• Tidak ada hasil yang ditemukan

Valensi Pemimpin Hadapi Pandemi

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 98-102)

Oleh: Ahmad Indra Gunawan

P

andemi COVID-19 memberikan dampak negatif yang luar biasa. Tidak hanya sektor kesehatan yang mengalami masalah serius, tetapi sektor-sektor lain juga terpuruk. Toko, warung, rumah makan, kafe, ojek, taksi, bis, kereta, pesawat, sekolah, kampus, kantor, perusahaan, dan pemerintah berusaha keras mengatasi masalah demi masalah yang terjadi. Ada yang menghentikan sebagian aktivitas, ada yang menghentikan sementara semua aktivitas, dan ada juga yang benar-benar menghentikan aktivitas. Dan yang terjadi selanjutnya semakin memprihatinkan. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan, para pelaku usaha tidak bisa menggaji karyawan, masyarakat sulit membayar angsuran, siswa-siswa tertatih mengikuti pembelajaran, pegawai atau karyawan bekerja dengan kekhawatiran, dan pemerintah dipaksa segera membuat kebijakan

ditengah situasi yang serba tidak menentu. Semua terjadi begitu cepat tanpa ada yang bisa menghentikan.

Dalam kondisi seperti ini, peran pemimpin menjadi sangat penting dan menentukan. Keputusan dalam menentukan langkah-langkah ke depan dan kebijakan dalam

menghadapi masalah yang terjadi harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Pemimpin harus yakin dengan keputusan dan kebijakan yang diambil karena keraguan hanya akan membingungkan.

Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kebijakan fiskal untuk membantu Presiden dalam

menyelenggarakan pemerintahan negara selalu berusaha dengan optimal. Kebijakan-kebijakan dalam menghadapi pandemi dikeluarkan dengan cepat dan tepat dengan tetap melayani masyarakat. Bekerja dari rumah (work from home), larangan bepergian, pelayanan

online, koordinasi dan rapat secara daring menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Protokol

Kesehatan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 juga diterapkan di semua kantor. Penyediaan tempat cuci tangan, hand sanitizer, alat pengukur suhu tubuh, dan kewajiban memakai masker menjadi keharusan agar pelayanan yang tidak bisa dilakukan secara online tetap terlaksana dengan baik.

Kebijakan-kebijakan yang cepat dengan mengubah pola kerja yang berbeda sangat mempengaruhi kinerja para pegawai. Para pejabat atau pimpinan di levelnya masing-masing harus bisa menyesuaikan. Berat memang, akan tetapi seharusnya pemimpin/ pejabat mempunyai kemampuan untuk tetap menunjukkan peningkatan performanya. Bahkan, pandemi ini bisa menjadi sarana lompatan untuk menjadi lebih baik. Dalam kondisi apapun dan dalam situasi bagaimanapun, pemimpin harus tetap menjadi pemimpin

Maker disebutkan bahwa “Give some thought to this: People can’t be managed through the

dark; they have to be led.” (Harald Psaridis, 2014).

Pencapaian target harus terus diupayakan. Strategi-strategi dalam bekerja dengan era normal baru terus dilakukan dengan berbagai penyesuaian. Dengan berbagai keterbatasan yang ada akan memunculkan peluang-peluang baru yang menantang para pejabat atau pimpinan disemua tingkatan. Dari pelaksana sampai pimpinan level tertinggi harus bisa berinovasi dan berkreasi untuk menjadi lebih baik dengan tetap mencapai target yang telah di tentukan. Di sinilah, valensi pemimpin dipertaruhkan. Siapa yang pertama menangkap peluang dan merealisasikan menjadi wujud nyata dalam aktivitas mencapai target, Dialah pemenangnya.

Dalam buku Kubik Leadership yang ditulis Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini tahun 2008 dinyatakan bahwa:

“Valensi adalah “takaran” atau “bobot” yang mewakili keseluruhan kapasitas diri Anda. Setiap orang memiliki valensi yang berbeda-beda. Valensi yang Anda miliki akan menentukan kualitas hasil kerja Anda dalam memengaruhi tingkat sukses Anda.” (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, 2008).

Hasil kerja dan tingkat sukses pemimpin sangat dipengaruhi valensi pemimpin masing-masing. Para pemimpin harus terus melakukan peningkatan valensinya untuk menjawab tantangan dengan mengubahnya menjadi peluang. Jangan sampai, di era pandemi ini, justru malah pandemi yang menguasai dan semua diam tidak berdaya. Terus naikkan kapasitas karena otomatis akan menaikkan kualitas.

Peningkatan valensi pemimpin yang dilakukan tidak cukup hanya dilakukan pada level teratas. Semua pemimpin di semua level juga harus berupaya untuk itu, tentu dengan arahan dan bimbingan pemimpin di level atasnya. Dalam buku “The 360 leader : Mengembangkan pengaruh anda dari posisi mana pun dalam organisasi” pada tahun 2013, John Maxwell mengatakan bahwa sebuah tim pemimpin lebih efektif daripada hanya satu pemimpin. Membangun tim pemimpin bisa dipelajari dari kereta cepat ala Jepang yang

bernama Shinkansen. Mesin yang ada di setiap gerbong bekerja dengan baik dengan arah yang sama dan jalur yang sama. Begitu juga yang harus dilakukan dalam membangun tim. Semua pemimpin pada levelnya harus bekerja dengan baik untuk mencapai target yang ditentukan dengan menjalankan aturan dan kebijakan yang berlaku.

Kepemimpinan dalam Kesehatan Organisasi Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah sejauh mana pimpinan organisasi menginspirasi aktivitas pegawainya. Indikator-indikator dalam dimensi ini adalah kepemimpinan yang otoritatif, konsultatif, mendukung dan menantang. Berdasarkan hal tersebut maka pemimpin harus terus beraktivitas prima karena semua aktivitas pemimpin menjadi inspirasi pegawai dalam melakukan aktivitasnya. Pemimpin juga harus bisa menyesuaikan diri kapan harus otoritatif, konsultatif, mendukung, dan menantang sehingga aktivitas pemimpin dan aktivitas pegawai bisa berpadu menjadi aktivitas organisasi.

Ujian terakhir dari pemimpin adalah dengan menjawab sebuah pertanyaan. Apakah kepemimpinannya membawa perubahan positif? Akan menjadi sia-sia jika kepemimpinannya hanya membawa kemunduran. John Maxwell pada tahun 2014 dalam bukunya “Cara Mengembangkan Potensi Kepemimpinan Dalam Diri Anda” mengatakan bahwa ujian terakhir dalam Kepemimpinan adalah Membawa Perubahan Positif. Tidak semua perubahan adalah pengembangan, tapi tanpa perubahan mustahil terjadi pengembangan.

Pandemi memang sudah mengubah segalanya. Segalanya menjadi berbeda dari sebelumnya. Era normal menuju new normal tidak bisa terhindarkan. Menjadi tugas pemimpin untuk bisa membawa timnya melalui pandemi ini dan memenangkannya. Para pemimpin di setiap level memastikan bahwa valensi yang dimiliki cukup untuk melalui pandemi dengan tetap mencapai target yang ditentukan. Dan akhirnya, pandemi berlalu, target tercapai, dan hasil kerja mempunyai kualitas yang tinggi.

Tidak Perlu Tunggu

Dalam dokumen M O F I N (Halaman 98-102)