(MP3EI) KORIDOR KALIMANTAN
D. KLHS Provinsi Kalimantan Utara
3. Belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan kelautan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan serta pendukung ketahanan pangan
Hingga saat ini potensi sumber daya pertanian tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian dalam arti luas, baik untuk tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, kehutanan maupun kelautan dan perikanan. Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pertanian ini secara aktual dikarenakan oleh beberapa indikasi, seperti: (1) Masih rendahnya produktivitas tanaman pangan (padi); (2) Masih adanya suplai produk-produk pertanian dari luar wilayah; (3) Belum berkembangnya industri-industri pengolahan berbasis produk pertanian. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan kondisi infrastruktur (jalan) yang mempengaruhi kelancaran distribusi sarana produksi pertanian. Sarana produksi pertanian (pupuk, obat-obatan dan peralatan) masih perlu mendatangkan dari luar. Kondisi sarana transportasi yang kurang memadai membuat distribusi sarana produksi pertanian menjadi mahal, di lain pihak biaya angkut hasil pertanian untuk pemasaran juga mahal. Bahkan terdapat beberapa area pertanian menjadi terisolir dikarenakan keterbatasan infrastruktur transportasi. Oleh karena itu pembangunan sektor
pertanian harus ditopang oleh pengembangan infrastruktur pertanian yang pro pertanian.
Selain itu perlu dicatat bahwa sebagian besar penduduk provinsi ini memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Jika sumber daya lahan yang cukup potensial dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal, yang didukung oleh sumber daya manusia dan infrastruktur yang berkualitas dan memadai di sektor pertanian serta kebijakan sektor pertanian yang mendukung hal ini maka nilai tambah sektor pertanian akan semakin meningkat. Meningkatnya nilai tambah sektor pertanian akan memiliki keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung terhadap tumbuhnya lapangan kerja baru dan terbukanya kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Saat ini sedang diupayakan pengembangan kawasan food estate di Kawasan Delta Kayan Kabupaten Bulungan, sebagai upaya untuk menjamin ketahanan pangan. Pada awalnya pengembangan kawasan food estate ini merupakan kebijakan pembangunan pertanian Provinsi Kalimantan Timur, ketika Provinsi Kalimantan Utara belum terbentuk. Tujuan awal pembangunan kawasan food estate adalah upaya mewujudkan salah satu lumbung pangan nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah yang saat ini masih mengalami defisit pangan, dengan mengembangkan kegiatan pertanian terintegrasi, baik tanaman pangan, perkebunan, perikanan maupun perikanan, sebagai upaya merubah struktur ekonomi yang bertumpu pada sumber daya yang tidak dapat diperbarui manjadi sumber daya berbasis kegiatan yang dapat diperbarui.
Ketahanan pangan, khususnya beras, masih cukup rentan bagi provinsi ini. Ketidakmampuan untuk berswasembada pangan akan mengakibatkan ketidakmampuan wilayah untuk memberikan penghidupan yang layak bagi penduduknya. Tiga komponen utama ketahanan pangan menurut WHO, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Berdasarkan kriteria kebutuhan pangan yang diukur denga setara beras per kapita/tahun sebesar 120 Kg), maka kecukupan pangan di provinsi ini mulai tahun 2008 hingga tahun 2012 sudah tercukupi.
Namun demikian kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan mengingat kebutuhan manusia tidak hanya terpenuhi oleh kebutuhan yang hanya bersumber dari beras, tetapi secara keseluruhan dinilai dalam kecukupan kalori per kapita yang setara denga 265 Kg beras/kapita/tahun. Jika dibandingkan dengan standar tersebut maka ketesediaan pangan utama di provinsi ini baru terpenuhi setengahnya. Dengan demikian kebutuhan pangan provinsi ini masih belum mandiri. Kota Tarakan
merupakan wilayah yang masih sangat tergantung dari luar wilayah untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan minimum, mengingat ketersediaan pangan utama kota ini sejak tahun 2007 cukup rendah (0,05 Kg/kapita/tahun), sedikit meningkat tahun 2012 menjadi 0,55 Kg/kapita/tahun. Hal ini dapat dipahami karena wilayah ini merupakan pulau kecil yang tidak memungkinkan untuk mengembangkan lahan pertanian secara ekstensifikasi, selain karena wilayah ini merupakan pusat jasa dan perdagangan, sehingga kecukupan pangan wilayah ini harus disuplai dari luar wilayah Ketersediaan pangan utama tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan lahan untuk tanaman pangan utama. Selama tahun 2007-2012 luas lahan sawah cenderung mengalami peningkatan meskipun lambat dan perkembangannya cukup fluktuatif. Peningkatan luas lahan sawah yang cukup tinggi (95,24%) terjadi di Kabupaten Bulungan, dengan rata-rata pertumbuhan 14,32% per tahun. Peningkatan yang cukup pesat di Kabupaten Bulungan tersebut dimungkinkan karena keberadaan Delta Kayan Food Estate, yang pada awalnya ditujukan untuk menjamin kemandirian pangan di Provinsi Kalimantan Timur, sebelum Provinsi Kalimantan Utara terbentuk.
Kekhawatiran terhadap ketahanan pangan akan selalu muncul, mengingat jumlah penduduk akan semakin bertambah, sementara pertambahan penduduk tidak diiringi dengan peningkatan jumlah lahan pertanian, bahkan lahan pertanian cenderung mengalami penurunan luas karena perubahan fungsi. Terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke arah pemanfaatan non pertanian merupakan ancaman terhadap upaya pencapaian ketahanan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang sangat berpengaruh terhadap produksi pangan, lingkungan fisik, serta kesejahteraan masyarakat pertanian yang kehidupannya sangat tergantung pada lahan.
Dilihat dari indeks ketahanan pangan komposit, yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian dan World Food Programme tahun 2009, yang terdiri dari ketersediaan pangan, akses pangan dan penghidupan serta pemanfaatan pangan dan gizi, menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten/kota termasuk dalam kategori prioritas kerawanan pangan. Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan merupakan dua kabupaten yang termasuk dalam kategori prioritas kerawanan pangan berdasarkan indeks ketahanan pangan komposit. Indeks ketahanan pangan komposit terdiri dari ketersediaan pangan, akses pangan dan penghidupan serta pemanfaatan pangan dan gizi. Kabupaten Nunukan termasuk kategori kerawanan pangan prioritas 2 dengan peringkat 60 dari 346 kabupaten terdata, sedangkan Kabupaten Malinau termasuk kategori kerawanan pangan prioritas 3 dengan peringkat 84. Kategori kerawanan pangan prioritas 2 sangat ditentukan oleh: (1) underweight pada balita,
(2) desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda 4, (3) tanpa akses terhadap air bersih, (4) kemiskinan, dan (5) tanpa akses terhadap listrik. Sedangkan kategori kerawanan pangan prioritas 3 ditentukan oleh: (1) underweight pada balita, (2) kemiskinan, (3) tanpa akses terhadap air bersih, (4) tidak memadainya produksi pangan pokok, dan (5) tanpa akses terhadap listrik.
Demikian juga jika dilihat dari indeks ketahanan pangan komposit dan indikator individu yang meliputi rasio konsumsi per kapita terhadap ketersediaan serelia, akses penghubung yang memadai, akses terhadap listrik, angka harapan hidup, berat badan balita, perempuan buta huruf, akses terhadap air bersih dan akses terhadap fasilitas kesehatan, Kabupaten Nunukan berada di peringkat 287 dari 346 kabupaten yang terdata, sedangkan Kabupaten Malinau di urutan ke 263 dan Kabupaten Bulungan di urutan ke 205 sebagai kabupaten yang memiliki tingkat kerawanan pangan.
Perlu diperhatikan bahwa pada provinsi memiliki wilayah berupa pulau kecil, yang cukup rentan terhadap ketahanan pangan wilayahnya, seperti Kota Tarakan, Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. Kemampuan ketiga wilayah tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduknya cukup rentan. Kekhawatiran terhadap ketahanan pangan akan selalu muncul mengingat jumlah penduduk akan semakin meningkat, sementara pertambahan penduduk tidak diiringi peningkatan luas lahan pertanian, bahkan luas lahan pertanian cenderung berkurang karena perubahan alih fungsi lahan. Jika ketahanan pangan masih cukup rentan, akan memiliki dampak terhadap rentannya kedaulatan pangan.
Salah satu dari sembilan program utama yang termuat dalam Nawa Cita, adalah kedaulatan pangan. Dalam pelaksanaannya kedaulatan pangan merupakan upaya untuk menjaga agar hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal tetap terjaga ditengah semangat untuk mencapai tingkat ketahanan pangan yang tinggi. Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Jadi pada tataran nasional digariskan tercukupinya pangan di satu sisi dan di sisi yang lain harus tidak mengurangi hak masyarakat dalam melaksanakan pertanian untuk penyediaan pangan dengan kearifan lokal.
Jika dikaitkan dengan kekuatan dan kelemahan serta kesempatan yang bisa diraih oleh Provinsi Kalimantan Utara sebagai provinsi baru, peran untuk mendukung
ketahanan pangan sangat terbuka. Hal ini masih dapat dilakukan dan masih mungkin disiapkan senyampang dengan belum semua wilayah dibudidayakan untuk pertanian tanaman pangan. Ketersediaan lahan yang luas dengan jumlah penduduk yang tipis masih membuka ruang yang cukup untuk mengembangkan pertanian dari sisi pemenuhan kebutuhan lahan pertanian. Namun beberapa hal yang perlu dikaji lebih lanjut adalah ketersediaan SDM yang cukup jumlah dan keandalannya dalam kegiatan pertanian, modal yang tersedia, kondisi alam (tingkat kesuburan untuk opertanian pangan). Disamping itu secara matra tata ruang, hal ini dapat dipadukan dengan pengembangan tata ruang perdesaan yang sering dikonsepkan sebagai kawasan agropolitan.
Demikian pula dengan sumber daya kelautan dan perikanan, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih rendah. Sumber daya kelautan dan perikanan di provinsi ini memiliki potensi yang cukup besar mengingat sebagian besar wilayah berada di pesisir dengan garis panjang pantai 3.995 Km. Akan tetapi sumber daya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, akibat berbagai keterbatasan
Sementara sub sektor perkebunan yang sedang berkembang adalah perkebunan kelapa sawit. Selama tahun 2008-2012 luas lahan perkebunan kelapa sawit meningkat dari 62.609,50 Ha (tahun 2008) menjadi 137.389,00 Ha (tahun 2012). Dalam kurun waktu tersebut produksi kelapa sawit meningkat dari 21.754 ton menjadi 513.448 ton. Namun patut dicatat bahwa pada satu sisi perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu alternatif untuk penyerapan tenaga kerja, namun di sisi lain pengembangan perkebunan kelapa sawit yang tidak terkendali akan mengakibatkan dampak yang tidak menguntungkan bagi pembangunan pertanian non perkebunan. Siklus daur kelapa sawit yang cukup lama antara 25-30 tahun mengakibatkan terjadi kecenderungan untuk memperluas areal dalam bentuk kebun baru yang akan mengokupasi lahan pertanian produktif, sehingga terjadi gangguan pada produksi tanaman pangan. Pengembangan sektor perkebunan non kelapa sawit merupakan salah satu peluang yang dapat didorong sebagai perkebunan rakyat baik besar maupun kecil dengan komoditas yang prospektif dan produktif misalnya karet, kakao, kelapa, dalam bentuk monokultur maupun tumpang sari dengan konsep produktif dan konservasif.
Tidak jauh berbeda, sumbangan sub sektor kehutanan terhadap PDRB juga masih rendah ataupun kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. Sumber daya hutan yang melimpah belum mampu menjadi penopang utama bagi perekonomian
daerah dan masyarakat sekitar hutan. Program-program pengelolaan hutan berbasis masyarakat (community based forest management) belum terlihat wujud dan keberhasilannya. Di sisi lain pengelolaan hutan berbasis korporasi dan modal besar juga belum menunjukkan kinerja yang optimal dalam membangun perekonomian masyarakat. Pada sisi yang lain peran ekonomi sektor kehutanan masih mempunyai tantangan pada aspek legalitas terutama pada pengusahaan skala kecil, dan juga pemanfaatan hasil hutan non kayu.
Semengtara itu peningkatan produksi batubara disatu sisi menguntungkan karena dapat meningkatkan PDRB pertambangan non migas yang akan berpengaruh terhadap peningkatan PAD, tetapi di sisi lain mengakibatkan peningkatan area penambangan batubara dan kerusakan lingkungan antara lain 1) pengaruh air asam tambang yang berasal dari limbah batuan sedimen, 2) kerusakan infrastruktur jalan, 3) kebisingan aktifitas penambangan, 4) kualitas udara, 5) limbah BBM dari kendaraan angkut tambang,6) tidak melakukan reklamasi pasca penambangan atau kwalitas reklamasi sangat jelek, 7) banyak terjadi genangan air pada area bekas penambangan, 8) meningkatnya sedimentasi dan pencemaran air sungai.
4. Rendahnya aksesibilitas, konektivitas antarwilayah dan keterbatasan