• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oposisi hubungan

Dalam dokumen BAB IV ANALISIS DATA (Halaman 96-100)

Oposisi hubungan adalah oposisi makna yang bersifat saling melengkapi. Oposisi ini bersifat saling melengkapi, maka kata yang satu dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata yang lain menjadi oposisinya, atau kehadiran kata yang satu disebabkan oleh adanya kata yang

commit to user

lain. Berikut adalah data yang mengandung antonimi hubungan yang ditemukan dalam rubrik Klik.

(360) Pasar paling mbebayani ing donya – Satleraman, Pasar Maeklong ing Thailand iki padha karo pasar tradisonal liyane, adol woh-wohan lan janganan. Nanging pranyata, pasar iki mujudake pasar paling mbebayani ing donya. Kepriye ora, anggone mbeber dagangan mung kacek 2 cm wae saka ril sepur. Ora mung kuwi wae, para bakul ing kene uga ngedegake tendha engga tengah ril. Banjur, piye yen ana sepur liwat? Para bakul apadene sing tuku sajak wis lihai marang kabeh iku. [...] (PS/3/19/01/2013).

„Pasar Paling Membahayakan di dunia – Sekilas, Pasar Maeklong di Thailand ini sama dengan pasar tradisional lainnya, jual buah-buahan dan sayuran. Tetapi ternyata, pasar ini merupakan pasar paling membahayakan di dunia. Bagaimana tidak, tempatnya menggelar dagangan hanya beda 2 cm saja dari rel kereta. Tidak hanya itu saja, para pedagang di sini juga mendirikan tenda hingga tengah rel. Kemudian, bagaimana jika ada kereta lewat? Para pedagang dan juga yang beli seperti sudah lihai dengan semua itu. [...]‟

Pada data di atas kata adol „jual‟ berantonim dengan kata tuku „beli‟. Kedua kata tersebut digolongkan kedalam antonim hubungan karena bermakna saling melengkapi. Kehadiran kata tuku „beli‟ dimungkinkan karena adanya kata adol „jual‟.

Data (360) di atas kemudian dibagi unsur langsungnya. Hasilnya adalah sebagai berikut.

(360a) Satleraman, Pasar Maeklong ing Thailand iki padha karo pasar tradisonal liyane, adol woh-wohan lan janganan.

„Sekilas, Pasar Maeklong di Thailand ini sama dengan pasar tradisional lainnya, jual buah-buahan dan sayuran.‟

(360b) Nanging pranyata, pasar iki mujudake pasar paling mbebayani ing donya.

„Tetapi ternyata, pasar ini merupakan pasar paling membahayakan di dunia.‟

(360c) Kepriye ora, anggone mbeber dagangan mung kacek 2 cm wae saka ril sepur.

commit to user

„Bagaimana tidak, tempatnya menggelar dagangan hanya beda 2 cm saja dari rel kereta.‟

(360d) Ora mung kuwi wae, para bakul ing kene uga ngedegake tendha engga tengah ril.

„Tidak hanya itu saja, para pedagang di sini juga mendirikan tenda hingga tengah rel.‟

(360e) Banjur, piye yen ana sepur liwat?

„Kemudian, bagaimana jika ada kereta lewat?‟

(360f) Para bakul apadene sing tuku sajak wis lihai marang kabeh iku. [...]

„Para pedagang dan juga yang beli seperti sudah lihai dengan semua itu.‟

Setelah diuji dengan teknik BUL, data (360a) dan (360f) di atas kemudian diuji dengan teknik lesap. Hasilnya adalah sebagai berikut.

(360g) *Satleraman, Pasar Maeklong ing Thailand iki padha karo pasar tradisonal liyane, Ø woh-wohan lan janganan.

*„Sekilas, Pasar Maeklong di Thailand ini sama dengan pasar tradisional lainnya, Ø buah-buahan dan sayuran.‟

(360h) *Para bakul apadene sing Ø sajak wis lihai marang kabeh iku. [...] * „Para pedagang dan juga yang Ø seperti sudah lihai dengan semua itu. [...]‟

Terlihat jelas pada data (360g) dan (360h) di atas bahwa dilesapkannya kata adol „menjual‟ dan kata tuku „membeli‟, menjadikan kalimat tidak gramtikal dan tidak berterima. Maka dari itu kedua kata tersebut harus dihadirkan untuk mendapatka kalimat yang padu serta kohesif.

(362) Dolanan Nyawa – Ana „dolanan anyar‟ tumrape remaja-remaja ing luar negri dinane iki, utamane ing negara Rusia, yakuwi adu kuwanenan diliwati sepur. Nanging becike aja ditiru ya, merga iki mbebayani banget! Ing kene, si remaja mau, kanthi cara murep ing tengah-tengah ril sepur kang banjur diliwati kereta wesi kang swarane mbrebegi sarta banter playune kuwi. Sing nindakake pranyata dudu mung bocah lanang , nanging bocah wadon barang. [...] (PS/37/14/09/2013)

commit to user

„Mainan Nyawa – Ada „mainan baru‟ untuk remaja-remaja di luar negeri kini, utamanya di negara Rusia, yaitu beradu keberanian dilewati kereta. Tetapi baiknya jangan ditiru ya, karena ini berbahaya sekali! Di sini, si remaja itu, dengan cara tengkurap di tengah-tengah rel kereta yang kemudian dilewati kereta besi yang suaranya bising serta kencang larinya itu. Yang melakukan ternyata bukan hanya anak laki-laki, tetapi anak perempuan juga. [...]‟ Pada data (362) di atas terdapat kata lanang „laki-laki‟ yang berantonim dengan wadon „perempuan‟. Kedua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda namun kedua kata tersebut saling melengkapi. Kehadiran kata wadon „perempuan‟ disebabkan oleh kehadiran kata lanang „laki-laki‟. Oleh karena itu kedua kata tersebut tergolong dalam oposisi hubungan karena saling melengkapi.

Data (362) di atas kemudian dibagi unsur langsungnya. Hasilnya adalah sebagai berikut.

(362a) Ana „dolanan anyar‟ tumrape remaja-remaja ing luar negri dinane iki, utamane ing negara Rusia, yakuwi adu kuwanenan diliwati sepur.

„Ada „mainan baru‟ untuk remaja-remaja di luar negeri kini, utamanya di negara Rusia, yaitu beradu keberanian dilewati kereta.‟

(362b) Nanging becike aja ditiru ya, merga iki mbebayani banget! „Tetapi baiknya jangan ditiru ya, karena ini berbahaya sekali!‟ (362c) Ing kene, si remaja mau, kanthi cara murep ing tengah-tengah ril

sepur kang banjur diliwati kereta wesi kang swarane mbrebegi sarta banter playune kuwi.

„Di sini, si remaja itu, dengan cara tengkurap di tengah-tengah rel kereta yang kemudian dilewati kereta besi yang suaranya bising serta kencang larinya itu.‟

(362d) Sing nindakake pranyata dudu mung bocah lanang , nanging bocah wadon barang. [...]

„Yang melakukan ternyata bukan hanya anak laki-laki, tetapi anak

commit to user

Setelah diuji dengan teknik BUL, data (362d) di atas kemudian diuji dengan teknik lesap. Hasilnya adalah sebagai berikut

(362e) *Sing nindakake pranyata dudu mung bocah Ø, nanging bocah Ø barang. [...]

*„Yang melakukan ternyata bukan hanya anak Ø, tetapi anak Ø juga. [...]‟

Terlihat jelas pada data (362e) di atas bahwa dilesapkannya kata lanang „laki-laki‟ dan kata wadon „perempuan‟, menjadikan kalimat tidak gramtikal dan tidak berterima. Maka dari itu kedua kata tersebut harus dihadirkan untuk mendapatka kalimat yang padu serta kohesif.

Dalam dokumen BAB IV ANALISIS DATA (Halaman 96-100)