetapkan, CLS Bank akan melakukan transfer dana melalui 17 sistem RTGS ke rekening bank-bank dengan posisi long hasil kliring CLS.
Halaman 24
Lanjutan Boks: PvP
b. Model Domestic Link Settlement (DLS)
Mekanisme DLS pada dasarnya sama dengan mekanisme CLS, namun digunakan khusus kliring dan setelmen dari transaksi valas USD/Domestic Currency seperti yang digunakan oleh India dan Kolombia.
31
Domestic Linked Settlement (DLS)
Clearing house-USD/IDR FX trade
(3) Matching FX deals (4) Offsetting-multilateral netting
FX Deal Tickets (2)
Bank A Bank B
(5) Net Position Advice
(e.g. Bank A: USD net
short position)
(5) Net Position Advice
(e.g. Bank B: IDR net
short position)
IDR Account of
Clearing House
(di Sistem BI-RTGS)
USD Account of
Clearing House
(di suatu bank koresponden
di AS) IDR Account of Bank A (di Sistem BI-RTGS) IDR Account of Bank B (di Sistem BI-RTGS) USD Agent of Bank A (di AS) USD Agent of Bank B (di AS) (8) CH melakukan Matching
- Sell USD/Buy IDR - Sell USD/Buy IDR - Buy USD/Sell IDR
- Buy USD/Sell IDR - Buy USD/Sell IDR - Sell USD/Buy IDR
Perdagangan Valas
(1)
AS: Amerika Serikat (6) USD payment order (6) IDR payment order (7) IDR Transfer (Pay-in) (7) USD Transfer (Pay-in) melalui SP di AS (e.g. Fedwire) (9) IDR Transfer (Pay-out) (9) USD Transfer (Pay-out) melalui SP di AS (e.g. Fedwire) 2. PvP link
PvP link merupakan model setelmen transaksi perdagangan valas yang dikembangkan mulai tahun 2000 oleh Hong Kong Monetary Authority (HKMA) dengan menghubungkan 2 sistem RTGS. Sistem RTGS yang diselenggarakan oleh HKMA terdiri dari HKD RTGS, Euro RTGS, USD RTGS dan Renmimbi RTGS. Penyelenggaraan RTGS, termasuk PvP link di Hong Kong dilakukan oleh HKICL, sebuah perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh HKMA dan asosiasi perbankan di Hong Kong. Sedangkan untuk setelmen dilakukan oleh bank yang ditunjuk oleh HKMA melalui proses tender dan akan ditinjau tiap 5 tahun.
Negara yang telah menggunakan PvP link saat ini adalah Bank Negara Malaysia yang menghubungkan RENTAS (sistem ringgit RTGS) dengan USD RTGS dan Indonesia dengan menghubungkan Sistem BI-RTGS dan USD CHATS. Pelaksanaan setelmen transaksi menggunakan mekanisme PvP link dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut:
a. pihak-pihak yang melakukan jual beli valas menginput transaksi transfer kredit ke masing-masing sistem RTGS-nya dengan menginput data-data yang akan menjadi key matching
factors.
b. selanjutnya transaksi tersebut akan masuk ke antrian untuk dilakukan pencocokan key
matching factor oleh aplikasi matching yang dikembangkan oleh HKMA.
c. setelah kedua transaksi matching dan saldo mencukupi di kedua pihak maka akan terjadi setelmen. Namun apabila transaksi tersebut belum matched atau belum ada kecukupan dana maka transaksi tersebut akan tetap berada di sistem antrian sampai dengan transaksi tersebut matched atau dana di kedua pihak mencukupi.
Halaman 25
Pengembangan Sistem BIG-eB
Sistem BIG-eB atau Bank Indonesia Government electronic Banking merupakan sistem yang
dikembangkan untuk memfasilitasi kebutuhan
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam
memperoleh informasi dan melakukan transaksi secara elektronik (online) atas rekening Kemenkeu yang ditatausahakan di Bank Indonesia. Melalui sistem ini, Kemenkeu dapat melakukan query data rekeningnya secara real time. Sementara, transaksi yang dapat dilakukan oleh Kemenkeu melalui sistem ini diimplementasikan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Kemenkeu, yang dituangkan dalam Surat Kesepakatan Bersama.
Pengembangan Sistem BIG-eB selama tahun 2010 meliputi penambahan ruang lingkup rekening Kemenkeu yang transaksinya sendiri dapat dilakukan
oleh Kemenkeu melalui BIG-eB serta untuk
mengakomodir perubahan kebijakan struktur
rekening di Bank Indonesia.
Penambahan ruang lingkup rekening Kemenkeu tersebut mulai diimplementasikan pada periode Semester II-2010, yang meliputi penambahan jenis
transaksi antar rekening Kemenkeu yang
ditatausahakan di Bank Indonesia. Perluasan cakupan transaksi ini diharapkan akan mendukung pelaksanaan pengelolaan uang negara.
Pengembangan Sistem BIG-eB juga dimaksudkan untuk menyesuaikan perubahan kebijakan struktur nomor rekening di Bank Indonesia, yang semula terdiri dari 9 (sembilan) digit menjadi 12 (dua belas) digit. Penambahan 3 (tiga) digit nomor rekening tersebut merupakan sandi kantor Bank Indonesia dimana rekening tersebut ditatausahakan.
Penambahan 3 (tiga) digit nomor rekening tersebut merupakan sandi kantor Bank Indonesia dimana rekening tersebut ditatausahakan.
Halaman 26
Penyempurnaan SKNBI melalui Penyempurnaan Mekanisme Kliring Debet
Seiring perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan untuk memitigasi risiko sistemik yang
berpotensi terjadi pada sistem pembayaran antar-bank dengan mekanisme setelmen yang bersifat netting (net settlement), Bank Indonesia terus melakukan beberapa penyempurnaan pada penyelenggaraan
sistem pembayaran net settlement yang