• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil dan Pembahasan

6. Narasi Kehidupan K

Berhubungan intim

K adalah seorang laki-laki berusia 22 tahun. Ia anak ke dua dari tiga bersaudara. K berasal dari Flores. Kedua orang tuanya juga berasal dari Flores dan bekerja sebagai pegawai negeri sipil. K tidak begitu mengalami peristiwa penting saat SMP karena ia baru mengalami pubertas saat berusia 17 tahun dan ia sempat merasa cemas karena menurutnya ia mengalami keterlambatan pubertas.

“SMA itu masa puber, masa puber itu daya Tarik kita ke lawan jenis itu saya rasa termasuk masa puber” (transkrip, 4-6)

“Yaa 17 tahun keatas” (transkrip, 8)

“Kadang-kadang laki-laki itu ada juga yang lambat mimpi basahnya dan itu ke khawatiran sendiri untuk mereka” (transkrip, 33-35)

Pada saat mengalami masa pubertas, ia mengalami mimpi basah dan semakin ingin tahu tentang seks.

“Mimpi basah juga, kalau menurut saya itu awal masa puber, itu pas umur menjalani 17 tahun” (transkrip, 16-18)

“Mimpi ya mimpi berhubungan intim terus dan paginya langsung basah” (transkrip, 21-22)

Rasa ingin tahu yang tinggi dan hasrat yang memuncak, ia salurkan dengan menonton video porno. Ia merasa sedikit lebih puas ketika selesai menonton video porno.

77

“Yah dengan adanya internet, nonton pastilah semua laki-laki pernah nonton film dewasa ya film pornolah jadi itu salah satu caranya” (transkrip, 60-63)

K juga mulai berpacaran. Keinginan untuk berhubungan seks semakin kuat. “Yang pertama yang saya rasa itu awalnya ya pengen punya pacar, lama lama pacaran semakin kesininya mau berhubungan intim” (transkrip, 43-46)

Lalu, ia melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya. Saat melakukan hubungan seksual, ia merasa senang dan bangga yang lalu ia ceritakan kepada teman-temannya.

“Kalo itu pas zaman SMA saja. Zaman SMA itu paling hits kalau bisa dapat perempuan dan sudah berhubungan intim seks paling hits. Kalo waktu kuliah tidak pernah” (transkrip, 326-330)

K pernah berpacaran selama empat kali dan mantan-mantannya tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual dengannya.

“Kalau mantan sih, tidak semuanya tapi paling tidak sudah berhubungan intim” (transkrip, 163-165)

Tiga atau empat, empatlah” (transkrip, 167)

Selama SMA, K berpacaran paling lama tiga bulan dan paling singkat satu minggu.

“Paling 3-4 bulan” (transkrip, 218)

78

Hubungan seks adalah kepuasan.

Selepas SMA, K memutuskan untuk berkuliah di Yogyakarta. Awalnya K merasa kesulitan adaptasi karena perbedaan bahasa.

“Kalo adaptasi yang pertama pasti dengan masyarakat sini, dengan teman kampus karena soal komunikasi kita bahasa Indonesianya kurang dan kesulitan di situ tapi lama kelamaan juga bagus (transkrip, 70-75)

K juga tinggal di lingkungan yang terdiri dari teman-teman lama dna berasal dari daerah yang sama. K dan teman-temannya sering berkumpul dan minum minuman keras sampai mabuk.

“Lingkungan, kalau dari lingkungan itu yang susah itu ya alasannya kita ketemu sama teman apa namanya tidak bisa untuk terhindar, mungkin dari kampong adat istiadatnya saling menyapa namanya ketemu sama orang yang asalnya sama jadi apa namanya tidak bisa terhindarkan, kumpul-kumpul minum, mabuk-mabukan ya seperti itulah” (transkrip, 81-90)

Akibat dari mabuk tersebut, K jadi mengabaikan kuliah. Efek lain dari mabuk, K dan teman-temannya berkunjung ke tempat prostitusi. Selain itu ada temannya yang mengajak pacar main ke kosan.

“Godaan terbesar di Jogja, godaan terbesar .. Banyak godaan terbesar,misalnya kalau ke kampus mabuk-mabukan malamnya, teman ajak mabuk ya mabuk paginya skip kuliah itu salah satu godaan terbesar, yang kedua rata-rata orang timur kalau mabuk paing tidak

79

ke tempat-tempat sarkem, mabuk ya sarkem yang jomblo juga mabuk ya sarkem ya itu biasanya orang timur begitu ada yang chat pacarnya datang ke kost, banyak yang begitu (transkrip, 96-108)

K memiliki banyak teman perempuan. Ia juga mengakui kalau pernah menyukai teman lawan jenis. K menyukai temannya bermula dari rass nyaman.

“Yaah, sebagai teman, ada yang anggap sebagai teman lama kelamaan apa namanya mungkin berniat pacaran” (transkrip, 121-124)

“Pertama mungkin karena rasa nyaman, dari rasa nyaman itu timbulah gejolak seperti itulah” (transkrip, 131-133)

K juga memiliki sahabat yang dianggap seperti saudara sendiri dan tidak mempunyai perasaan lebih pada sahabatnya.

“Ada ada. Banyak, sahabat saya anggap juga sebagai saya punya saudari” (transkrip, 136-138)

Saat ini K memiliki pacar dan sudah berjalan selama tujuh bulan. Dia dan pacarnya sudah pernah berciuman dan melakukan hubungan seksual. K juga memiliki pengalaman masa lalu buruk dengan mantan. Saat itu ia baru pertama kali pacaran dan ia mendapati pasangannya selingkuh. Sejak saat itu ia memutuskan berpacaran hanya ingin berhubungan seksual.

“Kalau omong tipe itu, soalnya begini, saya orangnya itu terlambat masa puber, pacaran dan di ini pacaranya selingkuh jadi rasa percaya saya untuk ee.. punya pacar dan bertahan lama itu minim saya pacaran paling lama cuma tujuh bulan dan itu juga pacaran dan itu

80

juga kalau mau jujur ini pacaran cuma mau ingin berhubungan intim itu saja“ (transkrip, 148-157)

Bagi K hubungan seks adalah kepuasan. Seks itu bisa lakukan dengan pacar dan puas setelah melakukannya. K juga melihat di lingkungan sekarang seks itu merajalela dan tiap tahun terjadi peningkatan. Terjadi pesta, mabuk, yang ujung-ujungnya melakukan hubungan seks. K sempat merasa iri melihat teman yang berciuman di depan umum dan akhirnya ia pun menjadi terangsang.

“Ee.. seks ini awalnya dari pergaulan,orang yang berhubungan seks seperti rasa kepuasaan tersendiri punya pacar dan ingin seks puas, puasnya tersendiri dan kalo di lingkungan seks itu sekarang meraja lela apalagi perkembangan dari tahun ke tahun semakin menjadi, ada pesta mabuk, dari lingkungan awalnya seks, kalo saya iri liat teman teman ada pacar gampang saja mereka berciuman di depan kita itu membut orang yang melihat gejolak” (transkrip, 175-187)

Menurut K, dari segi agama hubungan seks boleh dilakukan setelah menikah begitu pun secara adat. Namun, dilihat dari perkembangan yang ada sekarang dan statusnya sebagai mahasiswa ia merasa lebih bebas. Intinya ia melihat pacaran sekarang itu untuk berhubungan seks.

“Kalo menurut pandangan agama kita itu mungkin setelah diresu, disrestui terus dinikahkan barulah bisa melakukan hubungan seks itu pun juga dengan adat Manggarai juga yaaa setelah adat direstui, dinikahkan baru bisa berhubungan.. Kalo dari perkembangan sekarang tidak berpatok dari itu karema kita kan apalagi mahasiswa, mahasiswa juga jauh dari rumah, jauh dari adat dan kita kan

81

mahasiswa katolik kan dan Jogja kan mayoritas islam jadilah jauhlah mungkin dari apa namanya semakin berkeinginan bebas. Pacaran sekarang kayak yang saya lihat e teman-teman seks itu ya intinya pacaran ya seks” (transkrip, 190-207)

Ketika berhubungan seksual dengan pasangannya, K selalu punya cara agar pasangannya tidak menolak ajakannya untuk berhubungan seksual. Dia terlebih dahulu membuat pasangannya nyaman lalu berhubungan seksual.

“Awalnya itu ajak makan terus ajak nonton di kos, ya kira kira beberapa menit setelah main hape, main game bersama atau nonton film berawal dari situlah langsung berhubungan seksual” (transkrip, 231-237)

Terkadang, K mencari kepuasan lain dengan berhubungan seks dengan perempuan yang bukan pacarnya. Ia melakukan hal tersebut karena penasaran dengan cerita yang ia dengar dari teman-teman sebayanya K juga melakukan hubungan seks tersebut tidak hanya dengan satu perempuan tetapi dengan beberapa perempuan juga.

“Mencari pasangan yang lain untuk berhubungan intim, cari cewe lain (transkrip, 265-267)

“Pernah. itu awalnya dari teman terus ceweknya tiap diajak berawal dari situ, chat terus kita makan makan, nonton terus sampai dikos hubungan seks” (transkrip, 275-279)

82

“Lumayan seringlah, cewenya kadang kadang ganti ganti kan kita kan punya kesibukan masing-masing kuliah apa segala macam jadi kalau cewek yang satu tidak mau ada yang lain” (transkrip, 282-286)

Namun, jika pasangannya maupun perempuan-perempuan tersebut tidak bisa melakukan hubungan seksual, maka ia akan melakukan masturbasi sambil menonton video porno.

“Kalo onani pernah, tapi biasanya mengatasi itu nonton BF.” (transkrip, 271-272)

K juga membandingkan keadaan daerahnya dengan Yogyakarta. Di daerah asal, ia kesulitan membeli sex toys dan kondom karena harus disertai KTP. Sedangkan di Yogyakarta, barang tersebut dijual secara bebas dan mudah untuk didapatkan.

“kalo takut sih begini perbedaan hubungan seksual di jogja sama kampong jauh dalam artian di kampong itu ee.. apa untuk beda, kalo di kampung untuk beli seks toy seperti kondom susah harus punya KTP kalo di kampong tapi kalo di Jogja di indomaret bisa tapi untuk rasa takut kecil karena kita untuk membeli mudah didapatkan” (transkrip, 243-252

K selalu memakai alat kontrasepsi saat berhubungan seksual karena ia merasa takut kalau pasangannya akan hamil walaupun ia sering mendengar kalau berhubungan seksual lebih terasa nikmat jika tanpa memakai alat pengaman.

“Yaa selalu” (transkrip, 315)

“kalo itu saya kurang tau, kalo yang saya dengar tidak menggunakan alat lebih puas karna langsung bersentuhan tapi kalo pake alat

83

pengaman macam ada selaput yang menghalangi” (transkrip, 318-323)

K selalu berhubungan seksual di kost. Ia selalu menjemput pacarnya ketika malam hari dan menginap di kosan dan selalu luput dari perhatian warga. Keluarga pun tidak ada yang tahu kalau K sudah melakukan hubungan seksual.

“Di kos, soalnya kalo kosan cewek di Jogja tutupnya jam sembilan dan kami yang laki-laki cuma batas sampai ruang tamu untuk menginap juga susah” (transkrip, 340-344)

“Saya kalau bawa perempuan malam. Jam-jam tidurnya warga Lingkungannya ketat tapi bukan jadi hambatan” (transkrip, 347-350)

Untuk masa depan, K belum mau memikirkannya terlalu jauh karena, ia masih ingin melanjutkan kuliah S2. Ketika ia memiliki pasangan nanti, ia juga tidak akan jujur pada pasangannya tentang masa lalunya.

“Kalo itu saya belum kepikiran sampai disitu kita kan masih kuliah jadi susah mau pacaran dulu lah” (356-358)

“Kayaknya tidak, karena masih mau melanjutkan S2 jangan sampai menghambat” (transkrip, 371-373)

Analisis Perilaku Seksual K

Ketika pindah di Yogyakarta, masalah utama yang dihadapi K adalah perbedaan dari segi bahasa yang mana tinggal atau kuliah di tempat masyarakat yang berbeda secara sosial dan budaya kemungkinan memunculkan dampak sosial dan psikologis tertentu. Salah satu dampak sosial-psikologis yang biasa terjadi pada mereka adalah kesulitan dalam beradaptasi

84

dengan lingkungan yang baru. Perbedaan bahasa, nilai, dan kebiasaan, di luar persoalan iklim geografis, menjadi hambatan utama (Wijanarko , Syarieq, 2017).

Meskipun tinggal di lingkungan yang baru, K masih sering berkumpul dengan teman-teman dari daerah asalnya. Hari-hari mereka pun diisi dengan mengkonsumsi minuman keras sampai mabuk. Efek dari mabuk mereka pun mencari pasangan untuk berhubungan seksual. Ada yang mengunjungi tempat prostitusi dan ada yang mencari pacarnya.

Menjalin hubungan dengan lawan jenis bagi K hanya semata-mata hanya untuk berhubungan intim karena ia hanya ingin mencari kepuasan dan perilaku tersebut masuk dalam teori infatued love adalah cinta gila atau cinta pada pandangan pertama atau hanya jatuh cinta dan mengalami gairah tanpa adanya keintiman dan komitmen Strainberg (1986).