Namun demikian, kenyataannya Ibu Wati baru menerima dana sebesar Rp1 juta tadi pada tanggal 3 Juni 2010. Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa Bank Awan Biru telah menyampaikan dana tersebut kepada Bank Hujan Badai pada tanggal 1 Juni 2010, sesuai janjinya, namun demikian Bank Hujan Badai terlambat dalam menyampaikan dana kepada Ibu Wati, sehingga dana baru diterima oleh Ibu Wati pada tanggal 3 Juni 2010. Disini, terbukti bahwa Bank Hujan Badai telah melakukan kesalahan dengan terlambat menyampaikan dana kepada Ibu Wati. Pertanyaannya, kerugian apakah yang dialami oleh Ibu Wati dan bagaimana caranya menanggulangi kerugian tersebut?
Kerugian yang dialami Ibu Wati adalah berkurangnya jumlah bunga yang semestinya diterima oleh Ibu Wati dari simpanannya di Bank Hujan Badai. Misalnya dana Ibu Wati di Bank Hujan Badai pada pagi hari tanggal 1 Juni 2010 adalah sebesar Rp20 juta. Apabila dana dari Pak Amir disampaikan tepat waktu oleh Bank Hujan Badai, maka dana Ibu Wati pada sore hari tanggal 1 Juni 2010 adalah sebesar Rp21 juta dan bunga simpanan yang diterima Ibu Wati akan dihitung berdasarkan jumlah dana tersebut. Namun karena Bank Hujan Badai terlambat menyampaikan dana kepada Ibu Wati, maka bunga yang diterima oleh Ibu Wati pada tanggal 1 sampai dengan 2 Juni 2010 dihitung berdasarkan saldo sebesar Rp20 juta saja. Dengan demikian terdapat kerugian bagi Ibu Wati berupa pembayaran selisih bunga antara yang dia terima (berdasarkan saldo Rp20 juta) dengan yang semestinya dia terima (berdasarkan saldo Rp21 juta). Bagaimana cara menanggulangi kerugian Ibu Wati tersebut? Bank Hujan Badai sebagai pihak yang melakukan kesalahan pengiriman transfer dana harus bertanggung jawab dengan membayar kompensasi kepada Ibu Wati atas hilangnya bunga simpanan yang semestinya Ibu Wati terima.
Pada saat ini pengaturan mengenai kewajiban pembayaran kompensasi use of funds baru dituangkan dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia dan berlaku secara terbatas pada kegiatan transfer dana yang dilakukan melalui Sistem BI-RTGS dan SKNBI. Namun demikian, penuangan kewajiban kompensasi ini dirasa penting untuk ditingkatkan pengaturannya dalam bentuk Undang-Undang. Ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang urgensi tersebut.
Pertama, pengaturan dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia baru berlaku secara terbatas di sistem transfer dana tertentu saja, dalam hal ini baru berlaku pada Sistem BI-RTGS dan SKNBI. Menjadi penting agar kewajiban pembayaran kompensasi use of funds diatur dalam tingkat Undang-Undang agar kewajiban tersebut dapat diterapkan secara seragam pada sistem transfer dana lainnya, misalnya transfer dana antar bank melalui ATM. Perkembangan di lapangan yang menunjukkan semakin bervariasinya jenis penyelenggaraan kegiatan transfer dana menjadi stimulan tambahan agar
Halaman 45
Peta Penyelenggaraan Sistem Pembayaran di Indonesia
Tabel Penyelenggaraan Sistem Pembayaran di Indonesia menunjukkan perkembangan jenis sistem pembayaran yang beroperasi di Indonesia, mekanisme penyelenggaraannya, penyelenggara serta peserta sistem pembayaran tersebut.
pengaturan kegiatan transfer dana dapat dituangkan dalam bentuk Undang-undang.
Kedua, pengaturan dalam Peraturan Bank Indonesia membawa konsekuensi bahwa pengaturan kewajiban pembayaran kompensasi tersebut dirasakan hanya berlaku bagi Bank saja. Hal ini terjadi sebagai akibat dari kenyataan bahwa sebagian besar ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia adalah ditujukan untuk mengatur bank. Ini mengakibatkan penyelenggara transfer dana yang merupakan lembaga bukan Bank merasa bahwa tidak ada ketentuan Bank Indonesia yang wajib mereka patuhi. Penuangan ketentuan mengenai kegiatan transfer dana, termasuk mengenai kewajiban pembayaran kompensasi, dalam bentuk Undang-Undang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran penyelenggara transfer dana, khususnya yang merupakan lembaga selain bank, untuk melaksanakan seluruh kewajibannya dalam penyelenggaraan transfer dana.
Dan terakhir, pengaturan dalam tingkat Undang-Undang diharapkan secara psikologis dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai haknya untuk memperoleh kompensasi use of funds dalam penyelenggaraan kegiatan transfer dana. Seringkali masyarakat tidak menyadari adanya hak tersebut. Hal ini tampaknya kembali disebabkan karena pengaturan kewajiban pembayaran kompensasi tersebut baru dituangkan dalam bentuk ketentuan Bank Indonesia, sehingga cenderung kurang diperhatikan oleh masyarakat umum. Pengaturan dalam bentuk Undang-undang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan hak yang mereka miliki, dan secara bersamaan diharapkan dapat memberikan dorongan kepada penyelenggara transfer dana untuk secara kontinu menjaga dan meningkatkan pelayanan transfer dana mereka.
Halaman 46
Sistem Tipe Transaksi Penyelenggara Peserta
Bank Indonesia -
Real Time Gross Settlement System
(BI-RTGS)
• Transfer Kredit • Bank Indonesia • 145 bank termasuk unit usaha
syariah • Transaksi menggunakan central bank
money
• 5 Lembaga Selain Bank (LSB)
• Lebih diutamakan untuk transaksi nilai besar dan bersifat penting seperti transaksi pengelolaan moneter, transaksi Pemerintah, transaksi Pasar Uang Antar Bank, transaksi setelmen hasil kliring antar bank dan kliring pasar modal
• 41 perserta dari Bank Indonesia
• Setelmen untuk transaksi surat berharga (SBI dan SUN) yang setelmennya dilakukan pada sistem Bank Indonesia Scripless
Securities Settlement System (BI-SSSS)
• Mekanisme gross settlement dan bersifat
no money no game
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
• Transfer Kredit untuk transaksi ritel dengan nilai di bawah Rp100 juta
• Bank Indonesia • 142 bank termasuk unit usaha
syariah • Kliring warkat debet (cek, bilyet giro, nota
debet lainnya)
• Bank Indonesia
• Mekanisme net settlement
• Untuk kliring debet berlaku mekanisme no
money no game
Bank Indonesia
Scripless Securities Settlement System
(BI-SSSS)
• Berfungsi sebagai sarana setelmen dan pencatatan kepemilikan surat berharga secara elektronis
• Bank Indonesia • 138 Bank umum termasuk unit
usaha syariah • Setelmen surta berharga yang dilakukan
melalui BI-SSSS dilakukan secara DvP
• 16 Sub registry yang terdiri atas
bank yang serupa dengan lembaga
custodian
• 16 lembaga selain bank
• 6 perserta dari Bank Indonesia
Central Depository and Book Entry Settlement System
(C-Best)
• Setelmen dana untuk penyelesaian sisi dana dari transaksi sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal
• PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
• Seluruh anggota Bursa Efek Indonesia
• Setelmen dana dilakukan melalui 4 bank setelmen yang menjadi tempat rekening anggota bursa Mekanisme setelmen USD/IDR Payment Versus Payment (PvP)
• Penyelesaian (setelmen) dari transaksi-transaksi jual-beli Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah (IDR) antar-bank di Indonesia
Bank Indonesia untuk sisi IDR dan Hong Kong Monetary Authority untuk USD
35 Bank umum termasuk unit usaha syariah
• Dilakukan melalui BI RTGS untuk sisi IDR dan melalui USD CHATS untuk USD
Jaringan Prinsipal Kartu ATM (Nasional)
• Transfer dana elektronik menggunakan kartu ATM • PT. Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama) • 74 bank anggota • PT. Rintis Sejahtera (PRIMA) • 39 bank anggota • PT. Alto Network (ALTO) • 17 bank anggota Internal ATM Bank
(Proprietary ATM)
Transfer dana elektronik dengan menggunakan kartu ATM untuk pemZiabukuan antar rekening di bank yang sama
Beberapa bank yang menyediakan fasilitas tersebut
Tabel Penyelenggaraan Sistem Pembayaran di Indonesia
Sistem Tipe Transaksi Penyelenggara Peserta
Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement System (BI-RTGS)
• Transfer Kredit • Bank Indonesia • 145 bank termasuk unit usaha
syariah
• Transaksi menggunakan central bank money • 2 Perusahaan ATM Switching
Company
• Lebih diutamakan untuk transaksi nilai besar dan bersifat penting seperti transaksi pengelolaan moneter, transaksi Pemerintah, transaksi Pasar Uang Antar Bank, transaksi setelmen hasil kliring antar bank dan kliring pasar modal
• 3 Lembaga Selain Bank (LSB)
• Setelmen untuk transaksi surat berharga (SBI dan SUN) yang setelmennya dilakukan pada sistem Bank Indonesia Scripless
Securities Settlement System (BI-SSSS)
• Mekanisme gross settlement dan bersifat no
money no game
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
• Transfer Kredit untuk transaksi ritel dengan nilai di bawah Rp100 juta
• Bank Indonesia • 142 bank termasuk unit usaha syariah
• Kliring warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet lainnya)
• Mekanisme net settlement
• Untuk kliring debet berlaku mekanisme no
money no game
Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS)
• Berfungsi sebagai sarana setelmen dan pencatatan kepemilikan surat berharga secara elektronis
• Bank Indonesia • 140 Bank umum termasuk unit
usaha syariah • Setelmen surta berharga yang dilakukan
melalui BI-SSSS dilakukan secara DvP
• Sub registry yang terdiri atas 16 bank
yang serupa dengan lembaga custodian
• Broker yang terdiri atas 13 badan
usaha non bank dan 1 lembaga penjamin simpanan 16 lembaga selain bank
Central Depository and Book Entry Settlement System (C-Best)
• Setelmen dana untuk penyelesaian sisi dana dari transaksi sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal
• PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
• Seluruh anggota Bursa Efek Indonesia
• Setelmen dana dilakukan melalui 4 bank setelmen yang menjadi tempat rekening anggota bursa Mekanisme setelmen USD/IDR Payment Versus Payment (PvP)
• Penyelesaian (setelmen) dari transaksi-transaksi jual-beli Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah (IDR) antar-bank di Indonesia
Bank Indonesia untuk sisi IDR dan Hong Kong Monetary Authority untuk USD
35 Bank umum termasuk unit usaha syariah
• Dilakukan melalui BI RTGS untuk sisi IDR dan melalui USD CHATS untuk USD
Jaringan Prinsipal Kartu ATM (Nasional)
• Transfer dana elektronik menggunakan
kartu ATM • PT. Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama) • 74 bank anggota • PT. Rintis Sejahtera (PRIMA) • 39 bank anggota • PT. Alto Network (ALTO) • 17 bank anggota
Internal ATM Bank (Proprietary ATM)
Transfer dana elektronik dengan menggunakan kartu ATM untuk
pemZiabukuan antar rekening di bank yang sama
Beberapa bank yang menyediakan fasilitas tersebut
Halaman 47
Jaringan Prinsipal Kartu ATM (Internasional)
• Transfer dana elektronik menggunakan kartu ATM • Mastercard International (Cirrus) • 8 Bank • Visa International (Plus) • 10 bank anggota Jaringan Prinsipal Kartu Debet (Nasional)
• Transfer dana secara elektronik melalui point of sales (jaringan yang terpasang pada merchant)
PT. Rintis Sejahtera (Debet Prima)
• 29 bank termasuk konvensional dan Unit Usaha Syariah (UUS)
PT. Artajasa Pembayaran Elektronis (Debet ATM Bersama)
• 7 bank termasuk konvensional dan Unit Usaha Syariah (UUS)
PT. Alto Network (ALTO Debet) 4 bank anggota Jaringan Prinsipal Kartu Debet (Internasional) • Mastercard International (Maestro) • 8 bank anggota • Visa International (Electron) • 10 bank anggota Internal Debit Bank
(Propietary Debit)
Transfer dana elektronik dengan menggunakan kartu debet untuk pemZiabukuan antar rekening di bank yang sama
Beberapa bank yang menyediakan fasilitas tersebut
Jaringan Prinsipal Kartu Kredit
• Pembayaran secara elektronik menggunakan kartu kredit
• Visa International • 18 bank anggota • Mastercard
International
• 18 Bank umum dan 1 lembaga selain bank
• JCB • 1 bank anggota
• American Express • 1 bank
• China UnionPay • 1 bank
Uang Elektronik • Pembayaran secara elektronik dimana nilai uang tersimpan pada instrumen/device yang digunakan
• Bank dan lembaga non bank • 6 Bank • 4 Perusahaan telekomunikasi • 1 Perusahaan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang Non bank
• Pengiriman uang ke luar wilayah RI, ke dalam wilayah RI, dan dalam wilayah RI
• Perusahaan Telekomunikasi • Kantor Pos • Pegadaian • Perusahaan Jasa Titipan yang menyelenggarakan jasa pengiriman uang
• Badan Usaha • Perorangan Money Transfer Operator (Penyediaan sistem pemrosesan transfer dana)
Menyediakan sistem/jaringan dalam kegiatan transfer dana baik ke luar wilayah Republik Indonesia, ke dalam wilayah Republik Indonesia, maupun dalam wilayah Republik Indonesia.
Western Union Beberapa bank, PT. Pos Indonesia, dan
badan usaha-badan usaha bukan bank yang menjadi agen Western Union
MoneyGram Beberapa bank dan badan usaha-badan
usaha bukan bank yang menjadi agen MoneyGram
FireCash BCA sebagai MTO domestik
Terhubung dengan 44 institusi di luar negeri dan sebagai encashment point di 905 Cabang BCA
Halaman 48