• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Bryan Habib Gautama

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 154-158)

T

ak ada yang menyangka dunia dapat berhenti sejenak. Kehidupan yang sebelumnya terasa bebas dan tanpa batasan seolah berubah sejak kemunculan pandemi COVID-19. Keseluruhan dari aspek kehidupan manusia terdampak akibat peristiwa ini. Segala usaha terus dilakukan untuk mencegah, mengurangi, serta mengatasi penyebaran COVID-19. Di sisi lain, setiap negara juga berusaha bangkit dari peristiwa besar ini.

Sejarah mencatat setiap kali terjadi peristiwa besar yang melibatkan seluruh aspek pada kehidupan manusia akan menghasilkan pola interaksi dan hubungan yang baru. Pada tahun 1350, terjadi pandemi black death yang menewaskan sepertiga penduduk Eropa. Pandemi menyebabkan terjadinya perubahan interaksi sosial, ekonomi, dan politik. Sistem feodalisme tergerus tergantikan oleh imperialisme baru di Eropa. Setelah pandemi berakhir terjadi modernisasi hubungan sosial-ekonomi, peningkatan investasi dalam teknologi dan ekspansi besar-besaran ke luar negeri yang membuat Eropa menjadi salah satu kawasan paling berkembang. Sejarah juga pernah mencatat sebuah dinasti dapat runtuh akibat terjadinya pandemi. Pada abad ke-16, terjadi wabah besar yang menyebabkan kematian 40% penduduk Tiongkok. Wabah ini berdampak kepada peningkatan kelaparan dan korupsi yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Ming. Begitu pula dengan flu spanyol pada abad-19 yang menjadi salah satu pandemi dengan korban terbesar sepanjang sejarah. Setelah pandemi berakhir terjadi peningkatan pada urgensi kesehatan serta pemanfaatan riset dalam rangka memprediksi serta mengatasi terjadinya pandemi di masa selanjutnya. Berkaca pada kejadian di masa lampau, apakah pandemi COVID-19 akan kembali merubah tatanan kehidupan?

Tren perkembangan pandemi COVID-19 di Indonesia membawa dampak perubahan pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan baru muncul silih berganti sebagai bentuk penyesuaian pola interaksi masyarakat selama pandemi berlangsung. Selain pada sisi interaksi dalam bermasyarakat, perubahan besar juga terjadi pada sistem birokrasi. Pemerintah dihadapkan pada kondisi di mana pelayanan publik dapat dilaksanakan secara prima dengan meminimalisir interaksi sosial di dalamnya. Pemanfaatan teknologi informasi sebagai garda terdepan pelayanan publik terus dikembangkan seiring dengan kebijakan perubahan pola bekerja menjadi flexible working.

Dalam menyikapi hal tersebut, Kementerian Keuangan telah menyiapkan mekanisme manajemen untuk dapat mengukur kemampuan organisasi dalam mempertahankan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan, yang disebut dengan Ministry of Finance

menyelaraskan kondisi internal, mengeksekusi strategi, serta memperbaharui dirinya sehingga dapat mempertahankan kinerja yang tinggi dalam jangka panjang. Pengukuran tersebut terdiri atas 3 (tiga) kelompok, 9 (sembilan) dimensi, dan 37 (tiga puluh tujuh) indikator. Nilai kesehatan organisasi terdiri atas 3 tingkatan, yaitu ailing (sakit), able (mampu), dan elite (sehat). Berdasarkan hasil survei MOFIN dari tahun 2015-2019, tingkat Kesehatan Organisasi Kementerian keuangan selalu pada tingkatan tertinggi yaitu elite, dengan nilai survei yang terus meningkat.

Dampak dari pandemi COVID-19 kemungkinan besar akan mempengaruhi pandangan subjektif dari responden survei MOFIN. Sejak pertama kali pelaksanaan MOFIN, belum pernah terjadi peristiwa yang mampu mengubah sisi kehidupan baik dalam bermasyarakat maupun sistem birokrasi. Keadaan seperti ini tentu saja menjadi ujian yang sebenarnya bagi eksistensi survei MOFIN. Hal ini, membutuhkan perhatian khusus bagi pengambil kebijakan dalam menentukan sejauh mana praktik manajemen di lingkungan Kementerian Keuangan dapat bertahan di tengah perubahan yang ada. Pada tahapan ini, pengambil kebijakan juga perlu memperhatikan potensi perubahan pada beberapa dimensi yang terdampak pandemi COVID-19.

Pertama, kepemimpinan menjadi faktor pokok dalam mempertahankan kesehatan

organisasi. Keseluruhan kelompok dalam survei MOFIN terdapat komponen kepemimpinan di dalamnya. Pada kondisi pandemi, peran pimpinan sangat sentral, di mana harus

tetap memastikan pelayanan publik berjalan lancar dan para pegawai tidak terdampak langsung COVID-19. Pimpinan juga harus membangun lingkungan positif dan aman, saling mendukung, serta memperhatikan kesejahteraan pegawai. Untuk dimensi ini pada dasarnya Kementerian Keuangan telah memberikan gambaran pimpinan sebagai “prajurit yang berada di garis terdepan”, melalui kebijakan pada Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor SE-5/MK.1/2020, bahwa setiap pimpinan setingkat pimpinan administrator ke atas untuk tetap melaksanakan Work From Office (WFO) pada awal-awal berlangsungnya pandemi COVID-19, sedangkan pegawai lainnya dapat melaksanakan penugasan Work

From Home (WFH). Kepekaan pimpinan terhadap kondisi pandemi dalam bentuk penyiapan

protokol kesehatan guna melindungi pegawai dari dampak pandemi COVID-19 serta keberhasilan dalam meminimalisir risiko di bidang pelayanan publik melalui Business

Continuity Plan (BCP) juga dapat menjadi penunjang dalam membentuk persepsi yang

positif pada dimensi kepemimpinan. Sehingga, dimensi ini berpotensi menjadi stimulus pada peningkatan nilai survei MOFIN.

Kedua, budaya dan iklim kerja juga menjadi dimensi yang akan terdampak oleh

pandemi COVID-19. Menurut Owens (1991), budaya organisasi mengacu pada norma perilaku, asumsi, dan keyakinan dari suatu organisasi, sementara dalam iklim organisasi mengacu pada persepsi orang-orang dalam organisasi yang merefleksikan norma-norma, asumsi-asumsi dan keyakinan. Untuk dimensi ini, indikator yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah pada disiplin operasional. Kebijakan WFH tentu saja berdampak pada perubahan pola kendali dan koordinasi serta pengawasan melekat oleh pimpinan.

tersebut, sebelum pelaksanaan survei perlu diberikan pembatasan-pembatasan tertentu pada indikator disiplin operasional.

Ketiga, dimensi inovasi dan pembelajaran mendapatkan tantangan yang besar

selama berlangsungnya pandemi COVID-19. Sebelumnya tidak ada yang menyangka bahwa pekerjaan dapat dilakukan di rumah. Kementerian Keuangan telah membuat inovasi bekerja dari rumah (work from home) melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK- 223/KMK.01/2020 tentang Implementasi Fleksibilitas Tempat Bekerja (Flexible Working Space) di Lingkungan Kementerian Keuangan. Pelayanan publik pada Kementerian Keuangan tetap berjalan dengan prima dan akuntabel walaupun dilaksanakan secara WFH. Hasil survei flexible working dalam rangka New Thinking of

Working (NToW Kemenkeu) menunjukkan bahwa efektivitas kerja pada saat WFH relatif

sama seperti kondisi kerja normal. Penelitian internal pada salah satu unit vertikal DJBC yaitu KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok juga menunjukkan bahwa pelaksanaan WFH memberikan dampak pada penurunan nilai beban kerja mental pegawai sebesar 9,49%. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi Kementerian Keuangan di masa pandemi tergolong baik dan berhasil. Inovasi tentu saja terus dikembangkan untuk memberikan kemudahan pelaksanaan tugas pegawai seperti office automation, presensi online, perubahan pelatihan dan pendidikan secara virtual, ataupun inovasi-inovasi mandiri yang dilakukan oleh satuan kerja di lingkungan Kementerian Keuangan. Dengan demikian, dimensi ini dapat memberikan feedback yang baik terhadap survei MOFIN yang akan datang.

Untuk mendapatkan hasil survei yang maksimal, peran setiap komponen sangat diperlukan. Pada tingkat pengambil kebijakan, pelaksanaan survei harus diupayakan untuk dapat ikuti oleh setiap pegawai. Saat kondisi pandemi seperti ini, data yang akan didapatkan merupakan “harta karun” paling berharga dan sulit untuk diulang kembali. Data tersebut dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi serta referensi apabila terjadi kembali perubahan secara masif. Pendalaman terhadap dimensi-dimensi yang terdampak COVID-19 juga perlu dilakukan sebelum pelaksanaan sosialisasi ataupun internalisasi tentang survei MOFIN.Pimpinan setiap satuan kerja juga tetap harus konsisten dalam melaksanakan praktik manajemen yang telah disiapkan oleh Kementerian Keuangan. Sehingga, pelaksanaan survei MOFIN dapat mencapai hasil maksimal dan Kementerian Keuangan dapat mempertahankan kesehatan organisasinya pada tingkatan elite.

Pada bagian akhir, partisipasi pegawai pada pengisian survei MOFIN perlu dimaksimalkan. Setiap pegawai mempunyai kontribusi yang besar terhadap tingkat kesehatan organisasi Kementerian Keuangan.

“Gunakan aksimu, mari berpartisipasi pada survei MOFIN, jadikan Kementerian Keuangan yang lebih baik”

Menjaga Kesehatan Organisasi

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 154-158)