Dalam sistem perkotaan nasional seperti tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP No. 26 Tahun 2008) beberapa perkotaan di Provinsi Kalimantan Utara diarahkan dengan fungsi sebagai PKN, PKW dan PKSN. Kota Tarakan diarahkan dengan fungsi sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Nunukan, Tanjung Selor, Malinau dan Tanlumbis diarahkan dengan fungsi sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Sedangkan pekotaan yang ditetapkan dengan fungsi sebagai Pusat Kawasan Strategis Nasional (PKSN) yang diperuntukan untuk percepatan pengembangan kota-kota utama di kawasan perbatasan, yakni Nunukan dan Simanggaris di Kabupaten Nunukan. Kedua kota tersebut diarahkan dengan fungsi sebagai kawasan strategis cepat tumbuh, Long Midang di Kabupaten Malinau sebagai pusat pertumbuhan perbatasan, dan Long Nawang di Kabupaten Malinau sebagai kawasan perbatasan.
Dalam rencana sistem jaringan transportasi nasional, yang terkait dengan Provinsi Kalimantan Utara adalah:
1. Rencana jaringan strategis nasional (Malinau, Long Midang, Nunukan dan Simanggaris);
2. Rencana jaringan jalan lintas nasional (Tanjung Selor, Malinau, Long Midang, Lumbis, Nunukan dan Simanggaris);
3. Rencana lintas penyeberangan sabuk tengah (Tarakan-Sebatik); 4. Rencana lintas penyeberangan sabuk utara (Tarakan-Nunukan);
5. Rencana jaringan jalur kereta api antar kota (Bontang-Tanjung Redeb-Tanjung Selor-Malinau-Simanggaris).
(b) Sistem jaringan tranportasi laut, meliputi:
1. Pelabuhan laut internasional, yakni pelabuhan Tarakan.
2. Pelabuhan laut nasional, yakni pelabuhan Nunukan dan Tanjung Selor.
(c) Sistem jaringan transportasi udara, berupa bandar udara sebagai pusat penyebaran tersier yakni bandar udara Juwata Tarakan dan Nunukan.
Dalam rencana sistem jaringan energi nasional, terdapat jaringan energi nasional yang melintasi Tanjung Selor – Tarakan dan Tanjung Selor – Malinau dengan kekuatan 150 KV. Sistem jaringan transmisi tenaga listrik yang akan dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik antar sistem yang menggunakan kawat saluran udara, kabel bawah tanah, atau kabel bawah laut.
Provinsi Kalimantan Utara juga dilewati oleh batas ZEE Indonesia (unilateral) yang terdapat di Pulau Sebatik dan batas laut teritorial yang juga terdapat di Pulau Sebatik. Selain itu, Provinsi Kalimantan Utara dilewati oleh jaringan energi nasional yang melewati wilayah Tanjung Selor – Tarakan dan Tanjung Selor – Malinau dengan kekuatan 150 KV.
Provinsi Kalimantan Utara ditetapkan memiliki dua kawasan andalan, yakni (1) Kawasan Andalan Tarakan, Tanjung Palas, Nunukan, Bunyu, Malinau (Tatapanbuma) dan sekitarnya yang memiliki sektor unggulan seperti perikanan, pariwisata, perkebunan, kehutanan, pertambangan, dan industri; (2) Kawasan Andalan Laut Bontang – Tarakan dan sekitarnya yang memiliki sektor unggulan seperti perikanan, pertambangan, dan pariwisata.
Dalam RTRWN juga disebutkan bahwa Provinsi Kalimantan Utara memiliki wilayah sungai lintas negara, yakni Sungai Sesayap yang melintasi Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tana Tidung. Sungai Sesayap berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia sehingga disebut dengan wilayah sungai lintas negara. Selanjutnya, kawasan lindung nasional yang terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Utara yakni Suaka
Alam Laut Sebatik dan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kawasan perbatasan darat RI dan Jantung Kalimantan (heart of Borneo) serta Pulau Sebatik sebagai kawasan perbatasan laut RI yang termasuk dalam 18 pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Malaysia ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional.
C. RPJMN 2015-2019
Penelaahan dokumen kebijakan pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN merupakan salah satu identifikasi faktor-faktor eksternal yang bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan pemerintah terpenting, yang berhubungan, dan berpengaruh langsung terhadap perencanaan pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan. Hasil telaahan dokumen kebijakan ini pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau, sebaliknya, ancaman bagi daerah selama kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang.
Visi pembangunan nasional tahun 2015-2019 sebagaimana tertulis dalam RPJMN Tahun 2015-2019 adalah "Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong." Upaya untuk mewujudkan visi tersebut dilakukan melalui tujuh misi pembangunan, yaitu: (1) Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan; (2) Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan, dan demokratis berlandaskan negara hukum; (3) Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim; (4) Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera; (5) Mewujudkan bangsa yang berdaya saing; (6) Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional; (7) Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Untuk menunjukkan prioritas dalam jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, dirumuskan sembilan agenda prioritas pembangunan, yakni: (1) Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara; (2) Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya; (3) Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; (4) Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan
penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya; (5) Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; (7) Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik; (8) Melakukan revolusi karakter bangsa; (9) Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Sasaran pokok pembangunan nasional 2015-2019 diarahkan untuk mencapai: a. Perekonomian yang tumbuh relatif tinggi, inklusif, dan berkelanjutan, yang
didukung dengan terjaganya ketahanan pangan, energi, dan air, pengembangan sektor ekonomi utama, ketersediaan infrastruktur, dan percepatan pembangunan kelautan.
b. Pembangunan yang berkelanjutan mengamankan kualitas lingkungan hidup dan keberlanjutan dan penanganan bencana pada tingkat daerah terus ditingkatkan.
c. Penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak atas keadilan bagi warga negara.
d. Pemerintahan yang bersih dan akuntabel, efektif, efisien dan mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
e. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dalam taraf pendidikan, derajat kesehatan dan gizi masyarakat, menguatnya karakter dan jati diri bangsa, serta menurunnya kesenjangan kesejahteraan antar kelompok masyarakat. f. Menurunnya tingkat kesenjangan antarwilayah (menurunnya jumlah kabupaten
tertinggal).
Di bidang tatakelola pemerintahan yang baik diarahkan untuk: (1) Penguatan kapasitas pemerintah, dan (2) Perluasan ruang partisipasi masyarakat; dengan sasaran: (a) Meningkatnya keterbukaan informasi dan komunikasi publik, (b) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan publik, (c) meningkatnya kapasitas birokrasi, dan (d) meningkatnya kualitas pelayanan publik.
Sementara sasaran pembangunan pemerataan dan penanggulangan kemiskinan adalah: (1) Menurunnya tingkat kemiskinan pada kisaran 7-8 persen pada akhir 2019, dan (2) Mengupayakan penurunan tingkat ketimpangan pada akhir tahun 2019 sekitar 0,36, agar pendapatan penduduk 40,0 persen terbawah meningkat, dan beban penduduk miskin berkurang.
Di bidang pendidikan sasaran utama adalah pemenuhan hak seluruh warga negara untuk setidak-tidaknya menyelesaikan pendidikan dasar, yang ditandai dengan partisipasi sekolah anak usia 7-15 tahun yang mendekati 100%, angka partisipasi jenjang pendidikan menengah sebesar 91,6%, pendidikan tinggi sebesar 36,7%. Angka melek aksara menjadi 96,1%. Rata-rata lama sekolah penduduk usia di atas 15 tahun sebesar 8,8 tahun. Aspek keberlanjutan pendidikan ditandai dengan meningkatnya partisipasi anak-anak dari keluarga miskin dan anak berkebutuhan khusus, menurunnya variasi angka partisipasi antardaerah, dan indeks paritas gender yang mendekati angka 1,0 pada semua jenjang pendidikan. Terkait peningkatan kualitas relevansi dan daya saing pendidikan adalah membaiknya proses pembelajaran di kelas, yang didukung oleh: (a) meningkatnya jaminan pelayanan pendidikan, tersedianya kurikulum yang andal, dan tersedianya sistem penilaian pendidikan yang komprehensif, (b) meningkatnya kualifikasi akademik seluruh guru minimal S1/D-IV dan meningkatnya kompetensi guru dan subject knowledge dan pedagogical knowledge, serta menurunnya angka ketidakhadiran guru, (c) meningkatnya kesiapan siswa untuk memasuki pasar kerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, (d) diterapkannya KKNI untuk semua bidang kejuruan di SMK, PT, BLK dan kursus non-formal, (e) Meningkatnya proporsi siswa SMK yang dapat mengikuti program pemagangan di industri, (f) Meningkatnya kualitas pendidikan karakter untuk membina budi pekerti, membangun watak, dan mengembangkan kepribadian peserta didik, (g) Meningkatnya wawasan kebangsaan di kalangan anak usia sekolah yang berdampak pada menguatnya nilai-nilai nasionalisme dan rasa cinta tanah air sebagai cerminan warga yang baik, (h) Meningkatnya wawasan dan pemahaman peserta didik mengenai pengetahuan dan keterampilan untuk membangun ketahanan diri sebagai makhluk individu dan sebagai bagian dari lingkungan sekitar, seperti: peningkatan pemahaman terkait kesehatan reproduksi, pendidikan jasmani dan kesehatan, serta kesadaran untuk menghargai lingkungan termasuk praktik pemanfaatannya, (i) Meningkatnya pemahaman mengenai pluralitas sosial dan keberagaman budaya dalam masyarakat, yang berdampak pada kesediaan untuk membangun harmoni sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menjaga kesatuan dalam keanekaragaman.
Di bidang penyediaan sarana dan prasarana salah satu arah yang terkait dengan perkotaan adalah memenuhi kebutuhan hunian layak bagi masyarakat dan mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh, dengan sasaran meningkatnya akses terhadap layanan air minum dan sanitasi yang layak dan berkelanjutan. Indikator tercapainya pemenuhan kebutuhan layak huni bagi masyarakat dan mewujudkan kota
tanpa permukiman kumuh adalah: (a) Tercapainya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 persen melalui penanganan kawasan permukiman kumuh seluas 38.431 hektar dan peningkatan keswadayaan masyarakat di 7.683 kelurahan; (b) Tercapainya 100 persen pelayanan air minum yakni 85 persen penduduk terlayani akses sesuai prinsip 4K (Kuantitas, Kualitas, Kontinuitas, dan Keterjangkauan) dan 15 persen sesuai kebutuhan dasar (basic needs); dan (c) Tercapainya 100 persen pelayanan sanitasi (air limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) yakni 85 persen penduduk terlayani akses sesuai standar pelayanan (pengelolaan air limbah sistem setempat dan terpusat, pelayanan sampah perkotaan dan pengelolaan sampah secara 3R dan pengurangan luas genangan sebesar 22.500 Ha) dan 15 persen sesuai kebutuhan dasar (basic needs).
Sasaran pengembangan wilayah Pulau Kalimantan tahun 2015-2019 untuk Provinsi Kalimantan Utara diantaranya adalah pembangunan kota baru publik yang mandiri dan terpadu sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan; selanjutnya, pembangunan pusat-pusat kegiatan strategis nasional baru dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman dalam upaya untuk mendorong pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan negara. Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah yang memiliki indeks resiko bencana yang tinggi, sehingga kedua wilayah ini merupakan wilayah Pulau Kalimantan yang ditetapkan sebagai sasaran penanggulangan bencana untuk mengurangi resiko bencana.
Food Estate merupakan salah satu potensi dan keunggulan wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kabupaten Bulungan) yang dalam pengembangannya membuka kesempatan bagi investor untuk terlibat dalam membangun ketahanan pangan nasional. Dalam dokumen ini dijelaskan pula mengenai pemenuhan standar pelayanan minimum desa terutama di desa-desa perbatasan, seperti meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan (sekolah dasar dan sekolah menengah), meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan (Poskesdes, Pustu, Puskesmas Keliling), serta meningkatkan distribusi dan kualitas tenaga pendidikan dan kesehatan.
Kota Tarakan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) merupakan lokasi prioritas kota sedang yang berfokus pada upaya pemerataan wilayah di Kalimantan berfungsi sebagai pintu gerbang kedua pulau Kalimantan dan pusat transit perdagangan dengan sektor produksi wilayah seperti: perkebunan, perikanan, dan
pertambangan. Lain halnya dengan Tanjung Selor, sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), yang merupakan salah satu pembangunan kota baru publik mandiri dan terpadu di wilayah Kalimantan yang difungsikan sebagai pusat permukiman baru yang layak huni dan didukung oleh fasilitas ekonomi dan sosial budaya yang lengkap guna mencegah terjadinya permukiman tidak terkendali (urban sprawl) akibat urbanisasi di kota otonom terdekatnya.
Selanjutnya, dalam upaya penguatan konektivitas dan sislognas di kawasan perbatasan pada khususnya telah disusun prioritas kegiatan untuk Provinsi Kalimantan Utara diantaranya adalah pembangunan infrastruktur jalan dan sarana transportasi di desa-desa terisolir dan kawasan perbatasan; pembangunan rehabilitasi, dan pemeliharaan prasarana bandara perintis; pembangunan dan peningkatan kapasitas jalan penghubung nasional di kawasan perbatasan menuju pusat pertumbuhan (Nunukan dan Malinau) dengan ruas Malinau-Binuang-Long Bawan, Tabur Lestari dan Wasan di Kecamatan Sei Manggaris, ruas Malinau-Binuang-Long Bawan, ruas Long Umung-Long Bawan-Long Midang (Kabupaten Nunukan), serta ruas Long Ampung-Long Nawang-Batas, ruas jalan Malinau Kota-Paking-Semamu- Binuang-Long Bawan-Long Midang (Kabupaten Malinau).
Arah kebijakan untuk pengembangan kawasan perbatasan difokuskan untuk meningkatkan peran sebagai halaman depan negara yang maju dan berdaulat dengan negara Malaysia di perbatasan darat dan laut, dengan fokus pengembangan di Provinsi Kalimantan Utara diarahkan pada Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yakni PKSN Long Nawang, PKSN Simanggaris, PKSN Nunukan, PKSN Tanlumbis, dan PKSN Tarakan.
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan dilakukan dengan beberapa strategi, diantaranya adalah meningkatkan nilai tambah produk hasil perkebunan dan pertanian (PKSN Sei Simanggaris dan PKSN Long Midang); pengembangan program transmigrasi di Provinsi Kalimantan Utara dalam bentuk Kota Terpadu Mandiri; mengembangkan kegiatan ekowisata hutan melalui kegiatan konservasi dan pembangunan sarana dan prasarana pariwisata (Long Nawang dan PKSN Long Midang).
Peningkatan kualitas sumber daya manusia diarahkan agar mampu mengelola sumber daya alam di kawasan perbatasan darat dan laut, mampu melakukan aktivitas perdagangan dengan negara tetangga, dan turut mendukung upaya peningkatan kedaulatan negara dengan pemanfaatan IPTEK yang berkualitas, dengan penjabaran strategi diantaranya mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana
pendidikan kejuruan dan ketrampilan berbasis sumber daya lokal (perkebunan, pariwisata, maupun pertambangan) di PKSN Sei Simanggaris dan PKSN Long Midang; mengembangkan sekolah kejuruan berbasis sumber daya lokal berasrama di Kabupaten Nunukan; serta pembangunan Rumah Sakit Pratama di perbatasan (Lokpri Kayan Selatan, Krayan, dan Lumbis Ogong).
Sehubungan dengan sasaran pembangunan wilayah tersebut maka diharapkan di akhir tahun 2019 pembangunan di Provinsi Kalimantan Utara dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari sasaran indikator makro pembangunan untuk Provinsi Kalimantan Utara sebagai berikut:
Tabel 4.2.1.C.1
Sasaran Pembangunan Wilayah Provinsi Kalimantan Utara dalam RPJMN 2015-2019
Indikator 2015 2016 2017 2018 2019
Pertumbuhan ekonomi 5,0 5,0 6,0 6,4 6,9
Tingkat kemiskinan 6,7 6,2 5,7 5,1 4,6
Tingkat pengangguran 7,9 7,6 7,2 6,6 6,3
Sumber: RPJMN 2015-2019 Buku III
Sasaran pembangunan wilayah yang diamanatkan dalam RPJMN tersebut hingga saat ini untuk Provinsi Kalimantan Utara sudah terlampaui, baik pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan maupun tingkat pengangguran. Pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi provinsi ini sudah mencapai 8,16%, tingkat kemiskinan sudah berada di bawah sasaran tersebut yakni 6,24% dan tingkat pengangguran sudah jauh di bawah sasaran pembangunan tersebut yakni 5,79%. Tantangan bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan capaian pembangunan tersebut.
Sebagai bagian dari pemerintahan nasional, dalam merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Utara wajib memperhatikan tujuan pembangunan nasional jangka menengah yang tersusun dalam RPJMN 2015-2019. Sembilan agenda prioritas pembangunan tersebut terkait langsung dengan permasalahan yang harus dihadapi Provinsi Kalimantan Utara. Dengan demikian pembangunan di Provinsi Kalimantan Utara harus mempunyai arti bagi pencapaian visi dan mendukung misi dan sasaran yang akan dicapai pembangunan nasional.Disamping itu secara khusus RPJMN menyebutkan beberapa hal khusus yang berkait dengan Kalimantan (Utara) sebagai berikut:
a. Indonesia memiliki kawasan perbatasan dengan negara tetangga salah satunya di Kalimantan Utara, baik perbatasan darat maupun perbatasan laut dan hal ini menjadi potensi konflik apabila tidak dikelola, dengan prioritas
pengembangan kawasan perbatasan yakni di Kabupaten Malinau: Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Pujungan, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Bahau Hulu dan Kecamatan Kayan Selatan, sedangkan di Kabupaten Nunukan: Kecamatan Sebatik Barat; Krayan Selatan; Krayan; Lumbis; Sebuku; Sebatik, Lumbis Ogong, Simanggaris, Tulin Onsoi, Sebatik Tengah, Sebatik Timur, Sebatik Utara.
b. Dirumuskan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana serta industri transportasi untuk mendukung distribusi logistik nasional yang relevan antara lain pembangunan perkereta-apian Kalimantan (termasuk Kalimantan Utara). Kegiatan strategis jangka menengah nasionalyang terkait pembangunan wilayah di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2.1.C.2
Kegiatan Strategis Jangka Menengah Nasional di Provinsi Kalimantan Utara
No
Arah Percepatan Pembangunan
Infrastruktur Kegiatan Lokasi
1 Perhubungan Udara Pembangunan bandar udara Tanjung Harapan, Bulungan Juwata-Tarakan
Sebatik
Peningkatan bandara perintis Binuang, Kec. Krayan Selatan 2 Perhubungan Laut Pembangunan pelabuhan
bongkar muat barang Pesawan, Tanjung Selor Pengembangan pelabuhan Nunukan
Tarakan Tunon Taka Malundung Sebatik
Bebatu (Kabupaten Tanah Tidung) Pembangunan pelabuhan internasional Tanah Kuning 3 Angkutan Sungai, Danau, dan Pelayaran
Pengembangan dermaga Nunukan
Penyeberangan Sebatik
Pengembangan pelabuhan penyeberangan/ferry
Tarakan
Peningkatan pelabuhan ferry Dermaga Ancam, Tanjung Palas Utara, Kab. Bulungan
4 Perhubungan Darat Pembangunan jalan perbatasan Long Nawang - Long Bujungan - Long Kemuat - Langap – Malinau
Malinau – Punan - Long Bawan – Long Midang
Pembangunan jalan strategis Ruas Malinau – Binuang - Long Bawan, Tabur Lestari dan Wasan di Kecamatan Sei Manggaris
Ruas Malinau – Binuang - Long Bawan, ruas Long Umung - Long Bawan - Long Midang (Kabupaten Nunukan), Ruas jalan Long Bagun (Mahulu) - Mahak Baru - Long Ampung - Long Nawang – Batas,
Ruas jalan Malinau Kota – Paking – Semamu – Binuang – Long Bawan – Long
No
Arah Percepatan Pembangunan
Infrastruktur
Kegiatan Lokasi
Midang (Kabupaten Malinau) Pembangunan jalan Mesalong-Sasipu--Tou Lumbis
Long Nawang – Metulang – Long boh – Batas Kaltim
Pembangunan jalan penghubung Kabupaten Bulungan – Tarakan Pembangunan jembatan
pendukung pengembangan kota baru
Tarakan 5 Ketenagalistrikan PLTMG 15 MW Tanjung Selor
PLTMG 10 MW Nunukan 2
PLTA 1000 MW Besahan (Kayan 3)
Long Sempanjang Pengembangan jaringan
transmisi dan distribusi 6 Telekomunikasi
dan Informatika
Pembangunan tower telekomunikasi
Daerah pedalaman dan perbatasan Pembangunan serat optik Seluruh kabupaten/kota
Pengembangan transmisi penyiaran TVRI
7 Sumber Daya Air Pembangunan Daerah Rawa (DR) DR Sepunggur Kab. Bulungan DR Salim batu Kab. Bulungan DR Teras Baru Kab. Bulungan Pembangunan pengendalian
banjir Tanjung Belimbing Kota Malinau Kab. Malinau Pembangunan/peningkatan jaringan irigasi DR Tanjung Buka DR Sepunggur DR Salim Batu DR Teras Baru DR Selang Ketok
Daerah Tambak (DT) Tanah Kuning Persiapan pembangunan 5
bendungan
Sungai Kayan (Kab Bulungan) Persiapan pembangunan 3
bendungan
Sungai Mentarang (Kab Malinau) Pembangunan embung Kota Tarakan
Pembangunan waduk PLTA 1000 MW
Besahan (Kayan -K3)
Long Sempajang (Mentarang 3) 8 Sarana Pendidikan Pembangunan sekolah baru TK,
SD, SMP, SMA, SMK Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan
Pembangunan asrama sekolah
9 Sarana dan Pembangunan untuk RS Pratama Kab. Tana Tidung (Tana Lia, Bebatu)
Prasarana Kab. Nunukan (Sebayu dan Krayan)
Kesehatan Kab. Malinau (Long Ampung, RS
Langap) Penyediaan alkes, jaringan,
untuk RS Pratama Kab. Tana Tidung (Tana Lia, Bebatu) Kab. Nunukan (Sebayu dan Krayan) Kab. Malinau (Long Ampung) Penyediaan alkes, jaringan,
untuk RSUD beserta pembangunan gedung radioterapi
Tarakan
Pembangunan RS type D (pengembangan dari Puskesmas menjadi RS)
No
Arah Percepatan Pembangunan
Infrastruktur
Kegiatan Lokasi
Pengadaan tenaga kesehatan Kab. Malinau Pembangunan baru RS Provinsi
tipe A Tanjung Selor
10 Perumahan Pembangunan rumah khusus
daerah perbatasan 230 KK Kecamatan Krayan Selatan Pembangunan rumah khusus
daerah perbatasan 845 KK Kecamatan Lumbis Ogong Pembangunan infrastruktur
kawasan permukiman untuk rumah khusus di daerah perbatasan
Pembangunan konsep
persampahan ramah lingkungan untuk Ibu Kota Kalimantan Utara Utara
Sumber: Buku III RPJMN, 2015-20