• Tidak ada hasil yang ditemukan

Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Yogyakarta, BPPK

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 78-82)

S

iapapun orangnya, saat berada di tempat kerja, pasti menginginkan suasana kerja yang kondusif, nyaman, menyenangkan, sama seperti di rumah saat berkumpul dengan keluarga. Dunia pekerjaan yang dilalui sejak jam kerja di pagi hari sampai pulang kerja di sore hari menjadi tidak terasa lama. Hal ini bisa terjadi karena ada saling percaya, kerjasama, sinergi, dan saling membantu. Penuh kebahagiaan. Tak ada aroma stress dan penuh tekanan di sana. Tempat kerja merupakan komunitas sosial berisi aktivitas kerja pada suatu organisasi (Sutrisno, 2010). Inilah pentingnya budaya dan iklim kerja yang sehat di sebuah organisasi.

Kementerian Keuangan sebagai pionir reformasi birokrasi telah menetapkan banyak aspek dalam pembangunan dan pengembangan budaya kerjanya. Salah satunya aturan mengenai program budaya yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 127/KMK.01/2013 tentang Program Budaya di Lingkungan Kementerian Keuangan. Lima program budaya Kemenkeu, yakni: 1. Satu informasi setiap hari, 2. Dua menit sebelum jadual, 3. Tiga salam setiap hari, 4. Rencanakan, Kerjakan, Monitor dan Tindaklanjuti,

5. Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Anda mungkin pernah mendengar kutipan“Your

culture is your brand” dari Tony Hsieh, CEO Zappos.com. Budaya kerja akan menjadi

gambaran siapa kita. Diperlukan waktu yang lama untuk membentuk budaya kerja (Sapitri, 2017).

Survei kesehatan organisasi dilaksanakan berdasarkan teori kesehatan organisasi

dari Keller dan Price (2011). Survei yang diadakan setiap dua tahun sekali ini memiliki

sembilan dimensi. Salah satu dimensi yang diukur adalah budaya dan iklim kerja, yaitu

keyakinan bersama dan kualitas interaksi di dalam dan lintas unit organisasi. Dimensi ini memiliki empat indikator yaitu keterbukaan dan kepercayaan, kompetisi internal, disiplin operasional, dan kreativitas dan kewirausahaan.

Banyak penelitian dilakukan dengan variabel budaya kerja dan iklim kerja. Penelitian Sudarijati dan Gita Puspita (2018) menunjukkan bahwa secara simultan dan parsial variabel budaya kerja dan iklim kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. Artinya apa? Budaya kerja dan iklim kerja ini sangat mendorong seorang pegawai untuk disiplin ketika bekerja. Penelitian Nurhasanah (2020) menghubungkan budaya kerja dengan motivasi, Nurul Istikhomah (2018) dengan loyalitas kerja, dan Khuzaeni (2013) dengan tingkat stres kerja dan Sapitri (2017) dengan kinerja. Begitu pentingnya faktor budaya kerja dan iklim kerja ini, sehingga dimasukkan dalam dimensi kesehatan organisasi.

Salah satu indikator di dimensi budaya dan iklim kerja adalah keterbukaan dan kepercayaan. Pada survei kesehatan organisasi Kemenkeu, praktik manajemen pada indikator ini meliputi:

1. Penerapan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan (Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, Kesempurnaan);

2. Diskusi antara atasan dan bawahan mengenai kinerja dan program pengembangan pegawai dalam pelaksanaan Dialog Kinerja Individu (DKI) sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 590/KMK.01/2016;

3. Atasan memberikan coaching dan counseling kepada pegawai.

Sebuah kisah saya angkat dari kegiatan lokakarya Coaching DKI yang saya ampu tahun 2016 dan 2017. Suatu saat di sebuah instansi, seorang pegawai, sebut saja namanya Pak Budi, terkenal sebagai pegawai yang selalu datang terlambat. Ia sampai kantor saat yang lain sudah bekerja. Itu pun hanya sebentar di kantor, kemudian pergi lagi. Atasan Pak Budi, sebut saja Pak Iwan, sudah berusaha untuk mengingatkan, namun belum berhasil juga. Dan tahukah anda apa yang dilakukan Pak Iwan berikutnya?

Dialog Kinerja Individu (DKI) bukan semata-mata tentang berdiskusi, obrolan antara dua orang, atasan dan bawahan. Ia lebih kepada dialog antara dua hati. Dengan pola komunikasi dan coaching yang tepat (bisa menggunakan metode GROWW,

COMBAT atau metode lain, selengkapnya bisa melihat https://klc.kemenkeu.go.id),

pelan-pelan Pak Budi mulai berubah apalagi sejak Pak Iwan datang ke rumah Pak Budi, melihat sendiri bagaimana keluarga, istri dan anak-anaknya. Pak Iwan menyadari bahwa faktor keterlambatan kerja Pak Budi karena harus menyelesaikan urusan keluarga terlebih dahulu. Pak Iwan berempati, peduli dengan Pak Budi, memberikan nasihat dan saran langkah apa yang harus diambil agar keluarga dan kantor bisa berjalan beriringan. Lambat laun Pak Budi terlihat rajin datang ke kantor, bahkan pada akhirnya lebih rajin dibandingkan pegawai lain.

Indikator keterbukaan dan kepercayaan membuat setiap pegawai, baik bawahan maupun atasan memiliki sikap terbuka. Atasan memahami kondisi bawahan. Bawahan terbuka kepada atasan tentang kondisi yang dihadapi yang berpengaruh pada kinerja dan pengembangan pegawai. Sementara atasan juga terbuka mengenai target kinerja organisasi dan memberikan kepercayaan kepada anak buah bahwa mereka mampu mencapai target dengan kondisi yang dihadapi.

Contoh kalimat yang bisa diucapkan oleh atasan

”Mas, saya sangat memahami bagaimana rasanya kalau keluarga sakit. Ya, silakan saya izinkan untuk ke rumah sakit, untuk pekerjaan hari ini sudah selesai, kan?”

Bawahan tahu persis bahwa dia punya kewajiban di kantor. Sehingga saat meminta izin untuk keluar kantor, semua tanggung jawab sudah diselesaikan. Rasa empati, peduli menjadi kunci agar komunikasi bisa berjalan. DKI adalah seni. Ya seni untuk bergaul. Dan inilah yang kemudian dinilai oleh setiap pegawai saat survei kesehatan organisasi. Maka jika kita ingin organisasi sehat, pelajari dan laksanakan coaching and counseling dengan baik.

Suasana di kantor menjadi seperti di rumah. Terdapat rasa terbuka dan percaya sama seperti antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, anak dan anak. Masing-masing memiliki keterikatan emosional. Dan keterikatan ini, yakinlah, diperlukan di tempat kerja untuk memotivasi, memunculkan loyalitas, disiplin, mengurangi stres dan pada akhirnya akan meningkatkan kinerja

DKI bukan sekedar angka atau narasi dalam sistem e-performance, namun lebih dalam dari itu. Proses memasukkan angka atau kalimat dalam sistem dengan coaching dan counseling itulah yang menjadi perhatian atasan dan bawahan. Oleh karena itu, melalui DKI yang kuat, indikator keterbukaan dan kepercayaan akurat, dimensi budaya dan iklim kerja sehat. Siapa dapat menerapkannya? Yuk, Semangat!

Filosofi “Kitong Papua’’:

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 78-82)