• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARTAI SOSIALIS PROGRESIV: ‘TIDAK PERLU BANYAK, YANG PENTING PAHAM AKAN ARAH PERJUANGAN!’

Partai politik kiri yang didirikan Sjahrir adalah partai yang berhaluan Sosialisme Demokratis, afiliasi ideologinya dipengaruhi oleh latarbelakang kondisi Hindia-Belanda serta perkawannannya dengan para tokoh sosialisme-demokratis di Belanda. Sjahrir membaca dan masuk dalam perdebatan teoritik kaum revisonis Marxisme, sehingga kita bisa memahami benang merah gagasan Sjahrir dengan para tokoh-tokoh sosialisme Eropa seperti, Bernstain, Kautsky, Lassale, Babel, dll. Pandangan-pandangan sosialisme demokratis relative banyak diserap Sjahrir, ini juga yang membuat dirinya dianggap lebih kebarat-baratan.

Dalam bab-bab sebelumnya tulisan ini sudah berupaya mengurai perdebatan panjang kaum Marxist Eropa untuk mencari jalan melawan kapitalisme. Dalam pencerapannya kita juga sepakat bahwa tokoh bangsa yang menjadi perbincangan kita terinfeksi oleh semangat Marxisme barat,

terlebih Sutan Sjahrir. Sosialisme dalam pandangan unmum adalah sebuah ideology yang membela kepentingan kaum miskin atau dalam bahasa Marx ‘proletar’. Sosialisme juga menentang segala bentuk penindasan dan ketimpangan sosiali. Pada gilirannya sosialisme juga menyiratkan sebuah paham yang menanamkan nilai kemanusiaan yang universal, untuk melawan segal bentuk arogansi yang menyebabkan ketimpangan-ketimpangan social. Dalam pergaulan masyarakat sosialisme Eropa mendorong program-program, kesetaraan, keadilan, kesejahteraan dengan jalan yang demokratik sehingga orang lebih sering menyebutnya menjadi sosialisme demokrasi.49

Partai Sosialis Indonesia memiliki latar belakang historis yang panjang dalam pergelutan republik sampai partai itu masti suri namun pikirannya tetap diperjuangkan. Secara organisatoris, Sosialisme Demokrasi yang menjadi ladasan PSI diawali tahun 1932 ketika Sjahrir dan Hatta pulang dari Belanda dan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-P). kelompok ini Penafsiran Sjahrir soal sosialisme merujuk pada kaum revisionist, dimana sebelumnya ada kritik tajam terhadap pemahaman orthodox-Marxisme. Kaum revisionist tidak lagi tunduk pada kepastian hukum sejarah (historis deterministic), sehingga sosialisme bukan di letakan pada fase ‘pra-komunis’ seperti kebanyakan kaum komunis yakinin. Bagi Sjahrir sosialisme adalah sebuah fase yang akan bergerak linear (artinya tidak ada lagi masa setelah sosialisme) pada tataran masyarakat, dimana sosialisme memperjuangkan hak-hak sipil dalam kedaulatan negara. Keyakinan kaum sosialis terhadap parlementer sangat bertentangan jauh dengan kaum komunis yang pada akhirnya juga melakukan parlementariat yang otoriter.

49

Seperti dalam penjelasan sebelumnya, sosialisme demokrasi dipahami sebagai diskursus ideology yang tidak bisa dipastikan waktu dan keberadaannya artinya tidak ada yang tetap dalam proses berideologi. Perkembangan sosialisme demokrasi bisa berbeda dari negara satu ke negara lain, maka dalam konteks Indonesia Sjahrir menggunakan Sosialisme Kerakyatan. Nama ini digunakan selain untuk berjuang isu-isu kerakyatan (kemiskinan dan pendidikan, belum sampai tingkat partisipatoris seperti sosdem di Eropa), isu ini juga untuk mengantisipasi sentiment ‘anti-barat’ yang sedang gencar saat itu.

didirikan dengan dengan tujuan sebagai wadah strategi untuk membentuk kader-kader yang secara politik potensial dan mampu mengemban misi intelektual. Pendidikan sebagai azas untuk melakukan perjuangan, hal ini dilakukan bersama Sjahrir dan Hatta dalam kolom-kolom tulisan dalam surat kabar. Sosialisme yang ditekankan adalah bentuk sebuah pemerintahan berdaulat dengan mendorong azas kolektivisme masyarakat yang sudah ada (Indro, 2009: 121-122). Kemudian pada 13 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi). Dan kelompok lainnya Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) yang merupakan kelanjutan dari Pendidikan Nasional Indonesia di 1932. Sampai pada tanggal 17 Desember 1945 di Cirebon, Parsi dan Paras bergabung menjadi Partai Sosialis dan Partai Sosalis ini memiliki tekanan-tekanan dengan front rakyat, anti-kapitaisme, anti-imperialisme. Namun 12 Februari 1948 Sjahrir memisahkan diri dari Partai Sosialis yang dipimpin Sjarifuddin, atas kecenderungan Sjarifuddin yang lebih komunis. Makan pada 12 Feburuari 1948 Sjahrir secara resmi mendirikan Partai Sosialis Indonesia serta melakukan pembersihan terhadap kader yang berbau komunis. Ini adalah satu langkah Sjahrir agar sosialisme yang diperjuangkannya tidak terkontaminasi dengan ambisi komunisme dalam berkuasa (Indro, 2009: 114-116).

Vedi Hadiz bependapat bahwa PSI yang dibangun Sjahrir atas dasar Sosialisme, namun mengalami kemundurannya pada Pemilu 1955 yang hanya meraih 2% cukup mendapatkan 5 kursi parlemen. Adalah sebuah fenomena yang dapat dijelaskan secara sosiologis struktur masyarakat yang masih kurang dalam pendidikan, sehingga ada jenjang antara program partai dengan kondisi pemahaman masyarakat. Mungkin saja benar PSI sejak tahun 1950-an telah menjadi anomaly kaum partai intelektual ditengah suatu masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah sekali. Namun bila dibandingkan dengan kondisi sekarang mungkin saja partai sosialis seperti yang pernah dibangun Sjahrir bisa menjadi alternative politik baru (Kompas –edisi

Sjahrir, 2010: 189-190). Pandangan Hadiz membukaan cakrawala berfikir kita bahwa Sjahrir pada masanya adalah seorang pemimpin politik yang berusaha menembus realitas dimasanya. Dengan pengaruh intelektualnya Sjahrir dan PSI tidak bisa diterima oleh rasionalitas masyarakat saat itu. Atau memang terjadi sebuah ekslusifitas aktifis partai yang cenderung dari kelas menegnah dan bergaya flamboyant, ditengah-tengah eforia masyarakat yang baru merdeka dan kurang terdidik jargon nasionalisme lebih laku ketimbang sosialisme demokratis.

Partai progresif yang diinginkan Sjahrir adalah partai yang melawan segala bentuk kesewenang- wenangan, termasuk juga budaya-budaya kuno yang menghambat kemajuan zaman. Dalam soal ideology yang diusung, sosialisme Sjahrir menempatkan kata progresiv bukan dalam artian konfrontasi. Namu lebih kepada perjuangan ide-ide yang harus dimenangkan dalam perjungan politik. Maka dengan sifat progresiv intelektual, Sjahrir menekankan kepada tataran pemahaman ketimbang membangkitkan semangat dengan sentiment nasionalisme (jargon-jargon serba anti). PSI adalah sebuah partai kader yang diteruskan dari PNI-P, PSI secara kuantitas memang tidak memiliki dukungan yang massive seperti layaknya PNI, PKI, dan Masyumi. Namun PSI menekannkan sistem pengkaderan sel, dimana sesama aktivis partai bisa saja saling tidak kenal. Dan kader partai di didik agar menjadi pejuang yang militant. Dalam beberapa kisah masih ada beberapa kader PSI yang masih berjuang hingga usia lanjut. Seperti Sukardi 72 tahun, kader dari Cirebon yang terus berinteraksi dengan para generasi muda untuk memperjuangakan sosialisme dalam gerakan pemuda di Cirebon. Bahkan Koeswari dengan usia 83 tahun, adalah generasi pertama yang bergabung dengan PSI pada 1948. Menjelang usianya Koeswari yang mengkliping majalah Sikap Kita, Sikap, Suara Sosialis dari tahun 1948 sampai PSI dibubarkan Soekarno. Dia bergabung dengan PSI pada usia 20 tahun sebagai aktivis buruh dari Malang. Meskipun dia sudah begitu lanjut namun, pikiran-pikiran sosialisme masih tetap diyakini nya sampai akhir hayat.

Setelah menjadi aktivis partai sampai usia lanjut Koeswari tidak menikah dan hanya diurus oleh keponakannya. Kisah para kader akhir hayat menggambarkan sebuah situasi yang begitu erat secara ideologis dan emosional antara Sjahrir serta PSI. Militansi kader PSI sudah teruji oleh zaman. Pandanga John D. Legge dalam Kaum Intelektual dan perjuangan kemerdekaan, memiliki korelasi dengan fenomena itu, Legge mengatakan bahwa kegiatan politik masssa bukan satu- satunya tolok ukur keberhasilan partai. Pemikiran PSI bertahan hingga sekarang (Kompas edisi- Sjahrir, 2010: 54).

Meskipun PSI dan pandangan Sjahrir tidak mendapati kemenangan dalam sistem pemerintahan saaat itu, bahkan belakangan Sjahrir diasingkan oleh Soekarno. Namun dalam perjalan republik pergelutan ide-ide Sjahrir kembali muncul dalam rangka menyegarkan tatanan demokrasi kita. Banyak orang yang merasa kehilangan setelah kepergiannya untuk selama-lamanya, karena bangsa Indonesia kehilangan seorang pejuang kemanusiaan yang gigih. Setidaknya meski Sjahrir tidak merasakan kemenangan politiknya dengan PSI, sepanjang rentang sejarah Sjahrir telah mampu mendidik manusia-manusia Indonesia yang ber-sosialisme merasuk dalam jiwa dan cara berfikirnya. Koeswari dan Kuswadi adalah museum hidup yang dbangun Sjahrir bersama sosialisme-demokrasinya, meski mereka saat ini bukan orang yang mendapat prestise tinggi namun ketekunannya dalam ber-sosialisme tidak pernah tergantikan oleh apapun. Sjahrir akan selalu menjadi tauladan kaum sosialis yang ada di Indonesia, anak-anak muda Indonesia banyak yang berorientasi pada gagasan Sjahrir (mungkin selain gaya hidup yang flamboyant). Dalam titik ini kita akan benar-benar tersadar bahwa Sjahrir adalah seorang sosialis yang menembus zaman pada masanya. Sampai hari ini sosialisme yang diperjuangkan Sjahrir masih relevan sebagai landasan ideology. Bahwa terjadi perbedaan yang menajam terhadap kaum nasionalis, sebagai generasi baru kita harus meletakan pertentnagan itu pada poros dialog bukan bersikap ekstrem.

Sebagai catatan penting Republik Indonesia berdiri dengan kokoh dibantu dengan topangan

Sosialisme-Demokratis.

PENGEMBARAAN TAN MALAKA, REVOLUSIONER TANGGUH DIBALIK TERALIS BESI

Garis besar

Dokumen terkait