ETIKA POLITIK KESEHATAN
3.4 Siapa yang menentukan etik atau tidak?
Etika berdimensi majemuk dan pluralistik. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai penilaian benar atau salah, baik atau buruk, sesuai tidak sesuai. Jika ada yang sama paling tidak bisa berbeda dari aspek argumentasi dan gagasan mereka. Di beberapa masyarakat, perbedaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal dan ada kebebasan seseorang untuk melakukan apa yang diinginkan sepanjang tidak melanggar hak orang lain. Dalam masyarakat tersebut budaya dan agama memegang peranan penting mengenai ini etis dan ini tidak etis disamping pengaruh keluarga, teman sebaya, media dan sumber-sumber eksternal lainnya (Sagiran, 2005). Di negara berkembang yang cenderung menganut paham paternalistik bicara pada orang yang lebih tua ada tata kramanya, harus sopan, santun dan kalau perlu harus ”pegang lutut”. Seorang anak yang terlalu banyak bicara dengan orang tua dianggap tidak sopan, ”kurang ngajar’ dan pandangan-pandangan lainnya. Dalam masyarakat liberal, setiap orang memiliki pandangan kebebasan besar dalam menentukan bagi dirinya sendiri etis atau tidak etis. Dalam masyarakat yang lebih tradisional keluarga dan garis keturunan, pemimpin agama dan tokoh politik biasanya memiliki peran lebih besar dalam menentukan etis dan tidak etis bagi seseorang. Di Indonesia misalnya, mahasiswa ke kampus dan pakai pakain ketat bahkan celana pendek, mungkin dianggap sangat tidak etis dan bahkan jarang
dijumpai tetapi di negara seperti Australia itu adalah hal yang biasa saja. Pertanyaannya adalah siapa yang menentukan etis dan tidak etis?
Tentu saja kondisi seperti ini juga berpengaruh terhadap etika dalam pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan. Seorang bawahan harus loyal sama pimpinan, apa yang dikatakan oleh pimpinan cenderung dan harus diamini oleh bawahannya. Dampaknya bawahan cenderung takut untuk melawan pimpinannya meskipun hanya berbeda dari aspek pendapat dan argumen terhadap masalah kesehatan yang dihadapi. Meskipun pasien mempunyai hak untuk bertanya pada dokter tentang penyakitnya atau bertanya mengenai tindakan yang akan diberikan tetapi di negara seperti Indonesia, seorang pasien bertanya kepada seorang dokter jarang dijumpai bahkan terlalu banyak bertanya mungkin dianggap hal yang tidak sopan.
Terlepas dari perbedaan ini, sepertinya sebagian besar manusia sepakat dengan beberapa prinsip fundamental dari etika sebut saja Hak Asasi Manusia (HAM) seperti yang dinyatakan dalam United Nations Universal Declaration of Human Rights. Hak asasi manusia yang penting dalam etika termasuk dalam etika dalam politik kesehatan adalah hak untuk hidup, bebas dari diskriminasi, bebas dari siksaan dan kekejaman, bebas dari perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak pantas, bebas beropini dan berekspresi, persamaan dalam mendapatkan pelayanan umum di suatu negara dan pelayanan medis (Sagiran, 2005).
Bagi aktor politik untuk bidang kesehatan, siapa yang akan menentukan etis atau tidak etis. Pertanyaan seperti ini hampir sama dengan pertanyaan siapa yang akan menentukan sesuatu etis atau tidak etis perilaku bagi seorang dokter. Sampai saat ini penilaian etis atau tidak etis memiliki jawaban yang berbeda-beda untuk bisa diterima secara umum. Selama berabad-abad lamanya profesi kesehatan telah mengembangkan standar perilakunya sendiri untuk anggotanya yang tercermin dalam kode etik dan dokumen kebijakan yang terkait. Jika merujuk pada kasus tersebut di atas, maka seyogyanya etika dalam berpolitik yang dapat memberikan dampak dalam berbagai bidang termasuk sektor kesehatan harus ada kode etik politik yang merupakan rambu-rambu, alat kontrol yang dapat digunakan untuk mengatur perilaku para aktor politik. Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mengambil keputusan etis atau tidak etis dalam mengimplementasikannya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan sebagai pendekatan masalah-masalah etika. Secara garis besar dapat dibagi atas dua bagian yaitu pendekatan rasional dan pendekatan non rasional.
a. Pendekatan rasional
Pendekatan rasional yang dimaksudkan meliputi deontologi, konsekuensialisme, prinsiplisme dan etika budi pekerti. Deontologi melibatkan pencarian aturan yang terbentuk dengan baik yang dijadikan dasar sebagai pembuatan keputusan moral. Dasarnya dapat saja agama atau bukan agama misalnya manusia memiliki gen-gen yang hampir sama. Konsekuensialisme mendasari keputusan etis yang diambil karena merupakan cara analisis bagaimana konsekuensi atau hasil yang didapatkan dari berbagai pilihan-pilihan. Tindakan yang benar adalah tindakan yang memberikan hasil yang terbaik. Untuk menentukan mana hasil yang terbaik itu
biasanya dilihat dari utilitarianisme yaitu mengukur dan menentukan pilihan yang memberikan hasil yang paling baik diantara semua pilihan yang ada. Sebagai contoh kebijakan pemerintah tentang harm reduction program bagi pengguna narkoba suntik. Apa utilitas yang bisa diperoleh dari ditetapkannya kebijakan tersebut. Mana yang paling memberikan keuntungan dari sisi program dan biaya yaitu cost effectiveness-nya dan cost benefit-nya. Contoh yang lain misalnya kebijakan pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis yang dilakukan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Apa manfaat yang bisa diperoleh dari kebijakan ini. Sejauh mana pendekatan ini dapat meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan serta meningkatkan status kesehatan masyarakat kita. Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut. Efektifkah program ini? Bermanfaatkah program ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain dari aspek utilitarianisme.
Pendekatan rasional juga meliputi prinsiplisme yaitu mempergunakan prinsip-prinsip etik sebagai dasar dalam membuat keputusan moral. Terakhir adalah etika budi pekerti. Etika budi pekerti kurang berfokus pada pembuatan keputusan tetapi lebih pada karakter dari si pengambil keputusan yang tercermin dari perilakunya. Tidak satupun dari empat pendekatan ini yang dapat mencapai persetujuan yang universal. Setiap orang memiliki pendekatan rasional yang akan dipilih dalam pengambilan keputusan etik seperti juga orang lain memilih pendekatan non-rasional. Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
b. Pendekatan non-rasional
Kemudian pendekatan non-rasional. Pendekatan non-rasional tidak berarti irrasional. Pendekatan ini hanya dibedakan dari sistematika, dan alasan yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan. Adapun pendekatan non-rasional meliputi kepatuhan, imitasi, perasaan atau kehendak dan intuisi. Kepatuhan adalah cara umum dalam membuat keputusan etis terutama anak-anak dan mereka yang bekerja dalam struktur kepangkatan (militer, kepolisian, berbagai organisasi keagamaan dan bisnis). Pendekatan ini mengikuti aturan atau perintah penguasa, pimpinan atau direktur tidak memandang apa Anda setuju atau tidak setuju. Imitasi adalah hampir serupa dengan kepatuhan karena mengesampingkan penilaian seseorang terhadap benar dan salah dan mengambil orang lain sebagai acuan karena dia adalah panutan. Pendekatan ini banyak digunakan dalam etika kedokteran misalnya panutan dari seorang dokter senior, maka dokter ”yunior” bisa belajar dan meniru dari pengalaman senior. Dalam pendekatan politik pun demikian, orang lain bisa melakukan imitasi karena melihat dan mengamati sikap dan perilaku para elit seniornya. Selanjutnya, intuisi. Intuisi adalah persepsi yang terbentuk dengan segera mengenai bagaimana bertindak di dalam sebuah situasi tertentu. Intuisi sifatnya subjektif, namun berbeda karena intuisi terletak pada pemikiran dibanding keinginan. Intuisi dapat bervariasi dari setiap orang dan bahkan dari individu itu sendiri. Terakhir adalah kebiasaan. Kebiasaan merupakan metode yang sangat efisien dalam mengambil keputusan moral karena tidak diperlukan adanya pengulangan proses pembuatan keputusan secara sistematis setiap masalah moral muncul dan sama dengan masalah yang pernah dihadapi. Meskipun begitu ada kebiasaan buruk (seperti berbohong) dan ada juga kebiasaan baik (seperti mengatakan dengan jujur).