• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Transisi

Dalam dokumen TRIO PADA MUSIK POPULER BATAK TOBA: (Halaman 147-151)

MUS IK POPULER BATAK TOBA

3.3 Periodisasi Trio Pada Musik Populer Batak Toba

3.3.2 Masa Transisi

Pada masa transisi masyarakat Batak Toba secara berkelanjutan mengalami perubahan di berbagai aspek kehidupan, perubahan di sektor teknologi, politik, ekonomi, pendidikan dan khususnya perubahan di sektor agama, perubahan sosial mendorong perubahan produk kebudayaannya.

Perubahan di sektor agama sedikit-banyak mempengaruhi musik tradisi masyarakat Batak Toba dimana musik Batak Toba mulai tampak adanya perubahan gaya disebabkan oleh pengaruh dari lagu-lagu gerejani yang menggunakan harmoni system Barat yaitu pada lagu-lagu gereja pada iringan musik saat kebaktian yang menggunakan harmoni Barat, hal ini di karenakan para misionaris lebih menekankan pendidikan melalui musik karena mereka menganggap oran Batak terkenal suka nyanyian,176 seiring perkembangannya kemudian dengan menggunakan lirik lagunya dalam bahasa Batak Toba. Sistem harmoni Barat itu dibawa oleh para misionaris ke dalam gereja Batak yang diadopsi masyarakat Batak Toba hingga muncul dalam lagu Batak Toba yang wilayah nadanya sudah mulai berkembang. Yang di dukung oleh pendapat (Hodges 2009:10) Kristenisasi, urbanisasi, modernisasi di kalangan orang Batak Toba lebih kurang terjadi secara bersamaan dengan kecepatan yang luar biasa.177

176

A Panggabean, 1984. Dasar Theologia Operational HKBP bersama atau tanpa

Nommensen. (Dari mana sumber theologia HKBP?) dalam HKBP, Benih yang berbuah: Hari Peringatan. Pematang Siantar: 150 tahun Ompui Ephorus Dr. Ingwer Ludwig Nommensen Almarhum 6 Februari 1834-6 Februari 1984 (Pematang Siantar: Bagi an Ilmu Gereja d an

Perkabaran Injil STT -HKBP bidang Penelitian dan Pengembangan), h. 121-124.

177

William Hodges, 2009. Ganti Andung Gabe Ende. California: (Replacing Lament,

Becoming Hymns ): The Changing Voice Of Grief In Pre-Funeral Wakes Of Protentant Toba Batak

(Nort Sumatra, Indonesia). A Dissertation submitted in partial satisfaction of the requirements for

Purba M menjelaskan secara singkat periodisasi tahun masyarakat Batak Toba bermigrasi kedaerah perkotaaan khususnya kota M edan.

M igrasi suku Batak Toba kedaerah perkotaan dimulai pada sekitar tahun 1900-an dan semakin cepat pada tahun 1920-an. Suatu periode perpindahan ke daerah perkotaan suku Batak Toba terbesar terjadi pada tahun 1950-an. Antara 1960-an dan 1970-an orang Batak memiliki kepemilikan lahan di hampir semua wilayah M edan. Pada tahun 1980-an orang Batak Toba memiliki perkerjaan di hampir semua sekolah-sekolah begitupun halnya dengan perkerjaan di bidang administrasi pemerintahan. Pada tahun 1990-an b1990-anyak suku Batak Toba y1990-ang masih memeg1990-ang jabat1990-an penting di kantor-kantor pemerintahan, mengelola banyak perusahaan- perusahaan komersil dan bekerja pada berbagai macam profesi pekerjaan. M ereka adalah orang Batak Toba yang telah berpengalaman dalam perubahan sosial yang radikal.178

Disekitar tahun 1920-an muncul suatu tradisi hiburan panggung yakni “opera Batak” yang lebih merupakan bentuk fenomena kesenian urban. M unculnya opera Batak disebabkan karena kebutuhan dari masyarakat urban Batak Toba terhadap satu bentuk seni pertunjukan yang mencirikan budaya Batak Toba sebagai respon (local counter part) terhadap bentuk pertunjukan opera bangsawan dari etnis M elayu yang sangat popular pada masa itu (Carle 1990, Hutajulu 1994). Perkembangan wilayah nada pada musik masyarakat Batak Toba dapat dilihat dari lagu-lagu karya Tilhang Gultom, antara lain: Sinanggar Tullo. M usik Barat telah memberi warna tersendiri bagi musik tradisional Batak Toba yang dapat dilihat dengan pemunculan nada-nada yang diatonis di dalam ensembel Gondang Hasapi. Di samping itu masyarakat Batak Toba menjadi suatu komunitas pengkonsumsi musik brass yang dipadukan dengan unsur-unsur musik

178

Mauly Purba, 2005. Result Of Contact Between The Toba Batak People, German

Missionaries, And Dutch Go vernment Official: Musical And Social Change. Med an: Jurn al Ilmu

Pengetahuan d an Seni, Volume 1 Nomor 2, Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara, h.134.

tradisional Batak Toba di dalamnya. M usik brass sering digunakan pada upacara duka cita, perkawinan, pesta gereja dan lain-lain. Hal ini dapat kita lihat dari penelitian yang dilakukan Purba M pada tahun 1994.

Perayaan sebelum pemakaman dan pernikahan adalah perayaan yang paling umum dilangsungkan diantara orang Batak Toba di M edan. Pada saat saya melakukan penelitian di M edan tahun 1994, pada hampir setiap hari jumat dan sabtu khususnya perayaan pernikahan yang diadakan pada beragam gedung-gedung serbaguna umum, kadang-kadang diiringi oleh musik gondang sabangunan dan pada waktu lain diiringi oleh brass band dan musik populer.179

M unculnya gejala-gejala untuk menyerap gagasan-gagasan dari luar komunitasnya sudah mulai nampak jelas pada karya Tilhang Gultom pada dasawarsa ke dua pada abad ke 20. Tilhang Oberlin Gultom lahir di desa Sitamiang Pulau Samosir, merupakan maestro dan pelopor opera Batak. Apabila kita meninjau dari segi gaya musik yang pertama sekali dianggap sebagai corak khas dalam musik Batak Toba yang bersifat popular adalah gaya Tilhang Gultom.180 Sebutan opera Batak dipopulerkan oleh Diego Van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada tahun 1930-an. Ringkasan sejarah Opera Batak dapat dilihat pada kutipan dibawah ini.

Surat kabar Pertjatoeran, edisi 15 agustus 1928 menyebutkan, pada bulan tersebut, opera Tilhang telah bermain di pasar malam Balige dan Siborong-borong. Sebagai catatan, pada masa itu pemain opera hanya terdiri dari kaum pria. Setahun kemudian, Tilhang mengganti nama operanya menjadi Batak Sitamiang. Kemudian ganti lagi menjadi Tilhang opera Batak (TOB). Hebatnya tahun 1933, TOB sudah merambah semenanjung M alaka dan tampil di Penang dan Singapura.Tahun 1936 TOB berganti nama lagi menjadi Tilhang Batak Hindia Toneel (TBHT). Kenapa berbau irlandeer, ini akibat instruksi pihak penjajah Belanda. Pada periode

179

Mauly Purba.op. cit., h. 136.

180

Ben M Pasaribu, 2004. “ Pluralitas Musik Etnik”, Medan: Pusat Pengkajian Musik Batak Universitas HKBP Nommensen Medan, h., 4.

tersebut pemainnya mencapai 60 orang. Grup Tilhang agaknya sudah ditakdirkan berganti-ganti nama. Tahun itu juga TBHT berganti nama menjadi Tilhang Toneel Gezalschap (TTG). Dan sejak Jepang menjajah Indonesia TTG berganti menjadi sandiwara Asia Timur Raya. Tilhang tak kuasa membendung intervensi Gun Seikanbu atau Pemerintah Jepang. Faktor ini pula yang membuat Tilhang memilih operanya mati suri dari pada menjadi alat propaganda Jepang.181

Setelah opera Tilhang Gultom mati suri dan juga faktor larangan upacara bius dan musik gondang atas permintaan Nommensen pada pemerintah kolonial Belanda pada rentang waktu antara 1898-1938, mengakibatkan banyak interaksi dengan agama Kristen Protestan atau pada masa larangan ini mengakibatkan banyak sekali pengaruh nilai-nilai Barat menggoncangkan kebudayaan tradisi Batak Toba sampai ke akarnya.

Pertunjukan pada beberapa alat instrumen musik hampir seluruhnya atau sudah mendekati ketidak berfungsian lagi, karena adanya jenis-jenis pertunjukan lain yang telah muncul dan berkembang. M inat orang Batak Toba pada pertunjukan Barat dan musik pop baik yang dibawakan oleh orang Batak Toba begitu juga dengan grup-grup Indonesia lainnya mengindikasikan kecendrungan ke arah transethnic dan uniformistic pertunjukan budaya Indonesia.182

Kehadiran musik gereja ditengah masyarakat Batak Toba berkaitan atau memberikan pengaruh atau sebagai dasar pengetahuan musik pada penggabungan dua tradisi yang sangat kuat di dalam lagu-lagu populer Batak Toba, hal ini dapat dilihat pada wilayah nada yang sudah berkembang pada masa ini jika dibandingkan dengan masa tradisi. Penggabungan ini didasari karena nada-nada

181

http://isranpanjaitan.wordpress.com. Halaman ini terakhir diubah/2009/11/23.

182

Simon Artur, “Functional Changes In Batak Traditional Music and Its Role In Modern

Indonesia Society”, Asian Music, Journal Of The Society For Asian Music, Volume XV-2, Monash

Gondang Hasapi memiliki jangkauan nada seperti musik Barat, sehingga ensambel ini cocok digabungkan dengan berbagai instrumen yang memiliki tangga nada diatonis.

Dalam dokumen TRIO PADA MUSIK POPULER BATAK TOBA: (Halaman 147-151)